
“Ed, kok bisa kebakaran?” tanya Cicil sambil mengenakan sabuk pengamannya.
“Nggak tau, Cil kayanya gara-gara beban stop kontak. Untung, Rozak lagi ke restoran mau bawa tas dia yang ketinggalan. Jadi, dia langsung semprot pake alat pemadam kebakaran.”
“Terus, kenapa bisa Rozak masuk rumah sakit?” tanya Cicil, kenapa pula adik iparnya itu bisa masuk rumah sakit.
Edy menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal, menembus kemacetan kota Jakarta di pagi hari, “Rozak ketimpa langit-langit yang kena bakar.”
“Rozaknya nggak papa?” tanya Cicil panik.
“Kayanya sih, nggak papa. Tapi, nggak tau juga.”
“Nggak tau gimana? Ed, kalau ngasih info tuh yang jelas dan lengkap gitu. Jangan setengah-setengah, bisa nggak?” tanya Cicil kesal.
“Abis, langit-langitnya tuh kaya ada merah-merahnya gitu,” ucap Edy.
“Merah-merah gimana?”
“Bara apinya, kayanya Rozak kena luka bakar. Karena kemejanya ampe kebakar gitu tapi, moga nggak papa lah. Rozak kuat deh, otot kawat tulang bes....”
“Bapaknya Laura dong,” kekeh Cicil.
“Ah, lo ngingetin gue lagi,” ucap Edy sambil menggaruk-garuk kepalanya bingung.
“Hahaha, sabar yah Ed. Kapan mau tandingnya dan dimana?”
“Tiga belas hari lagi, nggak tau dimana. Katanya sih dirumahnya, palingan dirumput-rumput gitu kali, yah,” tebak Edy.
“Nggak, Om Sabar punya sasana sendiri. Dia bahkan punya cage-nya gitu. Jadi, kalian bisa langsung tarung disana.” Cicil berkata sambil mencari handphonennya yang bergetar pelan.
“Iya, Aa gimana Rozak?” tanya Cicil saat mengangkat telepon dari suaminya itu.
“Rozak nggak papa, kamu udah dijalan?”
“Udah, ini aku mandi dirumah Mamih aja. Dari sana aku langsung kantor, nggak papa?”Cicil bertanya sambil melihat pantulan wajahnya di pantulan cermin.
“Iya, nggak papa. Ati-ati jangan lupa makan yah. Ah... Neng.”
“Iya, kenapa Aa.”
“Nanti malem Abah datang ke Jakarta, kamu temenin yah. Abah panik, pas tau Rozak ketimpa langit-langit.”
“Ah, iya. Aku pulang kantor sore aja kalau gitu.”
“Ya udah, dadah kesayangan.”
Cicil memutuskan sambungan teleponnya, senyumannya merekah saat melihat photo dirinya dengan Riki yang sedang saling berpelukkan.
“Rozak nggak papa, Ed. Sehat katanya....” Cicil menghentikan perkataannya sepertinya yang ada apa-apa saat ini adalah Edy.
“Kenapa kamu, Ed?” tanya Cicil bingung melihat wajah Edy yang pias.
“I...tu,” ucap Edy sambil menunjuk ke arah depan.
“Ap...” Cicil pun terdiam melihat apa yang ada didepan mereka. Tanpa Cicil sadari ternyata mereka sudah ada di pekarangan rumah Cicil. Saat Cicil melihat kedepan, dia sadar satu hal. Ada Om sabar bersama Laura disana sedang berbincang dengan Papihnya.
“Kenapa ada gatot kaca disana, Cil?” tanya Edy sambil menatap wajah Cicil dengan tatapan paling aneh yang pernah Cicil lihat.
“Nggak tau, paling ngobrol sama Papih. Turun, Ed,” ajak Cicil.
“Nggak mau, gimana kalau aku diperes kaya apel waktu itu,” bisik Edy ketakutan.
“Ya nggak lah, nggak mungkin diperes,” ucap Cicil sambil terkekeh.
“Terus diapain?”
“Palingan disetrum,” kekeh Cicil sambil membuka pintu mobil dan meloncat keluar.
“Astaga, emang Papihnya Laura suka nyetrum orang?” tanya Edy.
__ADS_1
“Bukan suka lagi, kebutuhan. Kalau nggak nyetrum orang sehari katanya bisa bikin gatel-gatel,” goda Cicil sambil menjulurkan lidahnya.
“Aduh, ibu hamil ini,yah. Serius dong, gue jiper ini. Nape mertua gue bentukkannya kaya gitu,sih.”
