Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Dudukun...


__ADS_3

“Kita mau kemana?” tanya Laura sambil berbisik ditelinga Edy.


“Ki Berondong,” jawab Edy santai.


“Ngapain? Mau apa ke dukun?” tanya Laura bingung, “jangan bilang Cicil ingin ngelahirin di dukun beranak.”


“Nggak, lah. Bisa di tempeleng dukunnya ama Riki, Riki kalem-kalem gitu kalau udah marah, ih... ngeri,”ucap Edy sambil bergidik ngeri.


“Emang, Riki bisa marah?” tanya Laura.


“Ya, bisalah. Riki teh manusia, kecuali dia teh turunan odong-odong, baru nggak bisa marah. Bisanya nyanyi lagu pelangi-pelangi,” jawab Edy sambil melirih Laura yang sudah siap memukulnya karena gemas.


“Lele, ih...” Laura langsung memukul bahu Edy kesal.


“Hei, nyupir yang bener, becanda mulu. Kalau kenapa-napa gimana?” ucap Riki sambil mendorong badan Edy gemas.


“Siap, Pak Boss,” ucap Edy sambil melirik Riki.


“Riki galaknya sama kaya Cicil, yah,” ucap Laura sambil menatap Edy.


Edy hanya menganggukkan kepalanya, tak berapa lama, mereka sudah sampai didepan rumah Ki Berondong, dukun sakti langganan Edy.


“Neng, Neng yakin mau ketemu Ki Berondong?” tanya Riki bingung.


“Iya, aku mau liat dukun tuh kaya gimana bentuknya sekalian aku mau nanya sesuatu juga.” Cicil berkata sambil menutup pintu mobil dengan pelan.


“Nanya apa?” tanya Riki.


“Siapa Bapak biologisnya bayi aku,” jawab Cicil santai sambil berjalan meninggalkan Riki.


“Kan, kita mau test DNA besok, ngapain ke Ki Berondong, Neng?” tanya Riki bingung.


“Buat tau aja, ini anak siapa. Udah coba-coba aja Aa, ngilangin penasaran,” jawab Cicil santai.


“Tapi, nggak kedukun juga, Neng,” ucap Riki buru-buru sambil berlari kearah Cicil yang sudah berjalan masuk kedalam rumah Ki Berondong.


Cicil dengan tenangnya duduk di samping seorang ibu-ibu yang sedang membaca majalah misteri.


Riki langsung duduk disamping Cicil, dihadapannya Edy dan Laura sudah duduk dengan manis, saling berhimpitan.


“Bu, ngapain Ibu kesini?” tanya Cicil pada Ibu-ibu disebelahnya. Cicil penasaran apa sih motivasi orang-orang datang kedukun.


“Saya punya usaha baso, Mbak. Saya kesini buat usaha saya,” jawab Ibu-ibu itu sambil menatap Cicil.


Cicil tersenyum, ternyata manusia masih sama. Ingin kekayaan, usahanya laku keras sampai-sampai melakukan jalan pintas, pergi kedukun bukannya berusaha.


“Jadi, Ibu kesini biar usaha Ibu laku?” tanya Laura yang ikut mendengarkan pertanyaan Cicil.


“Ah, apa?” tanya Ibu-ibu tersebut, wajah ibu-ibu tersebut tampak kaget dengan pertanyaan Laura.


“Ibu kesini biar usaha ibu lakukan, kaya minta sesuatu gitu.” Laura mengulang pertanyaannya lagi dengan lebih jelas lagi.


Ibu-ibu itu tertawa malu-malu sambil menutup mulutnya, “Aduh, Mbak ini. Bukan, Mbak.”


“Terus kenapa Ibu kesini?” tanya Riki penasaran, ngapain juga Ibu-ibu ini datang ke Ki Berondong.


“Saya ingin, usaha saya bangkrut....”


“Heh,” ucap Riki, Cicil, Laura dan Edy berbarengan. Manusia macam apa yang datang ke dukun bukan ingin usahanya maju. Tapi, ingin usahanya bangkrut.


“Iya, saya ingin satu cabang saya tuh, yang di Condet, bangkrut. Kesel saya, Kakak saya ngaku-ngaku itu usaha dia, daripada saya darah tinggi. Mending, saya buat bangkrut. Kesel masalahnya,” cerocos Ibu-ibu itu sambil terkekeh.


“Jadi, ibu ingin bangkrut?” tanya Riki lagi.


“Iya, saya denger disini dukunnya bagus, banyak yang dateng kesini minta sukses malah bangkrut ‘kan bagus, itu. Saya ‘kan mau bangkrut, jadi saya yakin Ki Berondong adalah jawaban semua doa-doa saya.” Ibu-ibu itu tersenyum pada Laura dan Edy.


