Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Penderitaan Edy


__ADS_3

“Om, gimana kalau kita jalan-jalan Om, Om udah jarang banget ‘kan jalan-jalan,” rayu Cicil pada Sabar yang sedang asik push up.


“Papihnya Laura, kanapa harus push up disini sih?” tanya Riki bingung.


“Emang hobinya Papihnya Laura itu push up sama sikap plank gitu. Maniak banget olahraga pokoknya. Liat tuh badannya udah gede gitu,” ucap Cicil sambil menunjuk badan Sabar yang hampir semuanya adalah otot.


“Aa ngeri liatnya, mirip sama satpam komplek,” desis Riki sambil bergidik.


“Aa, ih... gitu-gitu dia itu mau nyalon anggota DPR tau,” ucap Cicil.


“Cocok, bagian pemuda dan olahraga. Biar otot kawat tulang besi,” kekeh Riki sambil mencoba meniru gerakan Sabar.


“Aa, geli tau. Awas kamu badannya kaya gitu, mirip kaya debt collector” ucap Cicil.


“Bukannya, kamu suka yah, kekar-kekar gitu?” bisi Riki di telingga Cicil.


“Idih, nggak. Kalau suka aku nikahnya ama Deddy cahyadi, bukan sama kamu,” ucap Cicil sambil duduk disamping Riki.


“Siapa Deddy cahyadi?” tanya Riki.


“Itu, Deddy Corbuzier. Nama aslinya Deddy cahyadi.”


“Kamu kenal?” tanya Riki.


“Kenal, diakan dulu pernah main sulap diacara nikahannya temen aku,” jawab Cicil yang lamgsung dijawab anggukkan oleh Riki.


“Papih, Papih ke bawah gih, sama Riki dan Cicil. Aku mau mandi,” usir Laura pelan.


“Nggak, Papih mau disini. Papih mau nonton...” Sabar mengganti-ganti chanel di TV. Senyumnya langsung berkembang saat melihat salah satu sinetron di salah satu channel TV. “Nih, Papih suka banget nonton tali cinta. Ini lagi rame ini, sedih banget ini si Endini ama Ul debarin.”


“Astaga, muka ama body sangar sukanya sinetron,” kekeh Riki sambil menyembunyikan kepalanya di belakang Cicil.


“Aduh, Papih. Udah nonton sinetronnya di rumah aja,” pinta Laura.


“Nggak bisa, Papih mau nonton ini sinetron, udah selesainya Papih mau nonton preman insaf...”


Sabar terus saja menyebutkan judul-judul sinetron Indonesia, sepertinya dia benar-benar hapal sinetron-sinetron di Indonesia.


“Papih makan dulu, kalau gitu,” pinta Laura lagi.


“Nggak, Papih mau disini,” ucap Sabar.


Riki hanya bisa menatap kaca beranda, membayangkan betapa sengsaranya Edy diluar sana. Saat sedang membayangkan Riki kaget bukan main saat melihat wajah Edy yang tiba-tiba menempel di kaca.


“Edy...” panggil Riki pelan, Cicil yang mendengar perkataan Riki otomatis melihat ke arah kaca. Bola matanya membulat saat melihat Edy yang tampak seperti orang mendekati sawan.


“Aa, itu si Edy, kasian. Kedinginan kali, coba kasih baju Aa,” pinta Cicil.


“Bajunya yang mana? Aa nggak liat baju,” ucap Riki kebingungan.


Cicil menarik-narik jaket milik Riki, “Ini aja kasih Aa, kasian Edy.”


Edy tampak menggoyang-goyangkan kepalanya, sambil menempelkan mukanya di kaca. Mau tidak mau membuat Cicil makin kasian melihat Edy.


“Aa, liat itu makin mirip kaya ikan lele kurang makan, Aa. Kasian, udah kasih jaket kamu, cepet,” pinta Cicil.


Riki langsung membuka jaketknya, kemudian dengan pelan dia mendekati pintu beranda. Dibukanya pintu disampingnya sepelan mungkin. Laura yang mengerti apa yang akan dilakukan Riki langsung mengajak ngobrol Papihnya dan berusaha untuk menutupi pandangan Papihnya.


“Ed... woi, Edy,” pangil Riki.


“Mang, dingin,” ucap Edy sambil menggigil kedingan.


“Da kamu mah aneh-aneh aja. Si Laura bapaknya kaya tukang pukul, mau kamu pake. Mau, dijadiin peyek?” tanya Riki.


