
Kuping Riki sayup-sayup mendengar suara yang membuat tidurnya terganggu. Entah apa tapi, siramya benar-benar menggangu tidurnya. Bukan … bukan suara tangisa Richie, kalau suara tangisan atau rengekkan Richie. Riki sudah kebal dan akan langsunhg bangun dan mengurusi keinginan tuan muda itu.
Srak ….
Riki dengan cepat mengerjapkan kedua matanya saat mendengar suara itu lagi. Matanya langsung melihat punggung Cicil dan sesuatu yang Cicil angkat, tampak seperti peta dunia. Tapi, untuk apa istrinya itu membuka-buka peta, jangan bilang mau kabur. Riki langsung bergidik ngeri membayangkan istrinya kabur meninggalkan dirinya sendirian.
Dengan cepat Riki mendekati Cicil dan memeluk Cicil dari belakang. Cicil tersentak saat merasakan pelukkan dari Riki.
“Aa udah bangun?” tanya Cicil yang sibuk dengan peta dunia.
“Udah, berisik kamu.”
“Eh … maaf aku keasikkan sampai nggak sadar,” ucap Cicil sambil mengusap kepala Riki pelan.
“Kamu mau kemana? Mau kabur hah? Mau ninggalin Aa? Enak aja nggak bisa,” omel Riki sambil mengeratkan pelukkannya berharap Cicil tidak kabur meninggalkan dirinya.
Cicil kaget mendengar omelan suaminya itu, “Aku mau kabur kemana? Rumah aku di sini sama kamu sama Richie. Nggak bisa aku kemana-mana lagi.”
“Lah terus itu kamu liat-liat peta dunia mau ngapain? Jangan bilang kamu mau kuliah ilmu kartografi, Neng.” Riki beringsut dari tidurnya dan memeluk Cicil dari belakang.
Tawa Cicil tertahan saat mendengar perkataan Riki, andai ia tidak ingat kalau di sana ada Richie mungkin dia sudah tertawa terbahak-bahak. “Ngapain kaya nggak ada kerjaan aja.”
“Lah terus ngapain kamu liatin peta mulu?” tanya Riki penasaran. “Beneran kamu nggak bakal kabur kan?”
“Ya ampun Aa, ngapain aku kabur. Mau kabur kemana? Daripada kabur mending aku di sini aja sama kamu,” ucap Cicil sambil menahan tawanya.
“Ya abisnya ngapain kamu liatin peta atuhlah, jangan bikin Aa waswas.” Riki langsung mengambil peta dari tangan Cicil dan melemparkannya ke lantai. Entah kenapa akhir-akhir ini Riki selalu merajuk pada Cicil.
“Ih, aku tuh lagi nyari lokasi yang cocok buat merayakan kemerdekaan aku.”
“Emang kamu budak belia? Romusa kamu teh ampe harus merayakan kemerdekaan segala? Kesiksa kamu teh hidup sama Aa?” tanya Riki sambil menyentil hidung Cicil.
Air muka Cicil langsung berubah merah karena menahan tawa mendengar perkataan suaminya itu. “Bukan kemerdekaan itu.”
“Terus apa? Kamu teh ngerasa di kekang sama Aa? Kesiksa?” tanya Riki sambil menelusupkan wajahnya keceruk leher Cicil membuat Cicil kegelian.
“Kamu kenapa Aa? Kenapa pagi-pagi udah perasa gini. Kurang kasih sayang kamu tuh?” tanya Cicil.
“Bukan kurang lagi, membutuhkan aku teh. Udah lama Aa tuh nggak silahturahmi sama Neng.”
Cicil bingung dengan kata-kata silahturahmi, “Silahturahmi gimana? Lah kita aja tiap hari ketemu Aa, yah pasti silahturahmi.”
Riki mencium pipi Cicil gemas saking gemasnya dia menggigiti pipi Cicil. Cicil hanya bisa tertawa saat merasakan gigitan Riki di pipinya.
“Bukan silahturahmi yang itu.”
“Terus yang mana?” tanya Cicil sambil mengelus pipinya yang sudah basah.
__ADS_1
“Aku kangen transfusi darah putih sama kamu,” ucap Riki sambil tersenyum nakal pada Cicil.
“Sama Neng juga kangen, Neng kangen juga,” ucap Cicil antusias sambil memeluk Riki dan membenamkam wajah Riki di dadanya.
“Neng … sesak, mati Aa Neng mati,” bisik Riki saat merasa sesak di peluk oleh istrinya. Cicil langsung melepaskan pelukkannya sambil tertawa pelan.
“Tapi, Neng kangen juga.” ucap Cicil.
“Ya kangen Aa juga, kita hanya bisa bersabar.” ucap Riki.
“Eh … tadi tuh Neng cari-cari di peta tempat dan lokasi yang bagus buat merayakan kemerdekaan Neng. Merdeka dari masa nifas bukan merdeka dari Aa.”
“Terus ketemu?” tanya Riki sambil melirik peta yang sudah ada di lantai.
“Belom, keburu kamu ngerengek.” Cicil mengerucutkan bibirnya kesal.
