Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
New life


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda πŸ‘πŸ»


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❀️


Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️


β€’β€’β€’


Edy terdiam mendengar penjelasan Laura, semua yang dikatakan Laura itu ada benarnya, semuanya. Tapi, ah sudahlah Edy tidak bisa menuduh seseorang bahagia atau tidak bila hanya melihat dari cangkangnya saja.


"Laura, kalau kamu bahagia?" tanya Edy ragu.


Laura menatap manik mata hitam Edy sebelum menjawab pertanyaan Edy. "Kalau aku, aku mencoba untuk bahagia, mencoba untuk bersyukur atas segalanya yang aku punya."


Tanpa sadar tangan Edy mengacak rambut hitam Laura, anehnya Laura menikmati sentuhan kecil Edy dikepalanya. Bukannya marah Laura malah tersenyum manis.


Edy yang terhipnotis senyuman Laura langsung mendekatkan bibirnya kearah dahi Laura, bermaksud memberikan kecupan sebelum tidur untuk Laura.


Saat bibir Edy sedikit lagi bisa mendarat mulus di dahi Laura, tiba-tiba Laura bangkit dari duduknya.


"Astaga...." pekik Laura sambil berdiri dan mengambil air minum di gelas yang ada disamping meja.


Dengan cepat Laura menyiprat-nyiprat air ke sekujur tubuhnya. "Sadar Laura sadar...!! Itu siluman lele, bukan Hamis Daud...!"


Laura terus menyiprat-nyipratkan air ke wajah dan badannya sambil berteriak-teriak bahwa Edy itu siluman lele.


Edy yang kebingungan hanya menatap Laura sambil berusaha mencegah Laura menciprat-ciprat air kesekujur tubuhnya. "Laura... tenang Laura ... kamu kenapa?" tanya Edy.


Edy dengan cepat memeluk Laura dari belakang dan merebut gelas yang dari tadi dijadikan sumber air Laura untuk menciprat tubuhnya.


"Udah Laura cukup, nanti kamu masuk angin," perintah Edy sambil menyimpan gelas di meja terdekat, dengan cekatan Edy membalikkan tubuh Laura dan mengambil tissue untuk melap wajah dan leher Laura.


Laura diam saat Edy melap wajah dan leher Laura, entah kenapa Laura seperti terkesiap dengan tatapan Edy, sentuhan Edy di wajah dan lehernya membuat Laura terlena.


'Ah ternyata Lele ganteng juga yah, manis, baik, perhatian, penyayang. Ah... manis, jadi suk... What...!! Bentar...!' batin Laura sambil menangkap tangan Edy yang sedang melap lehernya.


"Kenapa, geli yah?" tanya Edy sambil tersenyum.


'Ah gantenggg.....NOOOOO LAURA...!!' pekik Laura didalam hati.


"NOOOO....!?" jerit Laura keras sambil mengambil tissue di tangan Edy kemudian berlari meninggalkan Edy. Laura berlari sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Laura awas ada..."


Buggg....


"Tiang ..." tambah Edy.


Terlambat wajah Laura sudah menabrak tiang , hingga membuat badannya terjengkang kebelakang dan terduduk dilantai kayu restoran.


"Aw..." jerit Laura sambil mengusap hidung dan dahinya.


Edy dengan cepat berlari kearah Laura sambil menahan tawanya. Kenapa pula Laura ini? Kelakuannya membuat Edy tidak habis pikir.

__ADS_1


"Kamu teh kenapa atuh?" tanya Edy sambil memeriksa wajah Laura, untung tidak ada luka memar atau patah hidung.


"Nggak tau Lele, kesel ah. Kamu kenapa dari kemaren lari-lari terus di otak aku. Kamu melet aku yah ke siapa itu dukun kamu, Ki Brondong, ngaku...!" ujar Laura sambil menyentuh hidungnya yang memerah dengan hati-hati.


