Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Keputusan...


__ADS_3

“Nyun, kamu mau nikah sama aku?”


Kata-kata Rozak terngiang-ngian dikepala Nama, Nama sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan Rozak. Nama meminta waktu pada Rozak, Rozak hanya menjawab dengan senyuman terpaksa.


Nama terus berguling-guling dikasur miliknya, kepalanya nyaris pecah. Masalahnya tidak rumit, Nama tau yang memperumit adalah pikirannya sendiri. Argh... rasanya Nama ingin berteriak keras-keras, rasa-rasanya hidupnya ribet.


Diambilnya handphone ditangannya, ditatapnya photo dirinya dengan Rozak. Ini satu-satunya photo yang bisa Nama jadikan wallpaper handphonennya. Photo lainnya jangan ditanya, hampir semuanya adalah photo Rozak sedang menciumi dirinya dengan berbagai macam posisi.


Wajah Nama langsung merona melihat photo Rozak, lelaki manis penuh nafsu yang sudah menemani belakangan ini. Lelaki yang mampu menjaga segalanya sesuai jalurnya, tidak pernah meminta lebih.


“Kang, Nama harus apa?” tanya Nama sambil menggusap-usap photo Rozak yang tersenyum manis pada dirinya.


“Nama.”


Nama langsung terduduk saat mendengar panggilan seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Ibunya sendiri.


“Ibu,” ucap Nama sambil menatap Isla.


“Kamu kenapa?” tanya Islah sambil duduk disamping Nama. “udah dua hari ini kamu uring-uringan.”


Senyuman langsung mengembang dibibir Nama, “Nggak ada apa-apa, Bu.”


Nama tampak menyembunyikan handphonennya dibelakang badannya. Ibunya belum tau sama sekali saat ini dia sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Walaupun, Rozak sudah beberapa kali bertemu dengan Ibunya, Nama selalu berkata Rozak adalah temannya, tidak lebih.


“Liat sini handphone kamu,” pinta Islah sambil berusaha untuk mengambil handphone milik Nama.


“Jangan Bu,” ucap Nama sambil berusaha untuk menutupi layar handphonennya.


Islah langsung tersenyum saat melihat gambar pria yang selama selalu mengantar Nama. “Siapa ini, kok berani rangkul-rangkul anak Ibu?”


“Ibu, udah ah.” Nama mencoba mengambil handphonennya dari tangan Islah.


“Haha... siapa ini?” tanya Islah lagi, “terakhir kamu pacaran sama si Dion brengsek itu.”


Nama langsung terdiam saat ibunya menyebutkan nama Dion. Mantan pacarnya yang benar-benar menyiksa dirinya secara lahir dan batin. Bahkan menyebabkan cacat permanen di bagian dalam pahanya. Tanpa sadar Nama menyentuh bagian dalam pahanya.


“Bu....” ucap Nama dengan wajah memelas, Nama sedang tidak ingin membicarakan kebrengsekan Dion.


Islah langsung mengusap rambut Nama yang panjang, “Kamu kenapa?”


Nama mengusap air matanya, “Nama nggak papa, Bu.”


“Nam, jangan bohong. Kamu kenapa, Nak?” tanya Islah sambil terus mengelus rambut Nama.


“Nama bingung.”


“Kenapa? Kamu hamil?” tebak Islah.


“Nggak, Nama nggak hamil Bu. Ibu jangan punya pikiran aneh-aneh. Sampai detik ini Nama masih bisa menjaga diri Nama, Bu.”

__ADS_1


Islah langsung menghela napasnya pelan, ada rasa lega saat Islah menghembuskan napasnya. “Terus kenapa?”


“Nama, Nama diajak nikah sama Rozak.”


Islah mengerjapkan kedua matanya, ada rasa kaget saat mendengar perkataan anaknya. Anak gadisnya ini paling anti untuk berkomitmen hingga menikah. Masa lalu dirinya yang menjadi istri kedua benar-benar mempengaruhi psikologis Nama. Bagaimana tidak, sepuluh tahun hidupnya Nama habiskan dirumah laknat itu, rumah kelurga besar mantan suaminya.


