Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Keluarin Suami Aku.


__ADS_3

Cicil menggigiti kukunya dengan gemas, teleponnya belum diangkat oleh pengacara kelurganya.


“Kenapa nggak diangkat sih, lagi apa ini bandot,” maki Cicil di dalam hatinya.


“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu Bu Cicil?” tanya Sinclair. Pengacara itu sangat bahagia saat mendengar suara klien utamanya meneleponnya.


“Pagi, kenapa lama angkatnya? Emang saya bukan klien utama lagi, yah?” tanya Cicil ketus.


“Bukan, bukan begitu. Maaf, maaf ... jadi bagaimana Bu Cicil ada yang bisa saya bantu?” tanya Sinclair, meminta maaf saat ini adalah jalan keluar terbaik bagi dirinya. Bekerja bersama kelurga Bouw selama bertahun-tahun membuat dirinya tau sifat Cicil yang judes dan dingin.


“Saya mau Bapak keluarin suami saya dari penjara,” ucap Cicil sambil mengelus perutnya, menenangkan bayinya yang terus berputar dan bergerak tak tentu arah, membuat Cicil mual.


“Suami Bu Cicil kenapa?” tanya Sinclair cepat.


“Nggak tau ada orang gila yang laporin suami saya gara-gara perbuatan tidak menyenangkan dan tindak kekerasan.” Cicil berkata sambil meremas-remas kertas saking murkanya.


“Baiklah, saya akan coba datang kesana dan mendampingi suami Bu Cicil,” ucap Sinclair.


“Iya, saya nggak mau tau gimana caranya suami saya harus keluar. Kalau bisa sore ini dia harus keluar atau siang ini,” perintah Cicil.


“Baik, Bu. Akan saya usahakan,” ucap Sinclair.


“Pak, bukan diusahakan! Tapi dilakuin, ngerti nggak sih, Pak saya nggak mau cuman diusahakan. Pokoknya harus pulang suami saya. Ngerti nggak Pak?” tanya Cicil ketus.


“Ngerti, Bu Cicil. Saya yang akan turun sendiri kalau begitu,” ucap Sinclair mencoba menenangkan Cicil.


“Iya, harus Bapak yang turun tangan. Pokoknya saya nggak mau tau, suami saya harus keluar.”


“Baik Bu, saya segera kesana. Ada lagi yang bisa saya bantu?”


“Nggak ada, pokoknya suami saya harus pulang,” ucap Cicil lagi.


“Baik, kalau begitu saya permisi.”


Klik ...


Cicil langsung melemparkan handphonenya kemeja di depannya dengan keras. “Astaga kepala aku.”


“Cil, minum dulu,” ucap Edy yang datang sambil membawakan teh hangat untuk Cicil.


“Makasih, Dy,” jawab Cicil sambil mengesap teh dari Edy.


“Riki pasti bebas kok, tenang yah. Aku yakin, Riki nggak salah.”


“Emang Aa nggak salah, bandot sinting itu aja yang cari perkara. Beneran minta aku obras bibirnya,” maki Cicil sambil mengetuk-ngetuk meja dengan menggunakan jari jemarinya.


“Udah kasih semuanya sama pengacara kamu, Edy yakin pengacara kamu bukan oengacara sembarangan ‘kan.” Edy mencoba menenangkan Cicil yang sedang dalam batas kekesalan tinggi.


Edy yang sering bersama Riki dan Cicil tau bila pasangan suami istri ini adalah jenis pasangan yang saling menjaga. Di mana istrinya tidak sudi kalau suaminya dihina orang lain dan suaminya akan marah besar bila ada yang mengejek istrinya.


“Ah, aku pusing ini. Gimana kalau Aa di penjara dan di sidang. Kemudian, terbukti bersalah? Gimana?” tanya Cicil kesal.


“Cil, tenang pasti bakal selesai kok masalahnya.” Edy mencoba menenangkan Cicil.


“Dahlah, aku mau ke kantor polisi dulu. Aku mau liat Riki,” ucap Cicil sambil bangkit dari kursinya.


“Cil.”


“Apa? Kamu mau ikut?” tanya Cicil sambil melirik Edy.


