
“Aa geser,” pinta Cicil, detik itu Riki langsung menggeserkan badannya ke arah ujung kasur.
“Geser, kurang Aa,” pinta Cicil sambil menempelkan tubuhnya ketubuh Riki.
Riki yang sudah mengantuk akhirnya menggeserkan tubuhnya makin keujung kasur. Tangannya langsung memeluk Cicil, kepalanya dengan cepat menelusup diantara rambut belakang Cicil.
“Aa, geser.”
“Neng, Aa udah sempit ini,” ucap Riki pelan.
“Geser, panas.” Cicil berkata sambil memundurkan sikutnya ke belakang. Riki yang terkena sikut Cicil mau tak mau memundurkan badannya. Namun....
Gubrak.... Meong...
Riki terjatuh dari kasur dan menimpa Geulis, kucing kecil milik Cicil.
“Aa...” teriak Cicil kaget, Cicil menatap Riki yang sudah terjatuh dan dijilati wajahnya oleh Geulis.
“Geulis, aduh udah jangan dijilatin ini muka aku, udah sana. Aduh, kucing ama yang punya sama, suka banget nyiumin muka,A... Astaga...!?” Riki langsung berteriak keras saat tubuhnya ditimpa tubuh Cicil tiba-tiba.
“Sesakk... sesak...” ucap Riki sambil menyentuh dadanya. “Neng, jangan kaya gini kasian, bayi kamu,” ucap Riki sambil meremas bagian belakang pinggul Cicil geram.
“Hahahhaa... maaf, maaf. Abisnya aku kesel ama Geulis, apa coba dia berani-beraninya nyiumin kamu. Muka...” Cicil menggerakkan jari telunjuknya melingkari wajah Riki. “sama badan kamu itu punya aku, cuman aku yang boleh nyium kamu, kaya gini.”
Cicil langsung menciumi setiap jengkal wajah Riki tanpa ampun. Riki hanya bisa tertawa melihat tingkah laku istrinya ini. Baru, tadi istrinya menangis meraung-raung, sekarang Cicil sudah tampak sangat-sangat bahagia.
“Udah, udah... Neng, masa cemburu ama kucing, itu si Geulis juga udah kabur tuh kekandangnya,” ucap Riki sambil menunjuk Geulis yang sudah tidur di ranjang miliknya dengan tenang.
“Geulis, awas kamu kalau pegang-pegang suami aku, aku tumis kam... Aw....” Cicil mengusap bagian belakang pinggungnya dengan cepat, cubitan Riki benar-benar sakit.
“Jangan bikin perkara, masa kamu mau numis kucing. Nggak ada yah, ngidam makan daging tumis kucing,” ucap Riki.
“Hahahaa... emang siapa yang suka makan tumis kucing?” ucap Cicil sambil merebahkan kepalanya didada Riki dengan nyaman.
“Nggak ada dan aku nggak bakal izinin kamu ngidam aneh kaya gitu. Kamu ngidam yang normal-normal aja, bisa nggak?” tanya Riki sambil mengusap-usap punggung Cicil.
“Ngidam aku cuman keju, sama aku susah tidur,” ucap Cicil sambil menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Riki.
“Susah tidur?” tanya Riki, memang akhir-akhir ini Cicil sangat sulit untuk tidur, dia hanya bisa tidur nyenyak kalau tidur diatas tubuh Riki seperti sekarang ini.
“Iya, aku tuh kalau siang ngantuk banget. Tapi, nggak bisa tidur, saking keselnya aku suka marah-marah sama Tisa,” ucap Cicil sambil menggesek-gesekkan wajahnya di leher Riki.
“Nggak baik, Neng. Nggak baik marah-marah gitu sama Tisa, kasian dia. Gimana kalau dia resign?” Riki mengingatkan Cicil untuk berprilaku lebih baik lagi.
“Hmm... tinggal suruh HRD cari penghanti,” jawab Cicil santai.
“Neng, cari pengganti gampang. Tapi, yang bisa dipercaya susah, kali-kali kasih liburan buat Tisa itu,” ucap Riki sambil menepuk-nepuk pelan punggung Cicil, berusaha untuk menina bobokan Cicil.
“Iya, nanti Neng, kasih liburan sama uang bonus buat Tisa,” ucap Cicil.
__ADS_1
“Kamu tuh, jangan suka marah-marah sama orang nggak baik. Orang juga kan punya perasaan, nggak boleh kaya gitu lagi, Yah...”
Hening, Cicil sama sekali tidak membalas perkataan, Riki. Hanya, terdengar dengkuran halus di kuping Riki. Cicil tidur, dia tidur dengan manisnya, di dada Riki.
Riki hanya bisa menatap langit-langit sambil tersenyum. Sepertinya, malam ini dia harus pasrah ditimpa semalaman oleh istrinya.
“Selamat tidur, kesayangan, Aa,” ucap Riki sambil mengecup pucuk rambut Cicil pelan.
•••
Cicil bulak balik berjalan dihadapan Riki, sesekali dia menggigiti kukunya dengan gemas. Detik ini mereka berada di kantor polisi, Cicil dan Riki harus menemui Albert untuk meminta sejumput rambut atau kuku milik Albert.
“Neng, duduk sini,” pinta Riki sambil menepuk bantalan kursi disampingnya.
“Aa, gimana kalau Albert nolak buat kasih rambut atau kukunya?” tanya Cicil gelisah.
“Yah, tinggal Aa jambak rambutnya atau Aa patahin jarinya,” jawab Riki enteng.
“Aa, jangan bercanda, yah. Kalau kamu ngelakuin itu di kantor polisi, kamu bisa masuk bui.” Cicil memukul bahu Riki kesal.