“Nasib, Ed. Bertahan dan kejar Laura. Om Sabar baik kok,” ucap Cicil sambil berjalan disamping Edy yang tampak berjuang untuk bernapas saking takutnya melihat calon mertuanya. “kalau ke aku sih baik, nggak tau kalau ke kamu, Ed.”
Edy langsung membalikkan badannya, berusaha untuk melarikan diri. Tapi, Cicil langsung mencegahnya.
“Mau, kemana kamu tuh,” tanya Cicil.
“Mau, pulang aja. Mending aku ngurus dapur restoran,” ucap Edy sambil berusaha menelan salivanya.
“Lo, jangan cemen gitu nape. Sini cepet,” paksa Cicil sambil menarik tangan Edy.
“Nggak mau, Cil. Jalan hidup gue berat banget ini, ijinkan aku bernapas.” pinta Edy sambil menatap Cicil.
“Ih, kamu tu...”
“Lele...” panggil Laura.
“Noh, Laura kesini sambil lari-lari. Mau diputus lo sama Laura kalau lo kabur sekarang?” tanya Cicil pada Edy, “Inget, kagak ada lagi cewe cantik, sexy dan bahenol kaya Laura yang mau sama kamu, Le.”
Edy langsung menatap Cicil dengan tatapan ‘benar-juga’.
“Nggak bakal adalagi yang bentukkannya kaya Laura mau sama kamu.” Cicil mencoba membakar semangat Edy. Sebenarnya, Edy nggak jelek-jelek amat.
Jujur, Edy manis dan lucu dengan pesonannya sendiri. Cicil yakin, dengan pesonannya yang unik Edy bisa mendapatkan yang lebih dari Laura. Cuman, masalahnya kalau Edy mundur, Cicil yakin Laura bakal nggak jelas hidupnya luntang lantung nggak karu-karuan.
Laura jenis wanita yang susah jatuh cinta namun, sekalinya jatuh cinta dia akan bucin sebucin bucinnya. Jadi, kalau putus kadang suka murung sendiri.
“Lele, kok ada disini ngapain?” tanya Laura sambil memeluk Edy dari belakang.
“Nganterin Cicil, Beb. Dapur restoran kebakaran...”
“Kebakaran?”
“Iya, kebakaran. Tapi, udah terkendali banget.”
“Nggak papa, aku nggak papa, Beb.”
Laura tiba-tiba memeluk Edy, Edy langsung membalas pelukkan Laura. Tapi, saat menikmati pelukkan Laura, matanya beradu dengan mata Sabar.
Andai tatapan mata Sabar bisa membunuh, Edy yakin detik ini dia sudah berjabat tangan dengan sang maha kuasa alias meninggal. Dengan cepat, Edy melepas pelukkannya dari Laura.
“Kenapa, Le? Aku bau?” tanya Laura bingung kenapa Edy melepaskan pelukkannya dengan cepat. Biasanya Edy akan menepuk-nepuk dulu belakang pinggulnya sebelum melepaskan pelukkannya.
“Hah?” tanya Edy yang masih was-was dengan tatapan mematikan Sabar.
“Aku bau, sampe kamu nggak mau peluk aku?” tanya Laura sambil menciumi tubuhnya sendiri, rasa-rasanya dia sudah mandi dengan bersih tadi. “Aku bau banget yah?”
“Nggak Beb, kamu masih wangi strawberry kesukaan Aa, cuman itu satpam kamu seremin,” jawab Edy sambil menatap ke kakinya.
“Siapa?” tanya Laura bingung.
“Bapak lo, lo kagak liat noh. Bapak lo lagi angkata-angkat barbel. Udah mirip Ade Rai aja.” Cicil menunjuk Sabar dengan memajukan bibirnya kesal.
Laura langsung berbalik dan mendapati Papihnya menatap Edy sambil mengangkat barbelnya. “Hadeuh... udah biarin aja Papih tuh.”
“Gimana cara dibiarinnya, gimana kalau barbelnya melayang?” tanya Edy pada Laura.
“Ya, nggak mungkin lah. Udah jangan mikir aneh-aneh,” ucap Laura.
“Kenapa kamu kesini?” tanya Jeff pada Cicil yang berjalan kearahnya dengan mengenakan celana pendek dan kaus oversize. “Dari mana kamu, baju kamu kok kaya gitu?”
“Maaf, Pih. Tempat Riki dapurnya kebakaran, kebakaran biasa udah beres. Cuman, Riki nggak mau aku ada apa-apa jadi dia minta aku ke tempat Papih dianterin Edy. Riki lagi liat adiknya Rozak yang ketimpa langit-langit atap.”
