Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Endorsh Endorsh


__ADS_3

“Kenapa lagi?” tanya Cicil saat melihat Laura mengerucutkan bibirnya sambil menghentakkan kakinya saat mendatanginya di rumahnya.


“Si Lele gila, nggak waras nyebelin nggak ada otak,” maki Laura sambil menepuk-nepuk sofa.


“Woi … debu woi,” protes Cicil sambil menjauhkan Richie dari Laura.


“Maaf … maaf,” ucap Laura sambil menggerakkan tangannya di udara mencoba menghilangkan debu yang sudah dirinya buat. “Aduh anak ganteng maaf yah.”


“Ih … nyebelin kalau Richie asma gara-gara kamu, aku cekik kamu Laura,” ucap Cicil sambil menatap Laura dengan tatapan seekor induk singa yang siap menerkam Laura.


Laura hanya bisa memamerkan gigi-gigi putihnya, saat melihat pelototan Cicil. “Maaf, Cil.”


“Awas kamu kalau bikin ulah lagi,” maki Cicil.


“Iya … iya … ih, aku tuh mau curhat ini tuh, kok malah dimarah-marah.” Laura berkata sambil menggaruk kepalanya dengan kedua tangannya.


“Mau curhat apaan?” tanya Cicil. “Kalau mau bilang Edy gila, nyentrik, nyeleneh, dan mukanya kaya lele dumbo. Udah nggak usah, semua manusia waras yang punya mata tau kok itu semua bener. Nggak usah diungkit.”


Laura hanya bisa mengerucutkan bibirnya, calon suaminya itu memang sangat-sangat unik. Saking uniknya hampir semua orang mengatakan Edy itu mirip lele, padahal emang mirip lele sih. Hahaha …..


“Ya udah … mau curhat apaan? Serius nih,” ucap Cicil sambil menyusui Richie. Anak pertamanya ini benar-benar sua sekali menyusu, mirip bapaknya.


“Edy gila, masa dia nyetujuin di endorsh sama salah satu brand pakaian dalam!?” Laura berkata sambil memijat keningnya kesal.


“Eh … pakaian dalam? Bagian bawah atau atas? Pakaian dalam cewe atau cowo?” tanya Cicil penasaran.


“Pakaian dalam bagian bawah, buat cowo. Astaga minta aku tabok si Lele itu.”


“Lah … kalau uangnya gede kenapa nggak?” tanya Cicil sambil menatap Laura.


Laura membulatkan matanya sambil menatap Cicil dengan kesal. “Uangnya gede tapi nggak lucu masa dia harus bikin video pake itu pakaian dalem? Astaga nggak banget, terus nanti mereka bakal bikin baliho di depan tempat nikahan gue.” Laura menunjukkan contoh balihonya pada Cicil.



(Ini hanya contoh baliho yah. Tidak ada hubungannya dengan merk tertentu)


Cicil menahan tawanya saat melihat contoh baliho yang akan dipasang di depan acara pernikahan Laura dan Edy. “Bagus Laura. Lain daripada yang lain.”


“Cicil!?” maki Laura sambil menghentakkan kakinya di lantai. “Lain daripada yang lain gimana, astaga yang ada mau di taruh di mana muka aku tuh.”


“Di muka kamu?” tanya Cicil polos sambil menahan tawanya. Lucu sekali hidup sahabatnya ini setelah memiliki pacar dan akan menikah dengan Edy. Semua kehidupan Laura yang glamour dan tertata dengan rapih langsung jungkir balik.


“Cicil, argh … kamu nggak bisa kasih aku solusi,” ucap Laura sambil menggaruk-garuk kepalanya gemas karena sudah dalam tahapan pusing.


“Aku mau kasih solusi apaan? Edy udah tanda tangan kontraknya belom? Kalau belum kamu bisa minta batalin, kalau udah yah terima nasib, astaga aku nggak kebayang ada baliho segede dosa tentang pakaian dalam di acara kawinan seorang Laura Subagja,” kekeh Cicil sambil menepuk-nepuk pantat Richie yang asik menyusu pada dirinya.

__ADS_1


“Aku nggak tau, aku baru dikasih tau tadi. Aku keburu ngamuk jadi nggak sempet nanya apapun juga. Ini aja aku kabur melarikan diri dari Edy,” ucap Laura sambil menatap layar handphonennya dan mendapati telepon dan chat yang sangat banyak dari Edy.


“Astaga, tanya lah. Kalau belum tanda tangan kan bisa di batalin. Tapi, unik loh kalau ada spanduk kaya gitu.”


Laura langsung mendelikkan matanya pada Cicil, dirinya benar-benar kesal bukan main saat melihat kelakuan Cicil yang malah menertawai dirinya bukan membantunya. “Ketawa lo, seneng lo hah, seneng.”


“Hahaha … abis beneran loh, belum pernah ada nikahan yang di endors sama pakaian dalam. Mana pake ada balihonya juga lagi. Kan keren tuh,” kekeh Cicil sambil mengulum senyumnya. Berusaha untuk tidak tertawa keras.


“Cicil, astaga … sahabat macam apa kamu tuh, bener-bener nggak ada empatinya sama sekali.” Laura menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Zrrttt …. Zrrttt ….