“Paling seminggu doang, yang penting dapet rambut ama kukunya. Udah kita liat dulu, udah tenang ada Aa,” ucap Riki sambil menepuk paha Cicil pelan.
“Pak Riki dan Bu Cicil, Albert sudah menunggu,” ucap petugas rutan sambil membukakan pintu besi berwarna gelap disampingnya.
“Pak Riki, mohon maklum dengan keadaan Bapak Albert, yah.” Sipir itu berkata sambil terus berjalan menunjukkan arah.
“Kenapa?” tanya Riki.
“Hilang akal gimana, Pak?” tanya Cicil penasaran.
“Dia sering berbicara sendiri, tertawa sendiri, sangat-sangat banyak melakukan manstruba•i, meracau tentang menikah dengan anda Bu Cicil.”
“Saya?” tanya Cicil sambil menunjuk hidungnya bingung.
“Iya, sering sekali dia berkata bahwa dia menikah dengan anda. Bahkan, terkadang dia selalu marah bila ada orang yang duduk di sebelah kirinya. Dia bilang istrinya sedang duduk disana.”
Cicil dan Riki hanya bisa saling bertatapan bingung, sepertinya Albert benar-benar sudah hilang akal. Riki dan Cicil pun berjalan melewati lorong, kemudian berbelok kedalam ruangan. Didalam ruangan sudah duduk Albert Connor.
Albert menatap Riki dan Cicil dengan tatapan santai, senyuman masih merekah di bibirnya. Bobot tubuh Albert terpangkas hampir setengahnya. Kurus, namun tetap tampan. Albert, benar-benar tampak memukau.
“Di penjara ada salon?” bisik Riki pada Cicil yang langsung dijawab tepukkan pelan di bahu Riki.
“Baby?” tanya Albert saat melihat Cicil yang masuk keruangan bersama Riki. “Baby, kamu cepet banget ganti baju. Tadi, kamu masih pakai baju tidur kesukaan kamu, baju tidur warna merah.”
Cicil langsung menatap Riki dengan pandangan bingung. “Kapan, aku kesini pake baju tidur, Aa?”
“Udah gila kali otaknya, udah jangan didengerin. Kamu diem dibelakang Aa aja, nggak usah kemana-mana.” ucap Riki sambil menyembunyikan badan Cicil dibelakan badannya.
“Ah, hai Riki, apa kabar?” tanya Albert santai, tangannya melambai ke arah kursi dihadapannya, “duduk.”
__ADS_1
Riki langsung duduk berhadapan dengan Albert, dengan tangannya Riki meminta Cicil kelur dari ruangan. Meninggalkannya berdua dengan Albert.
“Tapi...”
“Keluar sekarang, Cicil Trina,” ucap Riki dengan intonasi suara setenang mungkin. Cicil yang tau bila Riki memanggilnya dengan nama panjang artinya suatu perintah yang tidak bisa dibantahkan, langsunh keluar dari ruangan.
“Ada apa, istri saya baik-baik aja?” tanya Albert sambil menatap Riki tajam.
Riki tersenyum pada Albert, ternyata apa yang dikatakan sipir penjara tadi benar adanya, Albert sudah hilang akal. Riki bisa melakukan dua cara, cara kasar dan cara halu.
Cara kasar dia akan memaksa Albert untuk memberikan rambut atau kukunya dengan cara baku hantam dan Riki yakin, itu semua akan terdengar oleh Cicil diluar. Cicil pasti panik dan akan membuat Cicil melakukan tindakan yang akan membahayakan janinnya.
Cara halus, Riki harus mengikuti permainan Albert, menyebalkan. Tapi, harus dilakukan.
“Baik, istri kamu baik. Saya jaga Cicil dengan baik. Bukannya dia sering bersama kamu disini?” tanya Riki sambil mencoba tersenyum.
“Iya, tapi tadi dia keluar, yah?” tanya Albert sambil berusah melihat pintu yang tertutup tubuh Riki.
“Iya, dia malu.”
“Malu kenapa?” tanya Albert bingung.
“Malu, karena dia ingin minta tolong kamu,” ucap Riki.
“Tolong apa?” tanya Albert bingung.
“Dia nggak bisa tidur, dia kangen rambut kamu,” ucap Riki sambil mengeluarkan gunting yang dipinjamkan oleh petugas sipir.
Petugas yang ada diruangan itu langsung bersiaga penuh, dia tidak mau kecolongan. Jangan sampai gara-gara sebuah gunting kecil, terjadi peristiwa berdarah.
“Ah, Baby kangen rambut aku? Dia mau rambut aku?” tanya Albert sambil menatap Riki.
“Iy...”
Albert langsung merebut gunting di tangan Riki, dengan kasar dan tidak beraturan dia menggunting rambutnya. Banyak, sangat banyak. Sampai, sampai dikepalanya seperti ada lingkaran yang menyerupai pitak.
“Butuh lagi?” tanya Albert sambil bersiap untuk menggunting sebagian rambutnya.
“Iya,” jawab Riki sambil menyeringai.
Riki pun menikmati Albert membotakki rambutnya seperti orang gila. Riki benar-benar menikmati penderitaan Albert. Ada rasa puas dihatinya, puas melihat lelaki yang memperkosa istrinya gila dan kehilangan akal seperti ini.
Memotong rambutnya secara serampangan dan sekali-kali mengiris jari jemarinya. Riki tersenyum...
•••
Ps:
Didalam setiap diri manusia kadang bersarang setan kecil yang siap keluar di waktu yang tepat. Mungkin ini waktu yang tepat bagi setan kecil Riki keluar. Menikmati sedikit kesengsaraan Albert Connor...
__ADS_1
Xoxo Gallon...