Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Ngidam Cicil...


__ADS_3

“Darimana?” tanya Edy sambil menatap Riki dan Cicil yang baru saja masuk kedalam restoran.


“Dari kantor polisi,” jawab Cicil sambil melirik apa yang sedang dilakukan Edy. “ngapain?”


“Biasalah pembukuan,” jawab Edy sambil menunjukkan perkerjaan di mejanya.


“Awas jangan korupsi,” canda Cicil sambil duduk di kursi terdekatnya.


“Ah, susah mau korupsi di restoran ini,” ucap Edy sambil menunjuk kertas-kertas dihadapannya.


“Kenapa?” tanya Cicil penasaran, mengapa tidak bisa korupsi.


“Bossnya galak, mana teliti bener. Salah dikit ngocehnya bisa sepanjang jalan kenangan,” ucap Edy sambil menatap Riki yang saat ini sedang melihat angka-angka yang sedang Edy hitung.


“Salah ini, Ed. Masa segini sih, kamu ngitung nggak bener, itung lagi. Nggak usah beli terigu, di gudang kemarin aku masih liah ada stok terigu banyak,” ucap Riki sambil mencoret kata terigu di daftar belanjaan bulan ini.


“Liatkan, bossnya galak. Napas aja nggak bisa,” ucap Edy sambil terkekeh.


Cicil tersenyum melihat Riki yang tampak serius mengurusi pembukuan dihadapannya. Dengan cepat Cicil mengecup pipi Riki pelan.


“Selamat kerja, kesayangan,” ucap Cicil sambil mengedipkan matanya.


“Makasih, sayangnya Aa. Kamu nggak kerja?” tanya Riki.


“Ini mau ambil berkar di kamar, nanti langsung pergi ke kantor,” ucap Cicil.


“Ya udah, ambil berkasnya. Nanti, Aa anterin ke kantor,” ucap Riki sambil mengambil pulpen ditangan Edy dengan kesal. “Kumaha sih, maeunya dua ditambah opat jadi salapan, lulus SD teu sih maneh?” tanya Riki kesal.


(Gimana sih, masa dua ditambah empat jadi sembilan, lulus SD nggak sih kamu?)


“Ini beda Rik, kata Ki bero...”


“Nggak ada hubungannya hitungan matematika sama dukun, kamu itu,” ucap Riki kesal.


Cicil tersenyum melihat Riki yang marah pada Edy. Riki itu galak dan tegas sebenarnya. Tapi, kalau sudah berhadapan dengan Cicil sabarnya langsung naik ke kadar paling tinggi.


Saat Cicil melangkahkan kakinya, tiba-tiba terlintas di pikiran Cicil untuk memakan sesuatu. “Ehm... Aa.”


Wajah garang Riki berubah melunak saat mendengar suara Cicil, “Kenapa?”


“Ehm... Cicil mau sesuatu, boleh?” tanya Cicil sambil menatap Riki.


“Mau apa?” tanya Riki sambil memberikan perhatian penuh pada Cicil.


“Neng, mau paha ayam bakar, boleh?” tanya Cicil sambil menatap Riki.


“Gue, bikinin. Ayam bakar madu, mau?” ucap Edy sambil menutup buku kas sialan di hadapannya. Edy lebih suka memasak di dapur daripada harus mengurusi pembukuan.


Mata Cicil mengerjap cepat saat mendengar kata-kata ayam bakar madu. “Mau, bikinin, yah. Tapi....”

__ADS_1


“Kenapa, Cil?” tanya Edy. “ada permintaan khusus?”


“Iya, ada permintaan khusus yang wajib kamu penuhi,” ucap Cicil sambil menatap Edy.


“Apa, bilang aja ke Edy, nanti dia lakuin kok,” ucap Riki sambil membereskan berkas-berkas dihadapannya.


“So pasti, mau ayamnya diapain? Mau di kukus dulu, mau garing diluar lembut didalam. Ayamnya harus manis luar dalam, apa-apa?” ucap Edy sambil menatap Cicil. “Akan Edy berikan semua untuk ibu hamil nan cantik dihadapan Edy Edrosh.”


“Cakep,” ucap Cicil sambil mengangkat kedua jempolnya. “Jadi, aku mau ayam bakarnya paha kiri semuanya.”


Edy dan Riki terdiam mendengar perkataan Cicil, “Maaf gimana, Neng?” tanya Riki sambil menatap manik mata coklat Cicil.


“Iya, ayam bakarnya paha kiri semuanya, jangan sampai ada paha kanan dan satu lagi, nanti diatasnya di taburin keju yang banyak, yah,” ucap Cicil sambil mencium pipi Riki dan berjalan meninggalkan Riki dan Edy yang bengong.


“Mang, eta pamajikan maneh kasambet naon sih?” tanya Edy sambil menatap punggung Cicil yang berjalan meninggalkan mereka.


(Mang, itu istri kamu kerasukan apa sih?)


