
Albert berjalan mengikuti beberapa orang polisi didepannya. Sepertinya teriakkannya benar-benar tidak mampu lagi menolong dirinya, jadi Albert diam apalagi didepannya ada Juan dan istrinya sedang menatap dirinya.
“Juan,” ucap Albert sambil lalu melewati Juan dan Istrinya. Istri Juan tampak manis, tidak cantik tapi aura milik istri Juan mampu membuat Albert menyeringai saat melihatnya.
“Mas, kok serem, yah?” ucap Istri Juan yang bernama Iis. “Cicil kok mau sama orang kaya gitu.”
Juan hanya bisa menghela napas dan mendorong istrinya ke balik badannya. Albert adalah lelaki yang wajib di jauhi dari istrinya. “Albert, selamat bersenang-senang di balik jeruji.”
Albert langsung mengalihkan pandangannya ke depan saat mendengar perkataan Juan, rasanya dia ingin mencabik badan Juan. Ide sinting melintas di otaknya, Albert menghentikan langkahnya dan menatap Iis yang sedang berdiri dibelakang Juan.
“Mungkin sebelum ke balik jeruji, saya bisa menikmati Istri, kamu,” ucap Albert sambil mengusap pipi Iis.
Spontan Iis menjerit saat merasakan pipinya di elus Albert. Sedangkan, Juan langsung meradang saat istrinya di sentuh Albert.
“Lo nggak punya otak,” teriak Juan sambil menonjok Albert sampai terpelanting ke belakang.
Albert tumbang karena di tonjok Juan, badannya langsung terjatuh ke lantai. Belum, juga Albert sadar dari kagetnya, Albert langsung merasakan tendangan di bagian wajahnya.
Ngingggg.....
Kepala Albert langsung berdenging saat menerima tendangan dari Juan.
Bruak...
Albert melentingkan badannya saat merasakan tendangan dibagian perutnya. Sakitnya bukan main, tendangan Juan mengenai ulu hatinya, saking sakitnya Albert mengerjapkan matanya beberapa kali. Keputusan bodoh saat mengganggu istri Juan, ternyata rumor yang beredar benar. Jangan main-main dengan istri Juan, Juan cinta mati dengan istrinya.
Albert merasakan tangannya ditarik oleh Juan. “Jarinya kalau di potong kayanya enak,” ucap Juan.
“Mas... jangan Mas, kamu ngaco ih. Udah, udah,” teriak Iis sambil menarik-narik badan Juan.
“Tapi dia itu....”
“Mas, udah. Yang waras ngalah,” ucap Iis sambil menarik badan Juan menjauhi Albert yang sudah meringkuk di lantai.
Dengan cepat para polisi mengangkat badan Albert dan membawanya menjauh dari hadapan Juan dan Iis.
“Mas, kasian anak orang,” ucap Iis sambil mengusap keringat yang mengalir di dahi Juan.
“Nggak punya akhlak, apa coba dia ngusap-ngusap pipi kamu. Minta aku lempar ke sungai,” cerocos Juan.
“Ya udah, ini teh udah selesai? Udah kamu urusannya sama dia?” Iis mengusap-ngusap dada Juan pelan.
Juan langsung mengambil tangan Iis dan memasukkannya kedalam longcoat miliknya. “Udah, yuk kita ke tempat Riki. Sekalian liat Liz sama Khalid,” ucap Juan sambil mencium bibir Iis cepat.
“Ih, genit. Ini kantor polisi, Mas.” Iis langsung melirik ke kanan dan ke kiri, untungnya tidak ada seorang pun disana.
Juan mengangkat satu alisnya sambil tersenyum tengil, “Yang, kamu istri aku. Mau aku cium ampe abis napas juga, nggak bakal ada yang pisahin, malah di minta bikin videonya, full HD,” canda Juan, Juan langsung mendapatkan cubitan di perutnya.
“Ngaco kamu, Mas,” kekeh Iis sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Juan. “Kangen sama jacuzzi dirumah, Mas.”
Daboom...
Juan langsung menatap wajah Iis dan tersenyum smirk, “Kita pulang aja, nggak usah ke tempat Riki.”
__ADS_1
Juan langsung menarik Iis pergi dari sana, tidak mempedulikan Saka dan Pak Luhut yang memanggil Juan dari ujung lorong. Di otaknya detik ini, dia ingin memakan istrinya sampai habis.
“Mas, Khalid sama Liz udah di tempat Riki.” Iis mencoba mengingatkan Juan kalau anak mereka ada di tempat Riki.
“Biar Adipati yang urus, udahlah banyak umat disana. Ada Abah, Rozak, Adipati, Taca, Bernard juga ada si Mbak juga,” ucap Juan sambil terus berjalan ke arah mobil milik mereka, Iis hanya bisa pasrah.
•••
“Pak nanti jangan bikin perkara lagi, yah,” pinta salah satu polisi pada Albert sambil memberikan tissue pada Albery untuk melap tangannya.
“Juan yang bikin perkara, kok jadi saya?” Albert benar-benar tidak terima disalahkan.
Polisi itu hanya bisa mendengus, jelas-jelas orang-orang yang melihatnya bisa tau. Albert yang pertama kali membuat masalah dengan Juan. Benar-benar lelaki nggak berakhlak
“Ya udah, Bapak siap? Pake maskernya Pak, diluar banyak demo,” ucap polisi berbaju bebas sambil memberikan masker pada Albert, Albert dengan cepat memasang maskernya.
Mereka beranjak keluar dari pintu, saat pintu dibuka suara seorang wanita langsung memasukki lubang telinga Albert. Suaranya sangat-sangat cempreng dan tampak lautan wanita menggunakan baju berwarna pink.
