
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️
•••
“Laura... hei... tunggu,” ujar Edy sambil mengejar Laura yang berjalan dengan sangat cepat ke arah luar resto.
“Apa?” tanya Laura.
“Kamu kenapa sih? Nggak suka banget sama aku? Jelek banget gitu yah, akutuh dimata kamu?” tanya Edy sambil membalikan badan Laura.
Laura hanya bisa menghela napasnya pelan, Edy sebenernya nggak jelek-jelek banget sih. Edy cukup manis, senyumannya juga manis dan yang terpenting, Edy punya humor yang selalu membuat Laura tertawa. Tapi, Laura masih belum bisa move on dari Samuel.
Samuel pacar terakhirnya, Samuel lelaki yang sudah ada di kehidupannya selama satu tahun kemarin. Samuel...
“Edy, udah ah. Udah jauhin aku, aku nggak mau nyakitin kamu lebih parah lagi. Aku tuh belum bisa move on dari Samuel. Aku tuh masih cinta sama Samuel,” ujar Laura sambil menatap Edy dengan tatapan sendu.
Nyut...
Hati Edy tiba-tiba sakit, pedih ternyata mendengar wanita yang kamu cintai dan sukai, mengatakan dia mencintai dan menyukai orang lain. Rasanya Edy ingin berteriak keras-keras, pedih..!
“Aku masih cinta, masih sayang sama Samuel. Aku judes sama kamu tuh bukan nggak ada sebabnya. Kalau aku baik sama kamu, kamu berharap, gimana? Aku nggak mau nyakitin kamu, Dy,” ujar Laura sambil menyilangkan kedua tangannya didada, berusaha memberikan jarak diantar mereka berdua.
“Cinta dan sayang banget yah?” tanya Edy lagi. Edy tau itu pertanyaan bodoh, jawaban Laura bakal menghantam Edy kejurang kesedihan yang terdalam.
“Banget, Edy. Samuel itu sempurna,” ujar Laura lagi sambil menatap Edy. Samuel, adalah segalanya bagi Laura. Kaya, tampan, ayo sebutin semua kelakuan dan sifat lelaki impian setiap wanita di dunia ini, semuanya ada pada diri Samuel.
“Saking sempurnanya sampai-sampai dia bisa selingkuh dari kamu? Buang berlian demi serbuk menyan?” Edy benar-benar kesal dengan jalan pikiran Laura, ayolah laki-laki sempurna itu yang setia. Inget SETIA.
Deg...
Laura langsung mengalihkan pandangannya, mencari sesuatu untuk manahan kakinya yang sudah mulai oleng karena tertampar oleh perkataan Edy. Apa yang dikatakan Edy benar, Samuel selingkuh dari dirinya.
“Aku butuh... aku butuh...” ujar Laura sambil mencari tempat duduk.
Edy dengan cepat memapah Laura untuk duduk dikursi yang ada dibelakangnya. Setelah Laura duduk, Edy menarik kursi untuk duduk di depan Laura.
“Udah tenang?” tanya Edy sambil memberikan air mineral pada Laura. Laura langsung meminum air mineralnya hingga tandas tak bersisa.
“Makasih Ed,” ujar Laura sambil memberikan kembali botol air mineralnya pada Edy.
__ADS_1
Edy hanya duduk dan tidak berusara, tangannya dilipat didadanya dan menatap Laura. Laura yang ditatap Edy hanya bisa menundukkan kepalanya, menatap ujung sepatunya yang berwarna merah. Diketuk-ketukkan sepatunya di lantai resto.
Hening, tidak ada suara apapun, hanya ada suara angin dan suara napas Edy dan Laura.
“Edy...”
“Laura...”
Meraka berdua saling tatap, astaga kenapa bisa memanggil dengan berbarengan seperti itu.
“Kamu dulu...” ujar Edy dan Laura berbarengan.
“Eh...” lagi-lagi mereka berdua mengeluarkan seuaranya secara berbarengan. Edy dan Laura saling tatap kemudian tertawa bersama-sama.
“Ini jadi siapa duluan yang mau ngomong ini, teh?” tanya Edy sambil menatap Laura.
“Nggak tau, udah kamu dulu aja yang ngomong, aku dengerin deh,” ujar Laura sambil menyelipkan rambutnya ke telinga.
