
“Aa kok bisa keluar?” tanya Cicil sambil berjalan dibelakang Riki.
“Bisalah, pintunya kan dibuka, yah. Tinggal keluar aja, nggak udah susah-susah,” kekeh Riki sambil mengangkat bada Cicil pelan. Membantunya untuk turun ke jalan setapak yang akan membawa mereka ke salah satu saung yang biasanya dijadikan tempat Abah beristirahat.
“Aa, yang bener. Kenapa bisa?” tanya Cicil penasaran.
Riki berjalan terus didepan Cicil sambil menggenggam tangan Cicil dengan erat. Sesekali,dia menahan badan Cicil, bila badan Cicil oleng.
“Aa...” jerit Cicil keras saat melihat seekor kadal sabah berjalan melintasi kakinya yang hanya berbalut sendal capit bisa.
“Kenapa?” tanya Riki kaget.
“Kadal ada kadal lewat,” cicit Cicil sambil menunjuk kakinya sambil menutup matanya ketakutan.
Riki terkekeh pelan, Cicil memang takut dengan segala macam binatang melata yang ada dimuka bumi ini. “Udah nggak ada, yuk jalan.”
“Nggak mau, nanti tiba-tiba lewat lagi. Jijik Aa, warnanya abu-abu gelap gitu.” Cicil menghentak-hentakkan kakinya geli.
Tiba-tiba Riki terlintas ide, “Neng... buka matanya.”
“Nggak mau,” rengek Cicil sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“Buka dulu cepet,” pinta Riki.
Cicil akhirnya membuka matanya pelan, “Aa dimana?” teriak Cicil bingung karena Riki menghilang dari hadapannya.
“Di bawah,” ucap Riki yang sedang berjongkok di depan Cicil.
“Ngapain, Aa ngapain di bawah?” tanya Cicil bingung.
“Ayo, naek,” pinta Riki.
“Naek, digendong maksudnya?” tanya Cicil bingung.
“Iya, digendong,” ucap Riki sambil meminta Cicil naik kepunggungnya.
“Aku berat loh, Aa,” cicit Cicil ketakutan, selama tinggal disana Cicil sama sekali tidak pernah menghitung kalori makannya. Rasanya, semua makanan yang ada disana enak.
“Nggak, papa. Beban hidup Aa, lebih berat, Neng,” canda Riki sambil menggerakkan kedua tangannya yang ada di belakang punggungnya. “cepet, Neng.”
Dengan patuh Cicil naik kepunggung Riki, Riki dengan tanpa beban mengangkat badan Cicil dengan sekali angkat. Badan Cicil yang kecil benar-benar memudahkan Riki mengangkatnya.
“Kamu tuh nggak pernah makan atau apa sih? Badan kecil banget,” kekeh Riki sambil tertawa pelan dan berjalan menyusuri jalan setapak yang ada.
“Ih makan aku banyak, aku selama disini udah naik lima kilo kayanya,” ucap Cicil sambil menciumi pipi Riki dari samping.
__ADS_1
Memiliki calon istri senapsuan Cicil benar-benar membuat, Riki harus banyak bersabar menghadapi nafsunya Cicil. Rasanya, Riki ingin cepat-cepat menikahi wanita yang sedang digendongnya itu, supaya dia bisa mengelurkan napsunya yang sudah meronta-ronta.
“Aa, kenapa Aa bisa keluar?” bisik Cicil di kuping Riki sambil mengigit kuping Riki pelan.
Riki hanya bisa menggeretakkan giginya kuat-kuat, tanpa sadar Riki mencengkram bagian boko•g Cicil geram.
“Aaw, ih centil,” ucap Cicil sambil menepuk bahu Riki pelan.
“Abis Neng yang duluan,” kekeh Riki sambil berjalan terus.
“Aa, jawab.”
“Adipati nolong Aa, Adipati ancam bakal perkarain masalah surat penipuan yang di buat Albert. Pokoknya Adipati bilang, kalau sampai Aa sama Rozak masuk penjara. Adipati bakal obrak-abrik semua usaha Albert di Indonesia,” ucap Riki sambil menundukkan kepalanya.
“Aa... Aa kenapa?” tanya Cicil bingung, kenapa tiba-tiba kekasihnya ini terlihat lesu.
“Nggak papa, Aa ngerasa nggak berguna aja. Nyusahin terus Adipati, kebayang kalau nggak ada Adipati, mungkin detik ini Aa masih dipenjara,” ucap Riki lirih.
“Aa....”
“Aa nggak guna banget, yah,” bisik Riki lirih.
