
Riki mematung sata melihat Juan yang hampir menarik rambut Cicil, untungnya ada Iis yang menjewer kuping Juan keras. Riki rasanya ingin marah, tapi bingung marah kenapa?
Juan pun langsung mundur dan memeluk Iis, tampak Juan merayu Iis habis-habisan karena sudah hampir menarik rambut Cicil.
Harusnya Riki merasa semuanya baik-baik saja, tapi hatinya sakit bukan main. Entah kenapa, rasanya Riki ingin menarik-narik rambut Juan dan melemparkannya ke jendela. Sudahlah, Riki benar-benar bingung dengan perasaannya.
Kumpul kecil-kecilan itu berlangsung sangat meriah. Abah berkali-kali memeluk Cicil, Abah bahkan menangis saat melihat menantunya itu. Berkali-kali Abah memeluk Cicil.
Riki malah bingung, siapa sebenarnya yang anak Abah. Riki sama sekali tidak ditanya atau dipeluk, dilirik pun tidak. Abah benar-benar sibuk dengan Cicil, Cicil disuruh makan dan diperhatikan sebegitunya.
“Aa, ai anak Abah teh Taca atau Cicil sih?” tanya Taca bingung melihat betapa sayangnya Abah dengan Cicil.
“Jangan kan kamu, Aa aja bingung yang anak Abah siapa,” ucap Riki bingung.
“Kayanya kita mah anak kucing,” ucap Rozak yang ikut bingung dengan kelakuan Abah yang lebih sayang Cicil daripada mereka bertiga.
“Sedih amat yah, kita.” ucap Taca, Riki dan Rozak berbarengan.
“Ini kenapa?” tanya Nama tiba-tiba sambil duduk disebelah Rozak.
“Ini biasa lagi merasa sedih,” jawab Rozak sambil menyuruh Nama duduk disampingnya. Nama langsung duduk disamping Rozak dan tersenyum pada Taca.
“Taca, adiknya Kang Rozak, kamu pacarnya Kang Rozak, yah?” tanya Taca, Taca tadi sudah diberitahu Abah kalau, Rozak sudah punya pacar dan Abah sedang merayu Nama untuk mau dilamar secepatnya.
“Iya, Nama.” Nama menjawab sambil tersenyum manis pada Taca.
“Kalian udah pacaran?” tanya Riki kaget, sepertinya dia baru mendapatkan kabar itu sekarang.
“Iya, baru tadi...”
“Dan ketauan Abah mereka lagi mau kuda-kudaan di dapur,” potong Taca santai.
“Uhuk... uhuk...” Nama terbatuk keras mendengar perkataan Taca yang tanpa filter. Dengan cepat Rozak memberikan air minum pada Nama.
“Taca, kalau ngomong, yah,” ucap Rozak sambil membulatkan matanya pada Taca.
“Suka bener,” kekeh Riki sambil menutup mulutnya. Taca langsung tertawa saat mendengar celetukan Riki, dengan cepat Taca melakukan toss dengan Kakak pertamanya itu.
“Idih, kelakuan kalian dari dulu sama, demen banget bercandain, Akang,” ucap Rozak kesal sambil mendelikkan matanya.
“Ih... kan Abah yang bilang kalian main kuda-kudaan. Kok jadi Taca yang kena. Aku salah apa?” tanya Taca sambil berdiri dari duduknya dan berlalu dari sana, tak lupa Taca menjulurkan lidahnya pada Rozak.
“Idih, punya ade rese,” ucap Rozak kesal.
“Jadi main kuda-kudaannya enak?” tanya Riki sambil ikut berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Cicil yang sudah meninggalkan Abah dan berjalan ke arah kantor milik Riki.
“Ini juga, sama aja kelakuan,” ucap Rozak kesal sambil menatap Riki.
“Kaka sama adik kamu bener-bener...”
