Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Alumnus


__ADS_3

Cicil menghela napasnya lagi, entah sudah helaan napas keberapa yang Cicil lakukan saat ini. Hari ini Cicil sudah menangis dan mengeluh tentang apapun yang dia rasakan pada Rea via telepon. Pokoknya Cicil nggak mau dirinya merasa sedih, sendirian.


“Mamih, sepi di sini. Biasanya Aa lagi duduk di sana sambil ngurus-ngurus pembukuan atau kadang dia lagi ngedusel di badan aku. Mamih, sepi,” rengek Cicil.


Rea yang sudah mendengarkan rengekkannya anaknya selama dua jam nonstop hanya bisa tersenyum. “Sabar, Cil. Mamih ini lagi di Bandara, Mamih pulang sebentar lagi.”


“Mamih, biasanya kalau aku nangis Aa peluk aku. Terus ini dari tadi bayi di perut aku sama sekali nggak gerak. Dia kangen Babanya, aku juga kangen dijamah.”


“Astaga Cil, kamu tuh. Udah di bawa ke psikolog manapun hyper kamu nggak robah,”ucap Rea.


“Udah itu nggak bisa diubah, Aa juga udah nerima kok. Tapi, ini gimana Mamih, sepi,” rengek Cicil lebih keras dari sebelumnya.


“Iya sayang ini Mamih pulang, itu emang Pak Sinclair nggak bisa kelurin Riki?” tanya Rea, Rea sebenarnya panik saat mengetahui menantunya masuk kembali ke penjara karena menonjok Ahyar yang menghina Cicil jalang. Masalah ini sepele kenapa tidak bisa Riki keluar?.


“Nggak bisa, Ahyar brengsek dia pake semua sumber daya yang dia milikin buat nahan Riki. Dia minta aku setujuin tender dia, baru Riki dikeluarin. Tapi, kalau aku setuju tendernya Papih bakal kena sidah KPK. Simalakama,” rengek Cicil.


“Sabar sayang, Papih kamu juga lagi cari jalan keluarnya. Ini aja Papih kamu nggak tau di mana, terakhir Mamih liat dia lagi neleponin siapalah itu buat ngeluarin Riki.” Rea mencoba menenangkan Cicil.


“Keluarin cepetan, bilang keluarin terus masukin Ahyar ke penjara!?” seru Cicil kesal, “enak aja, suami orang maen dimasuk-masukkin ke penjara dia sangka dia siapa?”


“Sabar Cil, kamu lupa kewarganegaraan Papih kamu? Kamu lupa? Kamu dan Papih kamu itu bukan orang Indonesia. Inget?” Rea mencoba mengingatkan Cicil.


Cicil langsung terdiam apa yang dikatakan Rea benar. Ini yang membuat keluarga Bouw tidak bisa menancapkan taringnya di Indonesia, status kewarganegaraan mereka yang orang Belgia membuat mereka tak bisa berbuat apa-apa. Perusahaan pun perusahaan panjangan dari Belgia, semua itu membuat ruang gerak mereka sulit.


“Iya Mih, Cicil tau ... Cicil cuman berharap Aa Riki cepat-cepat dikeluarkan dari penjara.” Cicil berkata pelan sambil menguling-gulingkan keju di jari telunjuknya. Argh ... rumah ini sepi, Cicil kangen suara lembut suaminya yang cerewet. Cicil kangen Riki.


“Mih, gimana kalau Riki nggak bisa keluar sama sekali?” tanya Cicil.


“Jangan pikir gitu, Papih kamu lagi usaha ini. Jangan punya pikiran kaya gitu, kamu harus tenang.”


“Iya tapi, Cicil takut.”


“Cil, jangan punya pikiran aneh-aneh inget itu kamu lagi hamil, sayang,” ucap Rea mengingatkan Cicil.


“Karena Cicil lagi hamil, Cicil kangen Aa,” isak Cicil sambil menggigit bagian bawah bibirnya. Ini gila. Baru satu hari dia tidak bertemu Riki tapi, dirinya sudah uring-uringan seperti ini. Hormon kehamilian benar-benar membuat emosinya naik turun tak tentu arah.


“Iya, kita keluarin suami kamu yah. Astaga, kamu kenapa cengeng gini sih, Riki bener-bener bikin kamu manja, Cil.”


