
“Lele, ini gimana?” tanya Laura bingung sambil memencet-mencet tombol kamera yang ada.
Edy mendekati Laura yang dari tadi kebingungan mengoprasikan kamera di tangannya. Entah sejak kapan, Laura tiba-tiba saja ikut dalam mengurusi channel youtube milik Edy. Tapi, subcribe Edy naik drastis setelah wajah Laura wara wiri di chanelnya.
Tentu saja dengan bangganya Edy mengatakan kalau Laura ada kekasihnya dan hampir semua fansnya mempertanyakan kewarasan Laura. Kenapa dia mau berpacaran dengan siluman lele.
“Mana, bebz?” tanya Edy.
“Ini gimana?” Laura menyodorkan kamera kecil milik Edy sambil mengerucutkan bibirnya kesal. “dari tadi aku utak atik susah banget, ngeselin.”
Edy mengambil kameranya dan mengutak ngatinya sedikit. Dengan cepat kamera itu kembali normal. “Ini bisa, kamu mah nggak sabarah, ih.”
“Ih, kameranya aja yang oon.” Laura menyilangkan kedua tangannya.
Edy hanya bisa tersenyum melihat kelakuan kekasihnya ini. Ekor matanya tiba-tiba melihat taxi memasuki perataran parkir restoran. Tak berapa lama dia melihat Riki dan Cicil turun.
“Nah, mereka udah dateng.”
“Kenapa, mereka nggak bareng kita aja sih pulangnya,Le?” tanya Laura bingung.
“Nggak tau, bantuin yu,” ucap Edy sambil menarik lengan Laura untuk mendekati Cicil dan Riki.
Cicil langsung memeluk Laura saat melihat sahabatnya berdiri disampingnya. “Ah, maaf yah. Harusnya, aku ikut kamu aja kemaren. Jadi, bisa pulang bareng.”
“Idih, udah aku kasih tau juga. Kamunya tetep aja pingin di Yogyakarta, mau jadi orang keraton?” canda Laura sambil memeluk kembali Cicil. Ah... dia kangen sahabatnya ini.
“Hahaha... mau jadi princess gue,” kekeh Cicil sambil menarik kopernya, namun tangannya tertahan.
“Sama Aa aja, kamu masuk dulu. Udah ada semuanya didalem.” Riki mengecup kening Cicil dan mengambil koper dari tangannya.
Muka Cicil memerah, entah kenapa semenjak menikah, Riki sangat suka menciumnya diseluruh wajahnya. Waktu, pacaran boro-boro Riki mau mengecupnya, hanya saat tidur saja, Riki rela dijadikan alas tidur Cicil.
“Hadeuh, pengantin baru. Ayo, masuk. Ada Juan sama Adipati juga didalem,” ucap Laura.
Mendengar nama Juan Riki langsung terdiam, gerakannya seperti membeku. Mantan pacar Cicil ini benar-benar membuat Riki menjadi kecil. Tampan dan kaya, perpaduan mematikan bagi siapapun didunia ini. Walaupun Riki tau Juan sangat mencintai istrinya. Tapi, terkadang Juan merasa kerdil dan kecil bila harus dibandingkan dengan Juan.
“Aa... kenapa?” tanya Cicil yang sadar dengan perubahan wajah Riki.
“Hah?” Riki menatap Cicil, rasanya tidak mungkin dia berkata kalau dia sedikit cemburu dengan Juan. “Nggak papa, ini berat.”
“Ya udah, sini berdua.” Cicil menarik pegangan tas di tangan Riki.
“Nggak usah, Neng. Keatas sana, sama...”
Cicil menegerjapkan kedua matanya menatap Riki, menunggu kalimat lengkap Riki. “Apa?”
“Sama...”
Cicil menatap raut wajah Riki dengan seksama, otaknya langsung belerja cepat. Prilaku Riki berubah semenjak mendengarkan perkataan Laura yang mengatakan kalau Juan ada disana. Cicill langsung tersenyum dan mendekatkan bibirnya di kuping Riki.
“Aku nggak bakal deket-deket sama Juan kok. Aku sukanya sama suami aku, yang sabarnya nggak ada obat. Kenal nggak?” canda Cicil sambil mengedipkan sebelah matanya.