Nama dihina dan dimaki, dianggap pembantu sudah menjadi makanan sehari-hari Nama dan dirinya. Islah yang bertahan karena memikirkan masa depan Nama, malah memperburuk keadaan. Nama menjadi gadis pemurung dan jarang bersosialisasi dan Islah yang kelelahan dan makan hati dengan perlakuan istri pertama dan anak-anak Ahyar dari istri pertamanya, akhirnya menjadikan Nama pelampiasannya.


Semua kata kasar sudah pernah Islah lontarkan pada Nama dari mulutnya dan sampai detik ini Islah menyesali itu semuanya. Semua itu terjadi selama hampir sepuluh tahun, akhirnya Islah tidak sanggup lagi menerima semuanya. Islah akhirnya meminta cerai dari Ahyar, awalnya Ahyar menolaknya. Namun, Islah berbicara dengan Eva istri pertama Ahyar, Eva pun membantu perceraian tersebut.


Dengan sebuah perjanjian, bahwa dirinya dan Nama tidak akan menggangu kehidupan kelurga itu lagi.


“Kamu mau nikah sama Rozak?” tanya Islah sambil mengusap rambut Nama.


“Aku, bingung. Bu, kalau aku nikah berarti aku harus minta ijin Ayah. Aku nggak mau,” ucap Nama.


“Nama.”


“Aku nggak mau menginjakkan kaki lagi di rumah Ayah, Bu. Astaga Ibu inget kelakuan Tandika dulu?” tanya Nama berusaha untuk mengingatkan kejadian yang menimpanya.


“Nama, sudahlah. Tandika bilang dia nggak sengaja juga,” ucap Islah mencoba menenangkan Nama.


“Hahaha, nggak sengaja?” tawa Nama terdengar dipaksakan. “ngunci Nama di kamar mandi selama seharian penuh, itu nggak sengaja?”


“Nama, sudahlah. Nggak usah dibahas lagi, Ibu benar-benar sudah tidak mau berurusan lagi dengan mereka. Ibu sudah ampun dengan kelakuan mereka.” Islah berkata sambil mengusap dahinya yang tiba-tiba sakit.


Islah langsung mengusap kepala Nama pelan, apa yang dikatakan Nama benar. Mau tidak mau mereka harus kesana untuk meminta ijin pada mantan suaminya. Syukur-syukur mantan suaminya itu mau menjadi wali Nama. Tapi, Islah yakin suaminya akan menolak itu semuanya. Mau ditaruh dimana mukanya bila harus menikahkan anak dari istri kedua.


“Nama, Ibu mau nanya sama kamu,” ucap Islah sambil tersenyum.


“Apa?”


“Kamu yakin sama Rozak ini?” tanya Islah sambil menunjuk gambar lelaki di photo Nama.


“Nama—“


“Kalau kamu yakin, Ibu setuju kok,” ucap Islah sambil menatap Nama.


“Eh, Ibu nggak mau nanya tentang Rozak?”


Islah menggelengkan kepalanya pelan, “Nggak, buat apa. Yang penting kamu yakin dan bahagia.”


“Nama emang pantes bahagia?”


Islah kaget dengan perkataan Nama, “Astaga sayang, kenapa kamu ngomong gitu?”


“Tandika, Ira, Mamah Eva bahkan Ibu pernah bilang aku anak yang nggak pantas bahagia. Karena, aku sudah menghancurkan kebahagiaan kalian semua,” isak Nama sambil mengusap air matanya.


Islah kaget bukan kepalang saat mendengar perkataan Nama. Penyesalan langsung Islah rasakan, kata-kata yang pernah meluncur dariulutnya dulu benar-benar membekas dihati putrinya, padahal dulu Islah mengatakannya tanpa berpikir panjang. Astaga, dia bukan Ibu yang baik.

