
“Apa?”
“Please,” ucap Cicil sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
“Neng, nggak salah? Kamu ngidam kok aneh gini,” ucap Riki bingung kenapa dengan istrinya itu.
“Ayolah Aa,” pinta Cicil.
“Neng, ngaco kamu mah. Yah, masa Aa harus—“
“Aa, nanti anak Aa ileran mau?” potong Cicil cepat.
“Yah, nggak mau. Tapi, nggak gitu juga, Neng. Cape atuh,” keluh Riki.
“Aa ih, nggak papa sekalian olah raga. Ini bukan Neng yang mau, ini kemauan bayinya loh.”
“Yah tapi, nggak gitu juga.”
“Aa,” rengek Cicil sambil menatap Riki dengan tatapn puppie eyes andalannya.
“Buat apa sih?”
“Ingin aja gitu, kan sekalian ngebahagiain orang juga, Aa. Nanti, kita ke rumah Taca deh, biar seru,” ucap Cicil.
“Astaga, terserah kamulah. Kamu suka aneh-aneh aja. Awas aja kalau sampai anaknya pas lahir ngiler. Kamu Aa makan,” ancam Riki sambil membukakan pintu mobil Tesla, yang entah kenapa Adipati berikan pada Cicil kemarin sore.
“Aw ... mau dong dimakan. Tapi, jangan dikasarin yah,” ucap Cicil sambil mengedipkan sebelah matany.
Riki hanya bisa tersenyum melihat betapa centilnya istrinya itu. Dengan cepat Riki berjalan memutar lewat belakang mobil Tesla tersebut kemudian, duduk di kursi pengemudi.
“Neng,” panggil Riki.
“Apa?” tanya Cicil sambil mengelurkan seplastik keju dari tasnya.
“Astaga, itu keju dibawa?” tanya Riki kaget.
“Iya, kemanapun dan kapanpun. Kenapa ada apa?” tanya Cicil penasaran sambil memasukkan dua bongkah keju kecil ke mulutnya.
“Nggak, cuman mau ngomong aja. Wanita itu mahluk lembut, Neng.”
“Terus?” tanya Cicil yang sudah hapal bila suaminya itu akan mengelurkan kata-kata gombalan extra garing dari mulutnya.
“Nggak usahlah wanita itu dikasarin,” ucap Riki sambil mencubit kedua pipi Cicil dan menggoyang-goyangkannya ke kanan dan ke kiri.
Cicil hanya bisa pasrah pipinya dijadikan sasaran empuk Riki, entah sejak kapan Riki sangat suka mencubiti pipi Cicil yang makin chubby.
“Terus diapain?” tanya Cicil yang walaupun dia tau jawabannya akan garing. Namun, jiwa penasarannya sedang meronta kuat dengan apa yang akan dikatakan Riki.
“Tapi, dikasurin,” canda Riki sambil mengecup bibir Cicil yang tampak menggoda.
Cicil langsung berkata dengan nada ceria, “Oke sip, mau kapan? Sekarang? Di sini?” tanya Cicil sambil menjamah kancing dan resleting celana Riki.
__ADS_1
“Nggak sekarang juga, kamu kenapa kalau masalah begituan cepet bener sih, Neng?” tanya Riki gemas dengan kelakuan binal istrinya.
“Nggak tau, settingan otaknya begitu emang.” Cicil berkata sambil merapihkan blousenya.
“Serem bener settingannya, nggak bisa diubah. Kebayang kalau anak kita udah gede terus kamu minta jatah gimana caranya coba?”
“Aa, tau yang namanya les privat nggak?”
“Tau, apa hubungannya coba?” Riki bertanya balik, apa hubungannya antara les privat dengan minta jatahnya Cicil.
“Jadi, kalau aku mau minta jatah suruh aja anaknya les privat di bawah. Kita di atas bisa kuda-kudaan,” jawab Cicil sambil menjentikkan jarinya.
“Udah kamu pikirin?” Riki hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Cicil, istrinya ini benar-benar memikirkan semuanya dengan matang, iya semua yang ada urusan dengan ranjang. Cicil ahlinya.
“Udahlah, aku udah pikirin semuanya, pokoknya aku nggak mau diganggu masalah itu dan kamu sebagai suami,” ucap Cicil sambil menunjuk Riki.
“Iya,” jawab Riki.
“Harus pasrah menerimanya,” kekeh Cicil.
“Astaga, Neng. Disangka Aa punya salah,” ucap Riki.
“Eh emang kamu tuh salah aja,” canda Cicil sambil menepuk paha Riki.
“Apa lagi? Aku kenapa lagi? Salah lagi?” tanya Riki.
“Eh....”
“Eh, mau pindah kemana?” tanya Cicil bingung.
“Pindah aja ke idung atau telinga kamu, biar nggak salah,” canda Riki.
