Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Tuyul kecil


__ADS_3

“Kamu ngapain disini?” tanya Nama bingung untuk apa Ira berdiri di samping mobilnya dan membawa tiga buah koper yang sangat besar.


“Nungguin kamulah, lama amat,” ucap Ira santai sambil menatap Nama dan Rozak.


“Ngapain? Mau apa, kamu ngapain itu bawa koper banyak amat?” tanya Nama dengan nada tinggi saat melihat adik tirinya membawa tiga buah koper.


“Kunci,” ucap Ira santai sambil mengulurkan tangannya kearah Nama.


“Kunci apa?” tanya Nama bingung.


Ira langsung bedecak kesal, “Kunci mobillah, masa kunci setang.”


“Buat apa?” tanya Nama bingung.


Mata Ira langsung membulat saat mendengar pertanyaan Nama. “Astaga, ya buat buka pintu mobil, emang kunci mobil buat apaan? Garet-gareg body mobil?”


“Ira, kamu bisa rada sopan nggak?” tanga Rozak kesal dengan mulut Ira yang benar-benar lancang pada Nama.


Ira hanya bisa mendengus kesal saat mendengar perkataan Rozak. “Iya, iya maaf. Udah mana kuncinya.”


Dengan cepat Nama mengulurkan kunci mobil pada Ira. “Ini.”


“Nah, gitu dong.” Ira langsung membuka pintu mobil Nama.


Dengan cekatan, Ira membuka bagasi mobil Nama dan memasukkan ketiga koper berukuran besar.


“Kamu mau apa sih? Itu koper isinya apa?” tanya Nama bingung.


“Mau ikut pulang kerumah, koper isinya bajulah ama perlengkapan aku. Ya kali isinya jasad tak bernyawa,” cerocos Ira sambil duduk dengan manis di kursi tengah.


Nama hanya bisa terdiam dan menatap adik tirinya itu, mimpi apa dia semalam harus membawa pulang Ira kerumahnya. “Ra, inget nggak di Rumah aku kamarnya cuman dua. Aku nggak mau yah, aku harus tidur sama Ibu.”


Ira langsung mendelikkan matanya pada Nama, dengan cepat dia mengubah posisi duduknya hingga berhadapan dengan Nama. “Nam, aku tidur sama kamulah. Ya kali, aku suruh Ibu tidur di gudang?”


“Tidur sama aku?” tanya Nama bingung.


“Iya, tidur sama kamulah, masa tidur sama Pak Rozak,” ucap Ira sambil menyilangkan tangannya di dada, membuat kedua bukit kembar Ira mengembung.


“Ngaco, enak aja tidur sama Kang Rozak,” ucap Nama.


“Udah, Nyun.” Rozak berusaha menenangkan Nama yang kesal dengan Ira. “Ra, Bapak mau tanya. Ngapain kamu tinggal di rumah Kak Nama?”


“Ingin aja, emang nggak boleh tinggal di sana?” tanya Ira sambil memainkan gelang di pergelangan tangannya. “Itu juga rumah Ayah, jadi aku ada hak untuk tinggal di sana.”


“Iya tapi, buat apa? Rumah kamu di sini lebih nyaman, Ra.” Nama berkata sambil menunjuk rumah megah di belakang badannya. Rumah yang sangat megah dan besar.


Tatapan mata Ira berubah menjadi sendu saat melihat rumah di belakang Nama. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum berkata, “Itu emang megah. Tapi, itu bukan rumah.”


“Ra,” panggil Nama kaget saat mendengar perkataan adiknya.


“Itu bukan rumah, itu neraka dunia,” ucap Ira kecil sambil menatap Nama. “Makasih udah bikin rumah itu jadi neraka, Nam. Kasih tau Ibu lo.”


“Ira!?” seru Rozak kesal dengan ucapan Ira yang tanpa filter. Walau, ucapannya benar. Tapi, tidak etis mengatakannya saat ini.


“Kenyataannya kali Pak Rozak,” jawab Ira santai.


“Astaga Ira, bisa nggak beban kesalahan nggak usah dikasih ke Nama? Nama nggak salah, calon istri saya nggak salah,” ucap Rozak gemas. Andai dihadapannya seorang laki-laki, Rozak pasti sudah menghajarnya.


“Lah, siapa yang bilang Nama salah. Aku nggak bilang, emang kamu salah apa?” tanya Ira sambil menunjuk Nama. “nggak salah ‘kan?”


Tangan Nama langsung terkepal saat mendengar perkataan Ira, “Aku nggak salah.”


“Emang nggak bakal sadar sih, kalau punya salah, tuh.” ucap Ira sambil mengenakan kacamata hitamnya kemudian duduk dengan santai di kuris.


“Ira!?”

__ADS_1


“Udah, Kang. Ayo kita kesana aja,” ucap Nama sambil menarik lengan Rozak yang sudah geram dengan kelakuan Ira.


Nama menarik Rozak menjauh dari mobil, lebih baik menjauhkan Rozak dengan adik tirinya itu. Ira itu baik. Namun, bila sudah memiliki keinginan sangat susah untuk dilarang.


“Nyun, itu anak harus dikasih tau,” ucap Rozak sambil mengikuti Nama.


Nama hanya bisa tersenyum tipis saat mendengar perkataan Rozak, “Dia susah dikasih tau, jangankan dikasih tau sama kita. Sama orang tuanya aja nggak bisa. Bebal.


“Astaga nafsu aku lama-lama liat Ira, dasar tuyul kecil. Padahal, di sekolah dia penurut, sebelum ada kasus itu bahkan dia bolak-balik terus ketempat aku. Berisik banget anaknya. Hobinya ngasih aku makanan bareng temen-temennya.”


