Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Teriakan maut


__ADS_3

"Pak, ini pembukuan untuk bulan ini," ucap Manda sambil memberikan buku pembukuan pada Riki. "harusnya, saya kasih ke pak Edy. Tapi, pak Edynya nggak kerja-kerja."


"Iya, dia minta cuti tahunan."


"Kemana dia, Pak?" tanya Manda.


"Ke Banten."


"Hah, ngapain Pak?"


"Latihan silat, buat tanding ama bapaknya Laura." Riki menahan tawanya sendiri saat berkata. Membayangkan Edy melawan pak Sabar masih sebuah lelucon yang membuat dirinya tertawa.


"Jadi, Pak?" tanya Manda kaget.


"Jadilah, buktinya Edy ke Banten 'kan. Emang kamu sangka Edy ke Banten ngapain?" Riki menatap Manda sambil tersenyum.


Manda hanya bisa menelan salivanya, terkadang melihat bossnya ini harus banyak-banyak mengurut dada. Senyumnya manis banget, bikin diabetes. Apalagi hidungnya yang kaya perosotan TK, ah udahlah.


"Saya kira pak Edy, jualan cireng, Pak," jawab Manda ngasal.


"Hahaha ... nggak kebayang dia jualan cireng, Man," kekeh Riki.


Ah... andai istri Riki bentukkannya kaya ikan pari, pasti Manda garda depan untuk merayu Riki. Tapi, sayangnya istri Riki cantiknya kaya malaikat kepleset dari khayangan, batin Manda.


"Aa..." panggil Cicil yang baru masuk kedalam ruangan. Cicil yang makin chubby tampak menggemaskan saat mengenakan mini dress berwarna biru muda.


"Neng, dari mana?" tanya Riki saat melihat Cicil.


"Beli keju," ucap Cicil sambil menunjukkan seplastik keju ke arah Riki.


"Bu Cicil, ngidamnya bule nih, pasti nanti anaknya cakep." Manda berkata sambil mengacungkan jempolnya ke arah Cicil.


"Hahaha mana ada," ucap Cicil sambil tersenyum pada Manda.


"Untung ngidam keju, kalau ngidam berlian bisa berabe." Riki berkata sambil mencawil hidung Cicil. "saya kedalem dulu, yah. Kalau ada apa-apa saya ada di atas."


"Baik, Pak," jawab Manda sambil melambaikan tangannya pada Cicil yang tampak berjalan disamping Riki.


•••


"Dari mana kamu seharian?" tanya Riki pada Cicil yang sudah bergelayut manja di lengannya.


"Dari kanto—“


"Pake baju ini?" tanya Riki kaget sambil menunjuk tubuh Cicil.


"Nggaklah, aku minjem baju Laura ini. Baju kantor aku, aku simpen di rumah Laura," ucap Cicil sambil menarik-narik kerah bajunya,


"Aku kaget kalau kamu pake baju ini, Neng. Bisa sawan orang di kantor kamu," kekeh Riki.


"Kok sawan?" tanya Cicil sambil mengambil remote ac dan menyalakannya. Rasa dingin langsung terasa dikulit Cicil. Semenjak hamil Cicil selalu merasa kepanasan.


"Sawanlah, liat ibu hamil secantik kamu, Neng. Mana lincah." Riki dengan cepat mendaratkan kecupannya di dahi Cicil.


"Bilang aja aku nggak boleh pake baju sependek ini," ucap Cicil sambil berputar pelan, membuat rok yang dikenakannya mengembang dan menunjukkan paha beserta pakaian dalam bagian bawah Cicil yang berwarna merah.


"Kamu muter gitu juga di depan Papihnya Laura?" tanya Riki.


"Nggaklah, nggak ada aku ketemu om Sabar, dia lagi latihan siang malam demi pertandingan sama Edy," ucap Cicil sambil berjalan ke arah Riki yang sudah duduk di sofa.


"Kasian si Edy, bisa jadi peyek dia. Untung Papih kamu bentukkannya nggak kaya om Sabar." Riki berkata sambil bergidik, membayangkan dirinya harus bertarung dengan orang berbadan sebesar Sabar membuat dirinya banyak-banyak mengurut dada. Serem.


"Hahaha untung Papih aku baek yah," ucap Cicil sambil duduk disamping Riki dan bersandar di dada bidang Riki.


Cicil langsung mengambil remote tv dan menonton film yang sedang ditayangkan di salah satu jaringan tv kabel. Sepanjang film Cicil asik besandar di dada Riki, sesekali Riki mengacak rambut Cicil atau bahkan mengecup bibir Cicil.


