Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Bayi Keju


__ADS_3

“Aa sakit ....”


“Yang mana yang sakit, kesayangan?”


Cicil langsung terhenyak saat mendengar suara itu dengan cepat Ia langsung membuka kelopak matanya, detik itu juga netra matanya langsunberadu dengan netra mata gelap milik Riki, senyuman Riki langsung Cicil liat.


Tangisan Cicil langsung pecah, dengan cepat Cicil langsung menarik wajah suaminya lebih dekat dan mengecupi setiap jengkal wajah suaminya. “Aa, aa.”


“Iya ini Aa, ini aku dateng kesayangan. Maaf yah sayang Aa lama. Mana yang sakitnya mana?” tanya Riki sambil mengusapi perut Cicil pelan.


“Sakit Dedenya nggak mau keluar sama sekali, nggak tau kenapa. Aku takut,” isak Cicil sambil mengusap pipi Riki pelan.


“Takut apa sayang?” tanya Riki sambil menarik tangan Cicil dan mengecupi setiap jengkal tangan Cicil dengan pelan.


“Aku takut nggak sanggup, aku takut ... aku takut nggak mampu dan ningalin kamu, aku nggak mau,” isak Cicil sambil melepaskan genggaman tangan Riki dan memeluk Riki. “Aku takut.”


Riki menghela napasnya, dikecupknya kuping Cicil pelan. “Kita sama-sama yah. Kita sama-sama aku nggak bakal ninggalin kamu. Aku yakin kamu kuat, kesayangan Aa kuat.”


“Aww ... aw ... huh ... huh ... huh ....” Cicil langsung mengatur napasnya untuk menetralisir rasa sakit yang menderanya.


“Aa kata Dokter, bay ....”


Riki langsung membungkam Cicil dengan mulutnya. Tidak meminta lebih, hanya menempelkan bibirnya sebentar kemudian melepaskannya hanya beberap inci dari bibir Cicil.


“Kamu bisa sayang, biar Aa yang bujuk dedenya yah. Kita bujuk dia yah, kamu kuat kan?” tanya Riki sambil mengecup bibir Cicil pelan.


Cicil langsung tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Entah, kenapa setelah di kecup oleh Riki memberikan energi bagi dirinya, energi agar dia mampu untuk melahirkan anaknya. Salah, anak mereka.


Riki mengecup kening Cicil sebelum menyentuh perut Cicil, dikecupnya pelan perut istrinya. “De, keluar yuk ... kasian Mamah sayang. Yuk keluar yuk, Baba udah dateng sayang. Baba udah di sini.”


Cicil hanya bisa menatap Riki yang sedang berbicara dengan anak di dalam kandungannya dengan pandangan buram. Air mata benar-benar menutupi pandangan matanya, rasa haru dan bersyukur karena Riki ada bersamanya benar-benar meredakan sedikit rasa nyeri yang di rasakan olehnya.


“De, kamu nggak mau ketemu Baba sayang? Keluar yuk, iya Baba tau di dalam enak nyaman tau Baba. Emang di dalem tubuh Mamah kamu tuh bikin nyaman,” bisik Riki sambil menggesekkan hidungnya ke perut Cicil.


Cicil tertawa pelan mendengar perkataan Riki, dielusnya rambut tebal Suaminya. “De keluar yuk, Baba udah ada ini. Baba udah dateng keluar yuk sayang.”


“Keluar yuk, main sama Baba ... Baba rindu, Nak. Baba mau peluk kamu, boleh?” bujuk Riki sambil mengecup perut Cicil pelan.


“Keluar sayang kita main. Baba sama Mamih rindu kamu,” ucap Cicil sambil berjuang untuk bernapas.


“Main sama Baba,” bisik Riki sambil mengecup lama perut Cicil. “Baba rindu.”

__ADS_1


“Mamih juga rindu,” lanjut Cicil sambil tersenyum senang melihat pemandangan Riki sedang mengusapi perutnya.


Senyuman Cicil langsung berganti dengan jeritan saat Cicil merasakan sakit yang tiba-tiba datang dan maha dahsyat. “Aa ... SAKIT!?”


Riki langsung bangkit dari duduknya dan berlari sambil berteriak. “Dokter, Suster tolong istri saya. Tolong istri saya.”


Cicil yang merasakan sakit hanya bisa meremas selimutnya dan berteriak kesakitan. Butir-butir keringat dingin akibat menahan rasa sakit sudah membasahi seluruh tubuh Cicil, bagian bawahnya sudah panas bukan main.


“Aa ... Aa ... dedenya mau keluar, Aa ...,” jerit Cicil keras. “Hah ... hah ... hah ....”


Cicil mendengar suara derap langkah berjalan kearahnya. Kepalanya pusing bukan main, rasa sakit benar-benar membuat Cicil oleng dan kepayahan, rasanya seperti seluruh tulang di tubuhnya dicabut dengan paksa secara bersamaan. Sakit dan ngilu.


Perutnya mulas tidak karu-karuan, rasanya dia ingin kekamar mandi. Tapi, suster selalu bilang itu bukan keinginan untuk buang air besar. Itu hanya kontraksi saat bayinya akan keluar.


“Bu Cicil,” panggil Dokter kandungannya sambil membuka kain yang menutupi kaki Cicil untuk memeriksa bukaan.


“Iya,” jawab Cicil sambil menaha napasnya. Wajahnya pucat bukan main.