“Yes, Mih. He treat me like a Queen (Dia memperlakukan aku layaknya Ratu) dan itu bikin aku nyaman,” ungkap Cicil sambil mengetuk-ngetukkan buku-buku jarinya di meja kayu.


Terdengar helaan napas Rea di ujung telepon sana, ada rasa beruntung Rea rasakan saat mendengar perkataan Cicil. “Kamj beruntung, Nak.”


“Aku tau, Mih. Makanya aku bersyukur mendapatkan Riki, dia memang terlalu baik untuk aku. Tapi, aku yakin dengan berjalannya waktu aku akan jadi baik untuknya,” ucap Cicil.


“Aamiin, Nak.” Rea menjawab, “eh Cil, maaf nih Mamih mau ngurus sesuatu dulu. Udah dulu, yah.”


“Mih ....”


“Cil, Mamih bakal ke Indonesia secepatnya. Janji,” janji Rea.


“Beneran?” tanya Cicil.


“Bener Nak, udah yah.”


Cicil langsung mematikan teleponnya dan menatap sekelilingnya. Sepertinya dia akan tidur bersama Geulis kembali hari ini, memeluk Geulis sambil berselimut kemeja bekas Riki sedikit meluruhkan perasaan rindunya.


Pak Sinclair tidak bisa membuat Riki meneleponnya, Cicil kesal bukan main saat mendengar informasi itu. Bahkan Cicil hampir menangis saking frustasinya.

__ADS_1


Cicil membuka pakaiannya dengan cepat diambilnya kemeja bekas Riki. Setelah mengenakannya Cicil mengendusi kemeja flannel milik suaminya tersebut.


“Aa Neng rindu,” isak Cicil.


Ting tong ...


Cicil kaget mendengar bunyi bel, dengan cept diliriknya jam di dinding kamarnya. Jam sebelas malam? Siapa orang yang bertamu jam sebelas malam.


“Siapa?” teriak Cicil sebelum membuka pintu rumahnya.


Tak berapa lama terdengar suara orang yang berteriak dari luar rumah, “Ini kita, Cil.”


“Siapa?” tanya Cicil yang tidak dapat mengidentifikasikan siapa orang yang mengunjunginya jam sebelas malam.


“Kita, Cil.”


“Iya siapa? Emang nggak punya nama?” tanya Cicil judes.


“Ini Taca sama Iis,” teriak Taca sambil mengetuk-ngetuk pintunya.


Cicil mengkerutkan keningnya, ngapain Taca dan Iis ketempatnya. Apa jangan-jangan maling modus baru? Cicil tiba-tiba panik.


“Bohong, buktiin kalau kalian Taca sama Iis asli. Jangan-jangan kalian maling modus baru,” teriak Cicil sambil mengambil sutil dari dapur dan berjalan mendekat ke arah pintu keluar.


“Astaga, bentar.”


Tak berapa lama Cicil merasakan getaran dihandphonenya, “Halo?”


“Buka pintunya Cicilku sayang,” ucap Taca dari sambungan telepon.


Cicil langsung menatap layar handphonenya dengan ekspressi kebingungan. Di sana tertulis nama Taca. Cicil langsung membuka pintunya.


“Kalian ngapain di sini?” tanya Cicil bingung melihat Taca dan Iis yang datang sambil membawa pizza dan minuman bersoda kesukaannya.


“Mau nginep,” ucap Taca sambil masuk kedalam ruangan tanpa dipersilahkan.


“Aku bawa cemilan loh, aku bawa pizza keju.” Iis mengedipkan sebelah matanya pada Cicil yang masih kebingungan kenapa adik iparnya dan Iis datang ke apartemennya malam-malam.


“Aku simpen sini, yah,” ucap Iis sambil meletakkan barang bawaannya di meja.


“Kalian beneran ngapain ke sini?” tanya Cicil bingung.


“Kita mau nginep di sini,” terang Taca sambil membuka jaketnya dan menunjukkan piayama pikachu kebanggaannya.


“Yupz, mau nemenin kamu. Kamu sendirian kan di sini?” tanya Iis yang membuka jaketnya dan menunjukkan piayama berwarna merah marun.


