Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Anyun aku


__ADS_3

“Zak, kamu nggak papa?”tanya Abah sambil menatap anak keduanya itu yang sedang berusaha untuk makan dengan tangan kiri.


“Nggak apa-apa, makan doang ini, Bah,” jawab Rozak sambil tersenyum pada Abah.


Abah hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari duduknya. Abah sudah selesai makan dari lima belas menit yang lalu, “Mana Nama?”


“Itu,” ucap Rozak sambil menunjuk Nama yang berjalan kearah mereka.


“Nama, temenin anak Abak. Lagi manja dia, ah sama satu lagi,” ucap Abah sambil menatap Rozak dan Nama bergantian.


“Apa Bah?” tanya Rozak.


“Awas, kalian kalau Abah liat kalian mesra-mesraan kaya kemaren lagi. Abah sambit kalian berdua!?” ucap Abah sambil menunjuk wajah Nama dan Rozak.


“Nggak, Bah. Itu kemarin Kang Rozaknya yang maksa, Nama cuman ikut aja,” jawab Nama sambil menyikut perut Rozak.


“Idih ‘kan kamunya juga mau,”’ucap Rozak sambil menunjuk Nama.


“Hah, kamu yang maksa, yah. Kamu yang narik kemeja aku, lupa kamu sampai kancing aku lepas atasnya. Kamu yang narik, yah,” cecar Nama kesal sambil membulatkan matanya.


Pletak...


“Aduh.” Rozak mengusap bahunya yang disambit oleh Abah.


“Ini berdua, udah cepet nikah. Bikin, jantungan aja. Pokokna, awas lamun maneh mawa si Nama dalam kaayaan reuneuh, ku Abah maneh dikadek, Rozak Trina!?”


(Pokoknga, awas kalau kamu bawa Nama dalam keadaan hamil, sama Abah kamu di penggal, Rozak Trina!?)


Rozak langsung menelan salivanya, Abahnya ini tidak pernah main-main dengan ancamannya. “Bah, masa Rozak dipenggal, emang Rozak kambing?”


“Pecat palingan,” ucap Abah sambil berjalan meninggalkan Rozak dan Nama.


“Pecat gimana?” tanya Nama pada Rozak. “Kamu kerja ditempat Abah?”


Rozak menggedipkan matanya kemudian mengambil sendok dengan tangan kirinya, berjuang untuk makan.


“Kang, pecat gimana?” tanya Nama penasaran.


“Pecat Nam. Pecat jadi anak, dicoret dari kartu keluarga,” jawab Rozak sambil berusaha memakan Ayamnya dan tidak berhasil. Rasa kesal langsung menimpa Rozak, Rozak melempar sendoknya.


“Kang kok dilempar?” tanya Nama kaget.


“Susah makannya, dahlah nggak usah makan aja. Kenapa yang patah tangan kanan sih, tangan kiri harusnya itu. Susah kalau gini, mana besok ada berkas harus dikumpulin juga. Ah, susah ema...”


Nama menjejalkan sesendok nasi kemulut Rozak yang dari tadi berbicara tanpa henti. Rozak yang kaget hanya bisa menerima suapan Nama.


“Berisik, ngeluh mulu. Ditolong kagak mau, sebel,” ucap Nama sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Nama dengan cekatan mengambil sesuap lagi nasinya dan menyodorkan pada Rozak.


Rozak menggelengkan kepalanya, “Masi penuh, Nam.”


“Hilih, masih penuh. Makan dikunyah, bukan diemut.” Nama menyodorkan kembali sendoknya ke mulut Rozak.


“Bentar.” Rozak mengangkat tangannya untuk meminta waktu mengunyah makanannya.


“Astaga lama, dikunyah Kang,” ucap Nama gemas sambil menyodorkan kembali sendoknya kearah mulut Rozak.


Rozak yang gemas melihat bibir Nama, langsung mendorong tangan Nama, dengan cepat Rozak mengecup bibir Nama. “Bawel.”