"Yeh, kalau aku melet kamu. Dulu pas aku siram kamu di Ikea kamu langsung cinta mati sama aku," ujar Edy sambil tersenyum.


"Ah, tau ah. Aku pusing. Udah hidup aku ngenes gara-gara kamu. Sekarang aku pusing pula harus mikirin Cicil tinggal dimana," ujar Laura sambil menatap Edy.


"Lah, kenapa ngenes gara-gara aku?" tanya Edy tidak terima dijadikan sumber dari kengenasan Laura. Harusnya dia yang ngenes, cinta dia ditolak mulu sama Laura, padahal semua jurus sudah dilancarkan tapi hasilnya nihil..!


"Karena--" mustahil rasanya Laura mengatakan kalau dia ngenes karena sering memikirkan Edy setiap harinya. Chat dan telepon nggak jelas Edy sudah menjadi hal yang ditunggu oleh Laura setiap harinya, sejam saja tidak mendapatkan chat absurd dari Edy, Laura merasa kangen. Tapi, Laura masih tidak mau menerima kenyataan kalau dia menyukai seorang siluman lele seperti Edy Edros.


"Karena apa, Laura?" tanya Edy makin penasaran.


'Berpikir Laura Subagja..!' batin Laura.


"Karena muka kamu kaya siluman lele...!!!" pekik Laura kesal sambil memukul bahu Edy.


Edy menahan tawanya mendengar perkataan Laura, mukanya yang seperti siluman lele ini adalah modalnya dalam dunia peryoutube-an. Masyarakat Indonesia sudah enek melihat lelaki-lelaki tampan macam Billy Davidson dan kawan-kawan. Sekarang mereka mencari yang unik dan menarik, yah salah satunya tampan macam siluman lele milik Edy ini.


"Udah ah, jangan bahas itu lagi. Sekarang kita bahas aja masalah Cicil..."


"Emang kenapa sama gue?" potong Cicil tiba-tiba.


"Cil.." panggil Laura sambil berlari kearah Cicil dan memeluk Cicil erat.


"Udah pulang, Rik?" tanya Edy pada Riki yang sedang berdiri dibelakan tubuh Cicil.


"Udah, cuman dijait dikit doang," jawab Riki enteng sambil menunjukkan beberapa obat yang dibeli olehnya atas paksaan Cicil.


Edy mendekati Riki dan melihat dahi Riki sekilas, kemudian mendengus. "Manja amat Rik, gitu doang harus ke puskesmas, dioles salep juga sembuh."


Mendengar perkataan Edy, Cicil langsung melepaskan pelukkan Laura dan mendekati Edy sambil menunjuk dada Edy dengan telunjuk tangan kanannya yang lentik.


"Heh... Lele dumbo..!" sentak Cicil kesal.


Edy kaget mendengar perkataan Cicil yang penuh dengan penekanan dan kekesalan.


"Kalau Riki ngak diperiksa dan ternyata rangka kepalanya pecah gimana? Atau ada infeksj yang bisa menyebabkan kematian gimana? Kamu mau tanggung jawab, Hah..!?" cerocos Cicil kesal.


"Haizzzz ...."


"Udah Neng, si Edy cuman bercanda, udah yuk kita kekantor," bujuk Riki sambil menarik Cicil untuk menjauhi Edy yang masih kaget disentak Cicil.


Cicil menurut dan berjalan didepan bersama dengan Laura. Sedangkan Riki dan Edy berjalan dibelakangnya.


"Cicil galak, cuy..." ujar Edy sambil tersenyum pada Riki.


Riki hanya bisa tersenyum, seandainya Edy tadi ikut pasti dia bakal geleng-geleng kepala mendengar cerocosan Cicil pada dirinya dan perawat di puskesmas tadi.


"Bukan galak lagi, Cicil tuh cerewetnya ngalahin pembawa berita sepakbola di radio tau," ujar Riki sambil menahan tawanya.