Edy hanya bisa menggaruk kepalanya, sebenarnya Edy harus ke supplayer dan membicarakan pasokan bahan masakan untuk resto. Tapi, melihat perut Cicil yang besar dan membayangkan berbagai resiko, sepertinya dia harus membatalkan segala-galanya.


“Iya, gue ikut. Bentar gue ambil jaket ama kunci mobil,” ucap Edy sambil berdiri dan berjalan ke arah kunci mobil dan jaketnya berada.


“Nggak jadi ke supplayer?” tanya Cicil.

__ADS_1


“Hah, ehm ... nggak aku mau ke kantor polisi aja. Biarin aja supplayer itu, besok aja aku urusnya. Ini aku lagi Chat supplayernya.” Edy berkata sambil mengotak-ngatik Handphone-nya dengan cepat.


“Edy, kalau nggak bisa nggak papa. Aku bisa kok kesana sendirian, nggak perlu kamu anter-anter,” tolak Cicil halus, dia tau Edy hanya mengantarnya karena khawatir dengan keadaan dirinya yang sedang mengandung delapan bulan.


“Done,” ucap Edy sambil tersenyum pada Cicil. “Yuk, sekarang kesana.”


Cicil langsung tersenyum pada Edy, “Ya udah, makasih yah.”


“Iya, yuk.”


••••


Riki hanya duduk di kursi bersama beberapa orang polisi. Tampak mereka berbisik-bisik di sampinya, entah apa yang mereka bicarakan.


“Pak Riki, Bapak sudah siap menjawab pertanyaan dari kami?” tanya Polisi yang duduk di samping tangan kanannya dan bersiap mengetik semua perkataan Riki.


“Saya menunggu pengacara saya,” jawab Riki, dia masih ingat permintaan Cicil yang memintanya untuk tidak mengatakan apapun sampai ada seorang pengacara bernama Sinclair.


“Pak Riki, kami mohon kerja samanya, jadi bisa kita mulai saja?” paksa polisi berpakaian bebas yang sedang menatap Riki dari balik layar monitornya.


“Maaf, saya mau menunggu pengacara saya. Saya baru mulai berbicara kalau ada pengacara saya,” ucap Riki, Riki benar-benar mengikuti perkataan Cicil. Instingnya mengatakan detik ini dia harus menurut pada istrinya.


“Pak terlalu lama, pengacara Bapak beneran udah dihubungi atau belom?” tanya Polisi itu.


Riki hanya bisa mengusap dahinya, mana Riki tau pengacaranya sudah dipanggil atau belum, bentuk rupa pengacaranya saja Riki tidak tau. Riki hanya tau namanya Bapak Sinclair sudah itu saja.


“Pak,” panggil polisi tersebut.


“Iya, saya yakin istri saya sudah menghubungi pengacara saya,” dusta Riki.


“Baiklah kita tunggu tiga puluh menit lagi yah, Pak.” Polisi itu berkata sambil mengutak atik papa keyboard di tangannya.


Tok ... tok ...


Riki langsung menganggukkan kepalanya, sepertinya dewi fortuna masih memihak pada dirinya. Pengacara yang dijanjikan Cicil benar-benar datang.


“Iya, benar. Mari silahkan duduk, kita mulai.”


•••


“Rozak, kamu udah ketemu Aa?” tanya Cicil yang baru saja sampai di kantor polisi.


“Cil, belum aku disuruh tunggu di sini,” ucap Rozak.


“Cil, maafin Ayah aku,” bisik Nama sambil bersembunyi di belakang Rozak.


Cicil menatap Nama kemudian mendelik kesal, “Nggak aku nggak mau maafin bapak kamu. Enak aja, masuk-masukkin suami orang ke kantor polisi.”


Cengkraman tangan Nama mengencang di lengan Rozak, ucapan Cicil benar-benar membuat Nama menciut. Rozak dengan tenang mengelus tangan Nama pelan.


“Udah kamu diem dulu,” bisik Rozak yang langsung dijawab anggukkan oleh Nama.


“Cil, ini bukan salah Nama.”


“Iya, emang bukan salah Nama. Salah bapaknya, sinting bapaknya. Saya nggak punya masalah sama Nama, tapi bapaknya bikin saya naik pitam. Minta, saya ancurin sampe ke tulang-tulangnya,” cerocos Cicil sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Udah-udah, Cil duduk kita disuruh nunggukan,” ucap Edy mencoba menenangkan Cicil walau Edy tau percuma, yang bisa menenangkan Cicil hanya Riki.