Riki yang merasa sedikit berat langsung melirik Cicil yang ternyata sudah tertidur di dada Riki, semenjak hamil Cicil benar-benar sulit tidur. Cicil baru tertidur bila memeluk Riki atau bahkan tidur di badan Riki.


"Enak disana, De?" bisik Riki sambil mengusap-ngusap perut Cicil yang makin besar.

__ADS_1


Dug...


Riki langsung merasakan gerakkan di bagian tangannya. Cicil bergerak pelan, kepalanya langsung turun dan mendarat di paha Riki, masih dalam kedaan tertidur.


Senyuman langsung berkembang di wajah Riki, melihat Cicil tertidur dengan pulas membuat hatinya hangat. "Neng ... Neng, kalau lagi tidur gini manis kamu."


Riki mengelus perut Cicil pelan, rasanya menenangkan mengelus perut istrinya ini. "Nanti kamu kalau udah keluar, jangan bikin pusing Mamah kamu yah, De."


Dug...


Seperti mengerti bayi di dalam perut Cicil kembali bergerak pelan. Riki hanya bisa tersenyum sambil terus mengelus-ngelus perut Cicil.


"Nanti kalau keluar jangan lama-lama yah, kasian Mamah kamu, keluarnya cepet aja. Jangan terlalu seneng didalem," ucap Riki lagi.


Dug...


Lagi bayi di dalam kandungan memberikan gerakan di perut Cicil seperti mengerti, apa yang diucapkan Babanya.


"Kamu harus cepet keluar biar bisa ketemu Baba," ucap Riki sambil melihat layar tv dihadapannya, tanpa sadar kalau Cicil sudah terbangun dan sedang menatap wajahnya.


"Kalau Dedenya mau ketemu Babanya sekarang boleh?" tanya Cicil sambil mengangkat roknya hingga perut.


Riki kaget saat mendengar perkataan Cicil yang seingatnya tadi masih tidur. Rasa kagetnya makin menjadi saat melihat paha mulus Cicil yang tidak ditutupi apapun lagi.


"Gimana, Neng?" tanya Riki bingung.


Cicil bangun dari tidurnya kemudian mendekati Riki yang sudah menyender ke senderan sofa. Menatap manik mata Cicil dengan pasrah.


"Neng bilang." Cicil langsung duduk di paha Riki, dikibaskannya rambut yang sudah mulai memanjang kebelakang.


"Apa?" tanya Riki sambil mengusap paha Cicil yang mulus.


"Baba mau," ucap Cicil sambil membuka mini dressnya dan melemparkannya kesembarang arah.


Mata Riki membulat sempurna saat melihat gundukkan di dada Cicil yang ntah mengapa makin bulat dan besar semenjak Cicil hamil. Membuat Riki senang berlama-lama di bagian itu dan membuat istrinya mendesah terus menerus.


"Ketemu." Cicil mendekatkan bibirnya ke bibir Riki, mengikis jarak yang ada, dengan cekatan Cicil melepaskan penutup bagian dadanya. Dibimbingnya tangan Riki untuk menyentuh salah satu bukit kembarnya.


"Dede?" tanya Cicil sambil mengalungkan tangannya di leher Riki dan mencium bibir Riki dengan lembut.


Seketika itu juga, rasa asin keju langusung terasa oleh Riki menggelitiknya. Riki tersenyum dan menggigit bibir bagian bawah Cicil pelan, mengesapnya. Sedangkan, tangan Riki meremas dengan keras dan mencubit bagian pucuk dada Cicil. Cicil langsung melengguh dan mencengkram bagian belakang rambut Riki dengan keras.


"Aa, aku mau." Cicil berkata sambil turun dari paha Riki dan memposisikan dirinya ditengah kaki Riki.


Cicil dengan terus menatap netra Riki yang hitam, membuka reslesting celana Riki dan membebaskan sesuatu yang dari tadi mendesak paha bagian dalam Cicil. Detik ini apa yang berada dibalik celana Riki sudah ada digenggamannya.


Riki hanya bisa menatap Cicil yang bersiap akan memberikan deburan kenikmatan pada Riki. Entah kecupan, elusan atau bahkan sentuhan kecil Cicil di bagian pribadinya benar-benar mampu membuat hasrat milik Riki meledak.


Saat bibir mungil Cicil akan membenamkan milik Riki, tiba-tiba...


Tok tok tok...


Cicil langsung menatap Riki dengan tatapan kesal bukan main. "Nggak usah dibuka," perintah Cicil.


Riki yang sedang berada di puncak hasratnya hanya bisa menganggukkan kepalanya, mematuhi istrinya ada solusi terbaiknya untuk saat ini. Rasanya Riki ingin membenamkan bibir mungil Cicil ke bagian pribadinya secepatnya.