Laura dengan malas-malasan menatap layar handphonennya. Helaan napas keras terdengar dari Laura.


“Siapa?” tanya Cicil.


“Lele,” jawab Laura ogah-ogahan.


“Angkatlah,” ucap Cicil.


“Males ah … palingan dia bilang oh … sayangku, kasihku bla … bla … bla … maafkan aku, nyebelin sumpah,” ucap Laura sambil memukul bantal di sampingnya.


“Hahaha … eh, angkat atau lo mau nikahan lo di sponsori oleh pakaian dalam pria?” kekeh Cicil.


“Argh … iya, iya gue angkat,” ucap Laura sambil mengangkat teleponnya.


“Kasihku, kamu kenapa marah? Kamu di mana?”


“Di mana aja, bukan urusan kamu. Kamu nikah aja sana sama pakaian dalam. Sinting kamu yah, masa endorsh buat acara nikahan pakaian dalam. Otak kamu di mana hah?” tanya Laura sambil meninggikan intonasi suaranya.


“Aduh … aku kan baru usulan itu, sayangku. Kalau kamu nggak mau aku nggak akan tanda tangan,” bela Edy dengan intonasi suara selembut mungkin.


“Usulan, usulan kenapa usulan sampe udah ada contoh balihonya hah? Jangan bohong kamu udah tanda tangan kan?” tebak Laura.


“Itu ….”


“Jawab, heh … ita itu itu, jawab kamu udah tanda tangan kontraknya kan?” Tenak Laura dengan kekesalan yang sangat luar biasa. Rasanya kalau Edy ada di sampingnya dapat dipastikan Edy akan habis Laura cakar dan pukuli.


“Jadi.”


“Jadi apaan? Jawab iya atau nggak, nggak usah muter-muter kaya gasing. Nyebelin dasar, maunya apa sih kamu tuh. Nggak punya otak dasar, minta aku bakar idup-idup kamu Edy!?”


“Ish … ish … jangan marah-marah sayangku, Edy udah tanda tanga—“


“Nah kan, udah kamu tanda tangan. Astaga Lele otak kamu tuh ke bentur meja makan atau apa sih? Masa endorsh acara nikahan pakaian dalam.”

__ADS_1


“Woi, dengerin dulu, Laura.”


“Nggak … aku nggak mau dengerin kamu ngeselin.” Laura langsung mematikan sambungan teleponnya. Tangisnya langsung pecah saat membayangkan acara pernikahaannya akan berubah menjadi ludruk.


Cicil yang akhirnya merasa kasihan berpindah duduknya ke samping Laura dan menepuk-nepuk bahu Laura pelan. “Aduh … sabar yah sayang.”


“Aku kes—“


Tok … tok … tok ….


Laura dan Cicil langsung saling tatap, Cicil dengan cepat berjalan untuk membuka pintu dan mendapati Edy yang sudah berdiri di ambang pintu. “Astaga … Edy, kelakuan kamu tuh yah. Bener-bener absurd.”


“Maaf, Cil. Lauranya ada?” tanya Edy.


“Ada di dalam, sana tenangin dia. Aku mau kebawah aja, mau cari suami aku. Dia di bawah kan?” tanya Cicil yang langsung dijawab anggukan oleh Edy.


Edy dengan cepat masuk dan duduk di samping Laura. “Laura.”


“Apa?” tanya Laura kesal sambil menatap Edy dengan tatapan kesal.


“Maaf yah, aku bakal batalin endorshnya. Udah-udah jangan marah.”


“Kamu tuh kadang nggak ada otaknya tau, nyentrik boleh. Tapi, nggak senyentrik ini juga. Nggak sampai nikahan di depan gedung ada baliho penjualan pakaian dalam.” Laura berkata sambil mendorong Edy kesal.


“Maaf,” jawab Edy.


“Pokoknya mulai sekarang. Endorsh an apapun, harus diomongin dulu, aku nggak mau yah berantem karena hal nggak penting kaya gini,” ucap Laura sambil mengusap air matanya kesal.


“Iya, nanti kalau ada apa-apa aku omongin dulu. Maaf yah,” ucap Edy sambil memeluk Laura dari samping.


“Pokoknya kalau kamu nyebelin lagi, aku mending nikah ama siluman lele beneran,” ancam Lara kesal.


“Hahaha … cari dah siluman Lele yang seganteng aku, nggak bakal ada,” ucap Edy sambil mencium pipi Laura.


“Nggak usah cium-cium,” ucap Laura sambil mendorong Edy.


“Dikit, boleh yah dikit,” ucap Edy sambil mengerucutkan bibirnya dan mendorong Laura agar mau menciumnya.


“Nggak mau, argh … nggak mau kamu nyebelin,” kekeh Laura sambil menahan badan Edy.


“Nyebelin tapi ngangenin kan?” tanya Edy pada Laura.


“Iya, kok tau.”


Edy hanya tersenyum dan mencium bibir Laura, mengecupnya kemudian mengesapnya. Laura miliknya, Laura yang mau menerima kelakuan Edy yang absrud dan aneh binti ajaib.

__ADS_1


•••


Xoxo Gallon yang hobi kelon


__ADS_2