Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
KABUR !?


__ADS_3

Nama mamatut dirinya di kaca, jantungnga berdetak dengan sangat-sangat cepat. Rasanya baru kemarin dia fitting baju dan berkelahi gara-gara Rozak berkata sangat-sangat manis dengan mantannya. Detik ini dia tinggal menunggu waktu untuk segera menjadi istri Rozak.


Nama terus menghembuskan napasnya perlahan mencoba menenangkan dirinya yang sejujurknya sangat-sangat panik. Nama seperti merasa mual dan pusing saking tegangnya.


“Kak … kok pucat?” tanya Ira yang sedari tadi menemani Nama.


Tangan Nama tampak memilin milin kebaya putihnya. Jantungnya berdetak cepat, “Iya Kaka belum makan, Ra.”


“Eh … makan dulu, mau Ira bawain roti?” tanya Ira.


Nama hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah. “Iya boleh, sama minum juga yah.”


“Bentar aku ambilin,” ucap Ira sambil menyentuh tangan Nama. “astaga Kak, dingin banget.”


“Iya … nggak tau Kaka juga pusing banget kaya mau muntah. Kaka kayanya tegang banget, Kaka takut,” ucap Nama kebingungan.


“Takut kenapa?” tanya Ira.


“Kaka takut salah langkah, Kaka takut kalau udah nikah Kang Rozak malah nggak sayang dan nggak cinta lagi sama Kaka. Kaka takut, Ra,” ucap Nama sambil memilin-milin kebayanya.


“Lah kenapa punya pikiran gitu?” tanya Ira bingung, kesambet apa Kakaknya itu. Kenapa bisa sampai punya pikiran kaya gitu.


“Nggak tau, aku ngerasa takut aja. Takut gagal, takut entah kapan atau entah terjadi ataupun tidak Rozak berubah kaya ….”


“Kaya siapa?” tanya Ira.


“Kaya ….” Nama menundukkan kepalanya dalam-dalam ada rasa sungkan untuk mengatakan siapa orang yang Nama takutkan.


“Ayah?” tanya Ira pada Nama.


Nama hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan, demi apapun Nama sangat-sangat khawatir bila Rozak berubah menjadi seperti Ayahnya. Berselingkuh atau melakukan tindakan KDRT pada dirinya.


“Nggak lah Kak,” ucap Ira menenangkan.


“Tapi.” Nama berkata sambil menatap Ira bingung.


“Udahlah jangan mikir aneh-aneh dulu. Aku bawain roti sama air putih yah. Tunggu di sini.”


Ira berkata sambil menepuk tangan Nama mencoba untuk menenangkan Kakaknya. “Sebentar yah.”


Nama hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menatap jendela yanh terbuka dih hadapannya. Menenangkan dirinya, setenang mungkin.


••••


“Ra … mau kemana?” tanya Rozak yang sedang berjalan melintasi koridor dan berpapasan dengan Ira yang tampak tergesah-gesah berjalan ke arah yang berlawanan dengan dirinya.


“Pak Rozak?”


“Mau kemana?” tanya Rozal yang entah kenapa ingin menanyakan hal itu pada calon adik iparnya itu.


“Kok Bapak ada di sini? Nggak siap-siap?” tanya Ira bingung.


“Udah siap semuanya saya mau ngasih sesuatu buat Nama. Kamu mau kemana?” tanya Rozak pada Ira penasaran.


“Oh … emang boleh pengatin laki-laki liat pengantin perempuan?” tanya Nama.


“Boleh lah, cuman mitos aja itu mah,” ucap Rozak santai, dia merasa tidak ada yang salah tentang menemui Nama sebelum ijab kabul.


“Eh … terserah sih, aku mau nyari makanan buat Kak Nama makan. Dia belum makan dari pagi, tangannya ampe dingin banget.”

__ADS_1


“Nama sakit?” tanya Rozak khawatir.


“Iya sama dia waswas.”


“Waswas gimana? Dia kenapa?” Rozak langsung merasa tidak enak hati mendengar perkataan Ira.


“Itu dia takut ….”


“Takut kenapa?” tanya Rozak cepat.


“Dia takut kalau Pak Rozak nanti tiba-tiba berubah jadi kaya Ayah.”


“Lah kejauhan pikiran Kaka kamu tuh. Astaga … pantesan dia dari kemarin kaya banyak pikiran,” ucap Rozak sambil mengusap keningnya.


“Pak … mending Bapak kesana deh, tanya ama Bapak ke Kak Nama dia kenapa,” usul Ira.


“Iya … Bapak ke sana dulu, makasih infonya Ra,” ucap Rozak sambil berlalu dari sana. Entah kenapa dia merasa harus menemui Nama secepatnya.


•••


Rozak mengetuk pintu ruangan pengantin di depanny sebanyak dua kali.


Tok … tok …


Hening, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar. Merasa khawatir Rozak langsung membuka pintu tersebut dengan terburu-buru.


Saat membuka pintunya, matanya membulat saat melihat Nama sedang naik ke jendela dan hendak keluar dari dalam ruangan tersebut.


“Astaga Nyun, mau kemana?” tanya Rozak sambil berlari untuk memeluk Nama.


Nama yang sudah setengah badan akan keluar dari ruangan rias tersebut melalui jendela hanya bisa mematung saat Rozak memergoki dirinya hendak keluar ruangan rias.


“Mau kemana kamu, Nyun?” tanya Rozak bingung. “Mau kemana?”


