
Terdapat adegan kekerasan dan 18+,
mohon kebijakan saat membacanya.
Kalau tidak suka harap Dm atau hubungi kaka gallon.
Instagram : storyby_gallon
fb : Storyby Gallon
email: storybygallon@gmail.com
Jangan asal report, mari bicarakan baik-baik.. Ciao
•••
“Aa tolong, Albert...!?” teriak Cicil keras sambil memukuli badan Albert dengan segala upayanya. Semua kekuatannya dia kerahkan untuk memukuli Albert. Dengan tangkas Cicil mengigit tubuh Albert.
“Aw... Baby, stop,” ucap Albert sambil memukul bagian belakang pinggul Cicil dengan keras.
“Albert turun-turunin aku, Albert,” teriak Cicil, Cicil akan berteriak sekeras mungkin. Bahkan, sampai pita suaranya pecah, kalau bisa.
Albert langsung melihat ke kanan dan ke kiri, dia takut ada orang yang lewat atau bahkan ada keamanan yang memergoki aksinya. Apalagi detik ini Cicil berteriak dengan sangat keras.
Dengan cepat Albert masuk kembali ke kamar Cicil dan Riki, menguncinya. Di tidurkan Cicil di kasur. Cicil yang merasa terlepas, langsung menendang rahang Albert dengan keras menggunkan kakinya.
“Tolong...!” teriak Cicil sambil berlari kearah pintu keluar, tapi cengkraman Albert pada rok panjang yang digunakan Cicil membuat Cicil terjengkang ke belakang. Badannya kembali terjatuh ke kasur. Cicil bersumpah, seandainya dia selamat. Dia akan membakar semua rok panjang miliknya.
“Mau kemana?” tanya Albert sambil menciumi pipi Cicil.
Badan Cicil bergetar hebat, wangi tubuh Albert langsung membuat Cicil bergidik ngeri. Tangisan Cicil pecah. Pikiran Cicil langsung membayangkan semua kemungkinan terburuk yang akan Albert lakukan pada dirinya.
“Al... tolong Al... aku bukan pacar kamu lagi, aku istri orang,” isak Cicil sambil berjuang menelusupkan kedua tangannya menutupi bagian dadanya dan juga memberikan jarak antara tubuhnya dan tubuh Albert.
“Aku mohon, Al.”
“Baby, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Kenapa kamu ninggalin aku, aku salah apa?” tanya Albert sambil mengusap paha Cicil dan menarik paksa rok panjang milik Cicil yang hanya memiliki satu kaitan saja.
“Albert, sadar aku istri orang. Kamu, nggak bisa pegang aku kaya gini. Tubuh aku milik Riki, Albert. Mungkin, dulu kita sering ngelakuinnya, tapi itu dulu. Albert, JANGAN...!” Cicil berteriak keras saat merasakan sesuatu melesak kedalam tubuhnya.
“Baby, i miss you...”ucap Albert sambil menciumi wajah Cicil secara kasar dan membabi buta. Albert benar-benar sudah hilang akal. Dia menginginkan Cicil detik ini juga dengan cara apapun. Dihentaknya badan Cicil berkali-kali dengan kasar.
“Nggak... nggak, TOLONG. STOP...!! AA...!?” Jerit Cicil sambil mendorong-dorong badan Albert, dikepitkan pahanya agar Albert tidak bisa menghentaknya sama sekali.
“Nggak tolong, tolong. Stop Albert, aku mohon,” isak Iis sambil mendorong-dorong kepala Albert agar menjauh dari bagian dadanya. Tangis Cicil pecah, napasnya sesak. Tolong... tolong... tolong....
“TOLONG RIKI...!?” jerit Cicil keras, bukan desahan yang keluar dari mulut tapi teriakkan. Setiap Albert berusaha mencium Cicil, Cicil dengan segala daya upanya menggigit lidah Albert.
__ADS_1
BUG... PLAK...
Albert yang kesal dengan penolakkan dari Cicil langsung memukul dan menampar Cicil dengan sangat-sangat keras. Cicil tang kaget menerima pelukkan tak sengaja menggigit bagian bawah bibirnya. Rasa asin langsung terasa di bibirnya, darah segar mengalir di ujung bibirnya.
