
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️
•••
“Edy, kamu jadi ikut ke Citeko?” tanya Cicil sambil memasukkan koper kedalam mobil avanza milik Edy.
“Nggak tau, Cil. Aku masih ragu-ragu euy, kalau aku ikut yang ngurus resto siapa?” tanya Edy sambil membantu Cicil memasukan beberapa kantong kertas.
“Ikut aja, Edy. Biar rame-rame juga, Rozak aja ikut,” bujuk Cicil sambil berkacak pinggang dan menatap Edy. Entah kenapa, Cicil merasa Edy terlihat lebih murung dari biasanya, Edy sudah jaranh berkelakar lagi, jangankan berkelakar, tersenyumpun jarang.
“Nggak ah, kayanya. Banyak kerjaan juga Cil,” tolak Edy.
“Beneran? Nggak bakal nyesel?” Cicil benar-benar ingin Edy ikut, Edy itu memberikan efek kebahagiaan untuk dirinya dan Riki.
“Nggak....”
“Cicil...” terdengar suara Laura dari belakang Cicil, dengan cepat Cicil berbalik dan melambaikan tangannya pada Laura.
“Laura, kamu jadi ikut?” tanya Cicil sambil memeluk Laura.
“Jadi, tapi aku bawa mobil sendiri, yah. Takut nggak muat juga,” ujar Laura.
“Hai, Lele... kamu ikut juga?” tanya Laura.
Edy hanya tersenyum sekenangnya, “Nggak, aku nggak ikut. Aku mau ngurus restoran,” jawab Edy sambil melambaikan tangannya dan berlalu dari sana.
Cicil langsung menatap Laura, “Gue butuh penjelasan, kenapa itu Edy sampai kaya gitu, lo tolak?”
Tangan Laura tampak meremas-remas tali tasnya. “Bukan gitu, kemarin tuh Edy nyatain ke aku. Tapi, aku tolak karena aku bilang aku masih suka sama Samuel. Tapi....”
“Tapi, lo nyesel, baru sadar lo suka juga sama si Edy?” tanya Cicil sambil menatap Laura.
“Kok kamu tau?” ucap Laura cepat, apa yang dikatakan Cicil itu benar, Laura baru sadar dirinya menyukai Edy. Sudah hampir dua minggu Edy tidak menghubunginya sama sekali. Yang biasanya intens menghubunginya, tiba-tiba hilang rasanya aneh. Rasanya ada yang kurang dari hidupnya. Iya, kurang lelucon jayus seorang Edy.
“Kelakuan kamu nggak rubah, selalu sadar cinta saat terlambat. Terus sekarang kamu mau gimana? Mau lepasin si Edy?” tanya Cicil pada Laura yang hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
Cicil langsung memeluk Laura, “Nggak usah mikirin A,B,C,D. Orang tua kamu nggak minta kamu nikah sama anak sultan juga ‘kan. Jadi, Edy baek kok,” ujar Cicil sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
“Aku cuman takut, Edy kaya Samuel, gimana kalau dia selingkuh?” tanya Laura pada Cicil.
“Aku nggak bisa jawab. Tapi, ngapain sih harus musingin masa depan. Hidup kita itu dimasa sekarang. Kalau kamu cinta, kejar. Kalau kamu nggak cinta, stop. Simple kan,” ujar Cicil.
Senyuman manis langsung terbit di wajah Laura, “Kayanya aku nyusul ke Citekonya sama Edy,” ujar Laura.
“Oke, sampai Citeko aku mau denger kabar bahagia yah, bukan kisah sedih dihari minggu. Cukup percintaan aku aja yang nggak jelas, kisah kamu harus jelas,” ujar Cicil sambil tersenyum.
“Kisah kamu jelas, tuh pangeran kamu dateng. Bentar lagi nikah, walau orang tua kamu nggak restuin....”
“Ehem...” Cicil menunjukkan cincin bertahtakan batu safir ditangan kanannya. Laura langsung menggenggam jari manis Cicil, sambil berusaha untuk menahan pekikkannya.
“Kok bisa, inikan cincin nikah Tante Rea, cincin kebangaannya,” ujar Laura sambil menatap cincin safir ditangan Cicil yang gedenya ngelebihin kancing bajunya.
“Mamih, kemaren kesini. Dia bilang, dia setuju aku nikah sama Riki, jadi aku udah ada restu lah, kalau nunggu Papih kasih restu sih bisa tahun kuda,” jawab Cicil.
“Aw... selamat, Cil,” Laura langsung memeluk Cicil dengan erat. “Oke, sekarang aku mau ngejar babang Edy dulu. Siluman Lele kesayangan aku.”
