
Sepanjang jalan Rozak menggandeng tangan Nama dengan tangan kirinya. Nama hanya bisa pasrah saat diminta untuk berjalan di jalan yang menanjak.
“Kang, nggak bisa apa kita ketempat yang lurus-lurus aja gitu. Yang datar,” ucap Nama sambil melihat pijakkannya.
“Maksudnya?”
“Yah, ke mall atau kemana gitu. Ngapain sih naik gunung?” tanya Nama kesal.
“Hahaha, olahraga Nyun.” Rozak berkata sambil terus menggandeng tangan Nama yang sudah mengerucutkan bibirnya.
“Capek, Kang,” rengek Nama kesal. Olahraga bukan pilihan hidupnya sama sekali.
“Dikit lagi sampai, tuh,” ucap Rozak sambil menunjuk kursi.
Nama hanya bisa mendengus kesal, “Terakhir yah, aku nggak mau naik-naik lagi gunung. Aku nggak mau pokoknya. Nanti, kamu kalau mau naik gunung, naik sendiri sana,” cerocos Nama sambil terus berjalan dibelakang Rozak.
Rozak hanya bisa tersenyum mendengar cerocosan Nama, bibir kekasihnya itu benar-benar cerewet. Rozak menatap sekilas pada Nama yang sedang asik menggerak-gerakkan bibirnya, Rozak langsung gemas melihat bibir Nama, rasanya ingin Rozak kecup bibirnya.
“Sampai, Nyun,” ucap Rozak sambil menunjuk pemandangan dihadapannya.
Nama hanya menatap pemandangannya sekilas, kemudian duduk di kursi. Sumpah demi apapun Nama sama sekali tidak terkesima dengan pemandangan dihadapannya, dia hanya butuh bernapas dan air yang cukup untuk minum.
“Nyun, liat itu bagus,” ucap Rozak.
Nama hanya menggerak-gerakkan tangannya sambil berjuang untuk menstabilkan napasnya, “Iya, iya. Udah biarin aja itu pemandangan, bodo amat, dah.”
Rozak langsung duduk disamping Nama sambil memberikan air mineral ketangan Nama. “Beneran nggak suka olah raga kamu tuh?”
“Nggak, makasih. Olah raga satu-satunya yang aku suka itu olah raga mulut alias makan,” jawab Nama sambil meminum air mineralnya.
“Nanti udah nikah ada satu olah raga lagi yang kamu bakal suka,” ucap Rozak.
“Apa?” tanya Nama sambil menutup botol minumnya.
“Olah raga kasur,” ucap Rozak sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Hilih, itu kamu yang suka. Aku nanti bagian psrah menerima segalanya ajalah.” Nama berlata sambil menepuk paha Rozak pelan.
“Bener yah, pasrah mau diapa-apain juga,” ucap Rozak.
“Iya, pasrah,” jawab Nama, “kalau nikah sama kamu.”
Rozak langsung menjawil mulut Nama pelan, “Nikahnya harus sama aku, kalau sama orang lain awas aja.”
“Hahaha... pede banget,” ucap Nama sambil tersenyum pada Rozak.
“Haruslah, nanti aku ketemu sama Ibu kamu, yah. Boleh?” tanya Rozak.
“Kang, baru tadi aku bilang ke kamu. Aku ini bukan anak yang cocok buat jadi calon istri kamu,” ucap Nama.
“Jadi yang cocok yang kaya gimana?” tanya Rozak gemas.
__ADS_1
“Nggak tau, aku nggak bisa jawab.” Nama akhirnya menatap Rozak, angin gunung benar-benar memainkan rambut Nama yang panjang.
“Kenapa?”
“Aku nggak mau jawab lebih tepatnya,” jawab Nama sambil menarik-narik ujung kemeja Rozak.
“Ya ampun Nyun, kenapa?” tanya Rozak sambil mengangkat dagu Nama. “Biar aku tau cewe kaga gimana yang cocok aku bawa ke Abah sebagai calon istri aku?”
“Nggak mau jawab, ah.” Nama langsung memeluk Rozak, membenamkan wajahnya di dada Rozak. Wangi tubuh Rozak langsung menggelitik hidungnya.
“Lah, gimana sih. Nanti aku nggak nikah-nikah ini.”
“Ya udah nggak usah nikah, udah sama aku aja,” ucap Nama sambil menatap Rozak dengan bibir yang mengembik.
Rozak langsung mengecup bibir Nama cepat, Rozak benar-benar tidak sanggup menahan diri bila melihat bibir Nama.
“Ih... nggak boleh cium-cium digunung, nanti ada apa-apa tau,” ucap Nama sambil memukul dada Rozak pelan.
“Hahaha... makanya bibirnya jangan gemesin gitu dong, Nyun.”
“Bibir aku emang kenapa sih?” tanya Nama sambil menyentuh bibirnya bingung.
“Idih, dibilang bibir kamu nafsuin,” ucap Rozak sambil mencubit pelan bibir Nama.