“Kata Aa, juga apa. Nggak ada yang bener kalau saran dari si Edy itu, Neng,” bisik Riki pelan.


•••


Cicil terbatuk pelan, saat pertama kali masuk kedalam ruangan khusus Ki Berondong. Asap tebal dengan wangi pandan langsung menggelitik hidung Cicil.

__ADS_1


“Aa, ini dukun macam apa sih, kok wangi ruangannya Wangi pandan?” tanya Cicil bingung.


“Kan, Aa udah bilang dukun ini tuh aneh, nggak liat bentukkan si Edy kaya apaan?” tanya Riki sambil menunjuk Edy yang sudah masuk dan duduk dikursi yang ada diruangan itu.


“Udah pulang aja, yuk,” pinta Riki.


“Nggak, udah kepalang tanggung, Aa. Dari Jakarta ke Bandung, jauh-jauh. Kalau, nggak konsultasi buat apaan?” Cicil menarik tangan Riki untuk masuk lebih dalam lagi.


Riki dan Cicil pun duduk dikursi yang ada, wangi pandan bercampur minyak telon benar-benar menggelitik hidung Cicil.


“Maaf, Ki ini wangi pandan dari mana?” tanya Cicil penasaran. Seumur hidup dia belum pernah kedukun.


“Oh, pandan?” tanya Ki Berondong pada Cicil yang langsung dijawab anggukkan oleh Cicil yang penasaran darimana wangi pandan itu.


Ki Berondong langsung mengenakan kacamata hitam dan sarung tangan berwarna hitam. Cicil menatap Riki dengan tatapan ‘mau-apa?’, yang dijawab gelengan oleh Riki.


Ki Berondong membuka sesuatu dihadapannya, wangi pandan makin tajam tercium hidung Cicil.


“Ini kayanya, benda keramat,” ucap Edy semangat.


“Keramat?” tanya Cicil dan Laura berbarengan.


“Iya, wangi gini. Aku jamin seratus persen pasti benda ke....”


Tuk...


Sebuah bolu pandan berbentuk wajah Ki Berondong, sudah tersajikan dengan manis dihadapan mereka berempat.


“Saya lagi suka nonton youtube acara masak Rudi Choirudin. Ini saya praktekin bikin bolu pandan bentuknya muka saya, biar estetik,” ucap Ki Berondong sambil menaikkan sebelah alisnya.


“Keramat dengkul lo, Edrosh,” bisik Riki kesal.


Cicil dan Laura hanya bisa menahan tawanya melihat wajah Edy yang kaget, karena tebakkannya salah.


“Jadi, ada yang bisa saya bantu?” tanya Ki Berondong sambil meminum infused water dari botol minum salah satu tempat kopi terkenal di Indonesia.


“Nggak ada, kita cuman...”


“Saya mau tau, siapa bapak biologis anak yang sedang saya kandung sekarang,” potong Cicil cepat.


“Hmmm,” ucap Ki Berondong sambil mengusap-usap dagunya pelan. “perkara sulit.”


“Saya bingung siapa Bapaknya, karena hari senin saya berhubungan dengan suami saya dan hari selala saya diperkosa orang.” Cicil benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan harga diri, toh satu Indonesia sudah tau apa yang terjadi pada dirinya.


“Hmmm.... logis, logis.” Ki Berondong berkata sambil memejamkan kedua matanya dan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


“Saya jadi ingin tau siapa bapaknya, saya pusing, stress saya,” ucap cicil.


“Oke, logis... logis...” ucap Ki Berondong sambil menganggukkan kepalanya lagi.


“Gimana bisa nggak?” tanya Cicil.


“Hmm.... hmm...” Ki Berondong tiba-tiba menggerakkan kepalanya seperti orang yang sedang menari keatas dan kebawah.


“HUAAAAA...!?” teriak Ki Berondong sambil mengangkat kedua tangannya kemudian menggoyangkannya ke kanan dan kekiri sambil sedikir demi sedikit duduk dilantai. Setelah dilantai Ki Berondong berguling-guling ke kanan dan ki kiri.


Laura dan Cicil saling bertatapan, “Itu dukun sakau?” tanya Cicil pada Laura.


“Nggak tau, kayanya sih sakau. Inget dulu, Juan pernah sakau? Bentukkannya ‘kan kaya gitu,” ucap Laura mengingatkan Cicil pada mantan tunangannya Juan.


Cicil menatap Ki Berondong yang tiba-tiba berdiri dan mengangkat kakinya sampai setinggi pinggang bergantian, tak lupa kepalanya bergoyang-goyang. Cicil langsung ingat dengan tarian SKA zaman 90-an.


