
Cicil sedang berjalan sambil bersenandung kecil di lorong kantor polisi. Senyumannya merekah seharian ini, menurut Pak Sinclair esok Riki sudah bisa keluar dari kantor polisi. Hari ini adalah hari terakhir Cicil harus tidur sendiri tanpa Suaminya.
“Bu Cicil,” panggil Sinclair.
“Bagaimana, Pak?” tanya Cicil.
“Semuanya sudah aman, besok Pak Riki bisa keluar dan minggu depan kita bisa langsung memperkarakan Ahyar,” ucap Sinclair sambil membukakan pintu ruangan khusus untuk Cicil bertemu Riki.
“Pak, kalau bisa suami saya keluarnya sore ini,” pinta Cicil.
“Berkas-berkas Riki masih tersangkut disalah satu petinggi rutan. Tapi, saya akan kejar dia hari ini, mudah-mudahan sore ini berkas keluar dan Riki bisa keluar sore atau malam.” Sinclair berkata sambil menyerahkan berkas ketangan Cicil.
Cicil membacanya sekilas kemudian tersenyum, berkas itu tinggal satu orang lagi yang menandatangani kemudian suaminya bisa keluar dari penjara secepatnya. “Bagus, Bapak bisa langsunh urus ini semua. Saya mau masuk dulu menemui suami saya.”
“Baik Bu.”
Cicil pun melangkahkan kaki memasuki ruangan, saat melangkah kakinya terhenti karena mendengar lerkataan Sinclair.
“Untuk surat yang Ahyar harus tanda tangani, saya urus minggu depan, yah Bu.”
Cicil menolehkan kepalanya pada Sinclair dan menatapnya dingin, rasanya tatapan mata Cicil mampu membuat tubuh Sinclair bergidik. “Terserah, pokoknya saya mau kamu urus semuanya. Saya tau beres aja, saya pusing ngurus si Ahyar itu. Mentang-mentang orang pemerintahan bikin kepala saya pusing aja,” ucap Cicil.
Sinclari hanya bisa tersenyum, birokrasi di negeri ini memang dagelan. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Hukum? Sudahlah jangan ditanya tutup saja mata kalian dan hiduplah untuk hari ini.
“Baik, Bu. Saya permisi dulu,” ucap Sinclair sambil menganggukkan kepalanya dan berlalu dari sana.
Cicil hanya bisa menghela napasnya dan melangkahkan kakinya kedalam ruangan. Senyumnya berkembang saat melihat Riki yang sedang duduk mengenakan baju berwarna orange, ah ... menggunakan baju tahanan saja suaminya itu tetap tampan.
“Neng,” panggil Riki sambil beranjak dari duduknya dan memberikan senyuman manisnya pada Cicil sebelum merengkuh tubuh Cicil kepelukkannya.
Cicil langsung mencengkrang baju bagian belakang Riki, dia merindukan suaminya. So much.
“Neng sehat sayang?” tanya Riki sambil mengecupi pucuk rambut Cicil sambil sesekali mengep wangi rambut Cicil yang memabukkan.
__ADS_1
“Sehat Aa, Aa sehat?” tanya Cicil.
Yah ... Riki dan Cicil sudah tidak bertemu selama dua minggu. Riki benar-benar dibuat sulit ditemui, Ahyar benar-benar ingin menyiksa Riki dan Cicil agar mereka tidak dapat bertemu sama sekali.
“Sehat sayang, kesayangan Aa sehat? Nggak sedih sayang? Kamu tidur sama siapa? Makannya bener? Kamu minum susu ‘kan? Kamu pake sepatu flatkan? Nggak kecapean di kantor? Dede nggak rewel di perut, Neng? Vitamin dari dokter kamu minum ‘kan? Kamu ikutin senam hamil? Kapan lahirannya?” cerocos Riki dengan tatapan khawatir dan mengelus-ngelus perut Cicil yang benar-benar sudah siap untuk melahirkan anak mereka berdua kedunia ini.
Cicil hanya bisa terdiam mendengar cerocosan Riki, tawa Cicil langsung meledak saat mendengar itu semuanya. Ternyata, bukan hanya dirinya yang menahan rindu, Suaminya pun sangat-sangat merindukan dirinya.
“Eta gera ngalakah seuri (lah kok malah ketawa), Neng. Hei ... Aa nanya beneran ini teh,” ucap Riki kesal sambil mengusap-ngusap lengan Cicil naik dan turun.
“Cerewet banget sih kamu, astaga aku bingunh jadinya,” kekeh Cicil.
