Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Kurang mampu...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️


•••


"Tapi Neng, Aa nggak apa-apa," rengek Riki sebelum menyetujui untuk pergi ke rumah sakit.


"Nggak papa gimana sih ...! Ini liat darah udah kemana-mana, kerah kaos Aa aja udah berubah warna jadi merah gini," pekik Cicil geram sambil menarik Aa untuk berobat.


"Beneran Neng, ini mah di kasih kecupan Neng juga sembuh," canda Riki sambil menunjuk keningnya yang sudah terdapat darah mengering.


Cicil mengerucutkan bibirnya, rasa kesalnya sudah mencapai ubun-ubun. Kekasihnya ini benar-benar minta di lempar bakiak.


"Beneran di cium Neng langsung sembuh," ujar Riki sambil mengedipkan matanya.


Cicil memicingkan matanya, dengan cepat dan terlatih Cicil mendaratkan ciuman di dahi Riki dengan sangat penuh penekanan.


"ASTAGAAA SAKIT...!!!!!" teriak Riki sampai meloncat dari duduknya saking sakitnya.


"Nah 'kan nggak sembuh, masih sakit. Ribet sih Aa, ayo cepet ke rumah sakit. Masih mau ngeyel? Masih mau bawel?" pekik Cicil frustasi karena Riki tidak mau kedokter. Cicil yang hapal kekeras kepalaan Riki hanya bisa membulatkan matanya.


"Aa tau ngak kalau sampai infeksi itu bakal kaya gimana ...."


Riki tipe lelaki yang saklek, kalau diotaknya bilang tidak jangan harap berubah jadi iya. Tapi dulu, saat ini yang mampu merubah kesaklekannya hanya wanita ramping berambut panjang yang sedang mengerucutkan bibirnya sambil berceloteh tentang bahaya infeksi di hadapannya.


"Astaga Neng, ya udah ayo. Tapi, ke puskesmas ajalah, yang didepan jalan. Mereka buka 24 jam." Riki menyerah, sudah cukup dia tidak mau lagi mendengar tentang betapa bahayanya infeksi.


"Puskesmas ?! Nggak kerumah sakit aja, sekalian CT Scan ...."


"Buat apa?! Ngabis-ngabisin uang, udah ke puskesmas aja, ngapain juga di CT Scan..!?" potong Riki cepat, daripada uangnya buat ke rumah sakit dan biaya CT Scan, mending uangnya buat nambah-nambah modal usahanya.


"Ih, nanti kalau kepala Aa ada apa-apa gimana? Nggak ada yang jual kepala baru, Aa ...."


"Puskesmas atau nggak usah sama sekali," potong Riki cepat sambil berdiri dan mengambil jaket miliknya dan juga kunci motor.


"Oke fine, puskesmas..!" cicit Cicil sambil menarik Riki dan mengambil kunci mobilnya.


"Pake mobil Neng aja, pake motor nanti kamu pusing terus bawa motornya ngak bener gimana?" celetuk Cicil sambil mengambil kunci motor Riki dan memberikannya pada Manda yang dari tadi hanya mengulum senyum melihat pertikaian boss dan kekasih cantiknya itu.

__ADS_1


"Iya ... iya, cerewetnya astaga minta di plester mulut kamu, Neng," dengus Riki sambil berjalan disamping Cicil.


"Ah ... Manda, nanti kalau itu bule tukang pukul bangun, suruh pulang secepatnya. Kalau nggak mau pulang juga suruh pak Edy yang usir. Atau kamu telepon polisi, bilang orang itu bikin keributan," perintah Riki.


"Iya, Pak. Tapi, maaf bule itu pak Albert yang jadi pemasok daging ke restoran kita 'kan, Pak?" tanya Manda penasaran.


"Iya, ah sama tolong suruh pak Edy cari surat perjanjian yang saya tanda tangani sama bule tukang pukul itu, saya mau baca lagi," perintah Riki lagi, Manda langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Ayo, Aa. Keburu tutup itu puskesmasnya. Keburu bocor kepala kamu..!" pekik Cicil kesal sambil menarik tangan Aa geram.


"Iya, sabar Neng, 24 jam itu puskesmasnya, nggak bakal digusur juga sama PEMDA," canda Riki sambil mengikuti Cicil.


•••


Laura yang melihat kolam dibelakang restoran hanya bisa mengerjapkan matanya melihat banyaknya ikan lele disana.


"Laura, ngapain disana?" tanya Edy sambil berdiri dibelakang Laura.


"Ini kamu ternak?" tanya Laura sambil melihat Lele yang berenang-renang dikolam khusus.


"Iya, buat pasokan restoran juga, mending ternak kalau lele, jadi ketauan dikasih makan apa-apanya kalau lele itu," jawab Edy.


