
“Bah, ini gimana cerita tiba-tiba nikah?” tanya Riki bingung.
“Lah, yah nikah. Emang kamu nggak mau nikah sama Cicil?” tanya Abah santai sambil duduk di meja makan, dihadapannya sudah ada Taca dan Rozak.
“Mau, Bah. Tapi....”
“Bilang Cicil anak sultan lagi atau alasan apapun yang nggak masuk akal, Sumpah demi apapun, aku yang bakal kawinin si Cicil,” ucap Rozak sambil bersender di kursinya.
“Dan sumpah demi apapun, bukan cuman hidung maneh yang geser, kalau sampai kejadian. Aa bakal bikin semua organ dalam maneh juga geser,” ancam Riki sambil menatap Rozak tajam.
“Bucin,” olok Taca sambil melempar serbet ke meja di hadapannya.
Riki langsung melirik Taca, “Abis ini anak dari kemaren, bikin ulah mulu. Cari pacar makanya, move on dari Iis.” Riki menyebutkan mantan terindah Rozak.
“Masih belum move on, Kang?” tanya Taca sambil menahan tawanya.
Rozak langsung mengelus bagian belakang rambutnya pelan. “Berisik beneran deh, kalian,” ucap Rozak.
“Ini kok malah berantem, udah sebulan lagi. Kamu.” Abah menunjuk Riki dengan jari telunjuk miliknya, “nikah sama Cicil. Abah spaneng liat kelakuan kalian berdua tuh. Sama-sama nafsuan,” ucap Abah lagi.
Riki tidak dapat berkata apa-apa, sebenarnya dia ingin bilang, kalau yang nafusan itu Cicil. Tapi, mana ada yang percaya kecuali Taca dan Adipati.
“Pokoknya, nikah bulan depan.”
“Bah, bukannya Riki nggak mau. Nikah itu butuh biayaya, Riki belum bisa bayar biaya nikahnya. Enggak mungkin juga Riki nikah sama Cicil cuman di KUA,” ucap Riki pusing.
“Ya udah gimana jadinya?” tanya Rozak.
“Emang Aa punya tabungan berapa?” tanya Taca.
“Aa cuman punya 100juta, itu aja. Aa nggak punya banyak-banyak. Itu aja tabungan Aa ampir 10 tahun,” jawah Riki sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
“Ya udah, itu uang Aa buat mahar Cicil aja, sewa gedung sama KUA, biar Rozak yang bayar,” ucap Rozak sambil menepuk bahunya.
“Buat makanan, Wedding Organizer, dan hal-hal nggak jelas biar Taca yang bayar....”
“Jangan, Ta. Nanti Adipati ngambek,” potong Riki tidak enak, rasanya Riki sudah terlalu banyak menyusahkan adik iparnya itu.
“Nggak, ini uang Taca. Taca ‘kan nabung, uang bulanan dari Adipati lebih dari cukup buat hidup Taca, Kama, Kalila dan Kafta,” jawab Taca.
“Nah, udah beres. Sana kedepan, kasih ini buat Ibu mertua kamu sama pamannya Cicil,” ucap Abah sambil memberikan sebuah nampan berisikan berbagai macam makanan.
“Abah mau bawa, berkas-berkas dulu. Mau Abah kasihin ke Bu RW, biar diurus, biar kalian bisa nikah secapatnya,” ucap Abah sambil berlalu dari sana.
Riki pasrah menerima nampan, dengan kebingungan Riki melihat Rozak dan Taca yang sedang menatapnya. Taca dan Rozak menunjukkan gigi putih milik mereka.
“Aa jadi gimana?” tanya Riki bingung.
__ADS_1
Taca dan Rozak saling tatap sebelum menjawab pertanyaan Riki. Dengan berbarengan mereka langsung berteriak keras.
“Jadinya, kawin,” ucap Taca dan Rozak berbarengan.
“Kawin ?”
“Eh, nikah. Kawin mah udah,yah?” olok Taca sambil menunjuk wajah Riki.
Riki langsung menggelengkan kepalanya, “Emang kamu sama Adipati, hobinya kawin mulu,” ucap Riki sambil berjalan meninggalkan Rozak dan Taca.
“Abis, kawin kan, enak,” jawab Taca polos sambil menatap Rozak.
“Udahlah, ini mah. Sedih, Akang mah. Sedih, jomblo satu-satunya gini,” ucap Rozak sambil beranjak dari kursinya diiringi dengan gelak tawa Taca.
“Hahahaa... maaf Kang, Taca lupa, Taca lupa Akang belum pernah kawin. Baru sampai tahapan maen di gunung aja,” ucap Taca sambil memeganggi perutnya.
“Eh, semprul,” ucap Rozak sambil melempar serbet kearah Taca yang terus tertawa lepas.
•••
“Jadi, kalian mau nikah dimana?” tanya Rea.
Riki bingung, mereka mau nikah dimana. Tadi, Riki baru sampai tahapan finansial. Bukan, masalah dimana mereka akan menikah.
“Ah, mungkin di Belgia?” tanya Jacquen dengan bahasa Indonesia fasih. Jacquen bisa berbahasa Indonesia, istrinya yang juga orang Indonesia membuat dirinya bisa berbahasa Indonesia dengan baik.
Kepala Riki langsung pusing, gimana cara nikah di Belgia. Harga tiketnya berapa? Bisa auto bangkrut yang ada dirinya kalau harus mengajak semua keluarganya ke Belgia.