“Bingung gimana? Aa tuh kangen banget sama kamu, Neng,” ucap Riki sambil kembali memeluk Cicil menekan tubuh istrinya ketubuhnya, berusaha untuk meleburkan tubuh mereka berdua menjadi satu.
“Neng juga kangen Aa,” jawab Cicil sambil mengusapi punggung Riki pelan.
Dug ... dug ...
Cicil tersenyum saat merasakan tendangan pelan di perutnya. “Bahkan anak kamu aja sadar kalau Babanya ada. Dia juga kangen Baba.”
Riki benar-benar tidak sanggup menahan air matanya sendiri yang melesak keluar dari matanya. Sebut dia cengeng tapi, menahan rindu pada anak dan istrinya adalah sesuatu hal yang sangat-sangat Riki benci detik ini.
“Aa ...,” panggil Cicil sambil mengusap rambut belakang Riki menelusupkan jari-jarinya kerambut tebal suaminya yang sedang berjongkok di hadapannya. Tangis Cicil pun tak terbendung lagi.
“Besok Aa keluar yah, kita tidur bareng lagi, yah. Kita bareng-bareng lagi yah. Kita nggak boleh pisah lagi yah, Neng mohon,” pinta Cicil sambil berjongkok dan memeluk Riki.
“Iya, aku nggak mau ninggalin kamu. Nggak mau lagi sayang, Aa sangka Aa kuat. Ternyata, nggak,” ucap Riki sambil mengusap-ngusap rambut Cicil yang panjang. “Aa terlalu sayang sama kamu, Neng.”
“Cicil juga sayang sama Aa, Neng juga sayang sama Aa,” isak Cicil.
Mereka saling memeluk melepas rindu mereka, menciumi setiap jengkal wajah pasangannya masing-masing. Riki yang sudah menahan rindu seperi tidak tau tempat, dengan cepat Riki menautkan bibirnya dengan bibir Cicil.
Cicil langsung menyambut ciuman Riki, rasa rindu di dadanya langsung meledak. Disesapnya mulut suaminya direngkuhnya tubuh Riki, “Aa, Neng kangen,” isak Cicil di sela-sela kecupan dan ciuman mereka berdua.
__ADS_1
“Iya sayang, Aa juga sama,” bisik Riki sambil mengecup bibir Cicil lagi. Hangat, lembut dan basah.
Rasa rindu benar-benar menyelimuti mereka berdua. Suara kecupan, isak tangis dan tawa renyah terdengar memenuhi ruangan berukuran kecil tersebut. Riki terus mengusap pipi Cicil sambil terus mengecupi bibir Istrinya.
“Astaga Neng, bibir kamu manis. Aku kangen, Neng.” Riki berkata sambil mengusap bibirnya dengan bibir miliknya kekanan dan kekiri.
Cicil tersenyum sambil menyapukan lidahnya ke bibir Riki menjilat manisnya bibir suaminya. “Bisa nggak sih kita lakuin di sini?”
Riki langsung tergelak saat mendengar pertanyaan polos Cicil. “Aa juga nggak tau, Aa jujur kangen nyerang kamu. Tapi, Aa nggak mau.”
“Kenapa? Yuk,” ajak Cicil sambil tersenyum manja. Tangannya sudah menarik-narik celana Riki, berusaha menelusupkan tangannya kedalam celana milik Riki.
“Aku takut ada kamera, nanti kita direkam lagi,” ucap Riki sambil mengusap pipi Cicil.
“Direkam?” tanya Cicil yang langsung dijawab anggukkan oleh Riki. “Baguslah, asal.”
“Lah kok bagus? Ngaco kamu, Neng.” Riki berkata sambil memencet hidung Cicil gemas.
“Aww ... sakit, baguslah. Tapi, rekamnya harus full HD biar nggak pecah resolusinya. Kan lumayan bisa kita tonton ulang,” kekeh Cicil.
“Astaga, kamu tuh yah, nggak robah,” kekeh Riki.
“Tapi, suka kan?” goda Cicil.
“Sukalah, kesayangan aku,” ucap Riki sambil mencium hidung, kedua pipi, kedua mata dan bibir Cicil dengan gemas.
“Aa, aku lupa bilang.”
“Bilang apa?”
“Hai ... Suami,” ucap Cicil sambil mengalungkan tangannya ke leher Riki dan mengecup bibir Riki, menelusupkan lidahnya untuk menggelitik dan menjelajah bagian dalam bibir Riki, candunya.
•••
__ADS_1
XOXO Gallon.