Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Perawatan tinggi


__ADS_3

"Haduh, anak-anak Abah pulang ini teh?" tanya Abah sambil memberikan tangannya untuk di salimi oleh Rozak dan Riki.


"Iya, Abah pulang. Ini ada yang ngebet nikah, Bah," jawab Rozak sambil menunjuk Riki yang sedang membenarkan tasnya.


"Siapa? Kamu mau nikah, Rik?" tanya Abah pada Riki. Riki hanya bisa tersenyum kuda saat ditanya oleh Abah.


"Iya, Bah. Riki mau nikah," jawab Riki.


"Hah, sama siapa?" Seingatnya Riki tidak punya pacar sama sekali. Terakhir dia berpacaran dengan bule Belgia. "Siapa coba kenalin sama Abah," ujar Abah.


"Itu..." Riki menunjuk Cicil yang ada dibelakang badan Laura. Laura menutupi badan Cicil.


Abah langsung memeluk Laura yang baru saja menyimpan tas disampingnya. Laura langsung terpaku seperti patung saat dipeluk oleh seorang kakek-kakek.


"Abah, ngapain ai Abah meluk kekasih hati, kesayangan Edy?" tany Edy bingung saat melihat Abah memeluk Laura.


"Lah, bukannya ini calonnya Riki?" tanya Abah bingung sambil menatap Laura yang menatap Abah dengan tatapan sesopan mungkin.


"Salah, ini mah bidadarinya Edy, kekasih dan pujaan hati Edy," ujar Edy sambil menarik Laura kesampingnya, menjauhkannya dri jangkauan Abah.


"Tuh, calonnya Riki, mah," ujar Edy sambil menunjuk Cicil yang sedang tersenyum manis pada Abah.


"Lah, ini mah mantan kamu dulu, Riki," ujar Abah sambil menunjuk Cicil. "Kamu Cicil 'kan?"


"Iya Abah, saya Cicil," jawab Cicil sambil tersenyum dan mencium tangan calon mertuanya. Cicil menatap Abah, sepertinya mertuanya, mertua yang kalem dan tidak pecicilan. Jenis mertua baik-baik.


Abah menatap Cicil, gadis manis dihadapannya ini benar-benar tipe Riki. Manis dan cantik, astaga kenapa semua mantu Abah blestran semua, Taca anaknya yang paling bungsu menikah dengan Adipati Berutti, seorang blesteran Italia-Indonesia. Sekarang anak pertamanya akan menikah dengan blesteran juga. Cucu Abah bakal high quality, bisa jadi artis ini, lumayan Abah bisa jadi managernya.


"Kamu mau nikah sama anak saya?" tanya Abah.


"Iya, saya mau nikah sama Aa, emang kenapa, Bah?" Cicil malah balik bertanya.


"Yakin?"


"Yakin, emang kenapa, Bah?" tanya Cicil lagi, perasaannya tidak enak.


"Anak Abah ini, masih suka ngompol ampe umur 12 tah...."


"ABAH..." jerit Riki sambil menutup kuping Cicil.


Tawa Rozak langsung terdengar keras, aib kakaknya langsung keluar dari mulut Abah, habis ini pasti Abah akan menunjukkan photo-photo kecil mereka, yang sudah dapat dipastikan sangat-sangat memalukan.


"Riki, kamu masih ngompol sampai 12 tahun?" tanya Edy.


"Wah, bukan ngompol lagi, Ed. Banjir," ejek Abah sambil tertawa terpingkal-pingkal.


"Jangan didenger, pokoknya jangan didenger. pitnah itu pitnah," ujar Riki pada Cicil.


Cicil menahan tawanya saat mendengar perkataan Riki yang mengatakan fitnah dengan huruf p, kebiasaan orang sunda, yang sulit mengatakan huruf f. "Fitnah, Aa. Bukan pitnah," koreksi Cicil sambil menatap mata Riki.


"Apapun, pokoknya selama kamu disini, Aa mohon, jangan percaya sama Kakek tua satu ini. Dia itu, udah jauh-jauh lah," ujar Riki sambil menggelengkan kepalanya kesal.


"Eh... sini kamu Cil, sini," ajak Abah sambil menarik tangan Cicil untuk berjalan bersama Abah masuk kedalam rumah.


"Kenapa, Bah?" tanya Cicil bingung kenapa dia ditarik masuk kedalam rumah oleh calon mertunya, yang ternyata tidak memiliki jiwa kalem ditubuhnya.