“Ira suka sama Akang,” ucap Nama.


“Eh....” Rozak langsung menatap Nama saat mendengar perkataan Nama. “Gimana?”


“Kayanya Ira suka sama Akang, kalau denger dari penjelasan Akang, yah.” Nama berkata sambil menggelayut manja di lengan Rozak.


“Jangan ngaco, Akang mana mungkin pacaran sama anak umur tujuh belas tahun.” Rozak berkata sambil bergidik pelan. Membayangkan dirinya mencium Ira membuat Rozak meremang.


“Akang nggak bisa bayangin nyium Ira kaya gimana.”


Bug...


“Emang kalau pacaran cuman soal cium doang?” tanya Nama kesal.


“Lah, aku macarin kamu sama mau nikahin kamu cuman biar bisa nyium sama gerayangin kamu tiap hari, Nyun. Aw....” Rozak mengaduh saat mendapatkan cubitan maut dari Nama.


“Masa kamu nikahin aku cuman buat gerayangin aku doang,” ucap Nama kesal.


“Hahaha... yah, masa udah nikah nggak digerayangin. Rugi atuh,” kekeh Rozak sambil menarik bibir Nama.


“Hilih, udah mending aku nikah ama....”


“Kebo? Pokcoy? Sawi?” tebah Rozak.


“Terong,” ucap Nama sambil tertawa pelan.


“Ngaco Akang.”


Rozak tertawa sambil melihat wajah Nama yang tiba-tiba memerah seperti kepiting rebus. “Idih, ngebayangin yah?”


Spontan Nama langsung mengipasi lehernya dengan tangan kanannya. Sesungguhnya, pikirian Nama tadi langsung terbang ke kanan dan ke kiri membayangkan hal-hal yang berbah ke mecuman yang hakiki.


“Akang,” rengek Nama malu.


“Hahaha, sini.” Rozak membalik tubuh Nama agar menghadap dirinya.


“Apa?”


Rozak mendekatkan bibirnya ketelinga Nama, “Nggak usah dibayangin. Mending dilakuin, Nyun. Lebih enak,” bisik Rozak.


“Akang,” jerit Nama sambil mendorong Rozak, “nanti dilakuinnya sering-sering, yah.”


“Eh... kok... kok,” goda Rozak sambil tertawa mendengar perkataan Nama.


“Kalian kok malah di sini.”


Nama dan Rozak pun berbalik saat mendengar suara seseorang di belakang mereka.


“Ibu,” ucap Nama dan Rozak berbarengan.


“Ayo pulang, mau di sini kalian tuh?” tanya Islah.


“Bu, di mobil ada Ira. Katanya dia mau nginep di rumah kita.” Nama berkata sambil menunjuk mobil mereka.


“Lah, ngapain?” tanya Islah bingung, mau apa Ira ikut dengan mereka.

__ADS_1


“Nggak tau, maksa dia.” Nama berkata sambil berjalan kearah pintu mobil yang masih terbuka.


“Ira, kamu mau ikut Ibu?” tanya Islah setelah sampai di pintu.


Dengan malas-malasan Ira menolehkan kepalanya menatap Islah dan Nama bergantian. “Iya, aku mau tinggal di rumah Ibu. Kenapa? Nggak boleh?”


“Boleh, Ra. Tapi, kamu udah bilang Ayah sama Mamih Eva belum?” tanya Islah bingung.


“Udah,” jawab Ira pendek.


“Beneran?” tanya Islah sambil berbalik bermaksud mencari mantan suaminya dan bertanya tentang Ira.


“Udah, Ibu.” Ira berusaha mencegat Islah untuk masuk ke dalam rumah.


Islah menghentikan langkahnya dan berbalik kemudian menatap Ira. “Kamu belum bilang, yah?”


Ira langsung menghempaskan punggungnya kesandaran kursi. “Iya aku belum bilang. Tapi, udahlah aku nggak di rumah sebulan aja nggak bakal ada yang nyadar kok. Percaya sama Ira.”


Rozak kaget dengan perkataan Ira, sepertinya dulu saat dirinya masih SMA. Telat pulang sekolah, pasti Abah sudah menunggu di depan pintu rumah, bersiap dengan koran saktinya. Padahal, dirinya laki-laki.


“Mending kamu bilang dulu, Ra,” ucap Islah pada Ira.


Ira langsung mengerucutkan bibirnya, “Nggak mau.”


“Astaga, Ira paling nggak kamu chat Kakak kamu atau Mamih Eva,” ucap Nama gemas.


Ira menghela napas keras, dengan cepat diambilnya handphonennya dan diketiknya sesuatu di sana. “Udah. Ayo, cepet pulang. Aku ngantuk.”


Islah, Nama dan Rozak hanya bisa menatap kelakuan anak baru gede bernama Ira. Mereka hanya berharap, kaburnya Ira ini tidak memberikan masalah bagi mereka.


•••


Iya yang datang Ira. Mau apa? Nggak tau biarin aja. Hehehe...


Terima kasih buat pembaca yang udah kasih bunga dan kopinya.


Eh... hari senin nih, yuk kasih votenya buat Mr. and Mrs. Trina.


Jangan lupa likenya digoyang...



👆🏻👆🏻👆🏻👆🏻 isinya disini yah.


Yang mau masuk gc jawab tiga pertanyaannya yah.




Nama kucing Cicil?




Dukun Edy edrosh?




Nama tunangan Rozak?


__ADS_1



Makasih XOXO GALLON


__ADS_2