
Acara pernikahan seperti di kejar setan itu benar-benar tampak meriah. Bahkan, beberapa orang disana berkata kalau pernikah itu adalah pernikah terunik yang pernah di buat di Citeko. Gor Bultangkis benar-benar diubah menjadi tempat pernikahan.
Sepanjang acara Cicil terus tersenyum, suara musik dangdut dengan suara seorang biduan dengan cengkokan khasnya benar-benar membuat semua orang menari. Parahnya, mereka melihat Adipati yang menari dengan asiknya bersama Taca.
Tukang baso ditambah tukang siomay benar-benar melayani para tamu undangan yang ada. Entah kenapa, pernikahan ini berubah menjadi pesta rakyat, banyak orang-orang yang datang. Iya, ini pesta pernikahan tanpa undangan. Siapapun boleh datang, Cicil dan Riki tidak peduli.
Riki dan Cicil pun tidak berdiri di pelaminan, karena sejujurnya disana tidak ada pelaminan, adanya net untuk bermain bulutangkis. Jadi, Cicil dan Riki berjalan kesana dan kemari untuk menemui tamu undangan yang ada. Bahkan, sejujurnya Cicil tidak mengenal satupun orang-orang disana. Tidak, ada satupun yang Cicil kenal.
“Kamu kenal sama mereka?” tanya Cicil.
“Nggak ada yang aku kenal, Neng. Satupun, itu semua kenalan Abah, sama tetangga-tetangga di Citeko,” jawab Riki sambil tetap tersenyum.
“Terus kenapa diundang sama Abah?” tanya Cicil bingung, orang nggak kenal kok malah diundang coba.
“Namanya juga nikah, Neng. Satu kampung kalau bisa diundang malah,” ucap Riki.
“Aku mau duduk, capek beneran deh. Nggak mau lagi aku nikah dua kali kalau gini caranya,” ucap Cicil lagi.
Riki terkekeh mendengar perkataan Cicil, “Emang mau nikah sama siapa lagi kamu tuh, udah aku iket juga, mau kemana?”
“Hahahaa... nggak kemana-mana. Aku mau nikah sekali aja sama Aa,” jawab Cicil sambil menatap Riki.
Saat sedang asik mengobrol tiba-tiba Taca datang ke arah mereka. Dengan santainya, Taca memberikan sesuatu pada Riki dan Cicil.
“Apaan?” tanya Riki.
“Ini buat honeymoon, aku sewain kamar hotel di Bandung buat hari ini, besok kalian ke Yogyakarta buat honeymoon,” ucap Taca sambil menyerahkan amplop coklat.
“Kado dari aku sama Adipati, tadinya Adipati nyuruh honeymoon ke Belgia. Kata aku jangan, nggak ada nasi. Kasian Aa Riki bisa stress dia nggak dikasih nasi sehari,” canda Taca sambil tersenyum manis. Sebenarnya, Taca tau kalau dia memberikan hadiah pernikahan honeymoon keluar negri pasti akan di tolak oleh Riki dengan alasan apapun. Harga diri Riki itu setinggi tugu monas. Cuman Cicil yang bisa bikin harga diri Riki rada turun.
“Awww.... ke Yogyakarta? Aku belum pernah kesana sama sekali, makasih Ta,” pekik Cicil sambil memeluk Taca dengan erat.
Riki langsung mencari dimana adik iparnya berada, dari ekor matanya Riki melihat Adipati yang sedang bergoyang kopi dangdut dengan luwesnya. Bule mesum sinting itu benar-benar membuat Riki tertawa.
“Ta, kayanya kamu harus peganggin itu suami kamu, emak-emak kelebihan hormon yang menggunakan baju bermotif zebra udah mulai ngedeketin suami kamu itu,” ucap Riki sambil menunjuk Adipati yang sedang menari kopi dangdut dengan luesnya.