"Jadi dulu, pas disunat yah, Riki nangis kejer empat hari tiga malam. Terus pingsan dong pas mau disunat...."


Cicil hanya bisa membulatkan matanya dan menahan tawanya mendengarkan ucapan Abah, Abah benar-benar mememberi tahukan semua aib milik Riki.


"Bah, astaga nggak usah diceritain juga, Abah... woi..." teriak Riki kesal sambil mengambil koper milik Riki dan menariknya dengan kesal, membuat roda-roda koper Riki memantul-mantul di jalanan berbatu.


Rozak hanya bisa menahan tawanya, sepertinya sebulan ini dia akan menikmati, kelakuan Abah yang akan mengejek Riki di masa lalu. Ah ... andai ada Taca makin habis Riki di ejek. Taca adalah adiknya yang paling cerewet kalau soal mengejek Riki dan dirinya.


"Masuk, Edy. Banyak kamar kosong atau kamu mau pulang ketempat kakek kamu?" tanya Rozak pada Edy.

__ADS_1


"Kayanya aku ketempat kakek aku aja deh, kalian disini ajalah," ujar Edy.


"Ya udah, aku masuk dulu. Berat ini tas," ujar Rozak sambil menarik koper dan tas secara bersamaan.


"Kamu, disini aja yah, Laura. Aku nginep dirumah Kakek aku," ujar Edy sambil mencium kening Laura.


"Nggak nginep disini?" tanya Laura sambil menunjuk rumah Abah.


"Nggak, nggak akan muat rumah Abah itu. Sama aku kangen banget sama Kakek aku," ujar Edy.


"Kamu bisa nginep disana 'kan," ujar Laura polos sambil menunjuk salah satu bagian dirumah Abah.


Edy kaget saat melihat apa yang di tunjuk oleh Laura, "Astaga, Laura. Kamu mah meni tega. Masa Edy disuruh tidur di kandang meri, sih," protes Edy. Tempat yang ditunjuk Laura tak lain dan tak bukan adalah kandang meri atau anak itik yang ada di samping rumah Abah.


Laura menahan tawanya mendengar ucapan Edy, "Oh, itu kandang meri, aku sangkan kandang kamu, Le."


"Ish... kamu itu kejam kekasihku. Kamu jahat sama, Kakanda," ujar Edy sambil menjawil pipi Laura gemas.


"Hahahaaa... maaf deh, maaf. Udah sana kamu kerumah Kakek kamu, nanti kenalin aku sama Kakek dan orang tua kamu juga, yah," ucap Laura ceria.


Ucapan Laura langsung membuat, Edy terdiam. "Laura, saya yatim piatu. Saya diurus Kakek saya dari saya umur 7 tahun," ujar Edy sambil tersenyum kecil.


Laura langsung terdiam mendengar perkataan Edy. Laura benar-benar tidak tau kalau, Edy adalah seorang yatim piatu, "Maaf aku nggak tau, Le...."


"Nggak papa, Laura. Aku juga baru kasih tau sekarang 'kan. Udah jangan sedih, aku aja nggak sedih kok. Aku happy-happy aja," ujar Edy.


Laura melihat Edy, "Senyum kalau gitu," pinta Laura.


Edy langsung tersenyum kecil, entah kenapa ada perasaan sakit didadanya. Perasaan yang belum bisa Edy beritahukan pada Laura. Rasa pedihnya akan kematian kedua orang tuanya.


Tiba-tiba Edy merasakan jari Laura menyentuh ujung bibir Edy, menariknya hingga membuat senyuman Edy lebih besar lagi. "Nah, ini baru senyum kesukaan aku," ujar Laura.


"Iya, gini?" tanya Edy sambil memberikan senyuman terlebarnya, yang menambah keanehan pada wajah Edy.


Laura hanya bisa menahan tawanya, kekasihnya ini benar-benar tidak memiliki tampang rupawan sama sekali. Mukanya absurd, tak bercela.


+++


"Bah," ujar Riki saat menyadari Abah sudah duduk manis disampingnya.


"Riki, kamu beneran mau nikahin Cicil?" tanya Abah sambil meminum kopi hitam miliknya, yang dibawa oleh Abah dari dalam rumah.