"Hahahaa..."

__ADS_1


β€’β€’β€’


"Cil kamu mau pulang kemana?" tanya Laura.


"Pulang ke penthouse lah, emang mau kemana?" tanya Cici lo bingung.


"Yakin kamu mau ke penthouse? Cil kamu baru kabur dari acara pertunangan kamu sendiri, kamu ngak takut pas pulang ada bokap?"


Cicil baru sadar dia baru saja melepaskan gelar Bouw miliknya, karena tidak datang ke acara pertunangannya sendiri.


"Dirumah kamu?"


"Rumah aku?" tanya Laura sambil menunjuk hidungnya dan langsung di jawab anggukkan oleh Cicil.


"Albert udah tau rumah aku, papih sama mamih aku lagi di Jepang. Nggak ada yang bisa ngelindungin kamu, Cil," ujar Laura sambil menggaruk kepalanya bingung.


"Rumah Aa?" tanya Cicil.


"Nggak bisa ada Rozak," jawab Riki, Riki mana mau berbagi keindahan tubuh Cicil dengan Adiknya sendiri. Riki tau kebiasaan Cicil yang hanya akan menggunakan kaos oversize miliknya sepanjang hari.


Cicil langsung mengembikkan bibirnya, dia harus apa. Ah seandainya dia berpacaran dengan orang kaya mungkin sekarang dia sudah duduk manis di privat jet dan mereka terbang kebelahan dunia lain.


"Tinggal disini aja," ujar Edy sambil menunjuk kantor Riki.


"Disini?!" tanya Cicil, Laura, dan Riki bersamaan.


"Iya disini, kantor Riki ini dulu kamar aku dulu waktu pas awal-awal buka restoran. Makanya ada dapur kecil sama kamar mandi didalam dan sekat antara kantor dan ruang tidur. Ditambah ada dua pintu keluar yang dua-duanya menggunakan kunci elektrik," ujar Edy sambil menunjuk dua pintu keluar.


"Ditambah didepan ada satpam 24 jam. Kalau pagi sampai malam restoran rame banget 'kan. Plus ada aku atau Riki disini, kamu bakal aman Cil. Walau si Albert tau kamu disini, dia nggak mungkin bikin onar, mau dibikin viral sama tamu restoran?" ujar Edy lagi.


Cicil berpikir apa yang dikatakan Edy ada benarnya juga, apalagi sekarang dia sedang tidak ada tempat tinggal. Mudah baginya membeli rumah dan menempatinya, tapi semua akses tabungannya dapat dicek oleh Ayahnya, kecuali tabungan darurat milik Cicil, tapi kalau tabungan itu dipakai untuk membeli rumah, rumahnya kebeli tapi Cicil tidak memiliki biaya tambahan untuk merawatnya.


"Mau sih, tapi Cicil takut tinggal disini sendirian, gimana ...."


"Aa bakal bawa barang Aa tinggal disini," jawab Riki tanpa berpikir apapun. Saat ini diotaknya bagaimana agar Cicil aman dari Albert.


"Yakin !?" tanya Edy pada Riki.


Riki menatap mata Edy bingung, emang kenapa harus ditanya yakin !?


"Yakin..."


Edy hanya bisa menepuk dahinya sambil menggelengkan kepalanya, "Sudahlah terserah dirimu saja, aku mah dukung saja," ujar Edy sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan.


Cicil langsung tersenyum senang mendengar perkataan Riki.


"Udah, mumpung Albert masih pingsan, mending kita ke penthouse kamu buat bawa barang-barang kamu," usul Laura.


Cicil, Riki dan Edy langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju.


β€’β€’β€’


Hmmm... keseruan apa nih yang bakal terjadi dari misi memindahkan barang-barang Cicil dari penthouse miliknya ke kantor riki?

__ADS_1


😳😜😳😜😳😜


__ADS_2