
Rozak yang sedang asik mengurus berkas-berkas dengan hanya menggunakan tangan kirimya dikagetkan dengan suara handphonennya yang bergetar. Ditatapnya siapa yang meneleponnya, wajahnya langsung berseri-seri saat membaca nama dan gambar yang tampil di layar handphonennya.
“Halo, Nyun. Tumben nelpon duluan,” ucap Rozak sambil menyandarkan badannya di kursi.
“Hilih, aku nelpon duluan salah. Aku nggak nelpon juga salah. Maunya apa kamu tuh, Kang?” tanya Nama geram.
“Hahaha... maaf, maaf. Marah-marah mulu, tua nanti.”
“Ih... udahlah, aku tutup nih teleponnya,” ancam Nama.
“Yeh, kamu yang nelpon kamu yang tutup teleponnya. Nggak jelas kamu teh, Nyun.”
“Akang,” rengek Nama.
“Apa, Nyun mau apa?” tanya Rozak sambil menahan tawanya.
“Aku ke sekolah Akang boleh?” tanya Nama tiba-tiba.
Rozak terdiam saat mendengar pertanyaan Nama, Nama tidak pernah meminta untuk bertemu di sekolah. “Boleh.”
“Oke bentar lagi aku nyampe, sekolah udah selesai ‘kan? Nanti kita pulang bareng gimana?” tanya Nama dengan suara ceria.
“Iya Nyun, kita pulang bareng. Udah cepet kesini, aku kangen.” Rozak berkata sambil berbisik sepelan mungkin. Beberapa guru disana sudah tersenyum-senyum pada Rozak seolah mengerti kalau orang yang ditelepon Rozak adalah kekasihnya.
“Hilih, kangen tapi ngilang tiga hari semenjak dari gunung. Aku sangka kamu kesambet setan gunung,” canda Nama.
“Iya setan anyun, udahlah sini,” pinta Rozak.
“Iya, aku kesana tunggu anyun kamu dateng ini, bawa bibir manyunnya,” canda Nama.
“Astaga Nyun, abis kamu sama aku nanti kalau ketemu,” ucap Rozak sambil menyentuh bibirnya, pikiran mesumnya langsung berloncatan keluar dari otaknya. Rasanya Nama akan habis Rozak ciumi hari ini.
“Ya udah abisan ajalah, nggak papa. Udah tiga hari juga nggak ketemu,” tantang Nama.
Mendengar perkataan Nama langsung membuat Rozak tersenyum, sepertinya dia mendapatkan lampu hijau untuk mencicipi manisnya bibir Nama hari ini. “Aku bikin kamu nggak bisa napas, Nyun.”
“Hahaha... aku bikin kamu semaput, Rozak Trina,” ucap Nama.
“Haduh, udah sinilah cepet.”
“Iya mau ini, udah ah. Dadah Akang.” Nama pun menutup sambungan teleponnya.
Rozak langsung tersenyum sambil menatap layar handphonenya.
“Siapa Pak?” goca Pak Julfat, salah satu guru di sana.
“Eh, Pak Julfat. Ini pacar saya, Pak,” jawab Rozak.
“Aduh, udah punya pacar kamu?” tanya Pak Julfat.
“Udah, Pak. Doain aja nikah cepet.”
“Wah, bakal banyak yang patah hati, nih.” Pak Julfat berteriak keras hingga membuat dua orang guru honorer di belakang mereka mengerucutkan bibirnya.
“Patah hati kenapa, Pak?” tanya Rozak bingung.
“Kamu nggak sadar, kamu tuh high quality jomblo di sini, Pak Rozak.” Pak Julfat berkata sambil duduk dihadapan Rozak.
__ADS_1
“Aduh saya udah nggak jomblo lagi, Pak. Saya udah punya pacar,” jawab Rozak.
“Sedih langsung semuanya,” ucap Pak Julfat.
“Bapak bisa aja, saya nggak semenarik itu Pak. Sering patah hati saya tuh. Doain aja sama yang ini nggak patah hati,” pinta Rozak sambil tertawa kecil.
“Aamiin nanti nikah undang-undang,” ucap Pak Julfat sambil terkekeh.
“Iya, semuanya di undang kok, nggak mungkin nggak,” jawab Rozak.
“Pak Rozak punya kaka atau adik nggak?” Bu Nia guru BK tiba-tiba bertanya pada Rozak.
“Ada Bu Nia, kenapa emangnya?” tanya Rozak.
“Masih single?” tanya Bu Nia sambil mengedipkan matanya, di dalam otak Bu Nia berpikir kalau sodara-sodara Rozak pasti gantengnya sama seperti Rozak.
“Adik saya yang kecil udah nikah duluan, dia perempuan. Udah nikah sama bule Italy,” ucap Rozak sambil menunjukkan photo Taca dan Adipati di handphonennya.
“Itu suaminya ganteng amat, Pak,” ucap Bu Nia sambil tersipu-sipu. Dua tahun menjanda membuat Bu Nia sedikit gatal-gatal. Rambutnya.
