
Cicil mendorong koper mini miliknya ke dalam lemari di bagian bawah kasur, dengan susah payah Cicil mendorongnya dengan segala daya dan upaya. Saking berusahanya Cicil sampai-sampai menendang-nendang kopernya dengan kesal.
“Masuk, masuk!?” maki Cicil sambil menendang-nendang kopernya dengan kesal. Kekesalan Cicil bukan apa-apa, hampir lima belas menit dia sudah berusaha untuk memasukkan koper tersebut kedalam lemari tapi susahnya bukan main. Sedangkang, cabin tersebut sempit yang mau tidak mau koper miliknya harus masuk ke dalam lemari dibagian bawah kasur.
“Astaga kenapa nggak mau ma—“
“Kamu kenapa marah-marah?” potong Riki bingung saat melihat Cicil sedang menendang-nendang koper miliknya ke dalam lemari cabin yang ukurannya lebih kecil daripada koper Cicil.
“Ini koper nggak mau masuk dong Aa, padahal kalau nggak masuk sempit jadinya,” rutuk Cicil geram sambil menggaruk-garuk kepalanya kesal bukan main.
“Astaga Neng, nggak bakal masuk mau kamu tendang-tendang juga. Yang ada jebol sayangku, jangan ngaco Neng.” Riki mengangkat badan Cicil dengan sekali angkat dan mendudukkannya di kasur.
Di tariknya koper dari dalam rongga sempit di bawah kasur dengan sekali hentak. Riki dengan cepat menyimpan kopernya ke bagian belakang cabin yang ternyata masih memiliki tempat lowong untuk menyimpan koper milik Cicil.
“Kan Aa udah bilang bawa tas aja, ransel. Nggak percaya malah bawa koper, untung tadi ada pegawai yang bantuin angkat kalau nggak kan berabe,” ucap Riki sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Riki menepuk-nepuk kedua tangannya menatap koper kecil milik Cicil yang benar-benar membuat kepalanya sedikit sakit. Apa coba yang dibawa oleh istrinya itu? Padahal Riki sudah mengingatkan Cicil kalau mereka hanya dua hari satu malam bukan tiga hari dua malam.
Ah … sudahlah istrinya memang beda dengan yang lain, pikirannya sudah di atas rata-rata. Terserah istrinya itu mau melakukan apapun juga yang penting istrinya bahagia dan hidupnya juga bahagia. Dengan cepat Riki membuka jaketnya dan menggantungkannya.
Saat berbalik dan melihat ke arah kasur matanya langsung tidak berkedip sama sekali saat melihat Cicil yang berbaring dengan posisi sensual dan sedang menatap dirinya dengan tatapan mata bambi miliknya.
“Sejak kapan kamu?” tanya Riki terbata sambil menunjuk Cicil dari atas ke bawah sambil menelan salivanya.
Cicil menggerakkan kakinya yang entah bagaimana caranya tampak tetap kecil setelah melahirkan Richie. “Kenapa?”
Pertanyaan Cicil seperti menghipnotis Riki dan membuat Riki mengedipkan kelopak matanya berkali-kali mencoba untuk menjernihkan pandangannya. Pemandangan yang terlalu indah untuk disia-siakan.
Tubuh tanpa sehelai benang pun milik Cicil mungkin sudah bukan hal asing bagi Riki, setiap hari Riki melihat istrinya itu wara wiri tanpa mengenakan apapun di hadapannya tapi detik ini semua hasrat di dalam tubuhnya seperti meronta bejuang untuk keluar dari dalam tubuhnya.
Lampu yang entah semenjak kapan diatur oleh Cicil membuat tubuh Cicil tampak bercahaya, rasanya Riki ingin mengecupi semua lekuk tubuh Cicil dan mengusapnya.
“Neng sejak ….”