“Diam, Cil..!? Kamu bisa diam dan nikmatin semuanya kan? Biasanya kamu diam dan menutup mata kamu. Biasanya kamu nggak pernah banyak omong dan diam. DIAM...!” teriak Albert di telinga Cicil.
Teriakkan Albert menggedor gendang telinga Cicil dengan sangat keras. Cicil meringgis, dia ingat dulu dia selalu diam tak bergerak sama sekali saat Albert menyentuhnya, menghentaknya atau melakukan apapun pada dirinya. Otaknya kosong, kadang dia mencoba menikmatinya atau memaksa Albert melakukannya dengan cepat. Dulu, Cicil ahli melakukannya.
Tapi, detik ini otaknya tidak kosong sama sekali. Otaknya terus menerus menunjukkan senyuma Riki, senyuman suaminya. Orang yang paling berhak untuk melakukanya, suaminya..!?
“Jangan, aku mohon Albert. Jangan, keluarin tubuh kamu. Aku mohon, jangan sentuh aku lagi, ALBERT...!?” teriak Cicil keras.
Albert yang kesal dengan rengekkan Cicil membawa bantal dan membekap kepala Cicil, Cicil yang kaget langsung meronta keras. Menggerakkan semua bagian tubuhnya. Di tolehkan kepalanya ke kanan. Berusah untuk mengambil napas, sesak. Rasa sesak, perih, sakit di sekujur tubuhnya dan di bagian pribadinya membuat Cicil hanya bisa menangis dan menjerit.
Cicil sudah tidak tau lagi, berapa lama Albert di atas tubuhnya. Melecehkannya, menghentaknya dengan dangat kasar. Sampai, sampai Cicil merasakan sesuatu di tubuhnya.
“NGGAK, AA...!?” Cicil berteriak keras, tangisnya pecah. Perasaannya ingin mengingkari kalau Albert sudah melakukan pelepasan di dalam dirinya. Tapi, otaknya mengatakan bahwa Albert melakukannya.
Cicil kotor..!?
•••
Teriakkan Cicil mengagetkan Riki, Riki langsung melihat layar handphonenya. Pikirannya langsung kalut, kenapa dengan Cicil.
“Neng... Neng...” Riki berteriak sambil berlari ke arah kamarnya. Saat berlari dia menemukan seorang pegawai hotel.
Riki menelepon kembali handphonen Istrinya itu. Tiba-tiba....
Riki langsung berbalik dan menemukan pegawai hotel yang sedang memegang handphone Cicil. Pegawai itu menatap layar handphone Cicil. Riki ingat cashing handphone Cicil.
“Mas, itu handphone istri saya kok ada di Mas,” ucap Riki sambil mendekati pegawai hotel itu.
“Ah, sana nemuin di semak-semak, Pak. Mau saya kasih ke resepsionis,” ucap petugas itu sambil melihat layar handphone Cicil yang terdapat photo Riki yang sedang tersenyum. “ini gambar Bapak?”
“Iya, ini handphone istri saya, kamu liat istri saya?” tanya Riki panik.
“Nggak, Pak. Saya cuman liat handphoennya aja,” jawab petigas itu sambil memberikan handphoennya kepada Riki.
Riki yang panik langsung berlari kearah kamarnya, mencari istrinya. Pintu kamar yang tertutup membuat Riki mencoba membuka pintu kamarnya. Dikunci.
Dengan cepat Riki mencoba mencari kunci kamarnya, nihil. Riki lupa membawa kunci kamar miliknya. Panik, Riki menggedor pintu kamar dengan keras.
BRAK... BRAK... BRAK....
“Pak, kenapa?”
Riki melihat petugas yang tadi menemukan handphone milik Cicil, tiba-tiba sudah ada disebelahnya.
__ADS_1
“Kunci, kamu punya kunci kamar ini?” bentak Riki pada pegawai tersebut.
Kaget, pegawai tersebut langsung menyerahkan kunci pada Riki. Tanpa, mengatakan apapun Riki mengambil kunci kamarnya dan membukanya dengan cepat.