“Nggak tau, Mang. Sangka teh, normal gitu. Pas liat, aku tak bisa berkata-kata.”


“Nih, jaket. Pake,” ucap Riki.


“Makasih, Ki. Itu Bapaknya bisa diusir nggak?” tanya Edy sambil mengintip Sabar yang sedang menonton sinetron tali cinta.


“Usir sama, lo. Gue masih mau idup, pamajikan urang (istri aku) mau lahiran, anaknya masih butuh bapaknya, kalau aku mati siapa yang urus?”


“Aku, aku bakal...”


“Wah, cari mati,” ucap Riki sambil menunjuk Edy.


“Tolong...”


“Riki, ngapain kamu diluar?” tanya Sabar.


“Ini Om...” Riki menatap Edy bingung, ngapain coba dia disana kalau bukan nolongin si semprul bernama Edy.


“Masuk, dingin. Beku kamu diluar,” ucap Sabar sambil turun dari kasur.


“Papih mau kemana?” tanya Laura panik.


“Mau, liat Riki, ngapain dia di luar?”


“Saya aja Om,”ucap Cicil sambil berdiri dan berjalan ke beranda.

__ADS_1


“Aa masuk,” ucap Cicil sambil menarik Riki, “astaga Edy, kamu sengsara amat sih.”


“Iya, Cil. Tolongin dong, suruh Papihnya Laura pergi gitu.”


“Aduh, Papihnya Cicil tuh suka banget sama sinetron. Susah kalau udah nonton sinetron, bisa semalaman dia disana,” ucap Cicil.


“Aduh, celaka. Aku mau pipis ini,” ucap Edy lagi.


“Hadeuh, pipis dipojokan sana,” ucap Riki sambil menunjuk pojokan.


“Nggak mau, nanti bau dong, kan aku katanya harus semalaman disini,” tolak Edy.


“Ya udah, pake ini,” ucap Cicil sambil memberikan botol bekas air mineral pada Edy.


Edy langsung mengambil botol minuman tersebut kemudian membuka celananya. Namun, ditahan Riki.


“Kenapa? Udah nggak tahan ini,” ucap Edy.


“Nggak didepan Cicil juga, Jubaedah!?” ucap Riki sambil menarik badan Cicil. “ayo, masuk. Ngapain kamu liatin si Edy.”


“Penasaran, Aa,” jawab Cicil polos.


“Hilih, kalau mau liat punya Aa aja, mau kamu elus, cium, kecup, pegang....”


“Tenang, dari sini aku lakuin semuanya, Aa,” ucap Cicil sambil mengedipkan sebelah matanya yang langung dijawab gelengan oleh Riki.


“Bye, Ed...”


Edy hanya bisa meringis, dengan cepat Edy mengenakan jaket milik Riki. Edypun pipis didalam botolnya, tapi...


Tuk...tuk...


Riki yang masih ada disekitar pintu beranda langsung menatap kaca dan mendapati Edy yang menatap Riki dengan gelisah.


“Apa?” tanya Riki pelan sambil membuka sedikit pintunya.


“Nggak cukup,” ucap Edy polos.


“Apa yang nggak cukup?” tanya Riki bingung.


“Botolnya nggak cukup, ini aku masih mau pipis lagi, Mang,” ucap Edy.


“Hilih, dipojokan sana,” ucap Riki sambil menunjuk pojokan.


“Nggak mau nanti ba...”


“Ada apa sih?” tanya Sabar yanh tiba-tiba muncul dibelakang Riki, otomatis Riki yang kaget langsung berbalik badan dan masuk kedalam kamar.


“Ampuni saya,” ucap Edy.


“Kurang ajar!?” teriak Sabar dan...


BUGG....


Edy langsung terjengkang kebelakang saat menerima tonjokkan maut dari Sabar dan Edy langsung tidak sadarkan diri. Satu-satunya yang Edy ingat hanya teriakkan histeris Laura memanggil namanya.


“Edy...!?”


•••


“Kamu tuh siapa?” tanya Sabar sambil menatap Edy yang duduk dihadapannya.


Riki dan Cicil tadi undur diri, mereka tidak mau ikut campur masalah Edy dan calon mertuanya. Lebih, tepatnya mereka cari aman.


“Dia Edy, Pih,” ucap Laura.


“Papih nanya ini mahluk,” ucap Sabar sambil menunjuk Edy yang tampak pasrah dihadapannya. “Jawab, emang kamu nggak punya mulut?”