Cicil seperti tidak sabar dengan Riki, yang diinginkannya detik ini bukan aktivitas tanya jawab. Yang diinginkan Cicil adalah tubuh Riki diatas tubuhnya atau di samping dirinya, Cicil mau Riki memenuhi semua hasrat sensualnya bukan adegan tanya jawab yang menurut Cicil tidak berfaedah sama sekali.
Cicil berherak mendekati Riki yang masih mematung di ujung ranjang. Dengan cepat Cicil membuka kemeja milik Riki dan melemparkannya kesembarangan tempat. “Mau terus nanya atau mau aku —“
Riki yang mengerti keinginan Cicil langsung mengaitkan bibirnya ke bibir Cicil, menggigit bagian bawah bibir istrinya tersebut sambil mendorongnya agar terlentang dan memenjarakannya dibagian bawah tubuhnya. Sedangkan jemarinya menyusup ke bagian bibir bawah Cicil.
Cicil terkesiap saat merasakan jemari Riki yang menyelusup ke bagian dalam area pribadinya, tanpa malu atau apapun juga Cicil spontan memberikan akses pada Riki untuk memanjakan dirinya dengan menggunakan jemari Riki.
Bibir Riki terus menurun dari leher hingga ke bagian dada Cicil, seperti menemukan apa yang dicari oleh Riki, Riki mengesap bagian pucuk dada Cicil sambil mengigitinya.
“Aa ….” bisik Cicil sambil mengangkat pinggulnya seperti meminta lebih pada Riki. Desahan demi desahan terdengar di ruangan tersebut Cicil yang sudah di buat meledak hasratnya merengek pada Riki agar memasuki dirinya saat itu juga. Sedangkan Riki menolak untuk memasuki Cicil karena dia ingin melihat istrinya itu memohon.
“Aa … please,” pinta Cicil sambil menciumi bibir Riki mengigitnya dan mengangkat pinggulnya meminta Riki untuk memasuki dirinya.
“Mau apa?” goda Riki sambil mencengkram bagian dada Cicil dengan gemas, di pelintirnya bagian pucuk dada Cicil membuat Cicil mendesah dan di buat meledak.
Cicil benar-benar di buat kesal bukan main, dia ingin Riki berada didalammya. “Aa … kalau Aa nggak mau, biar Neng yang gera—“
__ADS_1
Riki membalikkan badan Cicil dan menekannya ke bagian kaca, spontan Cicil mengigit bagian bawah bibirnya saat merasakan sensasi dingin di bagian dadanya. Apa yang Riki lakukan pada dirinya saat itu membuat seluruh bagian dirinya melonjak menikmati sensasi kenikmatan yang membuat desan terlontar dari bibir Cicil.
“Aa … Aa,” jerit Cicil sambil menekan kaca di bagian depan tubuhnya, napasnya tampak menempel di kaca. Badannya bergetar saat merasakan Riki menghunjamnya dengan cepat, menggesek semua bagian kewanitaannya memberikan sensasi yang membuat perut Cicil meletup-letup karena merasakan hentakkan yang diberikan oleh Riki di tubuhnya.
Hentakkan demi hentakkan Cicil rasakan, milik Riki benar-benar menghujamnya tanpa ampun membuat Cicil meracau tanpa tentu arah, napas Riki yang memburu dan hangat terasa di leher Cicil. Riki menggigitin kuping Cicil sedang kedua tangannya meremas bagian dada Cicil dengan kasar, kedua jempolnya menekan dan mengusap pucuk dada Cicil.
“Neng kamu sempit,” bisik Riki sambil terus menghentak tubuh Cicil tanpa ampun dan dengan ritme yang membuat mereka berdua mendesah. Tangan Riki mengusap bagian tubuh Cicil hingga menyentuh bagian pribadi Cicil dan mengusapnya membuat Cicil kewalahan dan berjuang untuk menopang tubuhnyanya agar tidak goyah. Tangan Cicil langsung bertumpu di kasur menahan tubuhnya.
