Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Musyrik


__ADS_3

“Bu Cicil,” sapa Sinclair saat pertama kali masuk kedalam ruangan Cicil. Langkahnya terhenti saat melihat Adipati Berutti dan Juan Wijaya yang sedang duduk manis di Sofa ruangan Cicil.


“Pak Sinclair, duduk,” pinta Cicil sambil menunjukkan Sofa di hadapannya yang kosong.


“Pagi Pak Wijaya dan Pak Berutti,” ucap Sinclair hormat. Dua lelaki di hadapannya ini adalah lelaki paling susah ditemui, bila ingin berbincang dengan mereka mungkin Sinclair harus meminta janji temu satu minggu sebelumnya. Namun, saat ini mereka sedang duduk dengan santainya di hadapannya.


“Pagi,” jawab Juan dan Adipati sambil lalu.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Sinclair.


“Banyak, saya sangat membutuhkan bantuan Bapak,” ucap Cicil sambil tersenyum misterius.


Sinclair langsung mengerti akan kemana arah pembicaraan ini. Sepertinya, kliennya siap melakukan serangan pada Ahyar Suhendar yang sangat-sangat licin. Semua cara sudah Sinclair lakukan tapi, hasilnya nihil. Semua terbentur dengan status kewarganegaraan Cicil dan wanti-wanti Jeff Bouw agar kasus ini tidak meledak dan membuat perusahaan menjadi oleng.


“Bagaimana?”


“Saya mau Ahyar Suhendar masuk penjara dan suami saya keluar dari penjara sesegera mungkin,” ucap Cicil sambil tersenyum manis.


“Bu Cicil saya bisa tapi, kalau saya lakukan dengan cara saya dan team saya, saya yakin perusahaan Ibu akan oleng dan Ibu atau Pak Jeff bisa terdeportasi,” terang Sinclair.


“Kalau kami punya suatu bukti yang bisa memasukkan Ahyar kepenjara bagaimana?” tanya Juan sambil mengesap kopinya, Cicil tiba-tiba menjadi baik tadi dan menyuruh Tisa untuk membuatkan kopi untuk Adipati dan Juan.


Sinclair langsung mengalihkan pandangannya ke arah Juan, “Kalau ada bisa saya usahaka—“


“Dilakukan bukan diusahakan,” ucap Cicil, Adipati dan Juan berbarengan, membuat Sinclair tercengang. Kompaknya.


“Iya saya lakukan, Pak, Bu,” ucap Sinclair.


“Tapi, kalau kamu nggak mampu biar saya suruh Luhut yang urus,” ucap Juan sambil menatap tajam Sinclair.


Sinclair langsung menelan salivanya, astaga ... reputasinya dipertaruhkan kalau begini. Mau ditaruh di mana wajahnya bila harus menyerahkan klien terbesarnya yaitu kelurga Bouw kepada Luhut, pengacara keluarga Wijaya yang terkenal dengan keberhasilannya mengurus kasus apapun tanpa cela.


“Saya yang urus, Pak. Saya pasti bisa asalkan sesuatu yang anda katakan itu benar-benar akurat.”


“Nggak usah ragu ini akurat, saking akuratnya ada cap dan tanda tangan asli Ahyar,” ucap Cicil sambil menyerahkan berkas yang ditemukan Adipati ketangan Sinclair.


Sinclair langsung membuka dan membaca berkas tersebut. Menelitinya dan tersenyum bahagia melihat kertas yang ada di tangannya, “Ini lebih dari cukup untuk menjebloskan Ahyar kedalam penjara dan menarik semua asetnya. Selain, itu ini bisa dibuat sebagai ancaman mengeluarkan Riki dari penjara.”


“Bagus, kapan Riki bisa keluar?” tanya Adipati tidak sabar. Dia ingin istrinya di rumah, mengurusinya dan ketiga bambini (anak-anak dalam bahasa itali) miliknya yang membuat kepalanya pecah.


“Mungkin besok atau lusa. Ah ... saya pastikan lusa,” ucap Sinclair sambil tersenyum senang.


“Nggak bisa sore ini?” tanya Juan sambil menyimpan cangkirnya di meja. Juan membutuhkan istrinya kembali kehabitat aslinya. Kepelukannya.

__ADS_1


Sinclair tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan, “Maaf tidak bisa, Pak.”


“Kenapa?”


“Saya ingin membuat Ahyar membusuk di penjara. Bukan hanya sekali lewat saja, kalau sekali lewat tidak akan memberikan efek jera pada Ahyar. Dia pasti akan mengusili keluarga Bouw lagi, saya yakin itu,” ucap Sinclair sambil memasukkan berkas-berkas tersebut kedalam tas miliknya.


“Baiklah, lusa saya nggak mau tau lusa Ahyar masuk penjara dan suami saya keluar penjara,” ucap Cicil sambil menatap Sinclair dingin.