“Hilih, otak kamu aja mesum,”’ucap Nama sambil mengerucutkan bibirnya lagi.
“Nyun.”
“Apa?”
“Nggak tau, nggak mau jawab. Udah kamu jomblo aja ampe kiamat.”
“Sadis, nggak kasian sama aku kamu teh. Kalau aku jomblo sampai kiamat, kamu juga jomblo sampai kiamat, Nyun.”
“Iya, nggak papa. Asal kamu nggak nikah ama orang lain, aku nggak bakal sanggup liatnya,” ucap Nama sambil menatap mata Rozak dengan tatapan serius.
“Lah, kok gitu. Itu tidak sesuai dengan faedah kehidupanlah.”
“Hilih, apaan sih ngomongnya udah nggak jelas gini,” ucap Nama sambil mencubit kedua pipi Rozak dan menggoyangkannya ke kanan dan kekiri.
“Kamu yang nggak jelas, kamu nggak mau aku nikahin. Tapi, ngelarang aku buat nikah. Maksud dan tujuannya apa coba?” tanya Rozak kesal, “Nyiksa anak orang kamu mah.”
“Maaf,” jawab Nama sambil menundukkan kepalanya, tiba-tiba Nama merasa sangat menyesal dengan perkataannya.
“Maaf mulu, lebaran masih lama Nyun.” Rozak melemparkan ranting kedepan.
“Bukan gitu, Kang. Emang harus banget nikah yah? Nggak bisa apa kita gini aja?” tanya Nama pada Rozak.
“Maksud kamu kita kumpul kebo?” tanya Rozak.
“Itu...”
__ADS_1
“Nggak mau, males mending kita putus aja,” ucap Rozak sambil memutar bola matanya dan berdiri.
“Hah...”
“Iya, males aku kumpul kebo, nggak asik,” ucap Rozak seraya berjalan kearah jalan pulang.
Nama terdiam dan menatap belakang punggung Rozak. Ada rasa kaget dan bersyukur menyusup ke dada Nama. Dulu mantannya Dion memaksa Nama untuk kumpul kebo karena Nama menolak untuk menikah. Nama mengiyakan tanpa mengetahui konsekuensi apapun, baru satu hari Nama tinggal di kostan Dion, Nama langsung mendapatkan perlakuan yang membuat Nama memiliki sesuatu di pahanya.
“Kang.”
“Apa?” tanya Rozak sambil berbalik menatap Nama.
“Kita putus?” tanya Nama ragu-ragu.
Rozak menghela napasnya dengan keras, “Kamu masih minta kumpul kebo?”
“Tapi, bukannya semua laki-laki suka kalau perempuannya meminta untuk kumpul kebo?” tanya Nama.
Rozak langsung tertawa keras saat mendengar perkataan Nama. “Cowo yang mana?”
“Yah, cowo-cowo semuanya,” ucap Nama.
“Cowo sinting nggak punya otak dan adab,” ucap Rozak.
“Kang.”
“Cowo yang cuman mau enaknya doang, cowo yang lebih pantes dibilang orang nggak beradab.” Rozak mendekati Nama dan duduk di hadapan Nama kemudian mengambil tangan Nama.
“Nyun denger ini.” Rozak langsung mengunci manik mata hitam Nama, menguncinya dan membiusnya. Nama benar-benar dibuat terdiam seribu bahasa saat menatap mata hitam milik Rozak.
“Aku punya adik perempuan, ponakan perempuan, dan Kakak ipar perempuan. Sumpah demi apapun aku nggak mau perbuatan aku jadi karma buruk buat mereka semua.”
“....”
“Aku nggak bakal sanggup seandainya mereka dimainin sama cowo, nggak bakal sanggup aku, Nam.” Rozak mengecupi jari jemari Nama pelan.
“Kang.”
“Jadi, karena aku nggak mau mereka dapet karma buruk dari aku. Aku nolak permintaan kamu untuk kumpul kebo atau apapun itu, aku maunya nikah. Jadi, kalau kamu tetep sama pendirian kamu, mending kita putus. Lebih baik sakit hati sekarang, daripada nanti. Sakitnya lebih parah, Nyun.”
Nama terdiam sambil menatap Rozak, tatapan mata mereka saling bertemu, saling mengunci dan berbincang tanpa kata, hanya perasaan yang saling berbicara.
“Nyun, kamu mau nikah sama aku?” tanya Rozak pada Nama.
Nama terdiam melihat Rozak, keraguan masih menyelimuti Nama. Satu sisi dia ingin berkata kita putus. Tapi, perasaannya benar-benar memaksa Nama untuk menerima permintaan Rozak, rasa sayang dan cintanya pada Rozak benar-benar besar. Tapi, apakah perasaannya itu mampu mengambil alih dan mengubah keputusan juga pandangan Nama akan pernikahan?
Tidak ada yang tau...
•••
Xoxo Gallon
__ADS_1