Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Ide Si semprul


__ADS_3

“Di hutan Maribaya,” ucap Juan.


“Lo mau nikah apa mau kemping?” tanya Riki bingung. Ide lelaki bernama Juan ini memang kadang suka di luar nalar. Masih segar di ingatannya saat dirinya diminta datang ke acara pernikahan Juan dan Iis di bawah air terjun. Astaga, rasanya dirinya ingin menangis, saat mengingatnya.


“Ih, kan keren tuh di alam terbuka. Asikkan tuh, dingin-dingin sembriwing. Ah jadi pengen nikah lagi.”


“Sama siapa, Mas?” tanya Iis bingung, mau nikah sama siapa lagi suaminya ini. Jangan bilang mau poligami, Iis cakar nanti Juan.


“Sama kamu lah, Yang. Mau?” tanya Juan sambil menatap Iis dengan tatapan nakal.


“Perasaan aku nggak enak, nanti malem kayanya anak-anak harus tidur sama mbak,” ucap Iis sambil menatap Khalid yang nyaman tidur di dada Iis.


“Baguslah emang itu yang aku mau, Yang,” ucap Juan sambil menggenggam tangan Iis dan memasukkannya kedalam kantong long coat miliknya.


“Aduh, tolong itu keuwuan dibagian sana dikurangi. Di sini masih area dada ini,” ucap Rozak sambil menunjuk hidungnya.


“Yeh, salah sendiri nggak invansi ke area bawah,” cecar Cicil sambil memasukkan keju kemulutnya.


“Kemaren kan udah dikasih tau. Kalau yang enak itu bagian perut ke bawah. Ngapain di atas mulu nggak enak,” ucap Adipati sambil menarik rambut belakang Taca pelan memainkannya di jari-jarinya.


“Astaga kembalilah kalian ke jalan yang bener,” ucap Rozak.


“Ntar gue ganti nama jalan ini, jadi Jalan Benar,” canda Juan santai.


“Mas ngaco yeh,” ucap Iis sambil menepuk paha Juan.


“Bisa nanti aku telepon developernya,” ucap Juan sambil mengambil semangka dari meja makan.


“Zak, gimana kalau aku bantu aja. Kamu mau nikah di mana? Biar aku yang urus,” ucap Adipati sambil tersenyum. Entah kenapa, Adipati ingin membantu kakak iparnya ini.


“Iya, aku bantuin juga,” ucap Juan.


“Aku juga.” Cicil berkata sambil tersenyum, “Kemaren juga kamu bantuin nikahan aku ama Riki ‘kan.”


“Zak,” panggil Riki yang tau sifat adiknya ini. Rozak bukan laki-laki yang mau ditolong, dia lebih banyak diam dan berjuang sendiri tanpa mau meminta tolong orang lain.


Iis yang juga sama-sama mengerti sifat Rozak yang keras hati. Hanya bisa menarik kemeja Juan dan berbisik, “Mas, nggak usah. Aku yakin Kang Rozak punya jalan sendiri.”


“Aku cuman mau bantuin, Yang.”


“Nggak usah, dia harga dirinya gede. Udah biarin aja, biar dia selesaiin sendiri. Kalau mau bantuin aku tau caranya. Nggak usah ngomong di depan Nama juga. Nggak etis, Mas,” ucap Iis sambil menatap Juan.


Juan hanya bisa menghela napas, pikiran dewasa Iis dan kesabaran Iis yang nggak ada batasnya benar-benar tidak hilang. “Jadi, aku harus gimana? Aku mau bantuin dia, dia udah bantuin kamu dulu, Yang.”


“Niat kamu baik. Tapi, orang itu nggak tau kalau niat kamu baik. Bisa jadi dia salah tangkap dan jadi ngerugiin kamu, Mas. Udah biar aku yang urus, banyak cara kok. Biar aku sama Taca yang urus, yah. Mas,” terang Iis sambil mengusap pipi Juan pelan.


Juan hanya bisa menganggukkan kepalanya, “Terserah kamu, Yang.” Juan berkata sambil mengecup bagian belakang rambut Iis yang diikat. Setelahnya, Juan langsung menarik ikat rambut Iis dengan cepat.


“Mas, panas,” protes Iis.


“Jelek tau rambut diiket-iket gini. Nggak bagus,” ucap Juan sambil mengacak rambut Iis.


