
“Nyun, kenapa kamu ngomong gitu?”
Nama hanya bisa menghela napas dan tersenyum pada Rozak. “Nggak papa, udahlah kita kapan perginya ini. Telat aku.”
Nama mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah depan sambil memeluk tas miliknya. “Ayo Kang, nanti kamu sama aku telat. Masa guru telat.”
Rozak langsung menarik badan Nama dan memeluknya, “Jangan tingalin aku, Nyun.”
Nama hanya terdiam saat mendengar perkataan Rozak. Didalam hatinya Nama hanya bisa berbisik pelan, “Kita liat siapa yang ninggalin, Kang.” Nama berkata didalam hati.
“Nyun.”
“Udah yuk, telat ini,” ucap Nama sambil melepaskan pelukkannya dan menyelipkan rambutnya ketelinganya.
Hati Rozak benar-benar terasa seperti kembali ke masa dimana dia akan melepaskan Iis dulu, perasaannya kembali tersedot kemasa lampau. Penyesalannya dulu.
“Nyun, kamu kenapa?”
“Aku nggak papa, udah ayo berangkat.” Nama berkata sambil melirik jam di tangannya.
“Nyun.”
“Kang, kalau nggak pergi aja aku pergi sendiri, nih,” ancam Nama sambil menatap Rozak kesal.
“Nyun, Akang cuman minta kamu jawab. Kenapa kamu nggak mau nikah sama Akang?”
“Jalan... nanti aku kasih tau,” jawab Nama sambil terus menatap kearah depan.
Rozak mengalah dengan cepat dia menjalankan mobilnya menembus kemacetan kota Jakarta. Keheningan menemani mereka berdua selama perjalanan, Nama diam seribu bahasa. Rozak hanya bisa menghela napasnya.
Saat berhenti dilampu merah, tiba-tiba Nama menunjuk papan reklame dihadapan Rozak.
“Itu.”
Rozak langsung menatap papan reklame yang bergambar salah satu tokoh politik di Jakarta. Tokoh politik itu bukan tokoh sembarangan, Ahyat Sunandar S.IP.
“Kenapa dia?” tanya Rozak bingung, apa hubungannya Nama denhan Ahyar Sunandar.
“Dia ayah aku.”
Rasa kaget langsung menerpa Rozak, Rozak memang tidak terlalu peduli dengan urusan dunia politik sama sekali. Dia bahkan buta politik, terlalu ribet urusannya berurusan dengan dunia politik yang menjelimet. Tapi, dia tau siapa Ahyar Sunandar. Bahkan anak bungsunya bersekolah di sekolah Rozak.
“Nggak mungkin, aku tau silsilah kehidupan keluarga dia. Bahkan aku pernah liat kartu keluarganya, anak paling kecil dia sekolah disekolah aku.”
“Ira.”
Rozak kaget saat Nama menyebutkan nama murid centil yang selalu membuntuti Rozak kemanapun. “Kamu tau?”
“Dia adik aku.”
“Nyun, jangan bercanda. Ira kakaknya cuman satu dan itu laki-laki.” Rozak berjuang mengingat nama kakak Ira. “Namanya....”
“Tandika Suhendar,” potong Nama dengan suara bergetar, masih segar diingatannya apa yang dilakukan Tandika pada dirinya saat mengetahui kenyataan yang ada. Perbedaan umur mereka yang hanya berbeda bulan, membuat Tandika membencinya hingga ketulang sumsum.
“Kamu kok tau?” tanya Rozak kaget.
“Aku udah bilang, Ahyar Suhendar ayah aku,” ucap Nama sambil mencengkram tas didadanya, memeluknya rapat seolah itu adalah tameng yang bisa melindungi dirinya dengan dunia luar.
“Nyun, aku tau kartu keluarganya. Aku inget betul nama istrinya bukan Ibu kamu, kamu juga nggak ada di kartu keluarganya.”
Nama menatap Rozak dengan pandangan yang sudah berkabur. Rahasia keluarga yang harus dikubur sedalam-dalamnya, harus dia kuat hanya karena dia harus menikah dan membutuhkan wali nikah. Nama selalu mengutuki dirinya sendiri karena dilahirkan menjadi seorang wanita bukanlah pria.
“Aku anaknya Kang.”
__ADS_1
“Tapi...”
“Aku anaknya dari istri kedua Ahyar Suhendar.”
“Maksudnya?” Rozak kaget dengan perkataan Nama.
“Aku anak dari pelakor, tukang rusak rumah tangga orang. Anak dari seorang wanita sinting yang terlalu terlalut dengan pesona lelaki beristri bernama Ahyar Suhendar.”
Rozak terdiam menatap Nama, dia kaget dengan informasi yang diterimanya. Tidak pernah Rozak menyangka kalau latar belakang Nama sepelik ini.
“Aku anak yang selalu dimaki dan dicaci, aku anak yang selalu disebut pembawa sial oleh semua orang, bahkan oleh ibuku sendiri, Kang!?” teriak Nama sambil menunjuk dadanya dengan jari telunjuk yang bergetar. Emosi Nama meledak detik itu juga, semua kebenciannya pada orang-orang yang selalu mencacinya membuat dirinya menangis terisak.
Rozak yang kaget dengan emosi yang ditunjukkan oleh Nama langsung membelokkan mobilnya dan memarkirkannya dibahu jalan yang kosong.
“Nyun...”