Riki menahan tawanya, “Yang ganteng? Yang kamu bikin lututnya getar?”
“Iya, yang aku bikin lututnya getar ampe sempoyongan, kenal?” bisik Cicil lagi.
“Kenal, kalau ketemu mau nitip pesan apa?” tanya Riki pada Cicil.
__ADS_1
Cicil tersenyum sambil mengigit bagian bawah bibirnya pelan, matanya mengerling nakal. “Bilang, siap-siap aku bikin geter lagi itu lutut.”
Riki mengusap dahinya sambil tertawa, istrinya ini benar-benar memiliki nafsu sebesar gunung tangkuban perahu. “Kata suaminya, dia siap kok. Kapan aja dimana aja.”
“Good..! Bilang siap-siap kedia. Aku masuk dulu dan bilang ke suami aku. Nggak usah cemburu sama Juan. Nggak guna,” ucap Cicil sambil menarik kuping Riki manja.
Riki hanya bisa tersenyum sambil mengangkat tas didepannya. Matanya bertabrakkan dengan mata Edy.
“Naon?” tanya Riki. (Apa?)
“Jadi hayang kawin, Mang.” jawab Edy sambil mengelus-ngelus kumis lele miliknya. (Jadi ingin nikah, Mang.)
“Matak, gancang dikawin si Laura, tong dipelong wae. Digiwing ucing, ceurik maneh.” Riki berkata sambil mengulum senyumnya. (Makanya, cepat di nikahin itu Laura, jangan di liatin aja. Nanti diambil kucing, nangis kamu)
“Entong atuh, Mang. Hese neangan nu jiga Laura. Geulis, bageur, beunghar...”
(Jangan dong, susah nyari yang kaya Laura. Cantik, baik, kaya...)
“Ngan bongan...” Rozak langsung memotong perkataan Edy. (Tapi, sayangnya...)
“Apa, Mang?” tanya Edy bingung, seingatnya Laura sangat sempurna, tidak ada satupun kekurangannya. Dia sempurna.
“Ngan bongan, bogohna ka maneh!?” Tawa Riki langsung meledak saat mengatakan kata-kata itu. (Tapi sayangnya, sukanya sama kamu!?)
“Hilih... kamu mah gitu ke saya teh,” ucap Edy sambil merangkul bahu Riki gemas.
•••
Saat masuk kedalam ruangan Riki langsunh disambut pelukkan Kama dan Kalila. Anak-anak Taca ini memang sangat lengket dengan dirinya dan Rozak.
“Wa Riki, bagus kan mobil Kama?” tanya Kama sambil menunjukkan mainan mobil-mobilan yang Riki yakinin harganya sama seperti UMR kota Bandung.
“Bagus sayang, kangan sama Wa Riki?” tanya Riki sambil memeluk kedua anak Taca dengan erat.
Cicil yang ada disebelah Riki hanya bisa tersenyum melihat, betapa sayangnya anak-anak Taca pada Riki.
Badan Cicil tiba-tiba terasa hangat saat ada seseorang yang memeluknya dari belakang. “Eh...”
“Cicil kangen,” ucap Iis.
“Iis aku juga kangen,” ucap Cicil sambil membalas pelukkan Iis.
Iis langsung menarik Cicil kearah Juan dan Taca. “Kamu nggak papa? Kamu sehat kan?” tanya Iis, Iis sebenarnya ingin menanyakan semuanya. Tapi, Iis tidak tega.
Cicil yang mengerti langsung menepuk bagian punggung tangan Iis pelan. “Semua baik-baik aja. Terima kasih aku punya suami yang baik dan sabarnya nggak ada obat.”
“Kakak siapa dulu, dong?” ucap Taca yang sudah ada disebelah Cicil.
“Kakak kamu, Ta. Sabar banget sumpah, aku ampe nggak tau dia terbuat dari apa,” ucap Cicil sambil tersenyum ke arah Riki yang sedang berbincang dengan Rozak dan Nama.
“Aa Riki emang yang paling sabar. Dia paling enak di ajak ngobrol masalah apapun. Pokoknya kalau soal kesabaran dia paling hebat,” ucap Taca sambil tersenyum pada Cicil.
Cicil hanya diam dan menatap suaminya yang sedang tersenyum manis pada dirinya.
