Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Mencoba ...


__ADS_3

“Kamu mau ikutin usul, Juan?” tanya Rozak pada Nama yang sedang mengantri di RS. Saat ini adalah jadwal Rozak melepaskan gips ditangannya.


Nama yang sedang menatap nomer antrian langsung mengalihkan pandangannya ke arah Rozak. “Idenya kayanya bagus dan tempatnya juga pasti nggak semahal kalau di hotel bintang lima. Lokasinya juga masih di daerah Bandung. Aku sih yes.”


“Tapi, bukannya jatohnya lebih mahal dekornya?” tanya Rozak.


Nama tersenyum, “Iya sih, tapi kalau hitung ulang itu sesuai budget kita. Tadi, kamu nolakkan bantuan Adipati dan Cicil. Kalau diitung-itung itu sesuai budget kita, nanti aku pangkas dari baju pengantin deh. Aku pake baju ibu aku aja,” jawahb Nama. “Buat periasnya aku nanti minta tolong temen aku aja.”


Rozak terdiam sambil menatap Nama, “Nggak jangan, masa yang nikahnya mukanya nggak cantik. Walaupun kamu nggak make up-an juga cantik. Tapi, kan aku maunya sempurna buat kamu.”


“Kata siapa nggak sempurna, Kang?” tanya Nama sambil tersenyum manis dan membenarkan letak kaca matanya. “Nikah sama Akang itu udah lebih dari sempurna.”


Rozak langsung merengkuh tubuh Nama dan memeluknya pelan, mengecup pucuk kepala Nama dengan lama. Mengesap wanginya aroma tubuh Nama yang sangat Rozak sukai. “Gak usah dipotong. Aa bakal cari tambahannya, pokoknya jangan dipotong.”


“Tapi,” ucap Nama.


“Nggak usah, biarin aja. Ikutin yang ada dan kata Akang. Jangan ikutin omongan Juan. Kita nggak mungkin nikah di Maribaya.” ucap Rozak.


“Kenapa kan lucu,” ucap Nama.


“Ribet, Maribaya tempat orang kemping, bukan orang nikah. Yang ada kita nikah di samping ada yang pajang api ungun. Yang ada bukanya nikah, malah bakar kambing guling,” kekeh Rozak.


“Hahaha, terus si Edy joget-joget di depan api ungun. Ah, udah nggak bener itu nikahannya. Terus gimana kalau hujan?” tanya Nama lagi.


“Nah, kalau ujan gimana? Mau kabur kemana, mana bolokot ku taneuh, ah rungsing,” ucap Rozak yang tiba-tiba keluar bahasa ibunya.


“Hah?”


“Hahaha, maksudnya kalau hujan bisa-bisa tanah semua itu kakinya. Yang ada pusing, ribut. Maunya, happy-happy eh malah bikin rusuh.” Rozak berkata sambil mengusap keningnya.


“Iya juga, ya udah nanti aku pikirin lagi, deh. Tapi, ide Juan itu suka nggak kepikiran yah.”


“Jangan tanya, dulu nikah ama Iis aja nikah di air terjun. Pas tunangan Iis di bawa buat skydiving. Udah nggak waras si Juan itu.” Rozak berkata sambil mengusap-ngusap pipi Nama.


“Kamu nggak ada gitu cita-cita ngajak aku nikah ala-ala?” tanya Nama penuh harap sambil menatap Rozak.


Rozak terdiam sambil menatap Nama, “Kamu mau?”


“Maulah, bikin yang romantis gitu.” ucap Nama sambil menatap jari jemarinya yang masih kosong tanpa ada satupun cincin yang bertengger di sana.


“Ya udah, tungguin yah. Nanti, Aa bawa kamu ke atas gunung himalaya terus aku bilang aku lamar kamu. Tapi ....”

__ADS_1


“Tapi, apa?” tanya Nama penasaran.


“Nunggu empat tahun lagi, mau?” tanya Rozak sambil menahan tawanya.


“Astaga, nggak mau kelamaan. Nggak sanggup aku, aku keburu jadi perawan tua,” rutuk Nama sambil menjulurkan lidahnya.


“Ya udah jadi gimana?”


“Gini ajalah, aku maunya kamu aja pokoknya,” ucap Nama sambil menatap manik mata Rozak.


“Syukurlah, nggak banyak keinginan calon istriku ini,” ucap Rozak sambil mengusap-usap punggung Nama pelan.


“Rozak Trina,” panggil salah satu suster.


Rozak dan Nama langsung berdiri dan berjalan mengikuti suster yang memanggil Rozak untuk di buka gipsnya.


•••


“Besok Akang jemput lagi, yah,” ucap Rozak saat sampai di depan rumah Nama.


“Nggak mau masuk?” tanya Nama.


“Nggak tau juga, mau sih. Tapi, kayanya kemaleman,” ucap Rozak.


Rozak akhirnya, ikut keluar dari mobil dan mengikuti Nama ke dalam rumah. Rozak masuk sambil melihat keseliling rumah, Rozak bingung tidak ada orang di sana.


“Pada kemana?” tanya Rozak sambil duduk di kursi. Melihat Nama yang masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa secangkir gelas minuman dingin.


“Kayanya Ibu lagi pergi, kalau Ira lagi ngayap. Dia di kasih waktu sampai jam delapan malam buat sampai rumah. Ini masih jam tujuh. Pasti ngayap itu anak,” terang Nama sambil mengikat rambutnya tinggi-tinggi, menunjukkan lehernya yang jengjang dan mulus tanpa celah.


