Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Siluman Kebo


__ADS_3

“Nyun,” panggil Rozak sambil berlari kearah Nama. “kenapa?”


Nama langsung memeluk Rozak, “Akang.”


“Kenapa, ada apa?” tanya Rozak bingung saat mendapati Nama memeluknya.


Nama melepaskan pelukkannya kemudian menatap Rozak, “Kangen.”


“Eh, gimana?”tanya Rozak bingung.


“Kangen, aku kangen Akang.” Nama berkata sambil mengerucutkan bibirnya.


“Baru tadi siang kita ketemu ih, kamu manja banget ternyata.”


“Terus kalau manja kenapa? Nggak jadi nikahnya?” tanya Nama sambil menatap Rozak kesal.


“Jadilah, mau ada meteor jatoh juga. Jadi, nikahnya,” ucap Rozak sambil tersenyum.


“Baguslah, aku mau makan di restoran. Temenin sama bayarin yah,” kata Nama sambil terkekeh.


“Astaga nggak enak akhirnya, nemenin mah ayo aja. Tapi, bayarin kok rasanya sesak,” ucap Rozak.


“Astaga bayarin calon istrinya aja nggak mau, pelit,” rutuk Nama sambil memukul dada Rozak kesal.


Rozak menarik bagian bawah bibir Nama gemas. “Masalahnya kamu tuh banyak makan. Kamu tau nggak gaji guru berapa?”


Nama tertawa saat mendengar perkataan Rozak. “Tau tapi, kamu ‘kan guru multilatenta. Apa kabar usaha beras kamu sama Abah?” tanya Nama.


“Baik-baik aja. Sehat aman, jalan terus,” jawab Rozak sambil tersenyum pada Nama.


“Nah, jadi udah jangan pelit-pelit sama calon istri,” ucap Nama sambil mengedipkan matanya.


“Susah emang kalau ngomong sama kamu, tuh,” ucap Rozak sambil menggenggam tangan kanan Nama dan menariknya untuk masuk kembali kedalam restoran.


Nama dengan senang berjalan disamping Rozak, menyamakan langkahnya dengan Rozak entah kenapa sangat menyenangkan. Ditatapnya tangannya dan tangan Rozak. “Kang, kita kaya zebra, yah.”


Rozak menarik Nama untuk duduk disalah satu kursi restoran. Karena bukan jam makan siang atau malam. Restoran dalam keadaan tidak terlalu penuh, tampak Manda yang datang sambil memberikan menu pada Nama dan Rozak.


“Chiken cordon blue satu dan beef wellingtonnya satu, yah. Minumnya minta orange squash,” ucap Rozak tanpa melihat menu.


Nama hanya tersenyum mendengar pesanan Rozak. Rozak benar-benar tau apa yang Nama mau. “Kok tau kamu, aku mau pesen beef wellington?”


“Tau lah, itu mulu yang kamu pesen disini. Dari zaman dulu,” jawab Rozak.


“Bentar tadi kamu bilang apa? Kaya Zebra, apa yang kaya zebra?” tanya Rozak lagi.


Nama menggerakkan tangannya, meminta Rozak memberikan tangan kirinya. Dengan patuh Rozak memberikan tangan kirinya, ke tangan Nama.


“Apa?” tanya Rozak penasaran.


“Liat ini kulit kita, item ama putih, mirip zebra,” kekeh Nama sambil mengecup tangan Rozak pelan.


“Astaga, body shamming kamu tuh, bisa aku aduin ke komnas anak, aku aduin kamu ke Kak Seto.” ucap Rozak.


Tawa Nama pecah saat mendengarp perkataan Rozak. “Ngapain kamu ke komnas anak? Hei inget umur, Pak Rozak.”


“Eh, tetep aja aku nggak terima,” kekeh Rozak.


“Astaga, kalau kamu itu anak yang udah bisa bikin anak, Kang,” ejek Nama sambil memukul paha Rozak keras

__ADS_1


“Nyun, sakit ih,” ucap Rozak.


“Yah, abisnya sosoan mau laporan ke KOMNAS anak segala, mau apa coba. Yang ada KOMNAS anaknya bingung ngapain kamu kesana.” Nama berkata sambil mengibaskan rambutnya.


“Palingan ditanya anaknya mana,” ucap Rozak.


“Nah, terus mau kamu jawab apaan?” tanya Nama sambil menatap Rozak.


“Yah, jawab aja. Anaknya masih dalam proses pengolahan sama kamu,” ucap Rozak sambil mentoel ujung hidung Nama.


“Hilih, ada aja jawabannya. Kayanya kalau aku jadi murid kamu udah ampun dah,” ucap Nama.


“Untung kamu bukan jadi murid aku, Nyun,” ujar Rozak sambil merangkul pinggul Nama.


“Kenapa?”


“Bisa gawatlah kalau kamu murid aku, wah... udah aku langsung dikeluarkan sekolah.”


Nama menatap Rozak bingung, kenapa tiba-tiba Rozak berkata dia akan dikeluarkan dari sekolahnya. “Ih... nggak mungkin sampai sebegitunya kali, Kang.”


“Pasti bakal langsung dikeluarin sekolah aku sama kamu.” Rozak meyakinkan Nama.


“Kenapa? Emang kamu mau ngapain?” tanya Nama bingung.


“Langsung kayanya, bakal ada highlight di koran kota atau masuk Ingsangram lambe-lambean.”


Nama menggelengka kepalanya bingung, “Kenapa bisa?”


“Ya... bisalah tulisannya gini, skandal seorang guru olah raga, berpacaran dengan siswinya yang memiliki mulut paling sexy sejagat raya,” kekeh Rozak.