“Aa, jangan ngomong gitu. Terkadang kita membutuhkan orang lain untuk hidup. Itu sudah simbiosis mutualisme,” ucap Cicil lagi.
“Tapi, masa buat ngurus diri sendiri sama calon istri Aa nggak mampu?” ucap Riki lagi.
“Iya, maaf yah. Calon suami kamu ini, nggak ada apa-apanya dibanding semua temen dan kolega kamu,” ucap Riki sambil menurunkan Cicil di sebuah saung didekat sawah.
Cicil langsung meloncat kehadapan Riki setelah Riki duduk. Cicil menatap wajah Riki, dengan cepat Cicil mengusap pipi Riki.
“Udah ah, Aa berharga dan hebat di mata Neng, kok. Neng, sayang sama Aa. Aa jangan rendah diri, Aa jangan minder,” Cicil berusaha untuk menenangkan Riki.
“Maaf yah, Neng,” ucap Riki sambil menciumi tangan Cicil pelan.
“Aa tuh pengusaha sukses, buktinya restoran Water Teapot sukses. Nanti, kalau kita udah nikah. Kita usaha sama-sama yah, kita berjuang sama-sama,” ucap Cicil sambil menggosokkan hidungnya dengan hidung Riki.
“Neng, mau berjuang sama Aa?” tanya Riki pelan.
“Iya, Neng mau. Kita berjuang sama-sama, kita lakuin semuanya bersama. Hmm... kita sama-sama bahagia. Kita, sama-sama naklukin dunia...”
“Astaga, dunia apa? Persilatan?” potong Riki sambil terkekeh. Kadang, Cicil itu suka jayus dan malu-maluin.
“Dunia cinta dong,” ucap Cicil sambil menciumi wajah Riki. Kebiasaan Cicil bila sudah manja dengan Riki, Cicil akan mendaratkan ciuman kesetiap jengkal wajahnya.
“Hahaha... iya dunia cinta,” ucap Riki sambil menyelipkan rambutnya Cicil ke kupingnya.
__ADS_1
“Aa mau nikah sama, Neng.” Riki berteriak sangat keras, saking kerasnya Riki berteriak, Cicil sampai menutup kupingnya sambil menyerngitkan wajahnya.
“Aa keras banget,” ucap Cicil sambil menutup mulut Riki.
“Hahahaa... biarin, ayo sekarang giliran kamu, ayo teriak yang keras.” Riki menyuruh Cicil untuk berteriak keras.
“Aku?”
“Iya kamu teriak yang keras, keinginan kamu apa, cepet,” pinta Riki pada Cicil.
“Beneran Neng boleh teriak?” ucap Cicil.
“Iya, teriak aja,” ucap Riki.
“Apapun?”
“Iya, Apapun,” ucap Riki lagi.
“Neng mau ngelakuin transfusi dara...”
“Nggak itu juga Neng,” potong Riki sambil menutup mulut Cicil, astaga Cicil ini benar-benar membuat Riki semaput parah.
“Katanya bebas, kan itu keinginan terbesar aku,” kekeh Cicil jahil.
“Astaga, udahlah. Udah,” ucap Riki sambil mengusap wajah Cicil pelan.
Tawa Riki dan Cicil benar-benar pecah disana, Cicil yang suka menjahili Riki benar-benar merasa puas hari itu. Entah kenapa dadanya penuh, Cicil benar-benar bahagia.
“Astaga ini malah pangku-pangkuan, Riki, sadar...!” teriak Abah keras sambil menyambitkan korannya ke lengan Riki.
“Aw... Aw... sakit Abah, sakit,” ucap Riki sambil memindahkan Cicil kesampingnya.
“Kalian tuh, yah. Udah cepet nikah, lah. Abah bisa was-was ini. Takut, Cicil hamil duluan, celaka,” teriak Abah kesal.
“Ya udah Cicil mau nikah kok, ayo mau nikah dimana?” tantang Cicil pada Abah sambil menahan senyumannya.
“Ya udah, sebulan lagi kalian nikah, nggak mau tau. Mulai besok kita urusin semuanya, gimana Bu?” tanya Abah pada seseoranv dibelakang Abah yang tak lain dan tak bukan.
“Mamih,” pekik Cicil sambil menatap wanita dibelakang Abah, matanya makin membulat bahagia saat melihat, “Uncle Jacquen.”
•••
Nikah... Nikah... Nikah...
Siapin rantang buat masukin baso siomay yah, hahahaha...
__ADS_1
XOXO GALLON