Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Permintaan Albert


__ADS_3

“Aku mau kamu,” ujar Albert sambil menatap Cicil.


Cicil langsung mundur dua langkah hingga menanrak Laura. “Maksudnya?”


“Aku mau kamu, Baby,” ucap Albert sambil berusaha menggapai Cicil.


Cicil hanya bisa bergidik saat tangan Albert berusaha untuk menyentuhnya. Rasa bencinya sudah sampai ke ubun-ubun, semejak Albert menculiknya Cicil benar-benar membenci lelaki sinting didepannya ini.


“Nggak, keluar kamu,” bentak Cicil kesal.


“Baby...” pinta Albert pelan, manik mata Albert yang abu-abu menatap Cicil dengan tatapan penuh penyesalan dan penuh cinta. Ah... andai Cicil tidak tau betapa kasarnya Albert, mungkin detik ini dia akan melemparkan dirinya kepelukkan Albert.


“Nama aku Cicil. Jangan panggil Baby. I am not your Baby, anymore, Albert,” dengus Cicil kesal.


(Aku bukan Baby((kekasih)) kamu lagi)


“You always and still my Baby, Cil,” ucap Albert sambil mendorong badan Laura dan Cicil, agar dirinya bisa masuk keruang keluarga Abah.


(Kamu akan selalu menjadi kekasihku, Cil)


Cicil dan Laura yang kalah ukuran hanya bisa mundur dan memberikan jalan bagi Albert untuk masuk kedalam ruangan.


Albert dengan tenang duduk di tempat duduk tamu. Matanya melihat seisi ruangan dengan tatapan mencemooh.


“Kamu beneran mau nikah sama orang miskin?” tanya Albert sambil menatap Cicil.


“Maksudnya apa?” tanya Cicil kesal saat mendengar perkataan Albert. Entah kenapa dia selalu kesal bila ada yang meremehkan Riki dan keluarganya.


“Emang kamu bisa jadi orang miskin? Lower class, are you sure?” tanya Albert sambil menopangkan kakinya.


(Kelas bawah, kamu yakin?)


“Kalau ngomong tuh dijaga yah, Riki dan kelurganya nggak sehina itu. Malah mereka jauh lebih baik daripada kamu dan seluruh leluhur kamu di Inggris sana,” bentak Cicil kesal, Cicil benar-benar jengah mendengar Albert yang menghina keluarga Riki. Emang kenapa kalau kelas bawah, emang kenapa kalau miskin, emang kenapa kalau bukan keluarga sultan? Kenapa, emang mereka nggak pantes hidup apa?


Dengusan keras dan menghina dari Albert terdengar di kuping Cicil, Cicil makin geram dengan kelakuan Albert. Rasanya ingin Cicil mencabik-cabik wajah Albert.


“Harga tas kamu yang dulu aku kasih ke kamu aja, lebih mahal daripada harga rumah ini, Baby,” ucap Albert sambil melemparkan bantal disamping kesembarang tempat.


“Bibir kamu tuh, yah. Nggak punya filter, kalau orang miskin kenapa emangnya? Nggak boleh idup apa mereka?” tanya Laura yang sedikit tersulut dengan perkataan Albert. Kekasih Laura detik ini juga bukan anak sultan. Rumah Edy pun sederhana, oke fine, jelek lebih tepatnya. Tapi, mereka manusia juga.


“Kalau orang miskin harusnya sadar diri dan nggak usah mimpi punya pacar dan nikah sama orang-orang kaya kita. Tau dirilah,” jawab Albert acuh.

__ADS_1


“Sombong banget kamu Al, emang apa bedanya orang kaya sama miskin?” tanya Laura lagi kesal.


Albert menunjuk dirinya sendiri sambil tersenyum, “Aku bedanya. Aku ada diluar penjara dan cuman tahanan wajib lapor, padahal aku di tuntut karena hal yang biasa....”


Mata Cicil membulat, hal biasa? Memukulinya dan menjadikannya samsak hidup adalah hal biasa!? Astaga, rasanya Cicil ingin menangis mendengar perkataan Albert, sebegitu rendahkah dirinya di hadapan Albert, hingga menjadikannya samsak hidup adalah hal yang lumrah? Sinting!?


“Sedangkan, Riki? Dia sedang mendekam dengan semua tikus kotor di dalam penjara sana. Karena, apa?” ucap Albert santai.


“Apa?” tanya Cicil sambil mengeretakkan giginya kesal.


“Karena, dia nggak punya koneksi sama sekali. Dia mati,” ucap Albert.


Cicil menggigit bagian bawah bibirnya, apa yang dikatakan Albert benar. Seandainya, Jeff tidak menolak untuk membantu Riki, mungkin detik ini Riki sudah ada disini. Keluar dan bebas dari dugaan dan tuntutan yang ada. Cicil pun tidak mungkin meminta bantuan teman-temannya, tidak ada yang mau membantunya. Laura? Tidak mungkin dia memaksa Laura untuk menurunkan tim hukumnya hanya untuk mengeluarkan Riki. Bisa hancur reputasinya di mata lingkaran pertemanan mereka.