“Siap, Pak,” jawab Edy sambil duduk dengan sikap sempurna. “Nama saya Edy Edrosh, umur 30 tahun. Pekerjaan koki, hobi saya ngumpulin Vespa. Saya juga punya kerjaan jadi youtuber.”


“Terus, kamu hubungannya apa sama anak saya?” tanya Sabar sambil menunjukkan otot-ototnya.


“Hubungan saya...”


“Apa!?” tanya Sabar sambil mengambil apel kemudian meremukkan apel tersebut dihadapan Edy hanya dengan menggunakan remasan tangan kanannya.


Edy berjuang menelan salivanya, calon mertuanya ini benar-benar olahragawan. “Say...”


“Lele pacar Laura,” ucap Laura kesal.


“Oh, kamu pacar anak saya?” tanya Sabar sambil meremas-remas apel yang tadi sudah dihancurkan oleh dirinya.


“Iya, Om,” jawan Edy.


“Punya apa kamu, sampai berani macarin anaknya Sabar Subagja pemenang MMA senior Indonesia,” ucap Sabar sambil memukul-mukul dadanya.


“Punya....”


“Papih, kalau Papih nggak setuju Laura sama Edy, Papih yang nyesel,” ucap Laura sambil menatap Sabar.

__ADS_1


“Kenapa Papih yang nyesel?” tanya Sabar bingung.


“Karena, Edy udah ambil kegadisan Laura...”


“KAPAN!?” tanya Edy dan Sabar berbarengan.


“Tadi, iya ‘kan Le,” ucap Laura sambil merangkul Edy.


“Kapan, Baby. Kapan, Edy ambil perawan kamu?” tanya Edy bingung. Sudah habis ini Edy.


“Udah iya aja, kamu mau nikah sama aku ‘kan?” tanya Laura.


“Mau sih. Tapi, kalau caranya gini yang ada sebelum kita nikah. Aku udah almarhum,” ucap Edy sambil menatap Sabar yang menatapnya seperti akan melumatkan Edy.


“Edy Edrosh, saya tunggu kamu,” ucap Sabar sambil menunjuk Edy dengan telunjuknya, “dua minggu lagi di ring MMA, kalau kamu menang, kamu bisa nikah sama anak saya. Tapi, kalau kamu kalah...”


“Kalau saya kalah, Om?” tanya Edy sambil mencengkram paha Laura keras.


“Kamu, mati!?” ucap Sabar sambil menggerakkan telunjuknya di lehernya dari kanan ke kiri.


“Mati, Baby,” ucap Edy sambil menatap Laura.


Laura langsung menganggukan kepalanya dan mengepalkan tangan kanannya dihadapan Edy dan berkata. “Semangat, Le. Biar kita jadi suami istri.”


Edy hanya bisa menggangukkan kepalanya dan berjuang menelan salivanya. Di otaknya dia berpikir, bagaimana dirinya yang minimalis ini mengalahkan Papih Laura yang maximalis.


•••


Muahahahhaa...


Kasian Edy yah, biarin lah salah sendiri maen-maen sama anak Sabar Subagja hahahaa....


Jangan lupa, votenya dikasih buat kaka gallon, sayang disimpen-simpen. Senin udah kadaluarsa hohohohooo...


Point dan koinnya juga disebar...


Ini visualnya....


Riki Trina lelaki tersabar sejagat noveltoon. Menerima Cicil dengan segudang kekurangannya.



Cicil Trina wanita extra cantik yang bergantung setengah mati pada Riki suaminya.



Edy Edrosh yang hobinya di endrosh. Tokoh yang selalu tersiksa dan PDnya uwow sekali...



Laura Subagja


kekasih Edy, gadis yang asmanya kumat saat mau kuda-kudaan 🤣



Rozak Trina, ini visualnya belum bisa dikeluarkan. Masih pusing aku tuh sama visual pak Rozak ini. Jadi, skip yah... hehehe...


Nama... kekasih Rozak, yang kadang kalau ngomong nggak ada filternya.



THE ONE AND ONLY KI BRONDONG...



Tutti Frutty, wanita tegar yang sangat mendukung Cicil.



Albert Connor...


nih yang sayang Albert Connor...monggo



Jeff Bouw papih Cicil Bouw.



Rea Bouw



Kharisari sekertaris Albert



Udah yah... visual Adipati, Taca, Iis dan Juan. Dibab selanjutnya aja oke...

__ADS_1


Xoxo Gallon


__ADS_2