“Iya sih tapi, emang kalian diizinin suami-suami kalian yang possesive itu?” tanya Cicil, Cicil tau betapa possesivenya Juan dan Adipati. Rasanya istri-istrinya ini kalau bisa masuk kandang pasti akan mereka masukkan.


“Udahlah, dengan berbagai macam sarat dan ketentuan yang berlaku,” kekeh Taca.


“Mau?” tanya Iis sambil menyerahkan pizza keju pada Cicil.


Cicil langsung tersenyum kemudian melahap pizza tersebut sampai tandas dan meminum jus jeruk yang di bawakan oleh Taca.


“Gimana ibu hamil, sehat?” tanya Iis.


“Sehat, Iis. Ini udah gede banget. Aku udah kepanasan banget ini dan berat juga,” ucap Cicil sambil tersenyum.

__ADS_1


“Kita bakal nemenin kamu, sampai Aa Riki bisa keluar dari penjara,” ucap Taca.


“Beneran?”


“Iya, kita udah komitmen tadi. Keselamatan kamu lebih penting dari apapun,” ucal Taca sambil mengacungkan kedua jempolnya.


“Kalian kok baik banget sih? Padahal dulu aku jahat banget sama kalin berdua.” Cicil berkata sambil mencomot kembali pizza keju di belakang tubuh Iis.


“Hahaha iya kamu jahat banget sumpah, kaya mak lampir,” kenang Iis.


“Maaf, yah.”


“Dimaafin,” ucap Iis sambil memeluk Cicil.


“Eh ... ngapain kalian maaf-maafan, mending sini,” panggil Taca sambil mengambil remote tv milik Cicil.


“Ngapain?” tanya Iis dan Cicil berbarengan.


“Lets, Netplix and Child!?”


“Hahaha, yuk. Astaga udah lama aku nggak bisa nonton dengan tenang. Bisanya ada aja bocil yang bikin rusuh,” ucap Iis sambil berjalan ke sofa dan duduk di samping Taca.


Cicil hanya terdiam melihat Taca dan Iis yang datang ketempatnya. Cicil tau, mereka berdua pasti membutuhkan perizinan yang sulit untuk diizinkan menginap di tempatnya. Tapi, mereka tetap datang untuk menemani dirinya, padahal dulu dia sangat-sangat jahat pada Taca dan Iis.


Tanpa terasa air mata mengalir di pipi Cicil yang sedang diselimuti perasaan melow. Terima kasih hormon kehamilan.


“Cil,” panggil Iis.


“Ya.”


“Sini, nonton bareng. Cepet, nanti pizza kamu dimakan Taca,” canda Iis sambil menepuk bagian kosong di sofa, antara dirinya dan Taca.


“Iya aku laper, cepet sini kita nonton,”’ucap Taca sambil menarik selimut.


Cicil pun tersenyum dan duduk di antara Taca dan Iis, dengan cepat Taca menyelimuti Iis dan Cicil menggunakan selimut tersebut.


“Kamu, wangi Aa Riki ih, Cil,” ucap Taca yang hapal betul wangi kakaknya itu.


“Iya, ini baju Aa Riki. Aku kangen Aa,” ucap Cicil sambil menciumi bagian lengan kemeja milik Riki yang dia kenakan.


“Hahaha ... bucin banget sih kamu,” ucap Iis.


“Iya, tolong bucin bener Kakak ipar aku ini,” kekeh Taca.


“Biarin, bucinnya ke suami sendiri. Bukan ke suami kalian,” canda Cicil.


“Cil,” panggil Taca dan Iis.


“Apa?”


“Jangan mimpi bisa bucin kesuami kita yah,” ancam Taca dan Iis berbarengan.


Cicil membulatkan matanya saat mendengar perkataan Taca dan Iis. Tawanya langsung meledak, “Iya, nggak ... nggak, aku udah alumnus Juan Wijaya dan Adipati Berutti. Gelar aku sekarang Riki Trina aja.”


Dan seketika itu juga tawa Cicil, Taca dan Iis terdengar memenuhi ruangan mereka. Sepertinya malam ini Cicil tidak akan kesepian. Terima kasih Iis dan Taca.


••••

__ADS_1


Xoxo Gallon.


__ADS_2