“Nyebelin,” ucap Rozak kesal. Nama hanya bisa menahan tawanya saat melihat Rozak kesal dengan kelakuan sodara-sodaranya.
“Jelek banget kamu, Kang.”
“Apa?”
“Kang, Kang Rozak ‘kan?”
“Kamu manggil saya apa?” tanya Rozak sambil menunjuk Nama.
__ADS_1
“Kang... nggak suka?” tanya Nama sambil mengedipkan kedua matanya, menunjukkan bulu mata Nama yang tebal dan lentik.
Melihat Nama yang sangat imut membuat Rozak ingin menarik Nama dan menciumi setiap jengkal wajahnya. “Kamu bisa nggak ngedipnya biasa aja?”
“Hah... lah emang ngedip aku kenapa?” tanya Nama bingung.
Rozak mendekatkan bibirnya dikuping Nama. “Nafsuin.”
“Hah?” Nama terkejut mendengar perkataan Rozak. Astaga sepertinya benar yang dikatakan Abah. Rozak nafsunya gede.
•••
Cicil benar-benar butuh kembali ke kantor Riki yang sudah dialih fungsikan menjadi rumah Riki dan Cicil. Cicil ingin mengambil sesuatu disana.
“Cil...”
Cicil berbalik dan mendapati si semprul Juan berlari ke arahnya.
“Apa?” tanya Cicil sambil memasukkan kunci kelubang kunci.
“Gue mau kasih ini, sorry gue nggak bisa ke acara nikahan lo.” Juan memberikan sebuket bunga dan kado untuk Cicil. “ini pilihan Iis kok, kayanya pas buat kamu.”
“Makasih Juan, kagak sekalian lo kasih gue surat tanah, tanah lo yang di Menteng?” canda Cicil sambil tertawa dan menatap Juan. Matanya membulat saat melihat Riki yang berjalan ke arah dirinya dengan tatapan cemburu.
“Lo mau? Ya udah ntar gue suruh Saka urus,” jawab Juan santai.
“Apaan?” tanya Riki dibelakang Juan.
Juan berbalik dan mendapati Riki sudah berdiri dibelakangnya. “Hai, Riki. Itu aku kasih hadiah pernikahan kamu. Itu pilihan Iis, sama hadiah dari aku nanti aku urus dulu. Cicil pengen tanah di Kemang,” jawab Juan santai sambil menepuk bahu Riki dan berjalan meninggalkan Riki.
“Hah... tanah di Kemang?” ucap Riki bingung.
“Bye Juan,” ucap Cicil sambil masuk kedalam kantor Riki.
Riki masuk kedalam kantor dan mengunci pintu kantor miliknya, matanya langsung melihat Cicil yang menyimpan buket bunga dari Juan dengan tenangnya.
“Itu si Juan maksudnya apaan tanah di Kemang?” tanya Riki bingung. Orang sinting apa yang memberikan tanah sebagai hadian pernikahan, mana tanahnya di kawasan Kemang.
“Kado nikahan kita, dia bilang mau ngasih tanah di Kemang. Udah biarin aja, dia tanahnya dimana-mana. Nggak bikin dia miskin juga kalau dia ngasih salah satu tanahnya di Kemang.” Cicil menjawab sambil membuka kado dari Juan dan Iis. Senyumnya melebar saat melihat sebuah gelang keluaran Tiffany and Co.
“Apa itu?” tanya Riki penasaran.
“Gelang, bagus yah?” tanya Cicil sambil menunjukkan gelangnya. “katanya iis yang milihin.”
“Oh...” Riki hanya menjawab pelan sambil duduk di sofa yang ada. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa cemburu dan kesal.
Riki sebenarnya tau untuk apa dia kesal dan cemburu pada Juan. Tidak ada untungnya juga, Juan sudah bahagia dengan Iis dan Cicil pun sudah berbahagia dengan dirinya. Tapi, kok kesel.