"Sekalian juga buat konten youtube aku, Laura," tambah Edy lagi,


"Punya lah? Subcribe atuh, nama channelnya Edrosh HIGH UP...!!" teriak Edy pada kata-kata high upnya.


Laura langsung kabur saat melihat Edy mengangkat tangannya dan berteriak high up keras-keras sambil memejamkan matanya, merasapi dengan sanubari terdalam saat megatakan high up.


"Gimana, keren nggak?" tanya Edy sambil membuka matanya, dengan cepat dia mengedarkan pandangannya mencari Laura. "Lah, Laura hei, Laura...!"


"Ape..." jawab Laura sambil berjalan terus meninggalkan Edy yang langsung berlari mengejar Laura.


"Laura, itu si Albert dibiarin aja disana?" tanya Edy sambil menunjuk Albert yang masih pingsan di kursi sofa.


Laura mengigit bagian bawah bibirnya, "Udah biarin aja, emang mau digimanain?"


"Kalau bangun terus marah-marah gimana?"tanga Edy lagi, Edy sama sekali tidak takut Albert, tapi dia hanya malas membereskan bekas keributan yang ditimbulkan bila dia atau Riki berkelahi dengan Albert.


"Loe ceburin ke kolam lele dah, biar bikin kerajaan lele si Albert disana," jawab Laura asal.


"Jangan dung kasian lele-lele aku, bisa sawan di kasih si Albert," tentang Edy sambil mengoyangkan jari telunjuknya kekanan dan kekiri didepan wajah Laura.

__ADS_1


"Ya terserah lah, mau kamu gimanain juga. Cuman masalahnya sekarang satu, Cicil mau disimpen dimana?" ujar Laura sambil duduk di kursi sofa yang tidak jauh dari tempat Albert tidur.


"Maksudnya?" tanya Edy tidak mengerti.


"Masalahnya Albert itu nekat, dulu Cicil pernah kabur ke Swiss tetep diketemuin sama Albert, pulang ke Indonesia muka Cicil lebam parah," kenang Laura lagi.


"Ini orang tua Cicil kagak sadar atau pura-puta buta atau emang buta beneran sampai nggak sadar anaknya abis digebukkin ama pacarnya?" tanya Edy bingung.


"Papihnya Cicil yang ingin Cicil pacaran sama Albert ...."


"Emaknya kemana? Emaknya kagak sadar itu anaknya dijadiin samsak hidup?" potong Edy gemas.


"Mamih Cicil--" Laura mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, takut bila ada orang yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


"Mamih Cicil kenapa?" tanya Edy penasaran.


"Mamih Cicil kecanduan Alkohol dan Hmm.... Mamih Cicil punya selingkuhan brondong gitu, seumur Cicil kalau ngak salah brondongnya. Terus Papihnya Cicil juga punya gundik, terakhir sih umurnya 20 tahun," terang Laura sambil memilin bawah bajunya.


"Hah...!!! Itu keluarga macam apa? Mereka masih nikah?" tanya Edy kaget, keluarga macam apa yang saling menyakiti pasangannya masing-masing.


"Harga diri, martabat, nama baik, citra diri itu yang harus kami pertahankan. Itu nggak enaknya jadi orang kaya, dibalik seluruh keuntungan yang dimiliki, kami nggak bisa seenak-enaknya melakukan apapun yang kami mau. Karena, nama keluarga dibelakang kami itu seperti sebuah label yang bisa memberikan keuntungan sekaligus penderitaan."


"Tapi..."


"Kekayaan itu seperti pisau bermata dua..!" terang Laura, semenjak kecil ditempa menjadi sosok yang harus berprilaku dengan baik membuat Laura tau cara menempatkan diri dengan baik.


"Tapi, Laura. Kalau Papihnya Cicil gentleman, harusnya dia mau melepaskan Mamih Cicil, astaga Mamih Cicil berhak bahagia, kasian Laura, Mamih Cicil anak orang..."


"Kata siapa yang nggak mau cerai Papih Cicil?" hardik Laura pada Edy sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Jadi..."


"Mamih Cicil menolak dengan tegas perceraian, Mamih Cicil orang biasa, semenjak menikah dengan Papih Cicil, Mamih bergelimang harta dan mendapatkan keuntungan dari nama Bouw. Mamih Cicil takut bila dia bercerai dengan Papih, dia jatuh miskin," terang Laura lagi.


"Hah..."


"Eh Lele, cuman mau ngasih tau yah, jadi kaya itu mudah. Semua orang pasti bisa ngelakuinnya, tapi jadi orang kurang mampu itu sulit...!"


•••


Yupz... jadi kaya itu mudah, tapi kalau jadi orang kurang mampu ?

__ADS_1


SUSAH...!!!!


Ciaooo


__ADS_2