“Lah mau pergi kemana?” tanya Rozak bingung sambil menarik Nama dari jendela tersebut dan memeluknya dengan erat.


“Mau pergi aja, aku pusing.”


“Pusing kenapa?” tanya Rozak sambil mengeratkan pelukkannya di perut Nama.


“Pusing aja, aku nggak mau nikah,” ucap Nama spontan sambil membalikan tubuhnya dan emmatap Rozak.


Rozak kaget dengan perkataan Nama, di ruangan tersebut tidak ada siapapun. Semua perias sudah pindah ketempat acara lainnya, sedangkan Ibu sedang mengurus hal lainnya.


“Kenapa nggak mau nikah?” tanya Rozak.


“Nggak mau aja.”


“Astaga, kamu nggak cinta sama Akang?” bentak Rozak kesal dengan kelakuan Nama yang selalu kabur-kaburan.


“Cinta Kang, Nama cinta Akan. Tapi, Nama nggak mau nikah. Kita kumpul kebo ajalah.”


“Idih Nyun, ogah. Bisa bangkit dari kuburan Ambu kalau tau aku kumpul kebo.” Rozak berkata sambil menatap manik mata Nama. Nama yang sudah sangat cantik mengenakan sangul sederhana benar-benar membuat Rozak terpukau.


“Abis-abis kalau nikah nggak ada jaminan kamu nggak bakal kaya Ayah,” ucap Nama sambil mengipas-ngipas matanya dengan tangan kanannya berusaha untuk menghentikan air matanya keluar.


“Kenapa jadi Ayah?” tanya Rozak bingung.


“Gimana kalau nanti pas nikah aku berubah jadi jelek, gendut, hobinya dasteran dan idup lagi. Kamu masih sayang dan suka sama aku?” tanya Nama.

__ADS_1


“Eh … kok kamu jadi mikir gini?”


“Kenyataan Kang, kalau aku udah jelek kamu masih mau sama aku?” tanya Nama pada Rozak.


Rozak langsung menghela napasnya pelan. “Nyun, mau kamu berubah jadi kaya ondel-ondel lampu merah juga Akang mah tetep suka sama kamu. Da Akang mah sukanya bukan muka kamu. Tapi ….”


“Apa?”


Rozak menunjuk dada Nama sambil tersenyum manis. “Hati kamu, Nyun. Kamu tuh baik dan selalu ada di sebelah Akang walau dalam keadaan Akang aneh sekalipun.”


“Kapan Akang aneh?” tanya Nama.


“Hahaha … inget waktu Akang minta tolong sama kamu buat bobol apartemen Cicil? Terus saat Akang berubah jadi tukang gendang? Inget nggak?” tanya Rozak pada Nama.


“Iya inget,” kekeh Nama sambil mengulum senyumnya, mengingat betapa anehnya kelakuan Rozak saat itu.


“Nah … udah pokoknya Akang sayang dan cinta sama kamu. Akang nggak mau aneh-aneh, karena ….”


“Apa?”


“Karena buat yakinin kamu nikah sama Akang susah. Terus, buat bawa kamu ke pelaminan itu susahnya banget. Mulai kamu nolak Akang terus, ditolak Ayah, Aa Riki masuk penjara, nyari cara supaya kamu nikah pake wali, dan sekarang kamu mau kabur, untung ketahuan kalau nggak dahlah bablas udah. Akang nikah ama bebek udah,” canda Rozak.


“Ngaco kamu, Kang.” ucap Nama sambil menepuk bahu Rozak pelan.


“Terus Akang mau nikah sama siapa kalau kamu kabur?”


“Nggak jadi nikahnya lah, batalin,” ucap Nama sambil menatap Rozak.


“Ih … nggaklah, sayang udah bayar mahal-mahal masa nggak jadi. Mending cari istri cadanganlah. Jangan kaya orang susah,” canda Rozak sambil menjawil hidung Nama.


“Ih … kamu mah jahat.”


“Jahat mana sama kamu yang mau kabur?” tanya Rozak pada Nama.


“Aku, jahat aku. Maaf yah.” Nama berkata sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam. Saat sedang melihat lantai matanya tiba-tiba menangkap sesuatu yang membuat dirinya terhenyak.


“Apa ini?” tanya Nama pada Rozak sambil menyentuh tangan Rozak yang sedang memegang suatu benda yang sangat lucu.


“Ini itu namanya kalung?” ucap Rozak sambil menunjukkan kalung yanh ada di telapak tangannya.


“Buat aku?” tanya Nama sambil menyentuh sesuatu di dalam tangan Rozak.


“Iya buat kamu, buat calon ibu anak-anak aku.” Rozak berkata sambil mengambil kalung mutiara panjang berwarna putih gading.


“Eh … itu mutiara asli?” tanya Nama bingung.


“Iya, baguskan.”


“Iya, bagus aku suka.”


“Aku juga suka makanya aku beli buat kamu. Karena liat mutiara ini bikin aku inget kamu.”


“Kenapa?” tanya Nama sambil menatap Rozak.


“Kamu itu kaya mutiara yang dibentuk dari pasir kemudian tumbuh dan berkembang menjadi secantik ini.”


“Kang.”


“Kamu itu dibentuk dari masa lalu dan kejadian pahit. Tumbuh dan berkembang menjadi sesuatu yang cantik. Kamu cantik sayang, kamu lebih dari cukup buat menemani aku sampai nanti aku tua.”

__ADS_1


••••


Xoxo Gallon


__ADS_2