“Astaga, punya suami tampang paripurna susah yah. Pada nggak tau apa Adipati udah punya anak tiga sama istri?” ucap Taca sambil berjalan ke arah Adipati yang sedanng menari dengan luesnya.
Riki dan Cicil hanya tertawa sambil menatap kado dari Taca. “Jadi, mau ke Bandung sekarang?” tanya Cicil sambil mengambil kartu kamar hotel dari dalam amplop.
“Ninggalin ini?” tanya Riki sambil menunjuk ke orang-orang yang sedang asik menari dangdut.
“Mereka juga nggak akan peduli,” jawab Cicil sambil mengeluarkan kunci mobil avanza yang sudah menjadi miliknya karena dijadikan mahar untuk pernikahan tadi.
“Tapi, mereka?” tanya Riki sambil berjalan dibelakang Cicil yang sudah menarik tangannya.
__ADS_1
“Bodo amat, biarin aja. Aku nggak kenal juga.” Sikap cuek Cicil benar-benar membuat Riki hanya bisa menggeleng-gelenggkan kepalanya.
Rozak yang melihat Riki keluar dari Gor hanya bisa menatap Kakaknya tersebut dan berkata tanpa suara pada Riki “Kemana?”
“Bandung, jaga disini, yah,” jawab Riki tanpa suara sama sekali.
“Hah, ini gimana?” tanya Rozak tanpa suara hanya menggunakan gerakan tangan dan bibir.
Riki hanya bisa mengangkat kedua bahunya dan berjalan mengikuti Cicil yang terus menariknya keluar dari gor.
•••
“Neng, ini nggak papa kita tinggalin mereka?” tanya Riki sambil menyupir.
Saat ini Riki dan Cicil sudah ada dijalan menuju Bandung. Cicil dan Riki sudah mengganti bajunya, entah dengan cara apa Cicil sudah tampak cantik paripurna kembali tampa ada celah di dandanan rambut dan wajahnya. Sepertinya, Cicil benar-benar ditakdirkan lahir dengan kesempurnaan fisik.
“Nggak papa, nih,” Cicil menunjukkan layar handphonennya ke arah Riki. Disana tertulis kalau pesta berjalan baik-baik saja.
“Dari Taca?” tanya Riki yang langsung dijawab anggukkan oleh Cicil.
Cicil mengikat rambutnya menjadi ponytail yang tinggi, membuat leher jenjangnya tampak. Riki mengusap leher Cicil pelan.
“Nggak ada cita-cita di potong itu rambut, Neng?” tanya Riki lagi.
Cicil menatap Riki, dia benar-benar lupa kalau kekasihnya, eh maaf ralat suaminya ini tidak terlalu suka kalau rambutnya panjang, Riki adalah lelaki pecinta rambut pendek.
“Janji, yah. Kesel Aa liat rambut Neng, panjang gini,” ucap Riki.
“Kesel, banget yah?” tanya Cicil sambil membuka seatbell nya dan duduk menghadap Riki.
“Neng mau ngapain?” tanya Riki bingung. Mau apa istrinya ini.
“Aa tau nggak? Rambut panjang itu bisa kasih sensasi sendiri buat Aa loh,” ucap Cicil sambil mengusap paha kanan Riki pelan. Sentuha tangan Cicil spontan membuat Riki menggeretakkan giginya.
“Neng, loncat ini mobil kalau kamu elus-elus gitu.” Riki memperingatkan Cicil.
Cicil hanya terkekeh mendengar ucapan Riki. Sialnya suara Cicil entah bagaimana terdengar sexy di telinga Riki.
“Loncat yah?” bisik Cicil sambil menggigit kuping Riki pelan.
Daboom...
Hasrat Riki langsung melonjak ke titik tertingginya, celana milik Riki langsunh terasa sangat-sangat sesak. Miliknya benar-benar memberontak minta dikeluarkan dari tempatnya.
“Neng, beneran, yah. Aa bisa salah injek rem sama gas, ini mobil matic, Neng,” Riki memperingatkan.
