
“Di, Aa Riki sama Kang Rozak bisa bebas nggak, yah?” tanya Taca sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
Adipati yang sedang menatap layar tablet miliknya langsung teralihkan dengan pemandangan Taca yang sangat paripurna. Istrinya itu sudah melahirkan tiga orang anak. Tapi, tidak merubah bentuk tubuhnya sama sekali, malah membuat tubuhnya makin padat.
“Bi...sa,” jawab Adipati sambil menatap Taca dengan menopang dagunya.
“Caranya gimana?” tanya Taca kebingungan, Taca yang hanya mengenakan cepana pendek dan tank top berdada rendah benar-benar membuat Adipati kehilangan fokusnya.
“Caranya yah, tinggal dikeluarin,” ucap Adipati sambil terus memusatkan pikirannya pada satu titik. Satu titik yang sudah meledakkan pikiran mesumnya ke titik teratas.
“Keluarin gimana?” tanya Taca bingung, apapula yang harus dikeluarin?
“Yah susunya dikeluarin,” ucap Adipati sambil terus menatap belahan bukit kembar Taca. Otaknya sudah berfantasi akan melakukan apa dengan kedua bukit kembar milik istrinya, apalagi bagian puncaknya. Rasanya Adipati ingin mengigitnya.
“Susu? Apa hubungannya antara susu sama ngeluarin Aa Riki dan Kang Rozak? Hubungannya apa?” tanya Taca bingung.
“Hubungannya baik-baik aja, nggak ada halangan apapun juga,” ucap Adipati, detik ini dia benar-benar tidak fokus sama sekali. Tangan Adipati tiba-tiba sudah ada disalah satu bukit kembar Taca.
Taca yang masih fokus dengan masalah kedua kakaknya sama sekali tidak sadar dengan pergerakkan yang dilakukan oleh Adipati disalah satu bagian tubuhnya.
“Di, aku pusing ini. Gimana kalau sampai Aa Riki dan Kang Rozak nggak bisa keluar. Gimana kalau...”
Taca terdiam saat merasakan tangan Adipati yang meremas dan mengelus bagian pucuk dadanya, Mata Taca langsung membulat sempurna saat Adipati menelusupkan bibirnya ke lehernya.
“Di... ini aku lagi ngomongin Kang Rozak sama Aa Riki,” ucap Taca sambil mencoba mendorong pelan Adipati.
“Iya ngomong aja, nggak ada yang larang,” bisik Adipati di telinga Taca dengan suara parau.
“Gimana mau ngomong kalau kamunya kaya gini, Di,” ucap Taca sambil menahan hasratnya sendiri. Menikah bertahun-tahun tidak bisa membuat Taca menolak serangan apapun dari Adipati.
“Yah, ngomong aja sebelum aku bungkam,” bisik Adipati lagi.
Taca benar-benar kehilangan fokus untuk berbicara mengenai kedua kakaknya, tangan Adipati entah bagaimana caranya sudah terselip dibagian pribadinya, menggelitik bagian pribadinya hingga membuat Taca menancapkan kuku kakinya ke kasur saking dirinya menahan kenikmatan yang hanya bisa Adipati berikan padanya.
“Di....”
Gairah kenikmatan benar-benar menerpa Taca berkali-kali, sesekali erangan berloncatan kelur dari bibir mungil Taca, berkali-kali Taca meloloskan nama Adipati dari bibirnya. Adipati langsung membuka tank top milik Taca, Taca yang sudah pasrah akhirnya mengangkat tangannya keatas mengijinkan suaminya membuka tank top miliknya.
Ide gila terlintas di otak Adipati, dengan cepat dibaliknya badan Taca, dielusnya perut Taca dengan lembut, setiap sentuhan yang diberikan oleh Adipati benar-benar memberikan sensasi tersendiri bagi dirinya. Taca mengerang saat merasakan ada sesuatu yang menerobos dirinya.
“Aw... D...” kata-kata Taca tertahan saat Adipati menelusupkan telapak tangannya kesela mulutnya membuat desahan Taca tertahan.
“Peraturannya tidak bersuara, Amore,” ucap Adipati di telinga Taca, Taca hanya bisa pasrah saat Adipati menghentaknya dengan ritme yang mampu membuat Taca melayang dan melambung, tubuhnya penuh. Penuh dengan Adipati, yang terus menhentaknya sesuka hatinya.
__ADS_1
Dan semuanya berakhir dengan kenikmatan yang hanya mereka tau, kenikmatan yang sudah membuat mereka terbang ke langit ke tujuh.
•••
“Di...” panggil Taca sambil menunjuk-nunjuk dada Adipati pelan.
“Hmm,” tanya Adipati sambil menciumi pucuk rambut Taca pelan.
“Kang Rozak sama Aa Riki gimana?” tanya Taca bingung. Dari tadi Taca sedang membicarakan tentang kedua kakaknya yang sudah tiga hari mendekam dipenjara. Adipati malah mengajaknya melakukan transfusi darah putih. Padahal, Taca baru mandi dan mencuci rambutnya, alamat dia harus mencuci kembali rambutnya.
“Mereka?” tanya Adipati.
“Iya mereka, mereka bakal baik-baik aja?” Taca kesal dengan betapa santainya suaminya ini, sudah dari tiga hari yang lalu Taca meminta suaminya mengeluarkan kedua kakaknya.