“Oke, fix ini orang sakau, Laura,” ucap Cicil sambil mencengram tangan Laura erat.


“Pan, kata Aa juga apa, nggak bener itu manusia,” ucap Riki sambil mengusap dahinya pelan.


“Humadah humadah humadah, yiha yiha hua hua kuda, uhuy,” ucap Ki Berondong sambil mengoyang-goyangkan pinggulnya seperti orang kurang zat besi dan vitamin.


“Aa, itu kenapa?” tanya Cicil sambil memukuli tangan Riki.


“Nya teuing,” jawab Riki kesal, didalam hatinya dia mengutuki keinginan Cicil untuk bertanya pada Ki Berondong.

__ADS_1


(Yah, Nggak tau)


“Huaaaaaa.” Ki Berondong langsung menyentuh dahinya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menunjuk perus Cicil.


“Apa?” tanya Cicil penasaran.


“Saya merasakan, aura-aura ayah biologisnya,” ucap Ki Berondong.


“Mana?” tanya Cicil penasaran.


“Aura ayahnya, bersih. Kayanya dia selalu mandi sehari lima kali,” ucap Ki Berondong lagi.


“Terus?” tanya Cicil lagi.


“Hmm... Ayah biologisnya, peranakan. Blesteran,” ucap Ki Berondong.


Deg...


Jantung Cicil berdetak, tangisnya hampir pecah. Seingatnya Riki bukan blesteran, yang orang luar adalah Albert. Jangan bilang ini anak Albert, tanpa sadar Cicil mencengkram paha Riki kencang. Riki langsung menggenggam tangan Cicil erat.


“Blesteran apa, Ki?” tanya Edy was-was.


“Hmmm.” Ki Berondong mengacungkan tangan kanannya ke angkasa kemudian menggoyang-goyangkannya di udara, seperti sedang melukis sesuatu.


“Hmm... Ayah biologisnya orang USA,” ucap Ki berondong.


Cicil langsung menghempaskan badannya ke kursi, air matanya hampir mengalir deras, Albert memiliki darah Amerika dari pihak Ibunya. Napas Cicil langsung sesak.


“Aa, Mommy Albert orang Amerika,” bisik Cicil pelan.


Riki langsung menggeretakkan giginya, dia pun benar-benar bingung dengan kondisi saat ini. Satu sisi dia tidak percaya dengan omongan dukun sinting didepannya ini. Tapi, omongan Ki Berondong pasti mempengaruhi kondisi Cicil.


“Ki, USA itu United States of America?” tanya Riki pelan.


Ki Berondong tiba-tiba menggeram pelan, sambil menggerak-gerakkan kembali pinggulnya. “Hmm... bukan, ayah biologis anak didalam kandungan kamu itu orang USA,” ucap Ki Berondong.


“USA APA?” tanya Cicil gemas.


“USA...” Ki Berondong menggantungkan perkataannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


“Apa?” tanya Cicil penasaran, seingatnya di dunia ini hanya ada satu negara dengan singkatan USA. Yaitu, Amerika.


“Aa, gimana ini?” tanya Cicil ketakutan sambil menggenggam tangan Riki, Riki hanya bisa mengusap-usap paha Cicil berusaha untuk menenangkan Cicil.


“USA,”’ucap Ki Berondong.


“Iya apa USA-nya?” bentak Riki kesal bukan main, rasanya dia ingin menonjok Ki Berondong. Riki kesal karena Ki Berondong membuat Cicil panik, Riki paling tidak suka melihat istrinya panik seperti itu.


“U-S-A...” Ki Berondong melambai-lambaikkan tangannya di udara seperti sedang melakukan ritual persembahan.


“Apa?” tanya Laura, Edy, Cicil dan Riki bersamaan.


“USA, Urang Sunda Asli, ayah biologis anak kamu, Urang Sunda Asli,” ucap Ki Berondong sambil menunjuk perut Cicil dan mengedipkan sebelah matanya dengan gaya salah satu member boygroup Korea.


“Hah?”


“Iya, bapak biologisnya adalah Urang Sunda Asli, disingkat USA!?” ucap Ki Berondong.


“NGAJAK RIBUT IEU DUKUN..!?” teriak Riki sambil menerjang Ki Berondong.


(Ngajak ribut ini dukun)


“RIKI..!?”


•••


Muahahahhahaa...


Iya ayah biologisnya menurut Ki Berondong ciri-cirinya USA ( Urang Sunda Asli atau orang Sunda asli) 🤣🤣🤣.


Kecele ni yeh...

__ADS_1


Hei jangan lupa kasih kopi dong atau bunga buat Kaka Gallon sama klik tombol like yah ❤️.


XOXO GALLON.


__ADS_2