“Aku anak yang seumur hidupnya dihina dan dicaci seperti sampah. Aku anak dari seorang pelakor, anak sampah nggak berguna. Anak yang dibenci semua orang, bahkan oleh Ibu dan Ayahku sendiri. Jangan tanya betapa jijik dan bencinya Mamih Eva padaku.” Nama mengingat perlakuan Eva pada dirinya, Eva istri pertama Ahyar yang selalu mencaci, memukuli, memerintahnya bahkan meludahinya saat Nama datang kerumah ayahnya.
“Nyun.”
“Masih mau kamu sama aku?” tanya Nama sambil menatap Rozak. “Masih mau kamu sama anak seorang pelakor?”
“Nyun, sayang.” Rozak langsung memeluk Nama yang menjerit histeris.
“Aku cuman anak pelakor, aku nggak punya kuasa apapun pada semuanya. Aku hanya, anak sampah yang nggak pantes bahagia. Aku anak yang ibunya sudah merebut kebahagiaan sebuah keluarga kecil.” Nama mencengkram punggung Rozak. Dibenamkannya kuku Nama ke punggung Rozak.
“Nyun.”
“Masih mau kamu, Kang?” tanya Nama sambil mengusap hidungnya ke bahu Rozak.
“Nyun.”
“Aku ini bukan perempuan baik-baik. Aku ini cuman anak dari seorang pelakor.”
Nama hanya bisa mengusap air matanya dengan punggung tangannya. “Kang, ini yang bikin aku nggak mau nikah. Aku harus memohon ke Ayah untuk menikahi aku.”
“....”
“Sedangkan, setiap aku menginjakkan kaki aku ke rumah mereka. Jangankan senyuman, disuruh duduk pun tidak pernah aku rasakan. Iya, aku tau betapa sakit hatinya mereka semua. Tapi, aku nggak pernah meminta dan berharap menjadi anak seorang pelakor. Aku nggak pernah meminta dilahirkan, mereka yang berbuat. Tapi, aku yang kena getahnya.”
“Nyun.”
“Sekarang aku nanya sama kamu, kamu masih mau ajak aku ketemu Abah dan bilang kamu mau nikahin aku dengan latar belakang sebrengsek ini?” tanya Nama sambil menatap Rozak.
“Ny...”
“Masih mau kamu, hah?” bentak Nama.
“Masih.”
Jantung Nama langsung berdetak dengan cepat saat mendengar perkataan Rozak yang terdengar tegas di kupingnya. “Kang.”
“Yang salah orangtua kamu, bukan kamu. Kenapa aku harus mikirin.”
“Tapi, latar belakang sama masa lalu aku itu nggak bagus. Aku cuman anak haram,” ucap Nama sambil menatap Rozak.
“Aku cinta kamu Nyun, aku nggak mau lepasin kamu.” Rozak berkata sambil mengusap air mata Nama dengan tangan kirinya.
Nama menatap Rozak dengan tatapan hampa, “Aku ini anak haram.”
“Aku nggak peduli, kamu yang bilang sendiri tadi. Kamu nggak minta dilahirkan dari rahim ibu kamu. Kamu nggak bisa memilih dilahirkan dari orang seperti apa.”
“Kamu nggak malu?”
__ADS_1
“Ngapain malu” ucap Rozak, “Yang harusnya malu si Ahyar, bukan kamu. Dia harusnya bisa jaga burungnya biar nggak nyari sangkar yang lain.”
Nama terkejut mendengar perkataan Rozak yang tiba-tiba berubah menjadi tanpa filter. “Kamu kok ngomongnya jadi nggak ada filternya?”
“Hahaha... kan kamu yang ajarin, Nyun.”
Nama tersenyum kecil sambil menatap Rozak. “Kang, aku...”
“Liburan yuk,” ucap Rozak sambil memperbaikki posisi duduknya lagi.
“Hah?”
“Iya, liburan yuk. Kita ke gunung.”
“Kapan?” tanya Nama bingung.
“Sekarang.” Rozak berkata sambil menjalankan mobilnya dan berbelok ke arah yang berlawanan dari arah tempat mereka kerja.
“Kang, aku harus kerja. Aku juga nggak bawa baju ganti,” teriak Nama panik.
“Nggak papa, kegunung nggak usah pake baju ganti. Sepatu ada dibelakang, tadi aku liat sepatu Aa Riki sama Cicil ada dibelakang. Nomer sepatu kita sama kaya mereka.”
“Kang, aku harus ijin sama sekolah,” ucap Nama.
“Chat temen kamu, bilang kamu flu parah. Surat sakit nanti biar si Edy bikinin, dia ahli bikin surat sakit abal-abal.”
“Ini beneran?” tanya Nama.
“Iya, beneran.”
“Kamu mau apa sebenernya?” tanya Nama.
“Nggak mau apa-apa, cuman mau liat kamu senyum aja, Nyun.”
“Penting banget liat aku senyum?”
“Penting, Nyun. Itu tujuan aku hidup sekarang, bikin kamu senyum seumur hidup kamu.”
Nama pun hanya bisa tersenyum mendengar tujuan hidup Rozak yang manis.
•••
Jalan-jalan yuk, ke gunung.
Gunungnya sekitaran Jakarta ajalah yah, di Sentul Bogor, nggak usah jauh-jauhlah pusing wkwkwk...
Jangan lupa bunga dan kopi disebar dan ditebar. Nggak usah banyak-banyak 1 bunga sehari aja udah demen banget Kaka Gallon. *ngarep yeh wkwkw...
Yang mau masuk gc gallon bisa tapi jawab 3 pertanyaan dibawah ini saat mau masuk GC, bukan di kolom komentar.
Nama kucing Cicil?
Nama dukun Edy?
Nama pacar Rozak?
Nah tulisnya disitu yah 👆🏻👆🏻👆🏻👆🏻
__ADS_1
XOXO GALLON