“Mereka baik-baik aja sih, nggak ada keluhan apapun. Terakhir dicek masih bernapas,” jawab Adipati santai.
Taca dengan kesal langsung menggigit bagian dada Adipati, Adipati yang sedang asik mengusap-ngusap rambut Taca sontak berteriak extra keras.
“WHAT THE HACK....!!!” teriak Adipati keras sambil melemparkan badannya kebelakang, saking kerasnya sampai-sampai tubuhnya terjengkanng kebelakang dan mendaratkan tubuhnya di lantai dingin kamar mereka.
“Di... sayang, kamu nggak papa?” tanya Taca kaget dengan reaksi Adipati, diintipnya Adipati yang sudah terlentang di lantai.
“Amore, astaga. Kalau mau gigit tuh bilang-bilang dulu bisa, nggak?” tanya Adipati kesal sambil menatap Taca yang sedang menjulurkan lidahnya dan tertawa pelan.
“Hahaha... maaf-maaf, abis kamu sih, Di. Aku tanya tentang Kang Rozak sama Aa Riki malah minta jatah kelon kan aku pusing,” kekeh Taca.
Taca langsung mengembungkan pipinya, seumur hidup mereka menikah, Taca tidak pernah bisa menolak pesona suaminya ini. Seberusaha apapun dia melakukannya dia pasti akan pasrah.
“Kan, kalau nggak mau bisa nolak,” ucap Adipati.
“Aku tuh, nggak bisa nolak kamu, Di. Ah... ngaco kamu tuh, kapan aku bisa nolak kamu? Kapan, dalam keadaan aku kaya apapun juga aku nggak bisa nolak kamu,” cicit Taca kesal sambil mengacak rambut Adipati gemas.
“Baguslah, emang kamu nggak boleh nolak,” ucap Adipati sambil menggigit bagian bawah Taca gemas.
“Ih... rese ah, kamu nggak jawab pertanyaan aku,” ucap Taca kesal sambil memukulkan bantal ke tubuh Adipati saking kesalnya.
“Aw... kamu tuh yah, udah sana mandi pake baju,” ucap Adipati sambil mengecup pucuk rambut Taca.
“Di, Kang Rozak sama Aa Riki gimana?” rengek Taca.
“Mandi atau aku mandiin kamu?” ancam Adipati sambil menaikkan salah satu alisnya.
Dengusan keras langsung terdengar dikuping Adipati, Taca benar-benar kesal dengan kelakuan Adipati ini. “Di....”
__ADS_1
“Mandi, Amore. Mandi, aku tunggu diluar,” ucap Adipati sambil mengenakan celana dan kaosnya dan pergi keluar meninggalkan Taca yang masih merasa kesal dengan kelakuan suaminya.
Taca dengan kesal mengikuti keiinginan Adipati, Taca kembali mandi untuk ke dua kalinya hari ini. Terima kasih Bapak Adipati Berutti, telah membuat shampoo miliknya cepat habis.
•••
Saat Taca keluar matanya membulat sempurna saat melihat Adipati yang sedang duduk bersama dengan dua orang lelaki yang Taca rindukan.
“KANG ROZAK, AA RIKI...!!” teriak Taca sambil berlari kemudia meloncat kepangkuan kedua kakaknya.
Saat pantat Taca sudah mendarat dengan sukses di paha Rozak dan Riki, Taca merasa badannya terangkat.
“Bisa nggak sih, nggak usah centil. Iya tau itu kakak kamu. Tapi, nggak loncat juga, Amore,” ucap Adipati sambil mendudukkan Taca di antara dirinya dan Rozak.
Taca hanya bisa tertawa pelan, “Maaf, Di.”
“Udah gede kamu tuh, Ta,” kekeh Rozak.
“Udah berat,” ucap Riki lagi sambil menahan tawanya.
Klik...
Pembicaraan mereka terhenti saat pintu kamar Riki terbuka dan Cicil keluar dari kamar itu. Cicil langsung berteriak saat melihat Riki ada di sana.
“Aa...” jerit Cicil sambil berlari kearah Riki dan melemparkan tubuhnya, sambil menciumi setiap jengkal wajah Riki.
Riki yang kewalahan hanya bisa tertawa pelan melihat tingkah laku Cicil.
“Astaga, siapa yang meluk Akang ini?” tanya Rozak nelangsa.
Taca langsung tertawa kecil, “Ya udah, sini Taca peluk yah,” ucap Taca sambil merentangkan tangannya hendak memeluk Rozak. Namun....
“Cari pacar bisa ‘kan?” tanya Adipati sambil menarik Taca dan memindahkannya ke sisinya yang lain,
“Astaga ngenes amat yah, hidup Akang,” ucap Rozak nelangsa sambil mengerucutkan bibirnya.
•••
Sabar Kang Rozak, orang sabar disayang tuhan hahahahaa...
Kasian Kang Rozak... bagaimana kalau kita jodohkan saja dengan yang lain yah hehehee...
Dengan bekantan misalnya 🤣🤣🤣.
__ADS_1
Jangan lupa itu tombol likeny disambit pake koran, yang kemaren nggak bisa klik like pake pinggul, jangan berkecil hati yah. Masih ada hidung 🤣🤣🤣
Jangan lupa di vote sama kasih pointnya buat kaka gallon hehehe...