
30 menit sebelum Cicil menelepon Rozak.
Cicil memeluk badan Riki yang sedang asik membuat telur orak arik daun kelor untuk Cicil. “Wangi,” ucap Cicil.
“Neng, nape sih demen banget daun kelor?” tanya Riki bingung, entah kenapa istrinya ini seperti memuja daun kelor.
“Nggak tau enak aja, padahal sebelum hamil. Aku nggak suka daun kelor atau sayur apapun kecuali salada itu juga kepaksa,” jawab Cicil sambil menyerok telur panas dari wajan kemudian memasukkannya kemulutnya.
“Neng panas,” cegah Riki.
“Hah ... panas ... ah.” Cicil mengipas-ngipas mulutnya dengan cepat. Rasa panas langsung menjalar ke setiap inci rongga mulutnya.
“Kan Aa udah bilang panas, mau debus kamu teh?” tanya Riki kesal sambil meniupi mulut Cicil.
“Panas, astaga panas,” isak Cicil sambil berlari kearah kulkas dan meminum air mineral langsung dari botolnya.
“Astaga, Neng pelan-pelan. Aduh gusti, sabar atuh ini telornya juga nggak bakal berubah jadi ayam lagi kalau kamu nggak makan detik ini juga,” ucap Riki sambil mematikan kompor dan mendekati Cicil.
“Hah ....” Terdengan helaan napas Cicil yang merasa lega saat rasa panas tersebut sudah menghilang dari mulutnya. “Panas banget sumpah.”
“Ya kamu mah aneh, itu nasi goreng masih diwajan udah diembat aja. Yah, panaslah. Mau debus kamu tuh?” tanya Riki sambil mengangkat dagu Cicil pelan. “Liat lidahnya.”
Cicil langsung menjulurkan lidahnya untuk diperiksa Riki, “Aa ....”
“Nah kan, merah banget itu lidah kamu, kepanasan, udah tunggu dingin makanya makan tuh. Siapa juga diruangan ini yang berani makan nasi goreng kelor kamu.”
“Nggak ada sih, kan cuman Aa doang yang ada di sini,” ucap Cicil sambil kembali meminum air dari botolnya.
“Neng, pake gelas,” pinta Riki sambil mengambil gelas dan menyerahkannya pada Cicil. Kebisaan Cicil meminum air mineral dari botolnya kadang membuat Riki gemas.
“Iya, ih ... ribut deh,” ucap Cicil sambil mengerucutkan mulutnya dan mengambil gelas dari tangan Riki. “Udah nih, udah pake gelas.”
“Pinter,” ucap Riki sambil mengecup pipi Cicil dan kembali mengurusi nasi goreng kelor kesukaan Cicil.
“Cerewet,” ucap Cicil.
“Eh ... berani bilang Aa cerewet?” ucap Riki sambil mengambil piring kemudian memasukkan nasi gorengnya ke piring.
“Iya, kenapa? Cerewet,” canda Cicil sambil memeluk Riki dari belakang. “Cerewet, cerewet.”
“Yeh, ngelunjak.”
“Biarin, emang Aa mah apa? Marah? Emang bisa marah ke Aku?” tanya Cicil.
“Nah, itu masalahnya aku nggak bisa marah ke kamu. Sulit marah ke kamu tuh, nggak tau kenapa.” ucap Riki sambil tersenyum.
“Makanya, cerewet,” canda Cicil lagi sambil membentur-benturkan dahinya ke punggung Riki.
“Bilang cerewet sekali lagi, awas aja,” kekeh Riki.
“Apa, kamu mau apa?” tantang Cicil sambil terkekeh geli di pinggung suaminya.
“Nantangin, yah.” Riki berkata sambil berbalik dan menatap Cicil yang sedang tersenyum pdanya. Dengan cepat Riki menyelipkan anak-anak rambut Cicil ke kupingnya.
“Potong Neng rambutnya,” pinta Riki sambil mengusap rambut Cicil. “Panas aku liatnya.”
Cicil hanya menganggukkan kepalanya tanda menyetujui perkataan Riki. “Ce-re-wet.”