“Kayanya, aku punya tabungan kok buat nikahan, mau sederhana atau nggak. Jadi, makasih buat bantuannya. Tapi, maaf kayanya masih bisa aku handle sendiri,” jawab Rozak tiba-tiba.

__ADS_1


Rozak menggenggam tangan Nama dengan menggunakan tangan kirinya. Nama langsung merasakan genggaman tangan Rozak, Nama mengerti Rozak membutuhkan dukungan dirinya untuk meyakinkan keluarganya. Nama tau keuangan calon suaminya ini, tabungannya belum cukup.


“Iya, jangan khawatir semuanya bisa kami selesaikan kok, jangan sedih, walaupun tabungan kita belum terlalu cukup buat pesta besar. Tapi, aku yakin seratus persen kita bisa kok, jadi semuanya tenang aja, yah,” ucap Nama sambil tersenyum dan membalas genggaman tangan Rozak.


Iis menatap Nama, tatapan mereka beradu. Iis melirik genggaman tangan Rozak, melihatnya Iis mengerti kalau tabungan Rozak jauh dari cukup untuk itu semuanya. Dengan cepat dia melirik Taca dan Cicil. Mereka langsung tersenyum tanda mereka mengerti, sepertinya mereka bertiga akan mencari cara untuk memberikan bantuan tanpa menyinggung perasaan Rozak.


“Kalian dari mana?” Taca mencoba mengalihkan percakapan dari soal pernikahan ke hal lainnya.


“Abis jemput si Anyun, Aa Riki nelepon katanya dia nggak sanggup bergerak. Jadi, kita kesini,” jawab Rozak yang tampak lega pembicaraan berubah dari pembicaraan mengenai pernikahan ke hal lainnya. Walau hanya sekedar dari mana.


“Aa kenapa nggak bisa gerak?” tanya Rozak yang masih penasaran kenapa Kakaknya ini tampak lemah, letih dan lesu.


“Aa, diminta buat gerakkin odong-odong hampir satu jam lebih. Ini Ibu hamil nggak tau dapet ilham dari mana minta naik odong-odong. Ditambah Kama, Kalila sama Liz ikut naik, kamu bisa bayangin?” tanya Riki sambil meminum kembali minuman yang ada, entah mengapa menceritakan penderitaannya tadi membuat dirinya haus.


“Jadi Aa, ngeboseh odong-odong?” tanya Rozak kaget.


“Iya, Rozak odong-odong. Satu jam nonstop,” terang Riki sambil mengangkat telunjuknya ke hadapan wajah Rozak.


“Nggak papa Kang, akang bisa olah raga Cardio,” ucap Rozak sambil menahan tawanya.


“Cardio dari Timbuktu!?” seru Riki kesal.


Tawapun terdengar dari ruangan itu, mereka sangat suka melihat penderitaan Riki yang habis dijahili oleh Cicil.


•••


“Yang,” panggil Juan sesaat mereka sampai di rumah mereka.


Setelah berbincang sesaat di rumah Taca dan Adipati, akhirnya semuanya undur diri. Termasuk, Juan dan Iis.


“Baik, Bu. Ayo Liz kita mandi,” ucap pengasuh Khalid dan Liz.


Setelah pengasuh itu berlalu, Juan menarik tangan Iis hingga Iis duduk di pangkuan Juan.


“Apa, Mas?” tanya Iis sambil mengalungkan tangannya di leher suaminya.


“Kamu kenapa tadi liat-liatan sama Cicil dan Taca?” tanya Juan.


“Tadi?” tanya Iis.


“Iya tadi, kenapa? Aku salah yah mau bantu Rozak?”


“Nggak, Mas. Mas nggak salah, tapi mungkin caranya salah. Kang Rozak di sanakan sama calon istrinya, kalau Kang Rozak mengiyakan kok kayanya Kang Rozak nggak punya harga diri gitu loh, Mas.”


“Aku nggak maksud,” ucap Juan.


“Iya aku tau, Mas. Nggak usah dipikirin, nanti aku, Taca sama Cicil bakal mikirin jalan keluarnya. Aku juga ingin bantuin dia Mas, keluarga Taca banyak banget bantuin aku dulu. Mungkin, sekarang saatnya aku bantuin mereka,” jawab Iis pelan.