“Ih, bau ayam tau,” ucap Nama sambil mengusap bibirnya kesal, “makan sendiri, sana.”


“Eh, kok marah sih?” tanya Rozak sambil menarik Nama supaya makin dekat dengan dirinya.


“Abisnya, makan dulu. Hobi banget nyium-nyium sih. Rese bener deh,” ucap Nama sambil mengambil kembali sesendok nasi kemudian menyuapkan kemulut Rozak.


“Lah, emang nggak boleh?” tanya Rozak.

__ADS_1


“Kamu nyium aku sekali lagi, aku kasih tau Abah kamu,” ancam Nama sambil mengacungkan sendoknya.


“Jangan ih, kamu mah nggak asik ancemannya,” rutuk Rozak kesal sambil melepaskan pelukkannya.


“Eh, kok sekarang kamu yang ngambek?” tanya Nama kesal.


“Abis kamu maenannya laporan ke Abah, tau nggak Abah itu yah kalau udah ngambek. Beh, koran berhamburan dan sakitnya bukan main.”


“Kamu pernah kena?”


“Pernah lah, semua anak Abah pernah kena. Bahkan, Taca aja pernah kena itu,”’ucap Rozak.


“Kamu kenapa bisa kena?”


“Gara-gara ketahuan gerayangin Iis dikebon belakan...”


Plak..


Rozak merasakan pukulan dibahunya, “Dari dulu nafsuan yah, ampe Bu Lizbet aja digerayangi. Ketauan Pak Juan abis kamu, tuh.”


“Ih, dulu mah Iis belom kenal Juan kali. Masih pacaran sama aku...”


Plak...


“Awas kamu deketin lagi Iis, aku sunat dua kali,” ucap Nama sambil menekan pangkal sendok ke bagian pribadi Rozak.


“Yah, ngapain Nam, aku sekarang maunya gerayangin orang lain lah.”


“Gerayangin siapa, aduh bener yah muka kamu aja rohaniawan kelakuan roh halus bener-bener deh.” Nama benar-benar kesal bukan main dengan Rozak.


“Yah gerayangin kamu lah,” ucap Rozak sambil menaikkan sebelah alisnya dan menatap Nama.


“Hilih, bener-bener yah. Kamu kalau ketauan anak didik kamu hobi gerayangin aku gimana?” tanya nama.


“Udah ah makannya, capek nyuapinnya.”


“Idih, masih lapar ini.”


“Udah ah, makan mulu capek nyuapinnya tau.”


“Astaga, Nam kamu baru nyuapin aku lima kali doang.”


“Eh lima kali angkat sendok itu berat tau. Olah raga beban.”


“Lucu bener pacar aku, jadi sayang,” ucap Rozak sambil mencawil bibir Nama.


“Hilih, kalau lucu itu ketawa bukan sayang. Aneh lucu kok ketawa.” Nama menyuapkan kembali sendoknya.


Rozak hanya tertawa sambil menatap Nama, tangannya mengelus-ngelus paha Nama. “Bibir kamu lucu.”


Nama membulatkan matanya sambil menatap Rozak. “Otak kamu kenapa sih, mesum banget. Pikir-pikir Taca sama Riki nggak semesum kamu deh.”


Rozak menahan tawanya, “Taca sama Riki sama aja, apalagi Taca otaknya udah kekontaminasi sama suaminya. Mesumnya udah jangan ditanya, dimana-mana bisa ngelakuin dia mah. Kalau Aa Riki sama aja, tiap hari main kuda-kudaan sama istrinya. Lututnya sampai geter itu, Aa Riki.”


“Astaga, ada apa sama kelurga kamu ini. Jangan-jangan kamu sama lagi. Serem ah, nggak jadi aku sama kamu. Nanti, pas nikah malah aku nggak bisa kemana-mana, dikurung dikamar kan parah.” Nama berkata sambil menyuapkan kembali sesendok makanan kemulut Rozak.


Rozak menguyah dengan cepat, “Mohon, maaf nggak bisa.”