“Astaga,” kekeh Riki yang gemas digoda oleh Cicil dari tadi. “Awas kamu, yah.”
__ADS_1
“Apa, apa Aa mau apa?” tanya Cicil sambil tertawa renyah.
“Aa bakal tidur di sofa dua hari penuh. Biarin aja kamu tidur sendirian di kasur, bareng si Geulis sana. Nggak usah kamu peluk-peluk Aa, nggak us—“
“Enak aja, nggak bisa,” potong Cicil cepat, “enggak bisa, nggak ada yah peraturannya kalau orang menikah tidur pisah-pisah. Nggak bisa, mau kemana kamu? Sampai tua kamu tidurnya sama aku, Aa.”
“Hahaha, nah kan. Makanya jangan bilang cerewet mulu, aku tinggal tidur sendiri, rengek,” olok Riki sambil menjawil hidung Cicil yang bangir.
“Kalah aku sama kamu, tuh.” Cicil berkata sambil menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Riki.
“Udah makan dulu, Aa mau mandi yah. Sana makan, udah dari sini Aa mau ke supplayer sama Edy,” terang Riki sambil melepaskan pelukkannya.
“Ah ... jangan lepas ... peluk, peluk,” ucap Cicil sambil merenggapai-gapai Riki yang makin menjauh.
“Tidak, aku harus mandi. Kalau aku peluk kamu terus bisa berakhir aku telat ke supplayer, kamu bakal minta jatah,” tebak Riki sambil terus berjalan meninggalkan Cicil yang masih merengek di meja makan.
“Ish ... pelit, pelit kamu, Aa. Awas aja, aku punggungin kamu nanti malem,” ancam Cicil sambil mengambil sendok dan menyuapkan telurnya kedalam mulutnya.
“Punggungin aja, nggak papa.”
“Eh ....”
“Iya, kalau kamu punggungin aku, aku tinggal pindah posisi gampangkan,” kekeh Riki sambil menutup pintu kamar mandi.
“Idih, maksa,” kekeh Cicil sambil menahan senyumnya.
Obrolan tidak berfaedah dengan Riki selalu Cicil dapatkan setiap paginya. Mengawali harinya dengan penuh warna, Cicil merasa bahagia hidup bersama Riki. Sempurna.
Saat sedang asik menyuapi telurnya kemulutnya, Cicil tiba-tiba merasakan sesuatu di perutnya.
Dug ...
“Aw ....” Cicil langsung mengelus perutnya yang sakit karena di tendang anaknya. “De, sakit sayang.”
Dug ...
Dug ...
Cicil langsung meletakkan sendoknya, tangannya dengan cepat menutup mulutnya agar tidak berteriak. Ngilu bukan main, anaknya ini sepertinya hobi bermain bola didalam perutnya.
“De, bentar lagi Baba selesai mandinya. Tenang yah, pingin dielus Baba yah. Bentar, yah.”
Cicil mengatur napasnya, sambil terus mengelus perutnya menenangkan bayi di dalam kandungannya yang terus bergerak tak tentu arah seperyi gelisan.
Tok ... tok ....
“Siapa?” Spontan Cicil berteriak.
“Saya, Manda,” jawab Manda dari balik pintu.
Cicil langsung turun dari kursinya dan berjalan ke arah pintu. Dibukanya pintu tersebut, saat terbuka mata Cicil membulat saat melihat siapa yang ada dibelakang Manda.
“Manda, ada apa ini?” tanya Cicil sambil menahan ngilu teramat sangat di perutnya, entah kenapa bayinya terus bergerak tak tentu arah.
“Ini Bu, katanya Bapak-bapak ini ingin bertemu dengan Pak Riki,” ucap Manda dengan intonasi suara bingung sambil menunjuk bapak-bapak berpakaian polisi di belakangnya.
“Ngapain?” tanya Cicil bingung.
“Kami mau bertemu Pak Riki, untuk dimintai keterangan, Bu.”
__ADS_1
“Keterangan apaan?” tanya Cicil galak.
“Ini, Bu.” Salah satu polisi tersebut memberikan surat perintah pada Cicil.