“Kita, aku sama kamu. Bukan cuman kamu, Yang,” ucap Juan sambil menarik ikat rambut Iis.


“Astaga, Mas. Ini udah dua kali kamu tarik iket rambut aku. Panas, Ma—“


Ting....

__ADS_1


Juan menyalakan Ac di ruangan itu dengan cepat, “Masih panas?” potong Juan sambil mengciumi rambut panjang Iis.


Iis melihat ke kanan dan ke kiri, berjaga-jaga bila assisten rumah tangga mereka muncul. “Udah nggak, Mas.”


“Bagus jadi mending iket rambut ini dibuang aja,” ucap Juan sambil melemparkan ikat rambut Iis kesembarang tempat.


“Tapi.”


“Apa?” tanya Juan.


“Aku mau bikin jadi panas, boleh?” tanya Iis pda Juan.


“Gimana caranya?” tanya Juan bingung, sejak kapan Iis jadi pengendali suhu udara. Seingatnya Iis bukan turunan siluman suhu udara.


“Gini,” ucap Iis sambil menautkan bibirnya ke bibir Juan, merengkuh manisnya bibir Juan. Hangat dan lembut.


Juan tersenyum sambil memiringkan kepalanya, memberikan akses pada Iis untuk menjelajah setiap inci bagian dalam mulutnya. Tangan Juan dengan cepat menelusup ke balik blouse milik Iis. Mencari sesuatu yang sangat Juan rindukan, sesuatu yang sangat pas di genggaman tangannya, sesuatu yang hangat dan lembut.


Iis langsung terkesiap saat merasakan usapan lembut dari jempol tangan Juan, yang menggelitiknya dan membuat hasrat di tubuhnya meledak. Seingatnya baru tadi malam Juan mengecupi seluruh tubuhnya dan menghentak dirinya. Tapi, detik ini Iis menginginkannya lagi.


“Mas,” ucap Iis sambil terengah-engah menahan hasratnya sendiri.


“Kita pindah aja, nggak bakal bener ini tuh,” ucap Juan sambil tersenyum nakal dan mengecup bibir Iis pelan.


“Iya, pindah aja pindah. Aku nggak sanggup kalau di sini. Nggak lucu kalau di intip si Mbak,” ucap Iis sambil turun dari paha Juan dan membereskan blousenya.


Saat Iis akan berjalan, Juan langsung mengangkat tubuh Iis dengan bridal style. “Mas, nanti ada si Mbak.”


“Biarin, emang kenapa? Rumah-rumah aku, apa hak dia?” ucap Juan sambil menggigit bibir bawah Iis.


“Mas, malu anak udah tiga,” ucap Iis.


“Yah, terus?”


“Malu, Mas,” ucap Iis sambil menutup wajahnya malu-malu.


“Aku mau bikin kamu tambah malu, Yang,” canda Juan sambil mendorong pintu kamar mereka dengan pinggulnya.


“Hah, gimana caranya?” tanya Iis bingung.


“Aku bikin kamu jadi emak-emak beranak empat,” kekeh Juan sambil menutup pintu kamar dan mematikan lampu kamar, bersiap merealisasikan semua fantasi erotisnya pada Iis. Menikmati setiap inci tubuh istrinya.


•••


Jangan minta diperjelas itu adegan Iis sama Juan. Kalau ingin yang jelasnya silahkan menjelajah ke novel Water Teapot. Di sana banyak adegan uwu dan liar mereka berdua. Udah yah, jangan minta adegan Juan Iis atau Adipati Taca. Sabar-sabar kalian sampai Gallon mengeluarkan spin off tentang anak Juan dan Iis. Si cantik Liz.


Kalau ada yang bingung kenapa Juan sama Iis anaknya tiga. Kan Bernard yang tadinya adik Iis diangkat anak sama Juan. Jadi, anak Juan dan Iis itu Bernard, Liz, dan Khalid.


KAPAN? Nggak tau tunggu tamat MMT yah. Hohohoho...


MMT tamat kapan? Sabar, Cicil belom lahiran, Rozak belum nikah, si Edy badannya belum jadi hulk. Sabar-sabar 🤣.


Terima kasih bunga dan kopinya. Koinnya juga, like dan komennya aku tunggu juga sayang-sayangku.

__ADS_1


XOXO GALLON.


__ADS_2