“Dimana keadilan di Indonesia, bila seorang yang bersuami di lecehkan secara brutal oleh seorang pria asing. Dimana keadialan dan keamanannga bagi kami wanita Indonesia, saat seorang pria asing dengan brutalnya melakukan pelecehan? Kami wanita meminta keadian dan keamanan...!?” teriak Tutti sambil mengangkat tangannya ke udara.
“Keadilan...!?” teriak para wanita disana.
“Viralkan semuanya, jangan mau dibungkam..! Kita harus saling bahu membahu, kawal terus kasus ini,” teriak Tutti lagi.
“Kawal sampai tuntas,” teriak wanita lainnya.
“Jangan mau di alihkan isunya dengan kasus lain, kita kawal sampi tuntas. Jangan biarkan penjahat kelamin seperti Albert Connor terbebas. Jangan beri ampun. Kawal sampai tuntas...!”
“Kawal kawal..!” teriak wanita-wanita disana sambil mengacung-acungkan spanduk yang memberikan dukungan pada kasus Cicil dan Kharis.
“Kawal..!”
Albert sampai berjuang menelan salivanya saat melihat betapa banyaknya wanita di pelataran parkir kantor polisi itu. Mereka tampak bersemangat mengacung-ngacungkan tulisan-tulisan mendukung Cicil dan memojokkan dirinya. Ternyata benar kata pengacara Susanto, kasusnya tidak bisa di bungkam, perhatian masyarakat pada kasusnya sangat-sangat besar. Mungkin dia bisa lepas dari sangsi hukum, tapi tidak dengan sangsi sosial.
“Itu Albert Connor”ucap seseorang wanita sambil menunjuk Albert.
Semua perhatian yang tadinya terpusat pada Tutti frutty. Langsung mengarah pada Albert, Albert yang ditatap oleh berpuluh-puluh pasang mata ditambah mendapatkan kilatan flash kamera langsung menundukkan kepalanya.
Polisi langsung menarik badan Albert, kerumanan orang langsung menggila. Teriakkan dan cacian langsung terdengar di telinga Albert.
“Huhuuuuuhuuuu.....”
“Cowo nggak punya akhlak.”
“Pak, gimana Pak? Siap di kelonin tahanan lain?”
“Pak, saham anda turun 10%”
“Tanggapan anda tentang popcast Edy di salah satu channel Youtube High Up gimana?”
“Apa yang anda lakukan saat ini?
“Benarkah anda dengan Cicil Bouw ada motif balas dendam?”
__ADS_1
Pertanyaan demi pertanyaan berhamburan dari mulut para wartawan. Albert berjuang menulikan kupingnya, padahal di hatinya dia ingin mencaci semua manusia yang ada di sekitarnya. Manusia-manusia yang kastanya mungkin tidak sebanding dengan dirinya.
“Albert, selamat dipenjara yah.”
“Kasih jalan, kasih jalan. Biar cepet dia dibawa ke lenjara,” ucap seorang wanita sambil memberikan jalan pada Albert.
“Laki-laki jahat, nggak punya hati nurani.”
Albert hanya bisa menggeretakkan giginya dan bersyukur dia mengenakan masker di mulutnya, bila tidak dia mungkin sudah terlihat memaki dalam diam.
Pluk...
Albert merasakan sesuatu mengenai wajahnya, baunya luar biasa amis. Albert kaget saat mengetahui dirinya dilempar oleh telur busuk.
Pluk...
Hujanan telur busuk langsung Albert rasakan, bukan satu bukan dua tapi banyak. Hampir seluruh kepalanya terkena lemparan telur busuk, baunya jangan ditanya amis.
“Sialan...!? Cari mati kalian hah?” teriak Albert sambil menatap semua orang disana.
Para wanita disana hanya bisa terdiam saat mendengar teriakkan Albert. Tiba-tiba, dihadapan Albert berdiri Tutti Frutty yang sudah membawa ember.
Byurrrr.....
Albert merasakan air membasahi dirinya, polisi di kiri dan kanannya meloncat kepinggir. Berjuang agar tidak mengenai air yang di siram oleh Tutti.
“Brengsek...!?”
“Anda yang brengsek, seenaknya saja ingin menghilangkan bukti-bukti perkosaan Mbak Cicil. Kami akan kawal kasus ini. Kami dari LSM wanita mawar putih serangkai, akan kawal terus kasus ini sampai tuntas..!”
Albert langsung berusaha untuk mendekati Tutti, tapi tangannya sudah diapit kembali oleh polisi. “Ayo, Pak. Kita ke rutan.”
“Tapi...”
“Kita ke rutan.” ucap polisi itu sambil menyerat Albert untuk masuk kedalam mobil polisi.
“Wartawan tolong bagian tadi tidak usah di wartakan,” pinta Tutti, “kita kawal kasus ini..!”
Wartawan disana langsung mengganggukkan kepalanya, entah kenapa mereka merasa tersentuh dengan kasus ini. Bagaimana tidak, seorang wanita diperkosa secara brutal di saat bulan madunya oleh lelaki dari negara lain. Ini adalah harga diri negara.
Albert hanya bisa merutuki nasibnya, dia benar-banar tidak bisa membayangkan apa yang akan dia alami di rutan nanti. Entah kesialan apa lagi yang akan dia dapatkan nanti.
•••
Tutti Frutty emang terbaik... go Tutti..!
Mas Juan masih semprul aja kayanya, tapi sekarang semprul nya ke istrinya hahahaa... makin lengket aja, ampe anak di biarin di tempt Riki.
Jangan lupa di klik likenya, disebar pointnya, dikasih votenya, diberikan koinnya. Kaka gallon suka itu semuanya 🤭🤭🤣
Sekecil apapun kontribusimu untuk karya Kaka Gallon, akan selalu Kaka Gallon terima.
XOXO GALLON
__ADS_1