Riki terus menghentaknya, sedangkan Cicil terus mencengkram milik bagian Riki dengan bagian kewanitaannya miliknya. Mereka saling memberikan kepuasan pada pasangannya hingga Riki mencapai pelepasannya. Cicil merasakan semburan hangat didalam tubuhnya. Cicil yang juga sama-sama mendapatkan pelepasan langsung ambruk. Napasnya tersenggal, tubuhnya kelelahan sedangkan Riki memeluk tubuhnya dari belakang. Mengecupi bagian belakanh tubuhnya.
“Neng.”
“Ya?” jawab Cicil sambil mengatur napasnya akibat kelelahan.
“Kamu sempit.”
“Suka?” tanya Cicil yang langsung dijawab kecupan hangat di punggungnya. “Lagi?”
Tawa Riki meledak mendengar perkataan Cicil, istrinya memang tidak pernah cukup satu kali. Tidak akan pernah.
••••
Riki terbangun saat merasakan rambut yang menggelitik hidungnya. “Neng….”
“Pagi suami,” ucap Cicil sambil mengecupi setiap jengkal wajah Riki. Mata Cicil tampak berbinar dan cantik.
“Udah bangun? Jam berapa ini?” tanya Riki sambil mencari handphonennya untuk memgetahui jam berapa.
“Neng tadi malem nggak cukup?” tamua Riki sambil mengecup pucuk rambut Cicil.
“Nggak, nggak pernah cukup,” kekeh Cicil sambil mengaitkan tangannya ke leher Riki kemudian mencium bibir Riki pelan.
“Hahaha …. ya udah istirahat dulu yah,” pinta Riki sambil menjawil hidung Cicil.
Cicil tersenyum kemudian memunggungi Riki dan melihat pemandangan di luar cabin dari kaca. Tubuhnya detik ini sudah diselimuti oleh selimut dan pelukkan Riki. Rasa hangat langsung menjalar di tubuh Cicil.
“Aa … sampai kapan Aa mau sama Neng?” tanya Cicil.
“Sampai mati,” jawab Riki sambil mengeratkan pelukkannya.
“Beneran, sampai kapan?” tanya Cicil sambil mengusap-ngusap kaca didepannya.
Riki mengecup bahu Cicil yang polos, “Sampai mati, sampai aku nggak bisa napas lagi. Kenapa? Nggak mau?”
“Jangan bohong, laki-laki kalau istrinya udah nggak cantik lagi pasti nyari yang lebih lagi.” Cicil mengusap-ngusap kaca di depannya.
“Emang kapan kamu nggak cantik?” tanya Riki sambil mengamati wajah istrinya itu.
“Eh … ya nggak sekarang, nanti pas aku udah tua. Udah keriput udah delapan puluh tahun,” ucap Cicil sambil mengubah posisinya dan menatap Riki. “Kamu masih mau sama aku?”
“Masalahnya pas kamu delapan puluh tahun aku udah delapan puluh tiga tahun. Aku mau kemana? Mau nyari istri muda? Mana ada yang mau sama kakek-kakek, Neng,” kekeh Riki sambil menahan tawanya, terkadangan pertanyaan Cicil membuat Riki tertawa.
__ADS_1
Tawa Cicil terdenger renyah di telinga Riki, terlihat Cicil tertawa lepas saat mendengar perkataan Riki. “Astaga … aku baru ngeh, kalau aku tujuhpuluh tahun kamu juga udah tua.”
“Nah … makanya, coba tolonglah pertanyaannya yang rada bermanfaat. Nggak mungkin aku cari perempuan lain dalam keadaan aku renta.” Riki mengetuk-ngetuh dahi Cicil pelan.
“Aku lupa, kamu bisa tua juga.”
“Makanya coba tanya lagi.”
“Sampai kapan kamu mau sama aku?” tanya Cicil sambil mendekatkan tubuhnya lebih dekat lagi dengan Riki.