“Iya, dia bule.”
“Udah cuman itu aja sodara Bapak?” tanya Bu Nia penuh harap.
“Ada satu lagi, ini namanya Aa Riki tapi, udah nikah juga,” jawab Rozak sambil mencari photo Riki dan Cicil.
“Bisalah yah, aku rada-rada nyari celah,” ucap Bu Nia tersipu-sipu malu.
Rozak tersenyum kecil, sepertinya sebentar lagi harapan Bu Nia akan pudar. Apalagi setelah melihat Cicil, auto mundur kilat sepertinya. “Celah apa, Bu Nia?”
“Yah, mungkin istrinya kurang can—“
“Oh, ya udah kalau pacar Pak Rozak mana?” tanya Bu Nia masih penasaran. Melihat Cicil yang cantik paripurna membuat Bu Nia mundur kilat.
“Udah Bu, kalau liat dari jodoh-jodohnya. Pacar Pak Rozak juga bakal cantik paripurna.” Pak Julfat berkata sambil mengusap keningnya pelan.
“Penasaran ajalah, Pak.”
Rozak tertawa sambil mencari photo Anyun kesayangannya. “Ini pacar saya.”
Seketika itu juga Bu Nia langsung tersenyum dan berkata “Saya, ke ruang BK dulu, Yah. Mari.”
Pak Julfat hanya bisa menahan tawanya sambil melirik Rozak yang sedang tersenyum. Saat mereka sedang tersenyum penuh kode pria, sayup-sayup terdengar suara ribut di luar ruangan.
“Ada apa?” tanya Rozak sambil beranjak dari kursinya dan keluar dari ruang guru, diikuti Pak Julfat.
Saat di luar Rozak dan Pak Julfat kaget bukan kepalang saat melihat gerombolan anak didiknya yang sedang asik cekikikkan sambil menatap layar handphone mereka.
“Gila banget, bro. Ini skandal,” ucap seoarang anak pria.
“Live ini, di ruang olah raga. Si Wahyu bener-bener yah, gahar.”
“Wow banget itu paha mulus.”
Rozak yang penasaran langsung mendekat kearah rombongan yang ada disana. Matanya terbelalak saat melihat dua orang muda-mudi sedang bercumbu dengan liarnya. Jantungnya hampir copot saat melihat siapa wanita yang ada di video itu.
“Ini apa!?” teriak Rozak keras, membuat kaget gerombolan tersebut.
__ADS_1
“Astaga, Pak.”
“Kabur.”
“Kabur, kabur.”
Beberapa anak bersiap untuk berlari langsung ditahan oleh Rozak, sedangkan dua orang lainnya dihadang dengan suksesnya oleh Pak Julfat yang sudah ahli dalam hadang menghadang siswa dan siswi.
“Itu video live dimana?” bentak Rozak sambil mengambil handphone dari tangan salah satu murid yang tertangkap.
“Di....”
“DIMANA!?” teriak Rozak sambil mencengkram kerah baju salah satu murid yang ada.
“Gedung olah raga, Pak. Digudangnya,” jawab murid tersebut sambil menatap Rozak ketakutan.
Rozak dengan cepat berlari kearah gedung olah raga, sebelumnya dia berkata pada Pak Julfat. “Pak ikut, biar anak-anak itu diurus guru lain.”
“Siap,” Pak Julfat langsung berlari mengekor dibelakang Rozak.
Napas Rozak memburu, kelakuan anak zaman sekarang benar-benar membuat Rozak menggeleng-gelengkan kepalanya. Astaga, apa yang ada di pikiran mereka sampai-sampai melakukan perbuatan asusila di sekolah, yang parahnya mereka live di salah satu sosial media yang ada.
“Pak, itu tadi siapa” tanya Pak Julfat yang belum sempat melihat videonya karena berusaha untuk menghadang murid-murid tadi kabur.
“Siswa kita, Pak.”
“Siapa?”
Rozak hanya bisa menghela napas, sepertinya masalah ini akan sangat-sangat panjang. “Wahyu Pak, ketua tim basket.”
“Wahyu yang anak pengusaha panci?” tanya Pak Julfat kaget.
“Iya.”
“Sama siapa, Pak?” tanya Pak Julfat penasaran.
“Ira—“
“Ira anak anggota parlamen yang terkenal itu, anaknya Ahyar Suhendar?”
“Iya,” jawab Rozak sambil masuk kedalam gedung olah raga.
“Gawat ini!?”
••••
HOLAAAA....
Gimana lebarannya?
Seru nggak?
Alhamdulliah Gallon sudah menghabiskan 10 kupat, sepanci kuah kari ayam dan 10 botol minuman orson rasa orange 🤣.
Selamat menikmati dunia halu Gallon kembali, jangan lupa Vote disebar, point dan koin di tebar.
Menerima kopi hangat, bunga setangkai dan vocher vote (inget vote bukan qurban 🤣)
__ADS_1
XOXO GALLON