
“Dok, adik saya nggak apa-apa?” tanya Riki pada Dokter yang sedang memeriksa Rozak. Rozak sendiri hanya bisa meringis saat dokter mengusapkan sesuatu di bahunya.
“Sakit Zak?” tanya Riki pada Rozak.
“Nggak, biasa aja sih. Sakitan dulu pas patah tulang,” ucap Rozak sambil menyentuh kakinya.
“Kenapa bisa sih? Gimana ceritanya?” Tanya Rozak.
“Kan aku teh ke Restoran, karena baju punya aku ketinggalan di pantry. Pas aku masuk kedalam dapur ruangan udah kebakaran, kaget bawa tabung pemadam aku semprot. Udah selesai ternyata langit-langit nimpa badan aku, A.”
“Dok, nggak papa?” tanya Riki lagi.
“Nggak apa-apa, untuk luka bakarnya ini ringan. Hanya tangan kanannya harus di gips karena patah,” ucap Dokter sambil menunjuk tangan kanan Riki.
“Udah, nggak papa, A,” jawab Rozak.
“Kamu ngajar gimana?” tanya Riki bingung.
“Yah, tinggal ngajar. Suruh aja anak-anak lari keliling lapangan lima puteran setiap hari atau suruh badminton bikin lomba, udah gampang aja,” ucap Rozak, Rozak tidak mau membuat Riki khawatir. Walau sebenarnya dia bingung juga bagaimana dirinya mengetik laporan akhir tahun.
“Sudah semua yah, Pak. Saya tinggal dulu,” jawab Dokter itu sambil pergi meninggalkan Rozak dan Riki.
“Makasih Dok,” Rozak dan Riki berkata berbarengan.
“Abah nanti malem mau kesini, dia kaget kamu kena langit-langit,” ucap Riki.
“Pasti si Edy yang nelpon,”kata Rozak.
“Iya, siapa lagi. Ampe dia kasih tau Taca. Untung Taca nggak ke sini, kebayang yang ada kamu bukannya disayang malah dimurkai Taca.” Riki yang tau sifat Taca hanya bisa tertawa kecil.
“Pasti bilang gini, kata Taca juga apa. Hobi bener nentang bahaya, kalau gini nyusahin satu kampung. Terus dia nempelin obatnya keras-keras, hahahaa.” Rozak menirukan suara dan mimik wajah Taca.
“Kebayang Adipati dengerin Taca yang lagi ngambek, bisa jantungan. Hahaha,” kekeh Riki.
“Dulu, Taca pernah mau bakar kasur. Tau gara-gara apaan,” ungkap Rozak sambil menggerak-gerakkan tangan kanannya.
“Punya adik serem, untung ada yang mau nikahin,” ucap Riki.
“Nggak dinikahin mah, abis si Adipati di gebukkn kita, Aa,” ucap Rozak.
Sretttt...
Tirai di rumah sakit terbuka dengan keras, otomatis Rozak dan Riki melihat kearah tirai. Riki langsung berdiri dari duduknya dan mundur saat melihat siapa yang membuka tirai.
“Nama,” panggil Rozak, seingatnya dia tidak pernah menghubungi Nama. Rasanya, tidak enak berbagi kesedihan dengan, Nama.
“Nama,” ucap Riki sambil menatap garis cantik berkacamat yang menatap dirinya dan Rozak bergantian.
“Hai Riki,” ucap Nama sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Rozak. Menatap Rozak dengan tatapan tajam.
Rozak bingung saat melihat kekasihnya itu menatapnya. Salah dia apa, Rozak tau bisa Nama menatapnya dengan tajam, artinya dia punya salah. Rozak berjuang untuk mengingat dia punya salah apa pada Nama.
“Aa, keluar yah. Mau ngurus administrasi,” ucap Riki sambil pergi meninggalkan Rozak dan Nama.
Setelah Riki meninggalkan Nama dan Rozak, Rozak menatap mata Nama.
“Kenapa Nam, kamu marah?” tamya Rozak sambil mengusap rambut Nama pelan, “aku salah apa?”
