Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Cancel ....


__ADS_3

“Aa, mau Aa,” isak Cicil dipelukkan Nama. “Mau Aa ....”


Nama hanya bisa mengelus-ngelus punggung Cicil. Nama tau Cicil sangat manja pada suaminya, kadang hal itu bagi sebagaiannorang lebay. Tapi, melihat keadaan Cicil sekarang hanya orang tak berhati yang berkata lebay.


Cicil sudah terkulai lemas, tenaganya hampir habis karena tadi Cicil menangis histeris saat Riki ditarik dari pelukkannya. Nama pun yakin, Cicil benar-benar ketakutan menghadapi proses lahiran pertamanya tanpa suaminya sendiri.


“Nama Aa mana?” rengek Cicil sambil menarik-narik kemeja Nama. “Nama, suami aku mana?”


“Iya, ada Riki ada Cil, kita ke rumah sakit dulu yah. Yuk, kuat yu.” Nama memberi dukungannpada Cicil. Hatinya perih melihar calon kakak iparnya ini terkulai lemat tak berdaya. Apalagi, hal ini semua dikarenakan kelakuan Ayahnya yang benar-benar tidak punya hati nurani. Benalu.


“Nggak mau, aku nggak mau ngelahirin sendirian. Aku nggak sanggup,” rengek Cicil sambil mengusap air matanya.


“Riki bakal datang kok Cil, Riki udah janji ‘kan? Kapan coba Riki bohong?” bujuk Nama sambil mengusap-ngusap lengan Cicil.


“Udahlah nggak jadi aja lahirannya, cancel aja cancel,” rengek Cicil sambil menggerakkan tubuhnya kesal. Dihentakkannya kakinya kelantai mobil dengan geram.


“Lah, mana bisa Cil, nggak mungkin lahiran di cancel. Ini lahiran Cil, bukan lagi ngantri tiket,” ucap Rozak bingung, saking bingungnya dia berkata ngasal.


Mendengar perkataan Rozak, Cicil langsung mencengkram bahu Rozak dengan keras. “Diem deh, mending kamu nyupir aja yang bener. Itu di kaki kamu namanya gas. Injek Adik Ipar!?” Cicil berkata sambil mencengkram bahu Rozak tanpa ampun, menyalurkan rasa sakit kontraksi yang tiba-tiba menyerang Cicil.


“GASS .... “ Rozak menjerit sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Cicil yang sakitnya bukan main.


“Kang, awas kelewat,” pekik Nama sambil menunjuk pintu gerbang rumah sakit yang hampir saja Rozak lewati karena menahan rasa sakit dari cengkraman tangan Cicil.


“AWWWW ....” Cicil menjerit keras sambil menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi mobil. Bagian bawahnya seperti terbakar, rasa panas dan perih bersatu padu di bagian kewanitaan Cicil. Panggulnya sakit bukan main, tulang-tulangnya terasa rontok.


“Napas Cil, ayo atur napasnya. Bisa yuk bisa,” ucap Nama.


“Aa ... Nama aku mau suami aku, aku nggak mau lahiran sendirian, aku mau suami aku,” isak Cicil sambil mengepalkan tangannya.


“Ada ... Ada ... percaya sama aku, percaya sama kau yah,” dusta Nama, sejujurnya Nama tidak tau kapan dan bagaimana Riki bisa menemani Cicil bersalin. Karena, sampai detik ini Riki belum tampak batang hidungnya di manapun.


“Aa ... mau Aa ...,” isak Cicil saat pintu terbuka dan beberapa orang suster dengan sigap membantu Cicil untuk keluar dari dalam mobil dan membawakannya kursi roda, untuk langsung di bawa ke bagian bersalin.


“Suami saya Sus, saya mohon suami saya Sus,” isak Cicil sambil menahan rasa sakitnya.


“Iya Bu, kita keruangan dulu,” ucap salah satu suster yang ada di sana.


Saat Cicil masuk kedalam kamar bersalin, salah satu suter langsung mendatangi Rozak. “Pak, Bapak berani ‘kan?”


“Hah, berani apa Sus?” Rozak kebingungan dengan pertanyaan suster tersebut yang datnag tiba-tiba.


“Ibunya, butuh suaminya. Sepertinya Bu Cicil tipe yang sangat butuh dukungan dari suaminya, memberikan semangat untuknya,” terang suster tersebut sambil menatap Rozak.