“Astaga, Aa jayus. Nggak banget sumpah, candaannya garing kaya pop corn,” kekeh Cicil.
“Kalau garing kenapa ketawa?” tanya Riki.
“Kepaksa Aa, kasian suami nggak ada yang ngetawain candaannya,” kekeh Cicil.
“Ya ampun, mulia sekali hati istriku ini.” Riki berkata sambil membelokkan mobilnya ke gedung perusahaan milik Cicil yang berdiri kokoh dan megah.
“Iyalah, aku tuh istri terbaik versi Riki Trina,” ucap Cicil sambil menggerakkan pipi Riki agar menatapnya kemudian dengan cepat mengecup bibirnya cepat.
“Astaga, Neng itu satpam liatin.”
“Bodo amat,” jawab Cicil sambil mengedipkan matanya dan keluar dari mobil. “Aa nanti jemput dan langsung lakuin ngidam Neng yah. Siapin itu lutut, sayangku.”
Riki hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Cicil keluar dari mobil. Riki langsung melihat raut wajah Cicil berubah 180 derajat saat berhadapan dengan satpam dan karyawan lainnya. Yah, istrinya langsung berubah jutek bila sudah tidak bersama dengan dirinya lagi.
•••
“Aa,” bisik Cicil manja, suara Cicil berpadu dengan suara Riki yang terdengar lelah menggerakkan tubuhnya untuk menghentak.
__ADS_1
“Hah ... udah Neng, Aa nggak sanggup. Lutut Aa,” ucap Riki sambil terengah-engah.
“Ayo, Aa aku mau lagi, please,” pinta Cicil.
“Neng aku udah nggak kuat, pinggul ama lutut Aa udah nggak kuat. Sumpah ini udah lima kali, Neng.” Riki berkata sambil menggelengkan kepalanya.
“Aa, please,” bisik Cicil sambil mengeratkan pegangannya, meminta lebih lagi.
“Astaga, Neng ....”
Riki benar-benar kelelahan sudah lima ronde dia menggoyang, lututnya sakit bukan main. Napas, tenaga dan keringatnya sudah banyak keluar. Sedangkan, Cicil tampak menikmati semuanya tanpa bergerak sama sekali, menikmati semua pergerakan keatas dan kebawah.
“Aa,” bisik Cicil lagi.
“Aku nggak—“
“Wa, Riki lagi dong,” pinta Kalila sambil menggerakkan kepala singa di hadapannya.
“Wa Riki ayo cepet,” ucap Kama sambil menepuk-nepuk pahanya.
“Om Riki Liz mau terus digoyang,” kekeh Iis yang ikut menemani Liz, Kama dan Kalila menaiki odong-odong di depan rumah Taca dan Adipati.
“Astaga, kenapa kamu ngidam aku ngayuh odong-odong sih. Terus kenapa kamu bisa muat duduk di odong-odongnya, Neng.” Riki tidak habis pikir bagaimana caranya Cicil bisa muat di odong-odong tersebut.
“Di modifikasi, Aa. Udak cepetan kayuh lagi. Dihentak itu kakinya, ih,” pinta Cicil sambil menepuk bahu Riki.
Iis hampir tertawa keras melihat betapa menderitanya Riki yang terus menggayuh pedal sepeda, bahkan setelah habis lima lagi balonku ada lima, Cicil masih memaksa Riki mengayuh odong-odong yang ada.
“Astaga Aa, maaf aku nggak sanggup buat nggak ketawa,” ucap Iis sambil menahan tawanya.
“Dosa kamu, Iis. Ngetawain yang lebih tua,” rutuk Riki sambil terus mengayuh odong-odong ditemani lagi balonku ada lima versi bahasa arab.
“Ya, maaf.” Iis berkata sambil menahan badan Liz yang duduk disalah satu odong-odong.
“Aa, cepet ih. Kayuhnya yang cepet gitu. Ini lagi enak anginnya sembriwing,” pinta Cicil sambil memainkan rambutnya.
“Tobat, Neng. Untung cinta, kalau nggak,” ucap Riki sambil terus berusaha mengayuh odong-odong.
Taca yang datang membawa minuman dingin hanya bisa menahan tawanya melihat Aa Riki dipaksa untuk mengayuh odong-odong.
“Sabar yah, Aa. Cinta memang butuh pengorbanan,” kekeh Taca.
“Tobat, Taca!?”
•••
Hahahahhaaa...
Pikirannya jangan traveling makanya, di sini aja jangan kemana-mana hahahahaa...
Maaf yah aku cuman bisa up 1 kali, anak aku sakit flu, radang dan demam jadi nemplok di dada aku seharian. Nggak fokus nulis, doakan anak aku sehat yah, biar besok aku bisa update bener lagi.
__ADS_1
XOXO Gallon.