“Jayus yeh, sumpah jayus. Garing humornya, saking garingnya udah kaya kerupuk,” ucap Nama sambil mendorong bahu Rozak kesal.


“Hahahaha... biarin garing juga, bukannya yang garing-garing lebih enak?” tanya Rozak.


Pembicaraan mereka terhenti saat mendapati Manda sudah datang dengan membawa nampan berisikan pesanan, mereka berdua.


“Mbak-mbak, mau nanya. Kalau, Pak Rozak makan disini, suka bayar nggak?” tanya Nama pada Manda.


Manda yang mendapatkan pertanyaan tersebut hanya bisa tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Bayak sih, Mbak.”


“Masa?” tanya Nama tidak percaya sambil menatap Rozak yang sedang meminum minumannya.


“Iya, Mbak bayarnya paka ucapan terima kasih,” kekeh Manda sambil berlalu dari hadapan mereka berdua.


“Hilih, kamu yah. Nggak pernah bayar kalau makan, ngutang kamu yah?” tanya Nama pada Rozak.


“Nggaklah, aku bayar tau,” protes Rozak.


“Itu kata Mbaknya, kamu nggak pernah bayar. Cuman bayar pake ucapan terima kasih, doang,” ucap Nama sambil mengambil piring berisikan Chiken cordon blue milik Rozak.


“Ih, aku tuh kerja rodi disini dulu, inget pas Aa Riki sama Cicil di Yogyakarta?”


“Iya,” jawab Nama sambil memotong-motong chikeng cordon blue milik Rozak. Nama memotongnya agar pas untuk Rozak makan.


“Nah, itu aku ngurus ini restoran sampai mau nangis, tau. Capek,” ucap Rozak sambil menatap Nama yang asik memotong chiken cordon blue miliknya.


“Emang nggak digaji?” tanya Nama.


“Boro-boro, cuman diberi ucapan terima kasih doang.”

__ADS_1


“Aduh kacian kamu Kang, pedih yah,” ucap Nama yang menyuapkan sepotong chiken cordon blue kemulutnya. Nama langsung memakannya dengan hikmat.


Rozak menatap Nama bingung, “Sebentar, ini kenapa kok, jadi aneh gini.”


“Aneh gimana?” tanya Nama sambil menyuapkan suapan kedua kemulutnya dan memakannya dengan tenang.


“Itu ‘kan yang kamu makan itu, makanan aku, makanan kamu yang itu,” ucap Rozak sambil menunjuk piring berisikan beef wellington yang masih utuh.


Mulut Nama nampak tertarik ke atas, menandakan Nama tersenyum. “Iya, emang. Terus kenapa?”


Nama menyuapkan kembali chiken cordon blue kemulutnya dengan santainya. “Ada yang salah?”


Rozak langsung mengambil garpu bersih di meja. Dengan kesal di tusuknya potongan chiken cordon blue, “Kenapa kamu yang makan, Anyun!?”


Nama pun tersenyum saat melihat Rozak menyuapkan satu potong chiken cordon blue kemulutnya. “Hahaha... nyicip doang, Kang.”


“Hilih, ya udah aku nyicip punya kamu,” ucap Rozak sambil melirik piring milik Nama.


Dengan cepat Nama mendorong piring berisikan chiken cordon blue kearah Rozak dan menarik piring beriisikan beef wellington kearahnya. “Maaf nggak bisa, Kang. Makanan kamu, makanan aku juga. Tapi, makanan aku yah makanan aku,” kekeh Nama sambil menjulurkan lidahnya.


Rozak langsung mengacak rambut Nama gemas. “Astaga, nyebelin banget sih kamu,tuh.”


Nama dengan cepat mengambil satu potong lagi chiken cordon blue milik Rozak. “Tapi, sayangkan.”


“Nggak, nggak sayang udah,” canda Rozak sambil mendorong piringnya menjauh dari jangkauan Nama.


“Idih, pelit. Orang pelit kuburannya sempit.”


“Nggak gitu konsepnya, Nyun. Nggak gitu juga,” ucap Rozak sambil mencubit pipi Nama yang tampak mengembung.


“Awas aja kamu, yah. Kalau gips Akang udah dibuka,” ancam Rozak.


“Apa, mau apa?” tantang Nama.


Rozak langsung mendekati wajah Nama, mengikis jarak diantara mereka berdua. Nama dengan cepat mengambil sendok dan meletakkan sendok dibibirnya, mengantisipasi serangan kecupan maut milik Rozak yang sudah melagenda.


Rozak hampir tertawa melihat kelakuan Nama, yang membawa sendok untuk menutupi bibirnya. “Ngapain pake sendok?”


“Antisipasi serangan kecupan maut dari kamu,” ucap Nama dengan bibir yang masih ditutupi sendok.


“Hahaha, bener-bener awas kamu yah, kalau gips aku udah kebuka.”


“Apa, mau apa, hah?” tantang Nama.


“Aku seret kamu,” ucap Rozak.


“Idih, mau seret kemana?” tanya Nama.


“Seret kamu ke penghulu,” kekeh Rozak sambil menjawil hidung Nama.


“Awas aja kamu.”


Rozak kaget mendengar perkataan Nama, “Eh, berani, ngancem kamu, Nyun.”


“Beranilah,” jawab Nama.


“Apa ancemannya, apa? Aku mah nggak takut,” ucap Rozak.


“Awas aja, kalau sampai kamu nggak seret aku ke KUA. Aku kutuk kamu jadi siluman kebo, Rozak Trina.”

__ADS_1


••••


Xoxo Gallon.


__ADS_2