Tangan Riki menarik-narik rambutnya saking kesalnya dengan dirinya sendiri. Merutuki dirinya sendiri.
“Kamu kenapa sih Aa?” tanya Cicil sambil duduk di paha Riki dan menarik tangan Riki yang sedang menarik-nariki rambutnya sendiri.
Riki langsung menatap lengan Cicil yang sudah menggunakam gelang dari Juan. “Maaf yah.”
“Kenapa?” tanya Cicil bingung.
“Aku nggak bisa kasih kamu tanah di Kemang sama gelang sebagus itu,” ucap Riki sambil menatap Cicil.
“Hah? Kamu udah ngasih yang lebih baik dari tanah dan gelang.” Cicil berkata sambil menggaruk kepalanya bingung.
__ADS_1
“Iya, mungkin kalau aku Juan kamu makin cinta kayanya,” ucap Riki sambil mendorong pelan Cicil dari pangkuannya. Riki butuh udara, entah kenapa dia merasa cemburu.
“Kamu kenapa sih?” tanya Cicil bingung.
“Nggak kenapa-kenapa cuman butuh udara aja,” jawab Riki sambil berjalan kearah buket bunga Juan.
“Udara? Ini udara banyak Riki. Kamu sangka kita napas pake apa?” tanya Cicil kesal, Cicil tau kalau Riki sedang ngambek karena Juan.
“Aku butuh nenangin otak,” ucap Riki sambil melihat bunga dihadapannya. Rasanya Riki ingin melempar bunga dihadapannya dengan keras ke lantai.
“Otak kamu kenapa? Kram?” tanya Cicil.
“Nggak cuman, ah... udahlah, nggak penting juga,” ucap Riki kesal sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
Cicil langsung mengulum senyumnya, “Penting ini tuh.”
“Nggak penting Neng, udahlah. Aa mau keluar dulu,” ucap Riki sambil memutar knop pintu, saat memutar knop pintunya Riki merasa tubuhnya diputar oleh Cicil, mau tidak mau Riki menghadap Cicil.
“Aa cemburu sama Juan?” tanya Cicil.
“Nggak, Aa cuman...”
“Cemburu sama Juan?” tanya Cicil lagi sambil menatal manik mata Riki.
“Nggak, Aa butuh udara aja, mungkin...”
“Cemburu sama Juan?” tanya Cicil lagi.
“Nggak Neng, Aa itu...”
“Cemburu sama Juan?” Lagi Cicil bertanya untuk kesekian kalinya.
Entah kenapa pertanyaan Cicil membuat Riki kesal. “Iya, Aa cemburu sama Juan. Juan itu kayanya lebih pantes buat jadi suami kamu daripada Aa.”
“Jadi, Aa cemburu sama Juan?”
Riki menatap Cicil kesal, bukannya tadi dia sudah bilang kalau dirinya cemburu dengan Juan, apa kurang jelas. “Iya, Aa cemburu sama Juan. Puas..!?”
“Puas,” ucap Cicil sambil menggigit bibir Riki pelan, menciumnya dengan liar dan tanpa ampun.
“Neng...” panggil Riki disela-sela kecupan Cicil.
“Apa?” tanya Cicil sambil terengah-engah, Cicil kehabisan napas karena mencium Riki dengan liar.
Bibir Cicil yang merah tampak membengkak, napas Cicil yang terengah-engah dipadukan dengan tatapan nakal Cicil membuat hasrat Riki meledak.
“Buka mulut kamu,” ucap Riki sambil mencengkram rambut belakang Cicil dan mencium bibir Cicil dengan liar dan panas.
••••
Udah cut disini... lanjut malem...
BAHAYA... 🤣🤣🤣
Jangan lupa di tabok tombol Likenya, di sebar pointnya, dikencleng koinnya untuk Mr and Mrs Trina.
Nggak usah ditungguin siang-siang, ini pasti updatenya malem.... 🤭🤭
XOXO GALLON
__ADS_1