
Kharis yang memang merasa sangat lapar akhirnya menghentikan terlebih dahulu mobilnya di salah satu tempat makan cepat saji di Jakarta. Kharis benar-benar butuh makan yang banyak, semenjak menyusui Sean dia benar-benar membutuhkan makanan yang sangat-sangat banyak.
Ini adalah hari Kamis, hari di mana dirinya memiliki jadwal untuk bertemu dengan Albert Connor. Iya …. Kharis selalu rutin menemui Albert, keluarga Albert sama sekali tidak ada yang mau mengurusnya sama sekali. Mereka hanya menitipkan uang dan memberikan uang juga pada Kharis krn Kharis memiliki anak Albert. Itu pun setelah melakukan test DNA yang sangat menjelimetkan.
Albert sudah mulai sembuh, dia sudah tidak lagi berhalusinasi bersama Cicil. Psikiater telah memberikannya obat-obatan yang membuat Albert mulai sadar dengan dunia nyata. Namun, Albert masih belum mau berbicara sama sekali, Albert hanya diam dan menatap satu titik tanpa bergerak sama sekali.
Kharis langsung memakan makanannya dengan cepat dan sigap, mumpung anaknya tertidur dengan nyenyak. Saat selesai makan dan akan kembali ke arah mobilnya, seorang satpam mendekati Kharis.
“Bu, Ibu kenal sama orang itu,” tanya Saypam sambil menunjuk sepasang lelaki dan wanita yang berjalan ke arah mobilnya.
Kharis memanjangkan lehernya untuk melihat siapa yang dimaksud oleh satpam tersebut. Kharis sampai memicingkan matanya agar dapat melihat dengan jelas. “Ah … kenapa emangnya Pak?” tanya Kharis penasaran.
“Nggak tadi dia itu ngeliatin terus anak Ibu, saya sangka dia mau nyulik anak Ibu,” ucap Satpam tersebut sambil menunjuk pasangan itu lagi. Pasangan itu sudah masuk kedalam mobilnya dan berlalu dari parkiran tempat makan tersebut.
Kharis hampir tertawa mendengar perkataan satpam tersebut, Kharis yang tau siapa pasangan pria dan wanita tersebut hanya bisa tertawa mendengar perkataan satpam itu. “Pak, tenang. Saya kenal kok mereka, mereka nggak bakal mungkin nyulik anak saya. Paling mereka cuman penasaran kenapa tiba-tiba saya punya anak,” terang Kharis sambil tersenyum manis pada satpam tersebut.
“Masa? Abis saya liat mereka tampak mencurigakan Mbak, mirip kaya orang yang mau nyulik anak terus anaknya di jual,” ucap Satpam tersebut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya masih dalam mode siaga.
“Mana anak Mbak lucu kan, lumayan Mbak kalau di jual,” ucap Satpam itu lagi.
Kharis hanya bisa menahan tawanya mendengar perkataan satpam tersebut. Harus diakui Sean memang ganteng seperti ayahnya dan hari ini adalah hari pertama Sean akan bertemu dengan Ayahnya. Moga saat Albert bertemu dengan Sean Albert sedikit sadar.
“Nggak papa, Pak. Pak … saya duluan yah,” ucap Kharis sambil pergi berlalu dari sana dengan mendorong stroller miliknya.
“Hati-hati mbak,” ucap Satpam itu sambil melambaikan tangannya tampak bersimpati melihat Kharis yang sendirian mengurus anaknya. Di pikiran satpam twrsebut mungkin suaminya sedang pergi kerja atau jangan-jangan wanita itu korban pemerkosaan TKW. Namun, dengan cepat Satpam tersebut menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak baik berpikir yang aneh-aneh.
Kharis langsung mendudukkan sean di carseat dan memasukkan stroller ke dalam mobil miliknya. Dengan sekali gas, Kharis sudah meninggalkan pelataran parkir.
••••
Sesampainya di Rumah Sakit Jiwa, Kharis mendorong strollernya dengan cepat. Dirinya berjalan bersama Dokter jiwa yang menangani Albert.
__ADS_1
“Dok, maaf bagaimana dengan kondisi Albert saat ini?” tanya Kharis, kharis yang sudah tidak pernah menengok Albert selama dua minggu karena kondisi tubuhnya tidak enak, penasaran bagaimana keadaan Albert.
Senyuman merekah di wajah dokter tersebut, “Pak Albert sudah mulai bisa untuk melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik. Dia sudah tidak berkhayal lagi, sudah bisa di ajak ngobrol walau hanya menjawab dengan anggukkan dan gelengan saja.”
“Ah … sudah ada kemajuan yah Dok,” ucap Kharis sambil mendorong stroller Sean.