“Udah … nggak usah dicari.”
“Kenapa?” tanya Cicil bingung, “Aa nggak mau merayakan kemerdekaan kita?”
“Kok denger kamu bilang kemerdekaan serasa mau memerdekakan diri dari penjajah yah?” ucap Riki sambil menunjukkan deretan giginya.
Cicil langsung mencubit perut Riki kemudian membekap mulut suaminya saat Riki berteriak keras.
“Jangan keras-keras teriaknya nanti Richie bangun.” ucap Cicil sambil membulatkan matanya.
“Abis kamu aneh-aneh aja. Udah … ini jadinya gimana?” tanya Cicil.
“Nggak gimana-gimana. Udah nggak usah di pikirin, nggak usah cari-cari tempat juga pokoknya nanti tiba-tiba ada di sana aja,” ucap Riki sambil tersenyum manis pada Cicil.
Mata Cicil langsung berbinar saat mendengar perkataan Riki, “Beneran? Kamu udah urus itu semua?” tanya Cicil bahagia.
“Iya udah pokoknya nanti kita tinggal pergi aja. Tapi, masalahnya ….”
Cicil yang sudah sangat bahagia dan mengalungkan lengannya di leher Riki langsung terdiam saat mendengar ada masalah. “Apa? Apa masalahnya?”
Riki melepaskan lengan Cicil yang sedang bertengger di lehernya. “Masalahnya pas kita pergi Richie mau di bawa atau ….”
“Titip Mamih.”
“Gimana?” tanya Riki kaget dengan jawaban cepat Cicil.
“Iya titip Mamih, Mamih sama Papih pasti mau ngurus Richie cuman sehari kan apa sebulan?” tanya Cicil dengan mata lebih berbinar lagi, sebulan bersama suaminya di suatu tempat antah berantah berdua bergelung di balik selimut itu sudah membuat Cicil tersenyum-senyum sendiri:
“Mana ada sebulan, astaga nggak … paling dua hari satu malam.” Riki berkata sambil menahan tawanya saat melihat kerlingan nakal Cicil yang membuat dirinya tertawa.
“Aku sangka sebulan,” ucap Cicil sambil menekan-nekan jari telunjuk tangan kanan dan kirinya. “Kan asik.”
__ADS_1
“Terus Richie bingung nyari emak ama bapaknya kemana. Pulang-pulang ya ada kamu hamil lagi.”
“Eh … jangan, Richie masih kecil. Nggak bisa nggak bisa aku hamil lagi. Aduh aku harus bikin janji sama dokter kandungan.”
“Udah itu nanti aja pikirinnya, ini sekarang Richie beneran mau titip Mamih? Susunya gimana? Dia Asi bukan susu formula.” Riki mengingatkan Cicil kalau anaknya ini senang sekali mentil pada Cicil daripada di dot.
“Semua udah aku siapin, aku udah perah susu aku. Susu aku udah banyak stocknya di kulkas yang warna pink itu.” Cicil menunjuk kulkas warna pink yang ada di dapur “aku juga udah ajarin Mamih buat manasin susunya. Semuanya aman.”
“Oke berarti semuanya aman?”
“Jadi mau kemana kita?” tanya Cicil penasaran, entah kenapa dia sangat-sangat bersemangat dengan itu semuanya.
“Rahasia,” jawab Riki santai.
“Pelit banget sih jadi suami,” cerca Cicil sambil mengerucutkan bibirnya kesal karena Riki tidak mau memberitahukan informasi apapun juga.
“Ya udah sini cium dulu,” pinta Riki sambil menepuk pipinya. Dengan cepat Cicil mengecup pipi suaminya itu.
“Cium bunyi,” pinta Riki.
“Alamak, cium bunyi dong. Udah kaya anak TK aja, ya udah nih.” Cicil langsung mencium kembali pipi Riki.
“Yang keras,” pinta Riki saat bibir Cicil masih menempel di pipi Riki.
Terdengar helaan napas Cicil dengan kesal Cicil menekan pipi Riki sampai Riki tumbang dan tertawa keras.
“Emmmuuuaaaahhhhhhh.” Cicil menciumnya dengan suara keras dia sudah tidak peduli bila Richie bangun karena kelakuan mereka. “Udah jadi di mana?”
Riki menatap Cicil sambil mengusap pipinya yang basah.
“Ra.” Riki mengecup bibir Cicil.
“Hasia.” Riki mengecup kedua pipi dan hidung Cicil.
“Argh … nyebelin. Aa!?”
•••••
Hai terima kasih doanya yah. Aku baca semua doa kalian. Aku ucapkan beribu terima kasih yang sudah mendoakan kesehatan aku. Moga aku cepet sehat yah, biar bisa ngehibur kalian semua lagi.
Kalau ada yang nanya sakit kok masih bisa nulis? Masih bisa tapi nunggu bener-benar nggak pusing atau baru bangun tidur banget. Malah kalau nggak nulis bingung mau ngapain hehehee….
Terima kasih untuk kembang dan kopinya juga doanya.
Xoxo Gallon yang Hobi Kellon
H-2 menjelang tamat ❤️
__ADS_1