“Nggak usah, mending kamu aja,” Edy lebih penasaran apa yang akan dikatakan oleh Laura daripada jawaban yang akan diberikan oleh Laura akan pertanyaannya.
Laura mengepalkan kedua tangannya, mencoba untuk menenangkan dirinya. Bingung, perasaan itu yang saat ini berkecambuk di dada dan pikiran Laura. Dia merasa sudah waktunya dirinya move on dari Samuel. Tapi, Laura benar-benar tidak bisa melakukannya.
“Edy, aku ini masih cinta sama Samuel. Menurut aku Samuel itu sempurna, menurut aku yah,” Laura menekankan kata menurut aku dengan sejelas-jelasnya pada Edy.
“Aku belum bisa lupain dia Edy, aku masih cinta sama dia.”
Lagi, Edy langsung merasa ada yang menyayat-nyayat hatinya. Pedihnya bukan main, sakit. “Yakin kamu cinta?”
Laura mengangkat kepalanya sedikit saat mendengar perkataan Edy. “Maksudnya?”
“Yakin kamu cinta, bukan obsesi?”
“Edy...” Laura merasa keberatan dengan perkataan Edy. Argh, Obsesi? Laura benar-benar cinta pada Samuel, kok jadi obsesi sih?
“Aku cuman nanya aja, Laura,” ujar Edy santai.
“Gimana caranya Obsesi? Aku cinta sama Samuel. Obsesi itu kaya....”
“Kaya yang kamu lakuin sama Samuel sekarang. Kamu kalau cinta nggak mungkin galau kaya gini. Nggak mungkin kamu bilang cinta-cinta, tapi kamu masih mau dideketin saya,” ujar Edy.
“Hah... siapa yang mau? Aku kan udah bilang sama kamu, kamu jauhin saya...!” Laura benar-benar tidak terima dianggap mau dideketin Edy.
Edy terdiam mendengarkan perkataan Laura, sepertinya dia harus menyerah untuk mendapatkan hati Laura. Sakit sih, tapi lebih baik, lebih baik sakit sekarang daripada nanti. Pasti lebih sakit.
__ADS_1
“Oke, jadi kamu nggak suka sama saya? Nggak cinta sama saya?” tanya Edy sambil menunjuk dadanya menggunakan jari telunjuk tangan kanannya.
“Nggak, makanya aku judes sama kamu, mending kamu tingalin aku aja. Aku nggak mau bikin kamu sakit ati, Edy,” ujar Laura sambil tersenyum.
“Aku tuh suka sama Samuel bukan kamu, aku nggak cinta sama kamu, kamu sama Samuel udah kaya langit dan bumi. Maaf, Edy tapi aku....”
“Oke,” potong Edy akhirnya.
“Eh... gimana?” Laura kaget dengan perkataan Edy yang tiba-tiba.
Edy tersenyum sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. “Oke, aku nggak bakal deketin kamu lagi,” ujar Edy sambil tersenyum lemah.
“Kok....”
Perkataan Edy benar-benar seperti silet yang menyayat hati Laura. Laura tiba-tiba merasa sakit saat mendengar ucapan Edy. Tapi, kenapa?
“Lah, kamu malah bilang kok?” tanya Edy bingung. Edy menatap manik mata Laura yang hitam dan kelam. Edy suka dengan tatapan mata Laura yang tajam, tatapan mata seorang perempuan kuat.
“Eh, nggak maksudnya aku....”
“Aku nyerah, Laura. Aku janji nggak bakal ganggu kamu lagi. Aku nggak pantes buat kamu, Laura. Aku nggak sesempurna Samuel,” ujar Edy sambil beranjak dari duduknya dan berdiri disamping kanan Laura.
“Itu...” Laura menggantungkan ucapannya, tiba-tiba hatinya sakit bukan main. Kenapa?
Srekk..
Laura merasakan usapan lembut dikepalanya dan entah kenapa usapan tersebut membuat Laura tenang. Laura langsung mendongkakkan kepalanya dan menatap Edy.
Edy tersenyum pada Laura dan mendekatkan bibirnya ke arah bibir Laura. Dengan tanpa aba-aba dan gerakan extra cepat Edy langsung mengecup bibir Laura. Kecupan singkat yang sangat manis untuk Laura.
“Aku nyerah Laura, selamat tinggal.”
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1