“Yah … walau belum ada binar kehidupan di matanya. Albert masih dalam keadaan auto pilot. Tapi, sedikit demi sedikit pasti sehat dan sembuh. Jangan dipaksa yah Bu,” ucap Dokter itu sambil tersenyum tulus pada Kharis.
Kharis berusaha untuk tersenyum walau sebenarnya dia lelah. Dia lelah harus bulak-balik mengurus Albert. Sejujurnya dia awalnya ingin melarikan diri sejauh mungkin dari Albaert. Melarikan diri dan mengubur masa lalunya bersama Albert dan mencari pekerjaan yang baru.
Tapi, saat mengetahui kalau dirinya hamil anak Albert. Saat itu juga rencanannya gagal total, Kharis harus ikhlas dan menerima segala konsekuensinya, Kharis akhrinya menghubungi keluarga Albert di Inggris dan mengatakan segala-galanya.
Keluarga Albert di Inggris akhirnya mau memberikan uang dan segalanya untuk Kharis dan anaknya. Mengakui kalau anaknya adalah anak Albert setelah melalui test DNA yang pelik. Namun, Kharis harus mengurus Albert hingga sembuh di Indonesia. Dan, di sinilah dirinya mengurusi Albert dan Sean anaknya.
“Bu, Pak Albert ada di sana,” ucap Dokter itu sambil menunjuk Albert yang sedang duduk menatap keluar jendela.
“Saya kesana dulu, Dok,” ucap Kharis.
“Iya ah, saya bantu bawakan kursinya yah,” ucap Dokter tersebut sambil membawakan kursi kemudian menempatkannya berhadapan dengan Albert.
Kharis tersenyum pada Dokter tersebut dan mengucapkan terima kasih sebelum terduduk di kursi.
“Hai … apa kabar?” tanya Kharis sambil mengelus paha Albert.
Albert hanya diam tidak bergerak sama sekali. Tatapan matanya kosong dan hanya melihat ke arah taman. Tidak ada senyuman tidak ada apapun hanya ada tatapan kosong dari wajah Albert.
Kharis hanya bisa tersenyum, terkadang dia merasa sangat sia-sia melakukan semuanya ini. Rasanya Kharis ingin menangis dan mengutuki nasibnya yang sangat-sangat berbanding terbalik dengan apa yang Kharis bayangkan dulu. Dulu Kharis hanya ingin bersenang-senang tanpa ada beban.
“Albert, kamu udah makan? Makanannya enak?” tanya Kharis sambil mengusap-ngusap paha Albert ke atas dan ke bawah berharap ada respon sedikit saja. Namun, nihil Albert hanya diam tak bergerak sama sekali.
“Aku tadi udah makan, lapar banget tadi. Anak kamu itu yah kalau udah nyusu aduh ampe abis kayanya susu aku,” ucap Kharis sambil menatap Sean yang tertidur nyenyak.
__ADS_1
Hening, Albert hanya diam tak bergerak sama sekali. Hanya melirik Kharis sekilas.
Kharis hanya bisa menghela napas hingga ….
“Oee …. Oee …. Oeee ….”
Kharis langsung menggendong Sean dan mengeonnya. Saat sedang mengeongnya. Kharis merasakan tepukkan di bahunya. Saat melihat siapa yang menepuknya Kharis terkaget-kaget.
“Albert?”
“Anak siapa?” tanya Albert sambil menunjuk Sean dengan tatapan berbinar.
Tangis Kharis hampir pecah saat mendengar pertanyaan Albert. “Anak kamu, Al.”
“Anak aku?” tanya Albert tidak percaya.
“Iya sayang ini anak kamu, mau gendong?” isak Kharis sambil memberikan Sean kegendongan Albert.
“Mau, ini anak aku? Kamu nggak bohong Kharis. Aku punya anak? Siapa ibunya?” tanya Albert sambil mencium pipi gembil Sean.
“Aku, aku ibunya,” ucap Kharis pelan.
Albert diam dan melihat Kharis sambil tersenyum. “Jadi ini anak kita sayang?”
“Iya, ini anak kita. Makanya kamu sembuh yah. Biar bisa kita urus anak ini bareng-bareng sayang.” pinta Kharis sambil memeluk Albert dan mengecupi rambut Albert pelan.
“Iya, aku sembuh … aku bakal sembuh demi anak kita.”
Dan detik itu air mata mengalir di kedua pipi Albert dan Kharis. Bersyukur pada tuhan, Albert bisa tersadar dan memberikan kesemptan kedua bagi mereka berdua.
•••
__ADS_1
Hai …. Karena aku masih sakit, jadi ini tamatnya nggak tau kapan yah. Kalau aku kuat secepatnya klo nggak sehari satu bab. Iyah tinggal 3 bab lagi sebenarnya cerita ini. Tapi, aku nggak sanggup hehehee….
Xoxo Gallon yang hobi kellon