Saat di buka matanya membulat sempurna saat melihat Cicil tergeletak di lantai dengan kondisi sangat mengenaskan. Cicil pingsan tanpa mengenakan sehelai benangpun di badannya. Hanya ada seprai putih yang menutupi tubuhnya.
“NENG...!?” jerit Riki keras sambil berlari kearah Cicil. Jantungnya berdetak kencang saat melihat kondisi Cicil yang mengenaskan, bulir-bulir biru ada di wajah dan lehernya. Bukti kepemilikkan tampak di bagian leher dan sekujur tubuhnya. Ada darah kering di bibir istrinya.
Wangi hasil pelepasan tercium di hidung Riki, seperti menyadarkan dirinya. Cicil di perkosa, istrinya di perkosa...!?
“Pak, Istri Bapak?!”
“Panggil keamanan, telepon manager hotel. Istri saya di perkosa...!?” bentak Riki sambil membalut badan Cicil yang tak bisa Riki ungkapkan dengan kata-kata. Rasa ngilu, sakit hati, dan merutuki dirinya sendiri langsung menelusup ke dalam tubuhnya. Siapa yang melakukan ini?
Riki mengangkat badan Cicil sambil menahan tangisnya. Demi apapun dia ingin menangis, astaga istrinya, bodoh sekali dia tidak bisa menjaga istrinya sendiri.
Bodoh, astaga istrinya. Istrinya, andai dia tidak ingat saat ini sedang menggendong Cicil mungkin dirinya akan ambruk. Dengan menahan tangisnya dia menciumi wajah Istrinya. Astaga dia benar-benar tidak sanggup. Riki langsung terduduk di kasur.
Riki langsung memeluk Cicil dengan erat, di ciuminnya wajah Cicil dengan pelan.
“Sayangnya, Aa siapa yang bikin kamu gini, Neng. Siapa? Siapa Neng,” isak Riki sambil menciumi wajah Cicil terus menerus.
Dipelukknya Cicil dengan erat diciuminya pucuk rambut Cicil. Cicil tiba-tiba berteriak keras.
“AA....”
“Neng, ini Aa sayang, ini Aa.” Riki mencoba menenangkan Cicil yang berteriak keras.
“Aa, Aa.” Cicil baru sadar bahwa orang yang sedang memeluknya ada Riki. Langsung memeluk Riki sambil menangis keras. Tangisan Cicil terdengar pilu dan menyayat siapapun yang mendengarnya.
“Iya, ini Aa, Neng. Neng, sayang ini Aa,” ucap Riki sambil memeluk Cicil menempatkan kepal Cicil di lehernya.
“Aa, maaf. Maafin Neng. Neng, kotor....”
Pecahlah tangisan Riki dan Cicil, mereka berdua menangis sambil saling mengeratkan pelukkan. Berjuang untuk tidak merutuki nasib, berjuang untuk tidak mencaci tuhan. Berjuang untuk saling menguatkan pasangan masing-masing, walau didalam diri mereka hancur dan remuk...!?
•••
Tolong, jangan berpikir yang aneh-aneh. Kaka Gallon membuat cerita ini seperti outline yang sudah Kaka Gallon susun jauh-jauh hari. Makanya di awal kisah, Kaka Gallon selalu bilang, buka pikiran pembaca selebar-lebarnya dan seluas-luasnya.
Kaka Gallon bukan menyiksa pasangan Riki dan Cicil. Kaka Gallon hanya ingin memberikan cobaan untuk pernikahan mereka, mampu ‘kah mereka menghadapinya.
Mampu kah Riki merendam ego laki-lakinya sampai serendah mungkin, untuk menerima Cicil yang sudah di perkosa Albert dan mampukah Riki berada disamping Cicil saat hampir semua orang di kota memperbincangkan pemerkosaan yang di lakukan Albert ?
Mampu ‘kah?
Jangan lupa penuhi kolom komentar, Kaka Gallon ingin tau pendapat para pembaca. Jangan lupa pencet tombol like dan jangan sungkan berikan Vote dan Point untuk Kaka Gallon.
__ADS_1
Janji Kaka Gallon satu, Riki dan Cicil akan bahagia. Tapi, izinkan Kaka Gallon membuat mereka merasakan sesuatu yang pahit terlebih dahulu.
XOXO GALLON