“Siap itu mudah,” jawab Sinclair dengan senyuman kemenangangan.


Tok ... tok ...


“Masuk,” ucap Cicil.


Setelah itu masuklah Tisa sambil membawa amplop berwarna hijau dan menyerahkannya pada Cicil, “Ini, Bu. Sudah saya ketik rapih dan saya buat rangkap empat.”


“Bagus Tis, kamu bisa keluar sekarang,” ucap Cicil sambil mengambil amplop tersebut dan menyerahkannya pada Sinclair.


Tisa dengan cepat berlalu dari sana, melihat betapa pentingnya pertemuan itu membuat Tida tau diri dan undur dari sana.


“Ini harus saya minta Pak Ahyar tanda tangan?” tanya Sinclai.


“Iya, paksa bandot sinting itu tanda tangan. Saya nggak mau diganggu lagi oleh lelaki bernama Ahyar Suhendar.”


“Ini harus berhasil, keluarkan Riki sesegera mungkin atau saya buat Luhut yang menjadi pengacara pribadi keluarga Bouw,” ancam Juan, Juan harus mengancam demi kembalinya Iis kerumah. Lebih baik orang lain yang menderita daripada dirinya.


“Baik, Pak Wijaya. Kalau begitu saya permisi,” ucap Sinclair sambil beranjak dari duduknya dan menyalami Adipati, Juan dan Cicil sebelum berlalu dari hadapan mereka semuany.


Setelah Pak Sinclair berlalu, Cicil hanya diam menatap kedepan. Pandangannya kosong.


“Cil, woi,” panggil Juan.


“Apa?” Jawab Cicil.


“Tenang semuanya baik-baik aja.” Juan berusaha menenangkan Cicil.


“Iya aku tau, kalau nggak baik-baik aja aku yakin ada yang kelimpungan.” Cicil berkata sambil melirik Juan dan Adipati.


“No, please jangan bikin gue semaput Cicil,” maki Adipati saat melihat tatapan Cicil.


“Damn, lo nape sih demen banget nyiksa gue,” maki Juan.


Cicil terbahak melihat ekspresi wajah Adipati dan Juan yang semaput mendengar perkataan Cicil. “Kalian kenapa, astaga baru ditinggal istri dua minggu aja pusing.”

__ADS_1


“Dahlah, Cil. Berisik lo, gue mau balik kantor,” ucap Juan sambil berdiri dan berjalan menuju pintu diikuti Adipati.


“Cil, please jangan ganggu istri gue lagi. Gue baik ma lo, masa lo nggak baik ma gue?” pinta Adipati.


“Hahaha ... cuman mau ngasih tau, sabar-sabar yah punya KAKAK IPAR, kaya gue DE ADIPATI,” olok Cicil dengan menitik beratkan kata kakak ipar dan de Adipati.


“Stronzo!?” maki Adipati dalam bahasa Italia.


Cicil dan Juan tergelak saat mendengar makian khas Itali milik Adipati.


“Pas bon monsieur Berruti, (Tidak baik, Mr. Berutti)” jawab Cicil dengan menggunakan bahasa Prancis.


Tawa Juan langsung meledak mendengarkan ocehan kedua temannya itu. Lucu melihat Adipati dan Cicil bila sudah beradu bahasa. Ludruk, menurutnya.


“Astaga Ju, kapan istri kita kembali. Gue udah nggak sanggup, beneran. Tolong,” ucap Adipati sambil memencet tombol pintu lift.


“Gue yakin, Sinclair akan menjalankan tugasnya dengan baik.” Juan berkata sambil menepuk bahu Adipati pelan.


“Yakin lo? Dia itu kan rada-rada,” ucap Adipati.


“Yakin, emang si Sinclair ini rada lemot samalah kaya kliennya si Cicil lemotnya nggak ada dua kalau lagi panik. Tapi, gue yakin masalahnya bakal beres.” Juan malangkahkan kakinya kedalam lift.


“Yakin kenapa?” tanya Adipati.


“Sinclair nggak bakal mau kasih kasus ini ke Luhut, dua biro mereka ini biro pengacara besar di Jakarta. Mereka bersaing, bersaing saling menjatuhkan. Jadi, seandainya Cicil berpindah ke Luhut, mau taruh di mana muka Sinclair. Udah tenang aja, percaya ama gue,” ucap Juan.


“Males gue percaya ama lo,” ucap Adipati.


“Lah nape?” tanya Juan.


“Musyrik,” jawab Adipati sambil tertawa pelan.


“Asem!?”


•••


Siap-siap besok dag dig dug jeder kenapa? Yah ... liat aja 😖😅😘


Terima kasih kopi, bunga dan votenya. Kalian memang top. 😘


dah ah, mau kelon 😆😂


XOXO GALLON yang hobi Kelon 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2