Laura langsung berlari kedalam restoran dengan semangat empat lima, untuk mengejar cinta siluman lele kesayangannya.
Sepasang tangan Cicil rasakan menelusup ke perutnya. Ada sebuah kepala menelusup kelehernya, mengecup sedikit lehernya dan menghirup wangi tubuh alami Cicil, yang sangat disukai oleh pria itu, pria bernama Riki Trina.
Lutut Cicil langsung lemas saat merasakan gesekkan hidung Riki di lehernya. Riki belum pernah menyentuhnya dalam artian dia belum pernah berhubungan suami istri dengan Riki. Tapi, entah kenapa Riki seperti punya indra ke-6 untuk mengetahui bagian-bagian sensitive milik Cicil.
“Aa...” desah Cicil tiba-tiba.
Riki langsung melepaskan pelukkannya lalu membalikkan tubuh Cicil khawatir, tangan kanannya langsung menyentuh kening Cicil. “Kamu sakit demam? Kenapa tadi suara kamu kaya gitu pas manggil Aa?”
Kedua tangan Cicil langsung menepuk pipi kanan dan kiri Riki kesal, kekasihnya ini benar-benar polos, saking polosnya desahannya disangka lagi sakit. Astaga kalau desahannya disangka dirinya sedang sakit, kebayang saat malam pertama, bisa nggak jadi malam pertama karena disangka Cicil lagi sakit demam.
“Tadi, itu aku mendesah. Tau nggak mendesah... kaya orang lagi hubungan badan, terus merasakan kenikmatan jadi mendesah,” terang Cicil.
“Neng... aduh ngomongnya, beneran deh. Aa teh bisa sawan ini,” ujar Riki sambil mengedipkan matanya.
“Ya udah kalau sawan, kita ke kantor Aa sekarang, kita ada waktu sejam...” ajak Cicil sambil menggigit bagian bawah bibirnya bermaksud menggoda Riki.
“Sejam? Mau ngapain? Kan kita mau berangkat 2 jam lagi, ada waktu 2 jam. Tapi, mau ngapain?” tanya Riki bingung. Mau apa lagi ini Cicil.
Cicil mendekatkan bibirnya kearah telinga kanan Riki, dengan suara yang manja, Cicil berbisik di telinga Riki, “Aa kuat dua jam?”
“Ngapain?” tanya Riki bingung sambil melirik kearah Cicil. Mata Cicil dan Riki bertemu, Riki langsung melihat Cicil yang belingsatan.
__ADS_1
“Main bola di kasur...” ujar Cicil sambil mengecup bibir Riki lalu berlari meningalkan Riki yang masih kaget dengan perkataan Cicil yang nggak ada filternya. Perkataan yang membuat jiwa lelakinya bergetar dan meronta-ronta ingin dibebaskan.
“Ampun dah, punya pacar nafsuan,” desid Riki sambil menggaruk kepalanya sambil tersenyum.
“Sapa yang nafsuan?” Rozak yang baru sampai langsung berdiri disamping Riki.
“Cicil...” jawab Riki santai sambil menatap adiknya.
“Cakep... yang nafsuan itu bisa menambah bumbu pernikahan menjadi lebih berkah,” ujar Rozak sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Sae lo, jomblo ngenes juga. Mana dulu ampe berdoa siang malam supaya Iis jadi janda,” ledek Riki sambil mendorong bahu adiknya pelan.
Rozak tertawa pelan sambil meloncat kebahu kakaknya itu. “Diem Aa, nggak usah buka aib. Sekarang mah udah tinggal nunggu Nama, pokoknya harus mau sama aku.”
“Maksa ih, anak sultan maneh teh?” tanya Riki sambil merangkul bahu Riki dan berjalan ke arah resto.
“Anak juragan Citeko, Aa,” ujar Rozak sambil tersenyum.
“Zak...” panggil Riki sambil menarik kemeja belakang Rozak.
“Naon (apa)?” Rozak menghentikan badannya dan menatap kearah yang ditunjuk oleh Riki.
Rozak dan Riki langsung bersembunyi di belakang pepohonan plastik yang ada dihadapan mereka. Mereka berjongkok dan saling himpit, berusaha menyembunyikan badan mereka.
Berusaha untuk melihat suatu keajaiban dunia, keajaiban dunia ke 10 yang ada dimuka bumi ini. Keajaiban spektakuler...
•••
Keajaiban apa pula ini...
Hadeuh Kaka Gallon penasaran...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1