Riki menatap lurus kedepan, ke hamparan mobil Avanza dihadapannya. Sudah sejak lama Abah membuka penyewaan mobil Avanza, terima kasih pada Adik ipar sintingnya, yang memberikan mahar berupa 20 mobil avanza untuk menikahi Adiknya, dulu.


"Yakin, Bah...."


"Emang kamu udah dapet restu keluarga Cicil?" tanya Abah.


"Mamihnya udah ngeresuin, Bah. Cuman, Papihnya belum," jawab Riki jujur. Lebih baik jujur, daripada Riki menyembunyikan fakta yang ada. Bisa-bisa dia dimarahi oleh Abah.


"Kamu tau syarat nikah, kan? Kamu nggak bisa nikahin Cicil kalau nggak ada walinya, Abah nggak mau nikahin kamu kalau nggak ada walinya. Cicil anak orang, Rik. Orang tuanya pasti ngurus dia pake biaya yang nggak sedikit dan pasti Cicil dilimpahi kasih sayang yang sangat banyak oleh kedua orang tuanya," ujar Abah bijak.


"Bah, Papihnya ingin Cicil nikah sama Albert," ujar Riki.


"Yah, hak Papihnya dong, siapa kamu? Kamu yang biayayain Cicil dari bayi merah ampe segede gitu? Cicil itu cantik Riki, dia pasti butuh perawatan tinggi, coba kamu suruh Cicil ngulek sambel, mana bisa dia. Kamu siapa, bisa larang-larang papihnya nikahin Cicil sama Albert?" Abah menunjuk dada Riki dengan gemas.


"Bah, bukan gitu. Kalau Albert baik, Riki rela, ikhlas, dan rido, Cicil sama Albert. Tapi, masalahnya Albert itu psikopat, Bah. Cicil abis digebukin sama Albert, Cicil bukan samsak hidup. Bahkan, Cicil diperkosa sama Albert, Bah..." terang Riki sambil menahan emosinya sendiri saat bercerita ulang mengenai apa yang menimpa Cicil.


Abah terdiam, sekarang jelas sudah kenapa anak lelakinya ini bisa jatuh cinta pada Cicil. "Kamu, suka Cicil atau cuman ingin menebus kesalahan kamu dulu?"


"Maksud Abah?" tanya Riki.


"Maksud Abah, kamu suka Cicil, karena emang bener-bener cinta atau karena merasa bersalah, karena dulu almarhum Tasya bunuh diri karena diperkosa?" tanya Abah miris, sakit sebenarnya mengungkapkan hal itu. Akan tetapi, Abah harus menanyakannya, Abah tidak mau anak-anaknya salah jalan.


Riki terdiam mendengarkan perkataan Abah, rasa bersalah sebagai anak pertama yang tidak mampu menjaga adiknya sendiri langsung menghantam jiwa Riki. Rasa sesak langsung meremukkan dirinya. Tasya Safina Trina, adiknya meninggal diusia 17 tahun, usia dimana harusnya merasakan indahnya dunia. Tasya meninggal karena gantung diri, Tasya tidak kuat menahan malu karena harus hamil dari hasil pemerkosaan pacarnya yang gila.

__ADS_1


"Bukan karena almarhumah Tasya, Bah. Riki emang cinta sama Cicil, Riki sayang Cicil, Bah," ujar Riki.


"Sayang sama cinta nggak cukup, Rik. Hidup harus realistis, kamu tuh mau nikah sama anak sultan, bukan sama anak tukang sayur depan rumah. Kamu mampu biayain hidup Cicil?" tanya Abah.


"Riki sanggup, Bah. Cicil juga nggak menuntut apa-apa. Cicil mau di ajak hidup susa..."


pletak...


Riki langsung merasakan sambitan koran legend Abah, sambitannya sangat sakit. "Bah, sakit."


"Enak aja kamu mau ngajakin anak orang susah, Kamu sangka orang tuanya ngerawat dia sampai gede, sampai cantik paripurna kaya gitu, berharap anaknya diajak hidup sengsara? Nggak Rik," tukas Abah kesal.


"Bah...."


"Sekarang tanamkan diotak kamu, kamu harus bikin Cicil bahagia, kamu harus rawat Cicil lebih baik daripada kedua orang tuanya. Kamu, itu orang yang bakal tanggung jawab akan semua keperluan Cicil dari A sampai Z. Bukannya diajak hidup susah," bentak Abah kesal.