Tok...tok...tok...


Cicil langsung mendelik, rasa kesal ada yang mengganggu waktu transfusi darah putihnya langsung berkata. "Siapa? ada apa dan mau apa?"


Riki langsung menahan tawanya saat melihat wajah istrinya yang tampak kesal bukan main. Istrinya ini benar-benar tidak dapat diganggu bila sudah berurusan dengan transfusi darah putih.


"Rozak, mau ketemu Aa Riki, mau ngomong sesuatu. Penting, ini tentang masa depan aku, Cil."


Ternyata Rozak yang mengganggu kegiatan mereka berdua. Riki langsung tersenyum, sepertinya kegiatan transfusi darah putihnya harus terganggu sebentar.


"Neng, awas."


"Aa mau kemana?" tanya Cicil kesal, rasa kesalnya bertambah dua kali lipat karena Riki berdiri dari duduknya dan berusaha mengenakan pakaiannya lagi. Memasukan bagian tubuh kesukaan Cicil ke tempatnya lagi.

__ADS_1


"Kasian Rozak, Neng."


"Aa nggak kasian sama Neng?" tanya Cicil sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Sabar, yah. Bentar aja ini, Aa juga ingin cepet-cepet ketemu dedenya," bujuk Riki sambil mengecup bibir Cicil.


"Ih... bener-bener si Rozak minta aku gerus," maki Cicil sambil mengambil pakaiannya kembali dan mengenakannya.


Riki hanya bisa menahan tawanya saat melihat Cicil yang menggerutu sambil mengenakan pakaiannya.


Riki langsung membuka pintu dan mendapati Rozak yang menatapnya dengan tatapan kebahagiaan.


"Apa?" tanya Riki.


"Rozak mau nikah," teriak Rozak sambil menyerahkan kunci mobil ke tangan Riki.


"Sama siapa?" tanya Riki bingung.


"Sama Nama, pokoknya Rozak mau nikah sama Nama."


"Ka—"


"Ya udah kalau mau nikah sama Nama, besok kita kekeluarganya, sekarang kamu pulang," potong Cicil yang tiba-tiba sudah ada di belakang badan Riki.


"Hah?" tanya Rozak dan Riki berbarengan.


"Udah sana pulang Rozak, bukan hah hoh hah hoh, pulang. Besok kan minggu, pagi-pagi kesini. Aku anterin kamu kerumah Nama," cerocos Cicil sambil mendorong Rozak agar menjauh dari pintu dan hendak menutup pintunya.


"Tapi, Rozak mau ngo—"


"Besok aja ngomongnya, pokoknya besok kamu pagi-pagi kesini. Udah sana," usir Cicil sambil menatap tajam Rozak.


Rozak kebingungan saat menerima amukkan Cicil, ditatapnya Aa Riki yang hanya tertawa pelan sambil mengusap dahinya.


"Aa, Cicil kenapa?" tanya Rozak cepat.


"Cicil kesel, kar—"


"Nggak usah ngobrol, udah pulang sana. Sama satu lagi, Rozak." Cicil memotong perkataan Riki.


"Apa Cil?" tanya Rozak yang masih penasaran apa salah dan dosanya.


"Kalau mau nikah kamu diberkahi, jangan pernah ganggu orang yang mau transfusi darah putih!?" ucap Cicil sambil membulatkan matanya kearah Rozak.


"Hah? Maksudnya? Kalian lagi mau transfusi darah putih?"


"Iya jadi, pulang kamu!?" ucap Cicil sambil membanting pintu dihadapan Rozak.


Rozak hanya bisa tertawa saat melihat pintu ditutup dihadapannya. Mendengar perkataan Cicil tanpa filter membuat tawa Rozak hampir meledak. Saat Rozak berbalik dan akan meninggalkan tempat itu.


Brug...


Rozak langsung mendengar suara pintu yang di pukul, setelahnya terdengar teriakkan Cicil yang mampu membuat semua kaum jomblo dimuka bumi menangis.


"Astaga, pasangan mesum gini nih," kekeh Rozak sambil pergi meninggalkan Riki dan Cicil yang sedang menikmati malamnya.


•••


Dor...


Kenapa, gimana, apa apa? Mau minta full yah?


Hahahhaaa...


ketauan deh...


Jangan lupa bunga sama kopinya ditebar, votenya juga.


Dampingi terus Nama dan Rozak menuju sah, Riki dan Cicil menjadi orang tua, dan tentu saja Laura dan Edy menuju... tau lah mereka berdua mau kemana 🤣🤣🤣.

__ADS_1


XOXO GALLON


__ADS_2