__ADS_1


“Maaf, Nama. Ibu benar-benar menyesal. Kamu berhak bahagia, Nam.” Islah memeluk putrinya yang sedang menangis, dengan tangan bergetar Islah mengelus punggung ringkih Nama.


“Ibu bilang aku ini anak sampah, aku nggak berhak bahagia. Ibu yang bilang, Bu,” isak Nama sambil mencengkram bahu Islah keras. Detik ini Nama menumpahkan segala ganjalan dihatinya, Nama ingin Ibunya tau betapa sakit hatinya dirinya saat mendengar hinaan dari Ibunya dulu.


“Maaf Nama, Ibu minta maaf. Ibu benar-benar nggak bisa jaga lisan Ibu, sampai kamu sakit hati.” Islah memeluk dan menciumi pucuk kepala Nama.


Nama hanya bisa menangis dan menjerit, menumpahkan segala rasa yang ada didalam hatinya. Waktupun berganti dengan sangat cepat, suara Nama sampai habis karena menangis terisak dipelukkan Ibunya. Ibunya dengan sabar dan tenang mengusapi punggung Nama sambil sesekali mengucapkan kata maaf.


Kata maaf dari Ibunya, mungkin tidak bisa membuat Nama mengulang waktu. Tapi, setidaknya Nama tau kalau Ibunya menyesali perkataannya dulu. Perkataan yang sangat terpatri di otak, hati dan pikiran Nama. Kata-kata yang membuat Nama menangis setiap malam dan menerima diperlakukan seperti sampah oleh mantan kekasihnya Dion. Karena, Nama merasa dirinya tidak berhak untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari siapapun. Sampai, Rozak datang dengan senyumannya.


Rozak datang dengan kehangatannya, sikap tegas dan keras kepala Rozak benar-benar meluluh lantahkan pertahanan Nama. Benteng yang Nama bangun setinggi langit langsung ambruk saat Rozak datang mengetuk hatinya. Memintanya untuk menjadi istrinya dan menolah dengan tegas untuk melakukan tindakan kumpul kebo atau apapun itu.


Astaga, Nama sadar dia mencintai Rozak, dia menginginkan Rozak menjadi imamnya, memeluknya setiap hari. Bahkan, lebih parahnya dia rindu kecupan hangat dan liar yang selalu Rozak berikan pada dirinya.


“Ibu, Nama mau nikah, Bu.” Nama berkata sambil menatap Islah.


“Kamu yakin?” tanya Islah.


“Aku yakin Bu, Kang Rozak pasti bisa melindungi dan mencintai Nama.”


Islah langsung tersenyum mendengar perkataan Nama. “Baiklah, telepon Rozak. Minta besok dia datang kesini. Ibu mau dengar dia meminta kamu, Nam.” ucap Islah sambil mengusap rambut Nama pelan.


“Iya, Bu.”


•••


Dor...


Maaf yah Kaka Gallon ribet mengurusi rendang, acar, sambel goreng ati dan opor ayam. Ditambah, lontong yang tidak jadi-jadi. Hahaha...


Kaka Gallon juga mau ijin yah, Kaka Gallon libur nulis dulu sampai tanggal 16 Mei 2021.


Kaka Gallon ingin menikmati Opor dengan santai dan hikmat hahahaa...


Terima kasih untuk yang sudah memberi Kaka Gallon Tip berupa Koin *sini Kaka Gallon ketjup kalian berdua 😘.


Jangan lupa tetap Vote, sebar point dan koinnya. Hanya untuk Kaka Gallon tercinta.


Love you.



Akhir Kata minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Maaf kalau Kaka Gallon ada salah.


Hapunten pisannya, upami Kaka Gallon aya kalepatan dina lisan atanapi tulisan. Kaka Gallon oge da jalmi biasa nu osok aya kalepatanna.


(Mohon maaf sekali, kalau Kaka Gallon ada kesalahan dalam tulisan atau lisan. Kaka Gallon juga orang biasa yang masih suka melakukan kesalahan)


XOXO GALLON.

__ADS_1


__ADS_2