“Hadeuh, ngontrak semua udah ini,” Juan tiba-tina berkata sambil menatap Cicil.
“Idih, sirik,” ucap Cicil kesal. Cicil yang sudah mengenal luar dalam Juan, tau Juan paling tidak suka melihat ke uwuan pasangan lain.
__ADS_1
“Bodo,” ucap Juan sambil mendorong badan Cicil pelan.
“Sakit ih, rese. Kebiasaan deh,” ucap Cicil kesal sambil memukul bahu Juan geram.
Juan tiba-tiba akan menarik rambut Cicil karena kesal. Kebiasaan kecil yang dulu selalu mereka lakukan. Tapi, sayangnya Juan lupa kalau kali ini rambut Cicil pendek, hingga membuat dirinya lebih dekat dengan wajah Cicil.
“Kamu tuh ngapain, hah?” ucap Iis sambil menarik kuping Juan kesal. Kadang suaminya ini suka lupa kalau dia dan Cicil sudah tidak ada hubungan apapun.
“Aduh... aduh... maaf-maaf lupa, lupa rambut dia pendek. Dulu pan....”
Tarikkan di kuping Juan makin keras, Iis benar-benar kesal dengan Juan. Kadang kelakuan kekanak-kanakkan suaminya ini membuat Iis geram.
“Maaf yah, Cil. Mas Juan kadang kaya gini, maaf yah,” ucap Iis sambil membulatkan matanya sambil melepaskan jewerannya di kuping Juan.
“Hahahhaa... nggak papa, aku udah angep dia Kakak sendiri kok. Nggak aku ambil hati, kelakuan semprul dia udah mendarah daging, susah ilang,” jawab Cicil sambil tertawa pelan, asik rasanya melihat Juan yang di murkai oleh Istrinya sendiri. Dulu, mana bisa dia menjewer kuping Juan, senyum aja jarang.
“Tuh kan, kata Cicil juga aku udah diangap Kakak,” ucap Juan.
“Kakak ketemu gede?” tanya Iis kesal, “tidur diluar kamu ah.”
“Idih, bibir kalau ngomong yah, kalau aku tidur di luar, kamu juga tidur diluar.”
“Ih, kok aku jadi tidur diluar juga?” tanya Iis bingung.
“Ya iyalah, mana bisa tidur aku kalau nggak ada kamu. Pokoknya, kamu tidur diluar juga, titik.” ucap Juan sambil menjawil hidung Iis.
Iis hanya bisa tersenyum kecil pada Juan. Susah membuat dirinya berlama-lama marah dengan suaminya ini. “Ya udah, hari ini kita kemah-kemahan sama Liz dan Khalid juga. Bernard kan pulang ke pesantren nanti sore.”
“Bagus, nanti aku yang pasang tendanya yah,” ucap Juan.
“Iya terserah, Mas aja.” Iis pasrah.
Cicil dan Taca hanya bisa menggelengkan kepalanya, susah memang kalau melihat pasangan Wijaya ini. Manisnya kebangetan.
“Cil...”
“Iya, Ta...” jawab Cicil pelan.
“Kamu bener-bener nggak papa, kan?” tanya Taca lagi, Taca benar-benar ingin meyakinkan dirinya kalau Cicil baik-baik saja.
Cicil tersenyum pada Taca. Seandainya Taca bertanya tadi, saat wanita-wanita sinting yang membicarakan tentang dirinya di kamar mandi, mungkin Cicil akan bilang kalau dirinya tidak baik-baik saja dan menangis meraung-raung. Tapi, sekarang setelah diberikan kepastian yang sangat-sangat jelas dari Riki. Cicil akan menjawab dengan santai dan jelas.
“Aku baik-baik aja, Taca.”
•••
Maaf lama banget updatenya. Puasa bener-bener deh gangguannya banyak banget.
Maaf yah... aku langsung nulis bab selanjutnya ini...
Maaf kalau banyak typo, ini nulisnya dengan kecepatan cahaya... 🙈🙈
Pokoknya terima kasih hari ini yang sudah memberikan Kopi untuk diriku 😘😘😘.
Kaka Gallon sayang kalian ❤️
Xoxo Gallon.
__ADS_1