__ADS_1
Nama menghela napas dan mengambil tangan Rozak dan menciumnya pelan. “Zak, aku tuh apa kamu sih?”
“Hah?”
“Iya, aku tuh siapanya kamu?” tanya Nama lagi.
“Kamu nanya kok aneh.” Rozak menggaruk kepalanya.
“Aku nanya ini, aku siapa kamu?”
“Kamu pacar aku, Nam. Emang selama ini kamu ngerasa apaan, ya kali aku mau nyiumin cewe yang nggak ada hubungannya sama aku.”
“Terus kalau aku pacar kamu, kenapa kamu nggak ngasih tau aku, kalau kamu kecelakaan?” tanya Nama sambil menatap Rozak dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa aku harus taunya dari Cicil?” tanya Nama lagi sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
Rozak terdiam lama melihat Nama, “Nam, kejadiannya baru Nam, aku belum megang handphone. Gimana caranya aku ngasih tau kamu, aku nggak punya telepati,” ucap Rozak.
Nama memilin-milin bajunya, “Abis-abis, aku deg-degan. Gimana kalau kamu kenapa-kenapa, aku nanti gi...”
“Nggak apa-apa, ini aku nggak papa. Sehat walafiat, sehat jasmani dan rohani. Kamu nggak usah na...”
Nama langsung berdiri dan memeluk Rozak, Rozak terdiam merasakan Nama memeluknya. “Nama, kenapa?”
Nama benar-benar memeluk Rozak erat sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rozak. Rozak dengan jelas mendengar isakkan ditelinganya, Rozak langsung memeluk dan menepuk-nepuk punggung Cicil pelan.
“Nam, aku nggak papa. Aku sehat, nggak usah pikirin aku.”
“Gimana ceritanya aku nggak mikirin kamu, aku tuh pacar kamu. Masa aku nggak mikirin kamu, walau Cicil bilang kamu nggak apa-apa, tetep aja hati aku tuh ketar ketir. Gimana kalau kamu kenapa-napa, itu api loh,” ucap Nama sambil menatap punggung Riki yang memerah.
“Nggak apa-apa, udah. Denger nggak usah mikirin aku, aku nggak apa-apa,” ucap Rozak sambil mengusap-ngusap rambut Nama. “nah, kan kacamatanya berembun gitu.”
“Ada yang pernah bilang ke kamu nggak?” tanya Rozak sambil mengusap air mata Nama yang masih bersisa di matanya.
“Apa, kalau aku cengeng?” tanya Nama.
“Itu jangan ditanya, cengeng banget kamu. Apa-apa nangis, kesel sedikit nangis, bete sedikit nangis, nggak dipeluk aja bisa nagis kamu tuh,” ucap Rozak sambil mencawil hidung Nama.
“Ih... kok malah ngejek aku, nangis lagi aku ini,” ucap Nama kesal.
“Aduh, aduh... pacar aku kok cengeng, sini peluk dulu,” ucap Rozak sambil memeluk Nama.
“Rese kamu, Zak,” ucap Nama sambil memeluk kembali Rozak.
“Nam.”
“Apa?”
“Ada yang pernah bilang kekamu, kalau kamu lebih cantik tanpa kacamata?”tanya Rozak.
“Hah, gimana?” tanya Nama bingung, menggunakan kacamata semenjak SMP, membuat Nama sudah sangat terbiasa menggunakan kacamatanya.
“Kamu cantik kalau nggak pake kacamata,” ucap Rozak sambil melepaskan pelukkannya dan menatap Nama.
“Kalau nggak pake kacamata, nggak keliatan apa-apa. Burem semuanya, nggak bisa liat.” Nama berkata sambil mengambil kacamatanya saat akan mengenakannya Rozak menghentikannya.
“Nggak keliatan kalau aku nggak pake, Zak,” ucap Nama lagi sambil menatap manik mata Rozak yang benar-benar sudah berada didepan matanya, jarak mereka hanya beberapa inci. Nama sudah tau mau apa kekasihnya ini.