Riki terdiam dan mulai menelaah  perkataan Abah, apa yang dikatakan oleh Abah ada benarnya juga. Mana mau orang tua memberikan anaknya untuk diperistri oleh seorang pria yang akan mengajak anaknya hidup susah. Astaga picik sekali pemikiran Riki.


"Bah, kalau Riki mampu buat bikin Cicil bahagia dan ngerawat Cicil lebih baik daripada kedua orang tuanya, Abah mau izinin aku nikah sama Cicil?" tanya Riki pelan.


"Abah, bakal izinin. Bahkan Abah bakal cariin wali hakim buat nikahin Cicil sama kamu," jawab Abah sambil menatap Riki.


"Riki, janji sama Abah. Riki bakal bahagiain Cicil, kalau Cicil sampai nggak bahagia, Abah boleh pukul Riki." Riki berkata sambil menyerahkan koran keramat milik Abah ketangan Abah.


"Janji kamu?" tanya Abah.


"Janji, Bah. Riki nggak bakal bohong sama Abah," ujar Riki.


Abah tersenyum sambil berdiri, kemudian mengambil cangkir kopinya. "Tuh, Cil. Anak Abah udah janji bakal bahagiain dan ngerawat kamu, nggak bakal bikin kamu sengsara," ujar Abah pada Cicil yang semenjak tadi berdiri dibelakang mereka tanpa mengeluarkan suara sama sekali.


"Neng..." Riki kaget saat mengetahui Cicil sedang berdiri dibelakangnya.


"Abah udah kasih izin, terserah kalian mau nikah dimana dan kapan, Abah mah ngikut aja," Abah langsung berjalan masuk kedalam rumahnya, meninggalkan Riki dan Cicil yang saling tersenyum dengan malu-malu meong.


"Neng, Aa... mau nikahin Neng. Tapi, tungguin bentar yah, Aa lagi ngumpulin maharnya dulu. Masa maharnya ayam bakar tenda," ujar Riki malu-malu.


"Jangan atuh, Aa. Nanti maharnya abis sama aku dimakan," jawab Cicil sambil memeluk Riki.


"Ya, udah tunggu bentar yah, Aa bakal urus semuanya. Kamu tau beres aja, Neng," ujar Riki sambil mencawil hidung Cicil gemas.


"Oke, terserah Aa, asal nikahnya sama Aa. Neng siap," jawab Cicil sambil mendekatkan bibirnya kearah bibir Riki, bermaksud untuk mencium bibir Riki.


"Mohon jangan mesum dirumah Abah, yah." Abah tiba-tiba menyambitkan kertas koran di bahu Riki.


"Aw... Abah kok jadi salah Riki, Cicil yang nyosor..." Riki tidak terima dirinya di sambit koran oleh Abah.


"Alah, mana ada perempuan napsuan, kamu aja itu mah. Akal-akalan," ujar Abah sambil duduk dikursi terdekat.


"Iya, Bah. Aa itu napsuan, wah kalau cuman berduaan yah,Bah. Baju Cicil suka nggak nempel lagi dibadan. Wah pokoknya liar, Bah," canda Cicil sambil menahan tawanya.


"Astaga Riki, kaya gitu kelakuan kamu di Jakarta, Abah nggak ngajarin kamu jadi laki-laki mesum, Riki. Aduh, kamu pasti ketularan adik ipar kamu itu, si bule mesum," ujar Abah sambil memijat-mijat keningnya, kepalanya tiba-tiba pusing. Sepertinya, pernikahan harus dilangsungkan secepatnya, bisa gawat kalau Cicil hamil duluan.


"Abah, yang nafsuan itu Cicil bukan, Riki. Riki mah baik Abah, beneran," ucap Riki


"Hah, nggak percaya, pasti kamu yang mesum," ujar Abah sambil menggelengkan kepalanya kesal.


Riki hanya bisa menghela napasnya pelan, Abah belum tau aja gadis didepannya ini, nafsunya lebih besar daripada gunung tangkuban perahu...!?


+++


panjang yah? lumayan lah yah....


Lagi belajar nulis bab panjang-panjang nih, biar makin joss ceritanya heheee....


jangan lupa itu tombol likenya, yang disebelah kiri bawah. iyah yang itu yang bentukknya kaya jempol dipencet ya, inget dipencet, da bageurrrrr....

__ADS_1


XOXO GALLON


__ADS_2