“Kenapa nggak bisa?” tanya Nama kesal, “aku mau nikah sama siapa aja hak aku.”


“Yah, nggak bisa.”


“Kenapa nggak bisa, udah ngaco ini.” Nama berdiri dari duduknya. Tapi, tangannya ditahan oleh Rozak.


“Nggak bisalah, wong kamu nikahnya nanti sama aku.”

__ADS_1


“Hilih, ngarep,” jawab Nama sambil menjulurkan lidahnya dan pergi meninggalkan Rozak.


“Nam... kamu kalau nggak nikah sama aku mau nikah sama siapa?” tanya Rozak kesal.


“Sama Adipati Dolken, artis love for sale yang hidungnya kaya perosotan taman kanak-kanak,” ucap Nama sambil menjulurkan lidahnya kesal.


“Mana bisa, heh sini kamu.”


“Nggak, nggak mau serem aku nikah sama cowo nafsuan,” canda Nama sambil berbalik dan tersenyum manis pada Rozak.


“Sini, Nyun...” ucap Rozak spontan.


“Idih, kok Nyun?” tanya Nama bingung. “Nama aku Nama, sejak kapan jadi Nyun.”


Rozak tertawa sambil berjalan kearah Nama, mendorongnya kearah meja diruangan itu. Ruangan khusu makan yang dibuat khusus Riki untuk menjami teman atau relasinya, Ruangan yang memberikan privasi disana.


Nama mundur sampai menabrak meja dibelakangnya.


“Naik,”pinta Rozak pada Nama.


“Naik kemana?” tanya Nama bingung.


“Naik kemejalah, aku nggak bisa angkat kamu. Tangan kanan aku patah, Nyun.”


“Hilih apa sih Nyun Nyun Nyun,” ucap Nama kesal sambil duduk di meja yang ada dibelakangnya.


“Lah, emang kamu Nyun.”


“Nyun Nyan Nyun Nyan, apan sih?” tanya Nama kesal sambil mengerucutkan bibirnya.


Rozak langsung tersenyum saat melihat bibir Nama yang mengerucut. “Nah, itu kaya gitu Nyun tuh.”


“Kaya gimana?” tanya Nama.


Rozak tersenyum sambil membuka kacamata Nama dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Nama. Rozak memiringkan kepalanya dan mendekatkan bibirnya dengan bibir Nama.


“Kamu, Nyun aku.”


“Apa sih?” tanya Nama dengan napas tertahan, wangi tubuh Rozak yang menggoda langsung menggelitik hidung Nama.


“Bibir kamu tuh manyun terus, bikin nafsu tau. Jadi mulai sekarang kamu aku panggil Nyun, oke Nyun.” Rozak mendekatkan bibirnya bermaksud untuk mencium Nama.


Nama hanya bisa menahan napasnya dan memejamkan matanya, Nama tau Rozak akan menciumnya dengan liar. Pikiran erotis langsung menggebrak dipikiran Nama.


“WADAUUUU...!?”


Nama langsung membuka matanya dan mendapati Rozak yang sudah menjauh dan sedang disambit oleh Abah.


“Kalakuan, sateh. Teu robah... nikah matak maneh teh,” teriak Abah sambil menyambit Rozak berkali-kali dengan korannya.


(Kelakuan kamu tuh, nggak robah... nikah makanya kamu tuh)


“Aduh, aduh, iya ini mau nikah mau,” ucap Rozak sambil melindungi dirinya dari sambitan maut Abah yang melagenda.


Nama hanya bisa tersenyum saat melihat Rozak yang dipukuli Abah. Sambil menutup mulutnya, sepertinya hidupnya akan lebih berwarna bila menikahi Rozak. Nama hanya berdoa didalam hatinya, berharap Rozak mau menerimanya dengan segudang kekurangannya.


•••


Holaaaaaaa


Bagaimana puasanya? Tetap asik? 🤣🤣


Ayolah dihoba tombol likenya, disebar bunga dan kopinya dan digetarkan vote-nya ❤️


XOXO GALLON

__ADS_1


__ADS_2