Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
The party’s is over..!


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️


•••


Malam itu Albert sudah mengenakan setelan tuksedo keluaran brand Armani yang sudah melekat sempurna dibadannya. Dibukanya kotak beludru merah ditangan kanannya, sebuah cincin bertahtakan berlian 2 karat tampak mempesona.


Albert tersenyum senang, dibayangkannya pekik gembira Cicil saat mendapatkan cincin tersebut. Mungkin malam ini dia bisa bersama dengan Cicil menikmati romantisme dewasa di kamarnya atau mungkin lebih liar lagi. Ah...rasanya Albert tidak sabar menunggu hal itu terjadi.


Dengan cepat Albert pergi meninggalkan penthouse miliknya, sambil membawa kotak beludru merah dan sebuket bunga mawar putih kesukaan Cicil.


•••


“Maksud kamu apa Tisa?” tanya Jeff kesal saat mengetahui kalau anaknya sama sekali tidak bisa dihubungi.


“Iya, Pak. Bu Cicil ngak ada. Bu Cicil ngak bisa saya hubungi sama sekali. Terakhir dia pergi sama pacarnya,” jawab Tisa sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ah.. Tisa benar-benar lelah mengurusi bossnya ini.


“Pacar...!?” tanya Jeff.


“Iya pacarnya, Pak,” Tisa menjawab pertanyaan Jeff sambil sedikit meringis.


“Dia pergi sama Albert?” tanya Jeff lagi.


“Bukan, Pak. Tadi Bu Cicil bilang kalau dia sudah tidak ada hubungan lagi sama Pak Albert, nama pacarnya tadi aduh siapa yah...” Tisa berjuang mengingat nama laki-laki yang tadi Cicil kenalkan padanya.


“Astaga Tisa, namanya siapa? Seingat saya kamu masih 23 tahun, masa udah pikun..!!!”bentak Jeff kesal, kepalanya pusing bukan main. Cicil anak satu-satunya hilang entah kemana disaat dia akan menunangkannta dengan Albert Connor.


“Lupa Pak... bentar, namanya Ri, Kirik, Biri, Ri...Ri...” Tisa sepertinya harus banyak-banyak minum vitamin untuk daya ingat, dia benar-benar lupa siapa namanya pacar Cicil.


“Aduh, Tisa...!!”


“Papih, kenapa?”tanya Albert yang muncul tiba-tiba.


“Albert,”panggil Jeff kaget melihat calon mantunya sedang berdiri menatap dirinya.


Albert tersenyum pada Papih, “Maaf Pih, keluarga aku masih di Inggris. Palingan mereka datang kalau acara pernikahan, ada apa Pih? Cicilnya mana?”tanya Albert sambil mengedarkan pandangannya kekanan dan kekiri mencari Cicil.


“Cicilnya ada...ada...”dusta Papih, tidak mungkin dia bilang kalau sampai detik ini dia belum menemukan Cicil dimanapun.


“Dimana? Saya mau ketemu,”ujar Albert, dia sudah tidak sabar menemui Cicil.


“Ah lagi sama Mamihnya, lagi dandan, kamu santai-santai aja disana,”ujar Jeff sambil menunjuk kesembarang tempat, untungnya bagian yang ditunjuk Jeff adalah bagian yang terdapat teman-teman Albert.

__ADS_1


“Ah, ya udah saya kesana dulu, Pih,”ujar Albert sambil pergi meningalkan Jeff.


Jeff langsung menghela napasnya, Jeff benar-benar kebingungan dimana sebenarnya Cicil. “Tisa, udah inget kamu namanya?”desak Jeff.


Tisa mengetuk-ngetukkan sepatu hitamnya ke lantai marmer, berharap mendapatkan ilham siapa nama lelaki yang tadi Cicil sebutkan.


“Ngak tau Pak, saya lupa,”desis Tisa sambil menatap Jeff dengan tatapan penuh permintaan maaf.


“Haduh, kamu tuh. Sekarang kamu telepon terus Cicil dan cari istri saya..!!!”bentak Jeff sambil berjalan meningalkan Tisa yang hanya bisa menghela napas.


Tisa langsung melangkahkan kakinya meningalkan tempat tersebut berusaha untuk mencari Ibu Rea Bouw dan Tisa tau dengan pasti dimana bisa menemukan Ibu Rea.


•••


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, para tamu undangan sudah hampir banyak yang pulang. Albert makin penasaran dimana sebenarnya Cicil dari tadi dia mencari dimana Cicil berada.


Albert langsung berjalan ke arah rumah Cicil, dia sudah sangat hapal tata letak rumah milik Cicil. Berkali-kali dia menginap dirumah Cicil. Dia ingat betul dimana kamar tidur Cicil.


