
“Kamu ....”
“Pagi Sinclair, pagi Ahyar.” Burhan berkata sambil masuk kedalam ruangan diiringi beberapa orang di belakangnya yang mengenakan pakaian resmi dan menggunakan id card bertuliskan KPK.
“Ada apa ini?” tanya Ahyar ketakukan, bulir-bulir keringat sebesar biji jagung tiba-tiba keluar di keningnya. Sepertinya, AC ruangannya milik Jeff mendadak mati hingga memberikan rasa panas untuk tubuh Ahyar.
Burhan berjalan terus mendekati Jeff yang sedang merapihkan berkas-berkas yang tidak jadi dia tanda tangani dan menyerahkannya pada Burhan.
“Wah ... tiga puluh persen, ck ... ck ... sepertinya anda sedang membeli tiket ekspress ke hotel termewah di Indonesia, Pak Ahyar,” ucap Burhan sambil tersenyum dan menyerahkan berkas tersebut pada salah satu orang yang menggunakan id KPK.
“Maksudnya apa ini? Sinclair?” tanya Ahyar sambil menatap Sinclair meminta penjelasan tentang situasi yang sedang terjadi.
“Pak Burhan, maaf ada apa ini? Saya rasa sekarang ini Pak Jeff masih sebagai klien saya,” ucap Sinclair pada atasannya di biro pengacara.
“Kau tuh tak punya otak Sinclair, bermain api kau tuh. Sudah mulai detik ini kau saya pecat yah, pecah pala ku ngurus hidup kau.” Burhan berkata sambil menunjuk Sinclair memerkan cincin-cincin berliannya yang tampak berkilau mempesona.
“Nggak bisa dong Pak, bapak tidah mungkin bisa menemukan partner pengacara sebaik saya, mau cari di mana?” tanya Sinclair, Sinclair yakin tidak ada pengaca lain yang bisa diangap imbang dengan dirinya kecuali seseorang bernama ....
“Selamat pagi, apa saya terlambat Bapak-bapak?” Suara bariton dari arah pintu membuat semua orang mengalihkan pandangannya ke arah pintu tersebut.
“Luhut,” desis Sinclair dengan suara bergetar, entah bagaimana kedatangan Luhut membuat lutuh Sinclair bergoyang.
Luhut adalah satu-satunya pengacara yang mampu menggantikan posisi Sinclair, klien milik luhut bukan kaleng-kaleng hampir semuanya adalah taipan dan pengusaha kelas kakap. Sedangkan, Sinclair hanya mengambil remahannya saja, kebanyakan adalah warga negara asing yang belum mengetahui kehebatan dan ketangkasan seorang pengacara bernama Luhut.
“Ah ... aku mau kenalkan sama kau, ini Luhut dia partner aku yang baru. Dia yang gantiin kamu,” ucap Burhan sambil tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Luhut dengan bangganya.
“Kok bisa? Nggak mungkin kenapa bisa? Kamu mau lepas semua klien kamu di tempat lama?” tanya Sinclair.
“Sudahlah jangan kau banyak cakap, udah Luhut ini,” ucap Burhan sambil memberikan berkas-berkas yang diberikan oleh Jeff padanya.
Luhut tersenyum sambil menatap berkas-berkas tersebut, “Wah asik ini, kalau gini gampang. Pak tangkap aja langsung.”
Luhut meminta pada bapak-bapak yang menggunakan id KPK menangkap Ahyar dan Sinclair. “Untuk bukti dan lain sebagainya biar saya yang tanggung jawab.”
“Baik Pak,” ucap orang-orang KPK itu sambil menepuk bahu Sinclair dan Ahyar. “Mari Pak.”
“Saya nggak mau kenapa saya harus ikut kalian?” tolak Ahyar sambil melepaskan cengkraman tangan bapak-bapak KPK.
__ADS_1
“Maaf Pak, tapi Bapak saat ini sedang tertangkap tangan sedang melakukan tindakan yang sangat merugikan negara.”
“Bukti hanya kertas seperti itu nggak bisa membuktikan apa-apa. Itu hanya bisa membuat Sinclair terjerat.” Ahyar berkata sambil menujuk Sinclair yang detik ini sedang berjuang meredakan rasa takutnya.
“Kenapa cuman saya, anda yang menyuruh saya untuk mengerjakan semuanya dengan iming-iming uang,” seru Sinclair, detik itu juga dia langsung menyesali langkahnya yang malah terbuai dengan tipu daya Ahyar Suhendar.
“Nah dia yang bikin bukan saya, dia yang memanipulasi saya,” ucap Ahyar, sampai mati pun dia tidak mau disalahkan. Dia harus cuci tangan dari semua masalah yang ada, menyelamatkan karirnya. Nama baiknya di partai dan masyarakat Indonesia.
“Pak Ahyar, jelas-jelas anda yang meminta saya untuk melakukan semuanya. Anda bilang semuanya aman!?” teriak Sinclair kesal, kemarahannya memuncak karena saat ini dia dihadapkan dengan jerat hukum dan parahnya dia kehilangan pekerjaannya.
“Enak aja, saya nggak pernah meminta itu semua. Nggak ada bukti apapun juga, saya ini korban,” ucap Ahyar sambil menepuk-nepuk dadanya dengan keras sampai orang-orang di sana mendengar suara pukulan.
“Korban dari mana? Dia yang minta saya mempersiapkan segalanya.” Sinclair benar-benar tidak sudi di salahkan atas masalah yang dibuat oleh Ahyar.