“Tapi ....”

__ADS_1


“Pak, ini demi kebaikkan Ibunya. Bapak nggak kasian sama Ibunya?” Suster tersebut kembali menerangkan dengan gemas pada Rozak. Dipikirannya saat ini terlintas pikiran-pikiran negatif. Hal itu tak lain dan tak bukan karena melihat Nama yang bergelayut manja di lengan Rozak.


“Tapi, nggak mungkin saya masuk Sus,” ucap Rozak bingung, Rozak ykin kalau dia yang masuk Cicil akan makin murka melihat dirinya yang masuk bukan Riki. Suaminy.


“Kenapa Pak, ingat Istri Bapak sedang meregang nyawa di sana. Masa Bapak mau di sini bersama orang lain?” Suster tersebut menatap sekilas pda Nama.


“Lah, saya di sini sama tunangan saya, Sus. Yang di dalam itu Kakak Ipar saya. Kakak saya sedang dalam perjalan, Sus,” terang Rozak sambil menatap suster yang sudah memiliki pikiran yang tidak-tidak pada dirinya dan Nama.


“Eh ... jadi Bapak bukan suaminya?”


“Bukan Sus, kalau saya suaminya saya udah masuk dari tadi Sus, nggak mungkin saya nunggu di sini,” ujar Rozak sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Oh ... maaf-maaf saya sangka anda suaminya,” ucap Suster itu malu karena sudah berpikir yang tidak-tidak.


“Sus, boleh saya masuk?” Nama berkata sambil mentap suster tersebut, “suaminya masih jauh. Cicil butuh support dia sangat manja pada suaminya, Sus.”


“Oh ... yah, mari saya antar.” Suster tersebut langsung mengajak Nama kedalam ruangan.


Nama langsung mengecup pipi Rozak, “Kamu di sini, telepon Taca dan Sinclair. Paksa buat Riki keluar, harus keluar. Ngerti Kang?”


Rozak langsung menganggukkan kepalanya, Nama langsung berjalan mengikuti suster tersebut meninggalkan Rozak.


+++


“Pak Sinclair, saya mau keluar sekarang juga. Saya nggak peduli gimana caranya. Saya mau keluar,” seru Riki pada Sinclair yang sedang berbicara dengan petugas lapas.


“Astaga Pak, Sinclair saya mau keluar atau saya kabur dari rutan ini. Saya nggak peduli apa-apa lagi yah, saya cuman mau nemenin istri saya lahiran. Ngerti nggak?” Sentak Riki geram, sudah habis kesabaran Riki dengan kelakuan lemot pengacara keluarga Bouw ini.


Sinclair langsung menganggukkan kepalanya, “ Saya masuk dulu dan berbicara dengan petugas lapas yah, Pak.”


“Astaga SInclair. Denger ini baik-baik, kalau sampai dalam waktu sepuluh menit saya nggak bis akeluar dari rutan sialan ini dan berangkat menemui istri saya yang sedang berjuang meregang nyawa untuk melahirkan anak saya. Sumpah ... saya bakal suruh mertua saya ganti pengacara keluarganya,” ancam Riki geram.


Sinclair langsung tersenyum mengejek, bisa apa lelaki di hadapannya ini. Tidak mungkin dia bis amembujuk seorang Jeff Bouw untuk melepaskan dirinya. Jeff pasti membutuhkan pengganti dirinya. Pengacara hebat, bukan pengacara kelas kambing dan untuk menemukan pengacara sekaliber dirinya sangatlah sulit.


Semenjak bertemu dengan Riki, sebenarnya Sinclair sedikit kaget kenapa seorang Cicil Bouwmau menikah dengan lelaki kampung seperti Riki Trina. Sederhana dan tidak memiliki power, berbanding terbaik dengan mantan tunanggannya dulu. Hal, itu yang membuat Sinclair menangani masalah Riki secara santai, karena dia merasa Riki tidak akan memiliki suara apapun di keluarga Bouw.


“Pak itu semua tidak segampang itu, ancaman anda tidak akan didengar oleh mertua anda.” Sinclair berkata sambil tersenyum mengejek.


Riki yang sedang pusing memikirkan nasib Cicil, langsung merasa kesal diberikan senyuman mengejek dari seornag Sinclair. Ternyata benar dugaannya selama ini, pengacara sinting ini tidak menangani kasusnya dengan serius. Riki benar-benar sudah geram bukan main, pengacara ini harus diberitahukan di mana posisinya berada.