“Aku bakal telepon tim hukum keluar....”


“Jangan, Laura. Nggak usah, aku nggak mau reputasi kamu ancur,” potong Cicil sambil menepuk pelan paha Laura.


Laura langsung memasukkan kembali handphonennya kedalam saku celana tidurnya. Dia tau apa yang dikatakan Cicil benar, gosip kecil di kalangan mereka, bisa menghancurkan reputasi sebuah keluarga sampai ke akar-akarnya dan Laura tidak bisa menghancurkan reputasi keluarganya.


“See... mending kamu balik ke aku, Baby,” ucap Albert sambil mengangkat sebelah alisnya.


“Mau kamu apa?” tanya Cicil akhirnya.


Albert tersenyum mendengarkan perkataan Cicil, sepertinya Cicil sudah mengerti kuasanya. Detik ini Cicil hanya wanita biasa, wanita tanpa nama keluarga Bouw. Wanita tak berkasta.


“Mau aku, kamu berubah nama....”


“Maksudnya, Cicil harus bikin acara bubur merah bubur putih?” tanya Laura bingung.


“Hah?” Albert yang tidak mengerti adat istiadat Indonesia hanya bisa menatap Laura bingung.


“Udah, nggak usah ngomongin adat istiadat. Maksudnya apa?” Cicil kesal dengan pembicaraan yang ngolor ngidul tak jelas ini. Dia benar-benar butuh kejelasan dari Albert.


“Nikah sama aku, ganti nama kamu dari Cicil Bouw, menjadi Cicil Connor. Kalau kamu mau, aku bakal keluarin Riki dari penjara. Secepat kilat,” ucap Albert sambil tersenyum.


Mata Cicil membulat saat mendengarkan perkataan Albert, menjadi istri seorang Albert Connor dan menjadi samsak hidup seumur hidupnya? Astaga bisa masuk rumah sakit jiwa yang ada dirinya. Tapi, gimana dengan Riki?


“Kalau aku nikah sama kamu, kamu bakal keluarin Riki?” tanya Cicil pelan.


“Bukan hanya dikeluarin, aku bakal pastikan dia sukses. Aku bakal sokong dia semuanya, usahanya. Semuanya,” ucap Albert sambil menatap Cicil, “asal kamu mau nikah sama aku.”

__ADS_1


“Cil, jangan gila. Kamu, mau ngorbanin hidup kamu? Kamu, bisa mati disiksa Albert.” Laura mengingatkan Cicil sambil mendorong bahu Cicil pelan. Laura tau, Cicil itu sangat-sangat mencintai Riki dan akan melakukan apapun demi menyelamatkan Riki.


“Kalau aku nikah sama kamu, kamu bakal lakuin itu semua?” tanya Cicil lagi.


“Semuanya, Baby,” ucap Albert.


“Jadi Riki bisa bebas?”


Albert, Cicil dan Laura langsung menengok ke sumber suara. Terlihat Abah dan Rozak berdiri di ambang pintu.


“Bisa, Abah? Nama kamu Abah ‘kan?” tanya Albert tanpa ada sopan santunnya.


“Iya, saya Abah. Jadi, anak saya bisa bebas?” tanya Abah cepat sambil duduk dihadapan Albert.


“Iya, anak Abah bisa bebas, bahkan akan saya bikin sukses. Tapi, ada syaratnya,” ucap Albert sambil memajukan tubuhnya mendekati Abah.


“Apa?” tanya Abah penasaran.


“Cicil, Cicil harus nikah sama saya.”


Abah terdiam mendengar perkataan Albert, semudah itu mengeluarkan Riki dari penjara. “Semua catatan kejahatan Riki hilang?”


“Hilang, pooppp. Hilang seperti angin,” ucap Albert santai, bukan hal sulit mengeluarkan Riki dan membuat Riki sukses.


“Ya udah...” ucap Abah santai sambil menujuk Cicil.


Cicil kaget ditunjuk oleh Abah, apa maksudnya? Apa Abah memaksa dirinya untuk menikah dengan Albert, memaksanya menjadi samsak hidup?


“Abah,” cicit Cicil pelan.


“Ya udah....”


•••


Ya udah apa ini teh atuh Abah, jangan bikin reader sama Kaka gallon pusing 😭😖😖


Itu like jangan lupa di pencet pake jempol kaki. Bisa nggak yah? *nyobain ah 🤣🤣


Jangan pernah sungkan buat kasih vote dan point buat Mr and Mrs Trina 🕺🏻💃🏻


XOXO GALLON

__ADS_1


__ADS_2