__ADS_1
“Oh,” ucap Cicil sambil mengelus bagian pribadi Riki dengan gerakan memutar, membuat napas Riki tercekat, buku-buku tangan Riki langsung mencengkram ke stir mobil yang sedang Riki pegang.
“Neng....”
“Apa?” tanya Cicil sambil membuka resleting celana Riki dengan pelan sambil menatap Riki dari bawah. Riki membulatkan matanya saat melihat kebawah, Riki melihat pemandangan yang membuat nafsunya meledak. Bibir Cicil hanya berjarak satu sentimenter dari bagian pribadinya.
“Neng.” Suara parau Riki benar-benar membuat Cicil melakukan sebuah tindakan yang membuat Riki melambung.
Cicil dengan cepat membenamkan milik Riki kedalam mulutnya yang mungil. Dengan cepat Cicil menaikkan dan menurunkan kepalanya dengan Ritme yang membuat Riki menggila. Lidah Cicil memutari bagian kepala ‘milik’ Riki.
Riki berjuang untuk tetap fokus mengemudikan mobilnya disaat bagian pribadinya dimanjakan dengan sangat-sangat baik oleh Cicil dibawah sana. Berkali-kali desahan demi desahan meloncat keluar dari mulut Riki.
Cicil benar-benar tidak memberi ampun pada Riki. Buku-buku jari Riki menancap dengan sempurna di stir mobil, berusaha mengendalikan mobilnya. Sedangkan, tangan kirinya mengusap rambut Cicil, sesakali Riki menarik rambut Cicil saat Riki merasakan hisapan yang mampu membuat Riki melayang.
“Neng, astaga,” suara parau Riki membuat Cicil makin mendorong bagian pribadi Riki makin dalam. Sontak itu membuat Riki menegakkan tubuhnya sambil menarik rambut belakang Cicil.
Riki benar-benar sudah tidak bisa fokus menyupir, berkali-kali bus dan truk melewatinya sambil memberikan klakson panjang. Menandakan Riki yang mengemudikan mobil dengan tidak baik.
Ayolah, orang waras mana yang mampu mengemudikan mobil dengan baik saat, istrinya sedang memanjakkanya dengan ahli dibawah sana. Tanpa Riki sadari, pinggul Riki naik dan turun mengikuti ritme yang Cicil berikan.
“Neng....” Riki benar-benar sudah tidak bisa konsentrasi sama sekali. Dengan cepat Riki memarkirkan mobilnya ke bahu jalan.
Dengan cepat Riki menarik rambut Cicil, berharap Cicil melepaskan bagian pribadinya. Namun, Cicil bergeming, dengan cepat Cicil mengecupi bagian pribadi Riki seperti mendamba milik pribadi Riki, Riki benar-benar dibuat semaput oleh Cicil.
“Neng, kalau gini terus Aa bisa....”
Erangan panjang langsung terdengar dengan jelas dari bibir Riki, tanda dia sudah melakukan pelepasannya dengan sempurna. Dibenturkan dahi Riki ke stir mobil.
“Aa nggak papa?” tanya Cicil sambil menatap Riki dengan tatapan tampa dosa.
Riki yang masih mengatur napasnya dan mencoba menjernihkan pikirannya langsung menatap Cicil. “Nggak bisa nunggu sampai hotel, Neng?”
Cicil langsung menunjukkan gigi putihnya yang berderet, sambil menjawab dengan yakin.
“Nggak, aku nggak mau nunggu.”
•••
Udahlah... udah...
Sabar-sabar jadi Suaminya Cicil yang nafsunya sebesar gunung tangkuban perahu tuh, sabar-sabar hahahahaa....
Jangan lupa tombol likenya dipencet pake idung biar keren 🤣🤣🤣.
Nungguin apa sih pembaca ini? Nungguin apa? 🤣🤣🤣
__ADS_1
XOXO GALLON