“Pinjem telepon kamu,” ucap Riki sambil mengambil handphone dari tangan Sinclair yang kebetulan tidak di kunci, dengan cepat Riki menelepon mertuanya.


Setelah Riki berbicara sebentar dengan Ayah mertuanya, Riki menutup teleponnya kemudian menelepon Taca mengabari Cicil mau melahirkan dan meminta berbicara dengan Adipati. Setelahnya Riki menutup teleponnya.


“Nih, sekarang kamu keluarin saya dari penjara dalam jangka waktu sepuluh menit atau saya yakin biro kamu koleps karena dua klien kamu mengundurkan diri,” ancam Riki sambil menatap kesal pada Sinclair.

__ADS_1


Sinclair hanya mendengus meremehkan, bisa apa leaki di hdapannya ini? Paling tadi dia di hina oleh Jeff Bouw.


Kring ...


Sinclair langsung mengangkat teleponnya dengan cepat saat membaca nama atasannya di Biro Pengacara. “Iya Pak Burhan.”


“Otak kau di mana?”


“Hah, gimana Pak?” Sinclair kaget dimaki saat mengangkat telepon dari kepala biro pengacaranya, sebagai senior di biro tersebu ketua Biro tidak mungkin memarahinya kecuali dia melakukan kesalahan yang sangat fatal.


“Kau tuh, tak punya otak, hah? Urus Pak Riki dengan baik, dengarkan semua permintaannya,” ucap Burhan.


“Hah kenapa Pak?”


“Kenapa-kenapa biji mata kau, Sinclair. Kalau kau nggak mampu, bilang biar saya yang turun tangan. Ngeluarin Riki dari penjara aja sampai nunggu dua minggu, otak kau picek!?” Burhan memaki Sinclair kesal.


“Pak, tapi kan—“


“Keluarkan Riki Trina dalam waktu kurang dari sepuluh menit atau Pak Jeff Bouw dan Ibu Taca Berutti akan mengalihkan masalah hukum ke biro milik Luhut!?”


“Kok bisa?”


“Yah bisalah, Jeff Bouw itu sayang banget sama menantunya.”


“Nah terus hubungannya dengan Taca Berutti itu apa?” Sinclair bingung dengan hubungan antara Riki Trina dan Taca Berutti seorang sosialita dan istri dari salah satu orang kaya di Indonesia yang bisa dikatakan klien paling potensial yang berhasil di dapatkannya.


“Kau buta hah? Kau tak baca itu riwayat hidup Taca Berutti atau Riki Trina? Astaga Sinclair, sadar Riki Trina itu kakak kandung Taca Berutti, mampuslah kita kalau dua klien itu mengundurkan diri?!”


“Hah?”


“Bukan Hah ... Hah ... Hah ... urus kau tuh, mikirlah kau punya otak. Keluarkan Riki Trina secepatnya atau daripada aku kehilangan dua klien potensial sekaligus, lebih baik kau yang aku pecat, Sinclair?!”


Sinclair langsung menjauhkan handphonenya dari teliganya, ditatapnya Riki yang sedang juga sedang menatapnya dengan tatapan seperti berkata, Jangan-remehkan-saya.


“Jadi gimana? Mau keluarin saya atau saya suruh adik dan mertua saya pindah biro pengacara ke biro pengacara keluarga Juan Wijaya yang istrinya anak angkat bapak saya?” Riki berkata sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


“Keluar Pak, sekarang juga.” Sinclair langsung buru-buru masuk kedalam ruangan kepala lapas sambil mengutuki kebodohannya karena meremehkan seorang bernama Riki Trina yang walau miskin memiliki banyak sekali kenalan orang-orang hebat yang mampu membuat lututnya bergetar.


+++


Sinclair emang bikin darah tinggi, minta dipentung dan dipecut pake cambuk. Wkwkkw...


Tungguin Bayi keju lahir yah aunty dan uncle online hohohooo...


Ngakak aku baca komen bab kemarin, malah fokus ke Riki yang belum buka puasa malah disuruh puasa lagi selama 40 hari wkkwkwk ...

__ADS_1


Eh, kasih ide nama yang bagus buat bayi keju dong. Nama laki-laki dan perempuan hehehhe...


Makasih, XOXO GALLON yang Hobi Kelon.


__ADS_2