“Saya korban, tidak ada buktinya saya melakukan pemerasan atau apapun juga. Tidak ada buktinya,” ucap Ahyar yang merasa dirinya tidak bersalah. Dia merasa di atas angin. Ia yakin, dia akan bebas dari segala tuduhan karena kurangnya bukti yang ada.
Luhut dan burhan saling bertatapan apa yang dikatakan Ahyar ada benarnya juga. Sialan, benar Ahyar, dia benar-benar licin. Mungkin, Ahyar titisan siluman belut listrik.
“Hahaha ... saya ini korban, harus dilindungi.” Ahyar tersenyum senang, ternyata dewi fortuna benar-benar berpihak pada dirinya.
Saat sedang melakukan selebrasi kemenangan di dalam hatinya, sayup-sayup terdengar suara yang sangat Ahyar kenal. Suara yang terdengar memaksa dan congkah, suara yang mengucapkan kata-kata yang akan membuat dirinya terjerat dengan hukum yang ada di Indonesia. Menghancurkan nama baiknya, menghancurkan keluarganya dan yang paling parah menghancurkan dirinya sampai ke tulang belulangnya.
“Ingat suara ini Pak?” tanya Jeff sambil mengacungkan handphonenya kearah Ahyar yang sedang memutarkan suara Ahyar beberapa saat lalu.
“Itu ....” Lidah Ahyar kelu saat mendengar suara dirinya sendiri. Itu adalah ucapannya tadi, tadi saat dirinya sedang berada di atas angin dan mengancam Jeff.
“Itu ... suara anda Pak Ahyar yang terhormat, gimana apa itu cukup untuk menjadi bukti yang menjerat Pak Ahyar? Pak Burhan? Pak Luhut?” tanya Jeff sambil tersenyum senang sambil mengetuk-ngetuk jari jemarinya ke meja.
“Cukup, lebih dari cukup.” Luhut tersenyum senang saat mendengar rekaman sura dari Ahyar saat mengancam Jeff untuk menandatangani perjanjian itu.
“Kalau kurang saya masih punya yang lainnya, mungkin mau mendengar yang ini?” tanya Jeff sambil mengotak atik layar handphonenya dan seketika itu juga terdengar suara Ahyar.
“Apapun atau saya buat Ibu Cicil dan Pak Riki berpisah? Seingat saya anak anda itu punya gangguan mental ‘kan. Kebayang kalau suaminya nggak ada apa yang terjadi, mengurus anak sendirian. Bahkan, anda pun tidak bisa menolong.”
“Bagaiamana caranya?” Terdengar suara Jeff yang kesal.
“De-por-ta-si ....”
__ADS_1
“Gimana butuh yang lebih lagi, Pak Ahyar?” tanya Jeff sambil tersenyum senang.
“Sialan kamu Jeff!?” tukas Ahyar geram. Sudah habislah dia saat ini.
“Baiklah kalau begitu silahkan dibawa saja Ahyar dan Sinclair,” ucap Burhan.
“Saya ini korban!?”bentak Ahyar saat kedua tangannya dicengkram dan diangkat oleh petugas KPK.
Ahyar bergerak tak tentu arah, berjuang dan berusaha untuk melepaskan dirinya dari cengkraman tangan para petugas KPK.
“Pak Burhan jangan gegabah, anda yaki seorang Luhut mau bekerja sama dengan anda. Ini hanya permaianan!?” Sinclari berusaha untuk merebut hati Burhan yang dijawab senyuman mengejek Burhan yang fenomenal.
Burhan langsung menjawab perkataan Sinclair sambil menggerak-gerakkan jemarinya yang penuh dengan cincin berlian. “Luhut akan ikut saya karena saat ini pak Juan meminta Luhut untuk masuk biro saya. Kalau Luhut menolak dia akan melepaskan semua haknya dan mencari biro lain.”
“Juan?”
“Juan Wijaya? Taukan? Keluarga Wijaya salah satu taipan di Indonesia?” tanya Burhan sambil menggerakkan jari jemarinya menunjukkan kemilau berlian beraneka warna di jemarinya.
“Tapi ....”
“Ditambah saya akan keluar dari biro pak Burhan kalau dia masih mempertahankan anda di kantornya,” ucap Jeff sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Sinclair hanya bisa menelan salivanya dengan bersusah payah, ternyata dia telah salah memilih kawan. Detik ini dia merasa dirinya benar-benar bodoh karena menuruti hawa napsunya akan uang, bukan hati nuraninya.
“Mari Pak,” ucap salah satu petugas KPK.
Ahyar dan Sinclair pun patuh dan beranjak dari kursinya untuk pergi meninggalkan ruangan Jeff. Sebelum meninggalkan ruangan tersebut, langkah mereka berdua terhenti karena panggilan Jeff.
“Sinclair ... Ahyar,” panggil Jeff.
“Iya,” jawab Ahyar dan Singclair berbarengan dan mengalihkan pandangan mereka dari lantai ke arah Jeff yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan.
“Welcome to predeo.”
••••
Muahahahhaa ... dahlah yah Sinclair dan Ahyar masuk bui. Baek-baek di sana, sayang-sayangan lah ama orang-orang di sana. 🤭🤭🤭
__ADS_1
Jangan lupa sajen kopi dan bunganya pembacaku sayang 😘😍😘😍
XOXO GALLON