“Kang, ini mau nikah di mana?” tanya Nama pada Rozak.


Rozak yang terlalu fokus pada leher Nama hanya bisa bedehem pelan. “Nikah di mana? Nggak tau, Nyun. Gimana kamu aja,” ucap Rozak yang saat ini lebih fokus pada leher Nama.


“Kalau kita nikah di Hotel, kita masih kurang uang lima puluh juta. Kalau nikah di Hutan kurangnya tiga puluh juta.” Nama mulai berhitung dengan cepat dan mencorat-coret sesuatu dibuku miliknya.


Rozak sama sekali tidak peduli dengan perhitungan yang sedang dilakukan oleh Nama, di otaknya saat ini hanya ada fantasi erotis mengenai leher Nama yang membuat hasratnya meronta.


Tanpa Rozak sadari tangannya refleks menelusup ke leher jenjang milik Nama, menggelitik setiap inci kulit yang dilewati tangannya.


Nama yang sedang menulis langsung terdiam saat merasakan usapan lembut di tengkuknya. Usapan Rozak membuat tubuhnya meremang. Tanpa Nama sadari, Nama menggigit bagian bawah bibirnya untuk menahan hasratnya.

__ADS_1


“Kang,” desah Nama sambil menolehkan kepalanya, menatap manik mata Rozak yang sudah menatapnya dengan tatapan penuh hasrat. Rozak menginginkan Nama begitu juga sebaliknya.


Dengan cepat Nama mendekatkan wajahnya ke wajah Rozak, saat hanya tinggal beberapa inci lagi bibir mereka bertemu Nama berkata, “Kang, kalau aku cium Akang sekarang. Aku yakin, Akang bakal kelepasan. Akang sangup?”


Rozak menelan salivanya, apa yang dikatakan Nama benar. Hasrat Rozak hampir meledak, Rozak terdiam, entah setan dari mana yang merasuki Rozak, mulutnya tiba-tiba berkata. “Percaya sama Akang, Nyun.”


Rozak pun mengaitkan bibirnya dengan Nama, mengecup bibir manis dan ranum milik Nama. Bibir yang selalu Rozak bayangkan menelusuri tiap inci tubuhnya.


Lidah Nama dan Rozak membelit sempurna, tangan Rozak dengan cepat menarik blouse milik Kekasihnya, melepaskan kaitan-kaitan kancingnya dengan kasar. Tangannya yang dingin langsung menelesup ke balik penutup dada milik Nama.


Nama spontan mengalungkan tangannya keleher Rozak, dengan lincah Nama langsung duduk di pangkuan Rozak. Rok miliknya langsung tersingkap sampai paha, menunjukkan paha mulusnya.


Desahan demi desahan terdengar dengan jelas di telinga Rozak membakar hasrat miliknya, membuat semua gerakkan Rozak menjadi liar. Dengan cepat Rozak menelusupkan kepalanya ke ceruk leher Nama, mengesapnya dan menggelitik leher Nama dengan hidungnya, memberikan sensasi yang membuat tubuh kekasihnya itu menggeliat.


Tanpa Nama sadari pinggulnya bergerak menggesek sesuatu yang tampak keras di balik celana berbahan tipis milik Rozak. Setiap Nama menggeseknya, Rozak mengerang seperti menahan sesuatu, Nama yang sama-sama sudah terbakar nafsu, terus menggerakkan pinggulnya. Menggesek benda keras dibalik celana Rozak dengan sesuatu bagian tubuhnya yang sudah mulai basah.


Gesekkan makin liar, rasa geli yang Nama rasakan berubah menjadi rasa nikmat yang membuat tubuhnya hampir meledak karena terus didera rasa nikmat. Rozak terus menerus mengerang dan saat paha Nama menegang karena merasakan pelepasannya, detik itu juga Rozak mencengkram salah satu bukit kembar milik Nama dengan keras dan menyemburkan sesuatu yang membuat celana miliknya basah.


“Nyun,” panggil Rozak sambil mengesap bibir bawah Nama.


“Apa?” Nama berkata dengan napas terengah-engah. Kenikmatan yang baru saja Nama rasakan, membuat dirinya belum mampu menstabilkan intonasi suaranya.


“Nyun, kamu itu nagih,” ucap Rozak sambil mengecup bibir Nama pelan.


“Hah?”


“Iya, nyicip kamu itu bikin aku ketagihan dan ingin lebih. Sayang,” ucap Rozak sambil membenamkan wajahnya kebagian dada Nama.


“Kamu bisa nyicip aku sampai kamu muak, Kang,” ucap Nama.


“Kapan?” tanya Rozak.


“Nanti kalau penghulu, bilang sah,” ucap Nama sambil mengecup bibir Rozak pelan.


“Badan kamu nggak bakal pernah bikin aku muak, Nyun.”


••••


Khilap kan aku. Astaga, kalian yang di GC membuat diriku khilap 😭😭. Hampir, saja semuanya terjadi, oh ... oh ... hahaha ...


Terima kasih atas bunga dan kopinya, vote juga koinnya. Sangat-sangat Gallon harapkan. Btw terima kasih like dan komennya bikin aku semangat menulis 💪🏼💪🏼💪🏼.

__ADS_1


Dampingi terus dengan ketat, seketat celana Rozak, pasangan Rozak dan Nama sampai menuju pelaminan. Hohohoho...


XOXO GALLON


__ADS_2