__ADS_1
Rozak pria yang sangat suka mencium dengan berbagai cara dan alasan, beberapa kali Nama harus pasrah diciumi Rozak ditempat umum atau bahkan ditengah jalan sekalipun. Protes yang dilayangkan Nama akam kebiasaam Rozak menciumi dirinya hanya dijawab senyuman atau jawaban biarin aku nyium kamu kok bukan nyium tetangga.
“Kalau segini keliatan, kan?”
“Kamu mau nyium aku?” tanya Nama sambil menatap Rozak.
Rozak tersenyum smirk sambil mengusap bibir bagia atas Nama, bibir Nama itu benar-benar candu bagi Rozak. Sekali menikmatinya, Rozak ingin lebih.
“Iya, kenapa?” tanya Rozak sambil memiringkan kepalanya mendekatkan bibirnya dengan bibir Nama mengikis jarak yang ada diantara mereka berdua. “Nggak boleh?”
Nama hanya bisa terkesiap, Rozak benar-benar membuat dirinya jungkir balik. Rozak lelaki terromantis yang pernah Nama temui, semua yang dilakukan Rozak sangat manis pada dirinya.
“Bo...”
Nama sama sekali tidak bisa melanjutkan ucapannya, bibir Rozak sudah mengesap bibirnya pelan, menggelitiknya meminta Nama membuka bibirnya untuk mengesap manisnya bibir Nama lebih banyak lagi. Sedangkan, tangan kiri Rozak sudah menarik-narik kemeja milik Nama, berusaha membuka kancing-kancing kemeja Nama, berusaha untuk menelusup ke balik kemejanya, mengusap bagian tubuh yang Rozak sukai.
Sreeett...
“Astaga, woi...” teriak Riki kaget saat melihat Nama dan Rozak yang sedang bermesraan dihadapannya. “Masih pagi ini.”
Nama langsung mendorong Rozak pelan, sambil mencengkram kemeja yang sudah berhasil dibuka oleh Rozak. Tangan Rozak dengan cepat keluar dari balik kemeja milik Nama.
“Eh, ada Aa,” jawab Rozak sambil tersenyum.
“Eh, ada Aa,” ejek Riki kesal, “untung bukan Abah, kalau Abah udah disambit koran kamu tuh.”
“Maaf, itu Rozak...”
“Nggak papa, Rozak mah nggak aneh. Emang gitu, obsesi sama bibir perempuan. Pas jomblo aja, tiap liat bibir nenek-nenek si Rozak ini langsung belingsatan.”
“Ngaco, ya kali nafsu liat bibir nenek-nenek,” ucap Rozak sambil memukul bahu Riki.
Nama hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Kakak dan Adik didepannya ini.
“Hahaha, udah. Kata dokternya kamu bisa pulang sore, pulang sendiri yah,” ucap Riki.
“Lah, emang Aa nggak bisa nunguin?” tanya Rozak bingung. Masa orang sakit suruh pulang sendiri.
“Nggak papa, nanti aku yang anter ke apartemen,” jawab Nama.
“Nah, bagus. Aa pulang duluan yah, mau mandi,” ucap Riki sambil memberes-bereskan barang-barangnya.
“Ya ampun, cuman mau mandi doang ampe ninggalin adeknya sendiri. Bisanya aja nggak mandi dua tahun santai-santai aja,” rutuk Rozak yang kesal kakaknya meninggalkan dirinya di ruman sakit. Untung ada Nama, kalau nggak gimana caranya dia pulang.
“Beda, ini mandinya harus di lakuin,” jawab Riki sambil berjalan kearah pintu.
“Mandi apaan?”
“Mandi wajib, Zak.”
“Asem..!?”
••••
Noh, yang dari kemarin nanya Riki udah mandi belom, jawabannya belom 🤣🤣🤣🤣.
Terima kasih yang sudah memberikan vote, point berupa bunga dan kopinya. Kalian luar biasa...
__ADS_1
Jangan lupa dikecup itu tombol likenya hahahhaa...
Xoxo Gallon...