“Nggak tau, pokoknya kamu bikinin permintaannya,” ucap Riki sambil menepuk bahu Edy pelan.


Edy langsung menatap Riki bingung, “Bentar, emang kamu tau mana paha kanan sama kiri?”


“Yang, koki di restoran ini siapa?” tanya Riki pada Edy.


“Aku,” ucap Edy sambil menunjuk hidungnya.


“Jadi, yang harusnya lebih tau mana paha kanan sama kiri, itu kamu. Masa aku, ngaco kamu,” ucap Riki.


“Edy...” Terdengar teriakkan Cicil dari jauh.


“Iya, Cil,” jawab Edy.


“Pokoknya yang kiri, awas aja kalau ada yang kanan. Aku paksa Laura putusin kamu, Edy Edrosh...!?” ancam Cicil.


Edy langsung menelan salivanya, “Ini gimana, Rik. Masa aku jomblo cuman gara-gara paha kanan?”


“Masih untung, daripada jomblo gara-gara nggak punya paha,” ucap Riki sambil menepuk bahu Edy dan berjalan meninggalkan Edy yang kebingungan.


“Rik, nggak gini juga. Tolongin aku lah, masa aku putus ama Laura cuman gara-gara pingping hayam (paha ayam), hoi,” ucap Edy.


Riki terkekeh pelan, didalam hatinya dia bersyukur Cicil tidak meminta dirinya yang memasakkan ayam bakar madu itu.


“Aa...”


Tiba-tiba terdengar suara Cicil dari balkon atas, spontan Edy dan Riki menatap ke atas. Cicil yang berdiri dibalkon langsung memberikan senyumnya. Riki langsung tau arti senyuman Cicil, senyuman penuh permintaan khas milik Cicil.


“Apa, Neng?” tanya Riki.


“Neng ingin makan seblak,” jawab Cicil.

__ADS_1


“Seblak, kamu tau dari mana seblak?” tanya Riki bingung, sejak kapan Cicil tau seblak.


Cicil menunjukkan gambar dihandphonennya, tampak seorang pria bertubuh tambung sedang memakan seblak. “Dari sini, kayanya enak. Bikinin yah, Aa, yang bikinnya,” pinta Cicil.


Riki menghela napas, untung saja Cicil meminta seblak bukan paha kiri ayam. “Iya, pedes nggak?”


“Nggak, nggak pedes.”


“Oke Aa bikinin, tunggu kamu diatas,” ucap Riki.


“Tapi...”


Riki langsung menahan napasnya, apa yang diinginkan istrinya ini. Jangan bilang dia minta bikin seblak di dapur istana Buckingham.


“Apa, Neng?” tanya Riki pelan.


“Seblaknya, isinya makaroni sama daun kelor.” ucap Cicil.


“Daun kelor?” tanya Edy kaget. “Si Cicil kerasukan apaan sampai mau makan daun kelor segala. Sama seumur hidup belum pernah aku liat orang makan seblak daun kelor, Rik,” ucap Edy sambil menatap Riki bingung.


“Ah, Aa... sama pake sumpit yang terbuat dari bambu warna kuning....”


“Oke, fix si Cicil harus di rukiyah, mana ada orang hamil mau makan pake bambu warna kuning?” ucap Edy bingung. “Udah, sore kita ke tempat Ki Berondong, yakin gue dia kesurupan,” ucap Edy.


“Neng, Neng teh nggak salah mau makan pake sumpit bamboo kuning, Neng kan bukan kuntilanak,” ucap Riki bingung.


“Cicil, lo harus ke Ki Berondong kayanya, lo kerasukan kalau begini,” ucap Edy sambil menatap Cicil.


Cicil menatap Riki dan Edy, “Ah, sama nanti sore kita ketempat Ki Berondong,” ucap Cicil tiba-tiba.


“Ngapain?” tanya Riki bingung.


“Nggak tau, kayanya asik aja ketemu dukun. Sore kesana yah,” ucap Cicil sambil masuk kedalam tempat tinggal Cicil dan Riki.


“Kan, kerasukan istri kamu,” ucap Edy sambil menahan tawanya.


“Kenapa dia jadi pingin ke Ki Berondong sih?” tanya Riki bingung.


“Nggak, papa. Mungkin dengan ke tempat Ki Berondong, Cicil akan sehat kembali.”ucap Edy sambil mengacungkan kedua jempolnya.


“Ngaco..!?” ucap Riki sambil menepuk jempol Edy kesal.


Sepertinya, nanti sore dia harus mengajak Edy dan Cicil ke tempat Ki Berondong di Bandung. Riki hanya bisa mendengus pelan, sepertinya harinya akan sangat-sangat panjang.


•••


Gimana siapa yang udah coba seblak campur daun kelor? Wkwkwk....


Cus buat yang belum, nggak usah dicoba nggak enak 🤣🤣🤣.

__ADS_1


Xoxo gallon


__ADS_2