“Bu Cicil masih kuat?” tanya Dokter kandungan, Dokter tersebut khawatir bila Cicil tidak memiliki tenaga lagi untuk mendorong bayinya keluar atau parahnya Cicil pingsan saat melahirkan.


Cicil menatap sekelilingnya mencari sumber kekuatannya. “Saya ... suami saya mana?” tanya Cicil.


“Kenapa kesayangan?” tanya Riki yang langsung mendekati Cicil dan memeluk Cicil dari belakang.


“Iya, Aa di sini nggak akan kemana-mana. Kita bareng-bareng.” Riki berkata sambil meremas tangan Cicil berusaha menenangkan Cicil.


“Bu Cicil?” tanya Dokter kandungan lagi.


“Iya saya siap tapi, saya mau suami saya,” rengek Cicil sambil mengusap tangan Riki yang sedang menggenggam tangannya.


Suster langsung menatap Dokter, mereka berdua saling tatap dan tersenyum. Mereka mengerti sumber kekuatan Cicil adalah suaminya dan begitu juga sebaliknya, hanya masalahnya apakah Riki siap melihat pertumpahan darah dalam proses melahirkan? Kebanyakan para pria langsung pingsan di tempat saat menemani istrinya bersalin.


“Pak Riki, Bapak siap?” tanya Dokter pada Riki. “Ini sudah mulai pembukaan sempurna Pak. Kalau bapak siap—“


“Saya harus apa?” potong Riki, Riki berjuang menenangkan jiwa dan perasaannya yang sebenarnya ketakutan. Badannya bergetar hebat dan perutnya mual, rasa takut sebenarnya sudah menyergap Riki. Tapi, dia harus kuat di hadapan istrinya.


“Aw ... Dokter sakita banget ini sakit banget,” teriak Cicil sambil meremas tangan Riki keras.


“Pak, duduk dibelakang Ibunya topang badannya, kasih semangat,” pinta Suster sambil menganggukkan kepalanya pada Riki.


Riki dengan patuh langsung meloncat ke belakang badan Cicil, duduk di bagian belakang sambil menopang badan Cicil yang terkulai ke tubuhnya.

__ADS_1


“Neng ... kesayangan Aa, bisa yah.” ucap Riki sambil mengecupi kening samping Cicil.


Cicil hanya bisa menganggukkan kepalanya rasa sakit yang maha dahsyat langsung dirasakan oleh Cicil.


“Bu Cicil, dorong ....”


Dengan sekuat tenaga Cicil mendorong, berjuang mengatur pernapasan yang sudah sering Cicil dan Riki latih. Riki berusaha untuk mengikuti irama napas Cicil, berusaha memberikan kenyamanan dan dukungan yang berlimpa pada Cicil.


“Ayo, udah keliatan Bu Cicil, denger aba-aba saya yah.”


Cicil mengeratkan peganggannya di lengan Riki menancapkan kukunya yang sudah terpotong hingga pendek. “Aa Neng ....”


“Bisa sayang, bisa sayang kamu bisa. Sekali lagi,” bujuk Riki sambil mengecupi apapun yang bisa Riki kecup. Air matanya merembes, tangisnya pecah rasa sayang dan cintanya bertambah berpuluh-puluh kali lipat saat melihat istrinya berjuang untuk melahirkan darah dagingnya ke dunia ini. Tanpa pamrih.


“Neng coba Aw ....”


“Bu dorong sekarang,”’pinta Dokter kandungan sambil menatap Cicil. “Dorong kuat Bu, ayo.”


“Ah ....”


“Oe ... Oe ... Oe ... Oe.”


Suara bayi langsung terdengar dengan nyaring saat Cicil mendorong sekuat tenaganya. Tangisannya seperti memberi tahukan pada dunia bahwa dirinya sudah hadir dan siap bertemu Mamih dan Babanya. Siap, memeriahkan kehidupan orangtuanya. Memberikan kebahagiaan dan kehangatan, bayi keju itu telah lahir.


Saat mendengar tangisan anaknya Riki langsung terisak seperti anak kecil. Tangisannya benar-benar pecah, saking bahagiannya, bahunya bergetar hebat saat melihat anaknya digendong dan diberikan pada Cicil untuk di beri ASI pertama.


“Neng ... hidungnya ka ... ya Aa Neng, mata ... nya ka ... ya kamu,” isak Riki dan menciumi pipi Cicil secara membabi buta.


“Iya, mirip kamu idungnya Aa. Kaya perosotan TK,” isak Cicil sambil tersenyum bahagia. “Anak siapa ini?”


“Anak kita sayang, anak kita bayi keju.” Riki berkata sambil terus menciumi bahu Cicil atau bagian tubuh apapun yang bisa Riki jangkau.


“Iya bayi keju,” gelak Cicil sambil mengusap hidung bayinya.


“Neng.”


“Iya Aa,” jawab Cicil, Cicil sama sekali tidak peduli dengan apapun kegiatan dokter kandungan di bawah sana. Entah apa yang mereka lakukan Cicil tidak peduli, Cicil lebih peduli dengan bayi nya dan kucing besar miliknya. Keluarganya.


Riki pun menautkan bibirnya ke bibir Cicil menyesapnya selama beberapa lama Riki mengurai ciumannya, memberikan ruang bagi Cicil untuk mengambil napas, mata mereka bertaut bibir mereka saling menggoda dan tampak senyuman kebahagiaan.


“Terima kasih kesayangan.”

__ADS_1


••••


XOXO GALLON


__ADS_2