“Rozaknya gimana?” tanya Jeff.
“Nggak papa tadi kata Riki, aku masuk yah, Pih. Aku mau mandi, mau kekantor juga.”
__ADS_1
“Iya, ajaklah Laura sekalian. Katanya kamu tadi mau ketemu sama Tante Rea, sanah masuk.” ucap Jeff sambil masuk kedalam “Sabar, saya bawa dulu piringan hitamnya.”
“Le, aku ketemu sama Tante Rea dulu yah. Kamu disini aja sama Papih. Bentar doang kok,” ucap Laura sambil mengecup pipi Edy dan berlalu meninggalkan Edy dan Sabar berdua.
“Beb, Beb...” panggil Edy ketakutan, Edy berharap Laura menemaninya disana. Jantung Edy berdetak kencang, saking kencangnya Edy yakin Sabar mendengar detak jantungnya.
“Duduk,” peritah Sabar pada Edy.
“Iya, Om,” jawab Edy pelan sambil duduk disebelah Sabar.
“Kamu udah ngapain aja sama anak saya?” tanya Sabar tiba-tiba.
“Itu... itu...” Edy tidak mungkin menjawab kalau dirinya sudah menyentuh hampir setiap jengkal tubuh Laura.
“JAWAB!?”
“Jawab, Om jawab,” ucap Edy kaget sambil menutup kedua matanya ketakutan, bibirnya maju mundur tak karu-karuan. Semua, doa dia panjatkan kepada tuhan yang maha esa, demi kebaikkan hidupnya.
“Lagi ngapain kamu?” tanya Sabar.
“Lagi doa Om,” jawab Edy ketakutan.
“Doa apaan?”
‘Ayat kursi’ jawab Edy didalam hati. Edy tidak bisa mengatakannya rasa takut benar-benar mencengkram dirinya.
“Doa apa?” tanya Sabar.
“Doa mau makan, Om,” ucap Edy sambil mengambil sebungkus kwaci dan membukanya, kemudian memakan kwacinya tanpa dikupas terlebih dahulu.
“Bagus, beriman kamu.” Sabar memukul-mukul bahu Edy sampai Edy tertunduk, sakitnya bukan main dipukul oleh Sabar.
“Iya, Om.”
“Tapi, kenapa anak saya nyium pipi kamu, heh?” tanya Sabar sambil membulatkan matanya pada Edy.
“Itu... itu...” keringat dingin langsung mengalir deras dari setiap pori-pori tubuhnya. Bibir Edy langsung mulai bergerak-gerak tak tentu arah.
Cup...
Edy merasakan kecupan singkat di pipinya. Wajahnya seketika pias, dengan ketakutan Edy melirik Subur yang sudah mencium pipinya.
“Pih.. pih...” Subur mengusap bibirnya bermaksud membersihkan bibirnya.
“Om, kenapa cium pipi saya?” tanya Edy pasrah, rasa takut dan kaget benar-benar membuat Edy berkata sepelan mungkin. Buat apa mertuanya ini mencium pipinya, apa jangan-jangan mertuanya ini menyukai dirinya, makanya dia tidak mengijinkan Laura berpacaran dengannya.
Hih... Edy langsung mengidikkan badannya ketakutan. Membayangkan dirinya berpelukkan dengan Sabar, membuat badannya meremang.
“Karena.” Sabar menunjuk Edy dengan telunjuknya, “apa yang kamu lakukan pada anak saya, itulah saya lakukan pada kamu.”
“Maksudnya?”
“Kalau kamu peluk anak saya, saya peluk kamu. Kalau kamu cium bibir anak saya, saya cium bibir kamu. Kalau kamu sentuh dada anak saya, saya sentuh juga dada kamu..!?”
Edy langsung menelan salivanya dengan bersusan payah. “Cium sa...”
“Iya, kamu udah cium anak saya?”
“Belum, Om..!? Ih saya mah pacaran baik-baik, megang juga nggak pernah. Bukan muhrim,” ucap Edy sambil menggoyangkan tangannya memberikan tanda tidak pada Sabar.
“Bagus, pertahankan..!?”
•••
Om Sabar, sebenernya Edy itu udah pernah Ciu.... *Kaka Gallon auto dikeplak dispenser Edy.
Hahahahhaa...
Jangan lupa tombol Likeny dicium, menerima point berupa bunga dan kopi. Iyah, bunga atau kopi boleh lah untuk menyemangati hariku yang sendu ❤️❤️❤️
__ADS_1
XOXO GALLON