Cicil dengan cepat membaca suratnya, napasnya terhenti saat membaca paragrap demi paragrap di surat tersebut. Apa maksudnya ini, kenapa suaminya jadi dituntut akan perbuatan tidak menyenangkan dan melakukan kekerasan.
“Siapa ini yang lapor?” tanya Cicil bingung.
“Bisa dilihat, Bu,” ucap polisi itu lagi.
“Ahyar suhendar,” bisik Cicil berang, kemarahan Cicil sudah diubun-ubun. Keparat satu itu benar-benar minta mati.
“Iya, Bu. Jadi saya kemari ingin mengajak Pak Riki untuk dimintai keterangan.” Polisi itu berkata sesantun mungkin, melihat Cicil yang sedang hamil membuat dirinya benar-benar mengatur intonasi suaranya dengan baik.
“Ada apa?” tanya Riki yang tiba-tiba muncul di belakang Cicil.
“Anda Pak Riki Trina?”
“Iya, saya sendiri,” jawab Riki.
“Kami meminta anda untuk ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan dari sebuah pengaduan dari Pak Ahyar mengenai perbuatan tidak menyenangkan dan kekerasan yang Pak Ahyar laporkan.” Polisi tersebut tersenyum dengan ramah.
Riki langsung menatap Cicil, mereka langsung berkomunikasi lewat tatapan mata. Cicil langsung menggelengkan kepalanya, Cicil tau Riki pasti akan mengikuti polisi-polisi tersebut. Sedangkan, Cicil tidak mau Riki pergi tanpa pendampingan pengacara.
“Saya kesana, Pak. Tunggu saya,” ucap Riki sambil masuk kembali kedalam dan mengenakan pakaian yang lebih pantas.
Cicil langsung mengejar Riki, “Aa, Aa jangan kasih omongan apapun. Inget jangan ngomong apapun.”
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan bilang, Aa tunggu pengacara. Aku bakal hubungi pengacara aku, inget Aa jangan ngomong apapun sebelum Pak Sinclar datang. Inget Aa.” Cicil memperingatkan Riki, sambil menyebutkan nama pengacara kelurganya.
“Tapi, kalau Aa ditanya?” tanya Riki yang entah kenapa terlalu polos dan bodoh bila berurusan dengan hukum.
“Jawab aja, saya tidak akan menjawab sampai saya didampingi pengacara. Itu hak Aa, inget Aa. Nama pengacaranya Pak Sinclair.” Cicil kembali mengingatkan Riki.
“Oke, kamu baik-baik di sini. Jangan aneh-aneh.” Riki berkata sambil berlutut dan berbisik pelan di perut Cicil. “De, Baba pergi dulu, yah. Baba sayang sama Dede, kamu jaga Mamih, yah. Jangan nakal sayang.”
Riki langsung mengecup perut Cicil dan berdiri. “Neng, Aa pergi dulu.”
Riki langsung mengecup bibir Cicil dan pergi berlalu meninggalkan Cicil yang panik. Setelah Riki menutup pintunya, Cicil langsung mengambil ponselnya dan menelepon seseorang yang harus bertanggung jawab akan semua ini.
Pada dering kedua telepon tersebut diangkat, tanpa basa basi Cicil berteriak mengeluarkan amarahnya.
“Eh, Rozak kasih tau Nama, ini maksud dan tujuannya apaan?”
•••
Cicil melemparkan handphonenya kesembarang tempat. Setelah meluapkan emosinya pada Rozak dan Nama. Cicil berusaha bernapas dengan baik.
Dia harus menelepon pengacaranya, mengeluarkan Riki dari masalah Ahyar adalah prioritasnya. Bisa gila dia kalau harus sendirian tanpa Riki di sampingnya, karena satu-satu yang membuat dirinya waras adalah Riki.
Dan demi apapun juga, kalau sampai ada apa-apa dengan Riki, Cicil tidak akan segan-segan meremukkan kehidupan Ahyar Suhendar dari berbagai sektor. Cicil murka.
•••
Haii ...
ini flashback yah ... jadi jangan bingung dan pusing.
__ADS_1
Terima kasih semuanya ...
XOXO GALLON