“Duduk-duduk, aku nggak mau duduk. Aku mau suami aku keluar sekarang. Nggak ngotak orang yang menjarain suami aku, dosa apa marah kalau istrinya dipanggil jalang. Sinting emang,” cerocos Cicil sambil berjalan ke arah polisi yang sedang duduk.


Edy, Rozak dan Nama hanya bisa menatap Cicil yang menyerocos mengungkapkan kekesalannya pada polisi yang hanya bisa tersenyum menghadapi ocehan Cicil.


“Itu Cicil nggak bisa direm?” tanya Edy pada Rozak.


“Berani kamu ngerem Cicil? Yang bisa rem cerocosan ama judesnya Cicil cuman Aa Riki.” Rozak mengingatkan Edy.

__ADS_1


“Bu Cicil.”


Tiba-tiba ada seorang pria mendekati Cicil yang sedang mengeluarkan unek-uneknya pada polisi yang tampak pasrah dicerocosi oleh Ibu hamil dihadapannya itu.


“Pak Sinclair, gimana saya mau suami saya keluar sekarang juga.”


Pak Sinclair langsun tersenyum pada Cicil, “Bu, maaf pak Riki belum bisa keluar. Bukti-bukti sudah masuk.”


“Bukti apaan?” tanya Cicil judes.


“Bukti kalau pak Riki memukul pak Ahyar.”


“Siapa? Siapa saksinya?” tanya Cicil, kalau ada pegawainya yang menjadi saksi. Cicil akan pastikan pegawainya tidak bisa melihat matahari besok.


“Video, sepertinya pak Ahyar meminta video keamanan dari perusahaan Bu Cicil,” ucap Sinclair.


“Keamana sinting, kenapa pula dia keluarin video keamanannya, minta aku pecat.” Cicil memaki sambil mencari handphonenya dari dalam tasnya.


“Bu, polisi yang memintanya. Mereka sudah melakukan sesuai prosedur yang ada, pihak keamanan perusahaan Bu Cicil pun tidak bisa menolaknya.”


Cicil langsung menghentikkan gerakkannya, “Terus sekarang gimana? Suami saya gimana?”


“Pak Riki terpaksa harus di sini dulu, biar saya urus semuanya. Saya akan melakukan pendekan kekeluargaan dengan pak Ahyar.”


“Jadi, suami saya harus tetap di sini?”


“Iya, Bu terpaksa.”


Cicil langsung menatap Nama yang masih berdiri di belakang Rozak, “Bapak kamu tuh bener-bener yah.”


“Maaf,” ucap Nama pelan, sebenarnya dia ingin mengutuki bapaknya itu. Tapi, melihat tatapan Cicil membuat Nama terdiam dan merasa lebih baik meminta maaf daripada Cicil murka lebih parah lagi.


“Bu, Ibu mau apa sekarang?” tanya Pak Sinclair.


“Saya mau ketemu suami saya.”


“Baik, saya bisa lakukan itu, tunggu sebentar.”


Selepas Sinclair pergi, Nama mendekat pada Cicil dan menyentuh lengan Cicil.


Cicil langsung melirik Nama dengan tatapan kesal. “Apa?”


“Maaf, aku nggak tau kalau Ayah bakal lakuin ini semuanya. Aku minta maaf Cil.”


Cicil langsung menghela napas, “Udah, yang salah bapak kamu. Kamu nggak salah.”


“Makasih Cil.”


“Tapi.”


“Apa?” tanya Nama takut-takut, wanita hamil di sampingnya ini benar-benar seperti macan yang siap mengamuk.


“Jangan marah kalau sampai, saya buat Bapak kamu hancur!?”


Nama hanya bisa diam menatap Cicil, satu-satunya jawaban yang bisa Nama berikan hanya kata. “Iya.”


•••


Dor....


Selamat siang menjelang sore ❤️❤️


Cicilnya murka dulu yah, nggak usah bawa-bawa Juan dan Adipati. Cukup bu Cicil yang ngamuk, Pak Ahyar pun oleng 😘😘.


Xoxo Gallon

__ADS_1


__ADS_2