Rea yang tau kalau mantunya ini tidak bisa di harapkan secara finansial hanya bisa menghela napasnya pelan. “Ya udah kalau nggak tau mau nikah dimana. Ini mau nikahnya kapan? Saya kasih restu kamu sama anak saya, sampai saya bawa pamannya Cicil, karena saya liat anak saya bahagia sama kamu. Tapi, kok kamu kelakuannya mencla mencle kaya gini,” hardik Rea kesal, kelakuan calon mantunya ini benar-benar membuat dirinya geram.
“Mamih, kok gitu?” tanya Cicil, Cicil tidak terima bila ada yang merendahkan Riki. Baik buruknya Riki, dia adalah lelaki pilihan Cicil.
“Ya abisnya, liat dia. Bukannya ngomong, malah diem aja kaya orang minderan. Kamu kalau minder gini nggak usahlah nikah sama anak saya. Habis kamu nanti di caci di lingkungan kami,” ucap Rea kesal, Rea juga bukan orang kaya awalnya. Dia tau dengan pasti betapa beratnya masuk ke pergaulan kelas atas.
“Kamu saya kasih tau,yah. Cicil ini dipergaulan kelas atas itu, sudah banyak yang kenal. Dia bergaul kemana-mana, banyak orang kenal dia. Dari kalangan menengah, menengah keatas ampe kalangan yang uangnya nggak ada serinya sama sekali. Terus, sekarang dia mau nikah sama kamu?” Rea benar-benar kesal dengan kelakuan menantunya itu.
“Saya liat kamu aja kesel, keliatan banget mindernya. Jomplang sama Cicil....”
“Mamih!?” Cicil berteriak keras sambil menggenggam tangan Riki erat.
“Kenyataan, Cil. Bisa habis dia kalau masuk ke pergaulan kita,” ucap Rea kesal.
“Tapi, nggak gitu cara ngomongnya. Hormatin sedikit calon aku, Mih,” ucap Cicil kesal.
“Coba liat sekarang, dia malah diem aja. Ngomong dong, kamu kalau punya mulut dipake. Bukan, diem aja. Mamih kasian sama kamu Cil, nanti kamu yang capek sendiri ngurusin ini orang,” ucap Rea sambil menunjuk Riki gemas. Sebenarnya, Rea tidak benci pada Riki. Tapi, kelesalannya karena ke plin-planan dan sikap tidak tegas Riki benar-benar membuat Rea kesal.
“Mamih, Aa Riki mau ngomong atau nggak itu adalah hak Aa. Mamih juga tiba-tiba datang dan nanya mau nikah dimana, Aa Rikinya juga bingung mau jawab apa.” Cicil benar-benar membela Riki, entah kenapa Cicil tidak ingin ada satu mahluk pun didunia ini yang merendahkan Riki.
__ADS_1
“Kan, dia yang mau nikahin kamu cepet-cepet. Harusnya dia yang urusin semuanya, lah ini baru ditanya nikah dimana aja udah kebingungan, gimana Mamih nanya mahar dan lain sebagainya, Cil,” ucap Rea, astaga ucapan Rea benar-benar pedas. Sepedas cabe satu kilo yang diulek.
“Mamih, yang mau dinikahin cepet-cepet itu Cicil, bukan Aa Riki. Kalau mau nyalahin, salahin aja Cicil,” ucap Cicil lagi.
“Astaga terserahlah siapa yang ngebet nikah, Mamih nggak peduli. Yang Mamih peduliin sekarang itu, kalian mau nikah dimana?” tanya Rea kesal, “ngomong kamu tuh, Riki.”
Riki terdiam sambil menatap Cicil dan Rea. Sepertinya semua kata-kata yang tadinya sudah Riki rangkai di otaknya tiba-tiba buyar. “Mi....”
“Apa?” potong Rea cepat.
“Mamih, katanya suruh ngomong, baru ngomong dikit aja, udah di marah-marah,” ucap Cicil kesal.
“Mih, Riki belum bisa nentuin dimananya. Tapi, saat ini Riki lagi ngurus surat-suratnya dulu. Mungkin, dua hari lagi selesai. Cicil juga harus...”
Rea mengeluarkan amplop coklat, “Semua surat-surat Cicil sudah di urus. Sekarang tinggal kamu yang urus semuanya,” ucap Rea.
“Iya, Mih,” jawab Riki pelan.
“Urus, semuanya. Nanti, kalau udah keurus semuanya baru Mamih datang lagi sama Jacquen,” ucap Rea.
“Iya, Mih.”
•••
Ayo dong, Riki. Jangan minder... Cicil anak sultan, tapi dia cinta sama kamu...!!
Siap buat nikahan pasangan RiCi?
Bakal mewah, absurd, aneh, sederhana, rusuh?
Kaka Gallon tapa dulu diantara ikan-ikan cup•ng oke. 😘
Jangan lupa itu tombol like di klik. Pake idung, ini bisa udah Kaka Gallon coba 🤣🤣🤣.
Jangan sungkan untuk memberi point dan vote ❤️
Sama yang mau masuk GC pas ketuk GC, jawab ketiga pertanyaan dibawah ini yah. Jawab tiga2nya.
Siapa nama Kucing Cicil ?
Nama panggilan Purnama ?
Siapa nama dukun langgangan Edy Edros?
__ADS_1
Dijawab yah hohohohohooo....
XOXO GALLON