“Papih masa ngak tau dimana Cicil, sih?”tanya Rea sambil berjuang mempertahankan kesadarannya, Rea dari tadi sudah menegak beberapa botol minuman beralkohol.


“Kalau Papih tau udah dari tadi Papih jemput, Papih udah teleponin semua nomer Cicil ngak ada satupun yang aktif,”ujar Jeff sambil mengutak atik layar handphonenya.


“Yah, ngak tau lah ‘kan Papih selalu bilang kalau Cicil anak Papih, Mamih ngak usah ngurus urusan Cicil dan Papih. Mamih cuman iya iya doang. Mamih cuman boneka pajangan doang,”jawab Rea dingin, luka yang ditorehkan Jeff pada diri Rea membuat Rea membangun benteng super tebal dan tinggi antara dirinya dan Papih juga Cicil anaknya.


Wanita bernama Rea ini sudah dinikahi Jeff selama 32 tahun. Selama 32 tahun pernikahan mereka hanya 20 tahun mereka merasakan bahagia, selebihnya adalah neraka..!


“Ya udah,”jawab Rea ketus sambil menenggak segelas minuman berwarna hijau dan memiliki rasa melon sampai tandas.


“Tisa..”panggil Jeff pada Tisa yang dari tadi berdiri dipojokan bersama Rully assisten Jeff.


“Iya Pak,”jawab Tisa.


“Masih belum bisa kamu hubungi Cicil, sama kamu belum inget siapa nama pacar Cicil?”sentak Jeff kesal.


“Pacar?”tanya Albert kaget sambil masuk kedalam ruangan itu.


Semua yang berada didalam ruangan tersebut kaget bukan main dengan masuknya Albert. Albert yang mencium bau-bau tidak enak langsung masuk dan berjalan kearah Jeff.


“Pacar gimana, Pih? Pacar Cicil itu saya,”ujar Albert sambil menunjuk dadanya.


“Iya, tentu saja kamu pacar Cicil..”


“Tapi, tapi kata Bu Cicil dia sudah tidak ada hubungannya lagi sama Pak Albert, dia bilang pacarnya namanya...”Tisa masih belum bisa mengingat nama kekasih Cicil yang baru.


“Maksud kamu apa?!”bentak Albert, kemarahannya memuncak. Siapa yang berani merebut mainan kecilnya?

__ADS_1


Tisa yang baru sekali itu dibentak Albert hanya bisa menatap Albert ketakutan. Tatapan Albert yang seakan akan memakannya dan menggerusnya menjadi kepingan abu, membuat Tisa memundurkan kakinya.


“Siapa yang bilang..!”tangan Albert mencengkram bahu Tisa dengan keras. Saking kerasnya buku dan ipad yang dipegang Tisa sampai jatuh menghantam lantai marmer.


“Pak...”pekik Tisa kesakitan, sakitnya bukan main.


“Pak kasian Tisa, Pak,”ujar Rully sambil mencoba melepaskan cengkraman Albert tapi hasilnya nihil. Albert tetap mencengkram bahu Tisa dengan sangat keras.


“Siapa pacar Cicil?!”tanya Albert lagi.


Diantara rasa sakit yang teramat sangat, otak Tisa bekerja dengan cepat. Nama, dia membutuhkan nama. Ah siapa namanya, siapa...!!! seperti mendapatkan cahaya lampu yang menyinari otaknya, akhirnya Tisa mengingat nama kekasih Cicil.


“Riki Pak, namanya Riki..!!!”


Brak...


Dengan sekali dorongan Albert mendorong Tisa hingga tersungkur ke bagian bawah meja. Rully dengan sigap membantu Tisa.


“Siapa Riki?”tanya Jeff bingung, “kamu tau siapa Riki?”tanya Jeff pada Rea dan hanya dijawab gelengan kepala oleh Rea.


“Aku tau siapa Riki, Pih,”ujar Albert mengepalkan tangannya.


“Siapa?”


“Riki Trina pemilik restoran Water Teapot,”ujar Albert.


“Hah... sejak kapan Cicil bergaul dengan orang miskin?”tanya Jeff kaget.


Albert langsung keluar dari ruangan tersebut meningalkan Jeff, Rea, Tisa dan Rully. Napasnya memburu, amarahnya sudah dipuncak. Dia siap memakan siapapun, ingat siapapun, termasuk seorang Riki Trina..!!


“The party’s is over..!!” ujar Albert sambil berjalan ke arah mobilnya.


(Pesta sudah selesai atau bahasa slangnya untuk udah selesai, mari kita selesaikan masalah yang ada)


•••


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2