“Sampai mati, sampai aku udah nggak bisa napas. Sampai kapanpun, karena aku nggak pernah dan nggak akan bosen sama kamu.”
“Yakin? Walau aku hobinya pake daster kaya emak-emak yang ada di TV?” tanya Cicil sambil menatap Cicil.
Riki berjuang memikirkan Cicil mengenakan daster, sepanjang mereka menikah Riki tidak pernah melihat Cicil menggunakan daster. “Kapan kamu pake daster?”
“Eh … iya kapan aku pake daster?” tanya Cicil yang baru sadar kalau dia tidak pernah pake daster sama sekali.
“Nah, kamu tuh kadang pertanyaannya suka nggak jelas. Udah intinya mau kamu kaya gimanapun bentuknya Aa sayang dan cintanya ama kamu. Nggak deh Aa selingkuh-selingkuh, udah di kasih bidadari masa mau nyari yang lain, udah kamu aja. Kamu lebih dari cukup buat Aa,” ucap Riki sambil mencium bibir bagian bawah Cicil kemudian mendorong pinggul Cicil agar mendekati bagian pribadinya.
Cicil tercengang saat merasakan bagian pribadi milik Riki menggesek miliknya, Cicil tersenyum dia tidak butuh foreplay. Dia selalu siap untuk suaminya. “Lagi?”
Riki tersenyum kemudian menelusupkan bagian pribadinya ke dalam tubuh Cicil, menghentaknya pelan.
Cicil tanpa menikmati hentakkan dari Riki matanya menutup dan bibir mungilnya mendesah memanggil nama Riki. Jari jemarinya menekan dada Riki.
Riki terus menghentak tubuh Cicil memberikan kenikmatan bagi Cicil sambil berbisik pelan di telinga istrinya. “Kamu di mana sayang?”
Mata Cicil yang tadinya Cicil rapatkan langsung terbuka dan langsung beradu pandangan dengan Riki. Mata mereka saling mengunci, tidak ada suara desahan atau apapun juga. Hanya ada gesekkan dan hentakkan lembut yang Cicil rasakan. Kenikmatan yang membuat Cicil tersenyum manis.
Tangan Cicil meraih wajah Riki dan menarik kepala Riki agar mendekati bibirnya. Cicil terus merasakan hentakan demi hentakkan yang membuat pinggulnya ikut bergerak secara sensual. Cicil mengecup bibir Riki kemudian berbisik pelan ditelinga Riki.
“I’m Home.”
•••
...Kisah ini di awali dengan kisah penuh tawa yang membuat pembaca tertawa terbahah-bahak. Terselip cerita Cinta Riki Trina dan Cicil Bouw yang sangat penuh dengan gairah dan cinta ...
...namun, penuh dengan rasa sakit, penerimaan, kesabaran dan aktualisasi diri. ...
...Ada cerita Rozak dan Nama yang sama-sama saling mencintai dan menerima segalanya. Menyayangi pasangannya tanpa memandang status dari Nama. Karena menurut Rozak, Nama adalah gadis pilihannya wanita yang akan di cintainya sampai napasnya hilang....
...Terakhir terdapat pasangan Edy dan Laura, pasangan yang dari awal tidak mungkin bisa bersatu. Namun kegigihan dan kekocakkan Edy mampu membuat Laura jatuh cinta pada Edy. Bahkan, kegigihan Edy dalam mendapatkan restu dari Papih Laura membuat Edy menjadi menantu yang disukai oleh Sabar....
...Mencintai bukan hanyalah menerima kelebihan pasanganmu. Tapi, terimalah kekurangannya karena saat kamu memilih untuk hidup dengan pasanganmu kamu memilih untuk bersama dengan dirinya hingga ajal menjelang....
...Terima kasih sudah mau membaca cerita manis tentang kisah cinta Keluarga Trina. ...
...Sampai jumpa di cerita cinta manis lainnya dari seorang Gallon. ...
Palembang
__ADS_1
•5 Juli 2021 21.00 WIB•