
Suasana sangat ramai dan gempita, Rozak sampai bingung sebenernya petarungan macam apa ini? Sampai ada juri, wasit dan tak lupa gadis-gadis ring dengan pakaian yang mampu membuat semua jiwa lelaki jomblo meronta. Untung udah nggak jomblo.
“Ini kenapa bisa semeriah ini, sih?” tanya Rozak pada Riki.
“Nggak tau, Zak. Untung kamu nggak kepincut Laura, kalau kamu yang suka sama Laura. Udahlah abis kamu jadi peyek.” Riki berkata sambil memberikan bungkusan berisi keju ketangan Cicil.
“Itu Edy bakal baik-baik aja ‘kan?” tanya Riki lagi, entah kenapa dia sangat-sangat mengkhawatirkan keadaan Edy. Nggak lucu kalau demi menikah dengan Laura, Edy harus patah tangan atau salah urat.
“Kalau dia patah tulang atau kenapa-kenapa, aku udah siapin tukang pijet,” ucap Cicil yang ikut nimbrung tiba-tiba.
“Mana?” tanya Rozak dan Riki berbarengan.
“Noh.” Cicil menunjuk seorang bapak-bapak pruh baya yang menggunakan baju berwarna putih.
“Astaga, Haji Naim,” ucap Rozak dan Riki berbarengan, menyebutkan salah satu tukang pijit terkenal di Jakarta, yang kehebatannya dalam menyembuhkan patah tulang sudah sangat tersohor.
“Terus, tuh.” Cicil menunjuk tenaga medis yang sudah siap sedia di sebelah Ring.
“Aa, ini gimana?”
“Udahlah, kita berdoa aja yang terbaik bagi Edy,” jawab Riki sambil mengusap dahinya.
“Neng, Aa mau nanya ini kenapa banyak yang nonton?” Riki menunjuk sekelilingnya yang penuh.
“Om Sabar itu walau juara satu MMA senior, dia udah jarang tanding lagi. Karena, dia fokus buat pencalonan parlemen di Jakarta tahun ini ‘kan. Nah, makanya fansnya pas tau Om Sabar mau tanding pada mengila semuanya. Mereka langsung minta pertandingannya dibuat untuk umum,” terang Cicil sambil menyuapkan keju ke mulutnya.
Mendengar penjelasan Cicil Rozak, Riki dan Nama hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. Sepertinya, mereka harus banyak-banyak berdoa untuk keselamatan Edy.
Ting... Ting...
Tiba-tiba suara lonceng terdengar bergema nyaring di ruangan itu. Tampak seseorang berbaju hitam putih naik ke atas ring, orang tersebut ditemani dua orang gadis ring.
“Ladies and gentleman, selamat datang di acara petarungan yang sangat dinanti-nantikan oleh semua fans Sabar Subgja. Petarungan yang mampu menggetarkan jiwa dan raga dari founder MMA Indonesia cabang Cikudapateh-Ciroyom.”
__ADS_1
Tepuk tangan terdengar disetiap penjuru gedung, Rozak dan Riki saling tatap sambil mengulum senyum.
“Asa jiga jurusan angkot di Bandung, Aa. (Kaya jurisan angkot di Bandung, Aa.)” ucap Rozak sambil menahan tawanya.
“Iyahin aja, mau disambit kamu ama ototnya?” kekeh Riki sambil menutup mulutnya.
“Baiklah, tanpa menunggu lebih lama lagi. Kita langsung panggil, petarung-petarung yang sangat kita banggakan. Pertarungan ini, bukan pertarungan resmi. Petarungan ini dilakukan hanya semata-mata untuk menunjukkan keseriusan seorang lelaki perkasa untuk mendapatkan cinta seorang gadis, yang memiliki Ayah bernama Sabar Subagja,” ucap Wasit tersebut dengan gaya khas miliknya.
Riuh langsung terdengar keras saat wasit mengucapkan nama Sabar Subagja. Bahkan, terdapat beberapa penonton yang menggunakan kaus bergambar wajah Sabar Subagja yang sedang menunjukkan otot-ototnya.
“Langsung saja, tanpa basa basi busuk dan terlalu lama menunggu. Kita panggilkan jawara kita dengan tinggi 180 cm dan berat 90kg dengan berat otot hampir diseluruh tubuhnya. Hobinya olahraga, otot kawat tulang besi dan menggoyang barbel setiap hari, sang penakluk putra dewa besi, tak lain dan tak bukan SABARRRRRR SUBAGJA.”
Sesaat wasit berteriak langsung terdengar suara mercon kembang api di ujung ruangan. Sabar berjalan keluar mengenakan pakaian ala petarung sambil mengenakan kacamata hitam. Tangannya diangkat keudara, riuh tepuk tangan terdengar membahana.
Dibelakang Sabar berjalan dua orang dengan badan yang sama besarnya, seperti sabar. Mereka tampak membawa perlengkapan yang akan di pergunakan oleh sabar.
Setelah mendengar suara riuh dan mercon kemban api Cicil langsung menjerit dan memeluk pinggang Riki. “Kaget, aku.” Cicil berkata sambil memeluk Riki erat.
“Nggak papa, asal manjanya ama Aa, bukan ama tukang parkir,” ucap Riki sambil mengecup pucuk rambut Cicil.
Merasa dibela Cicil langsung menyelipkan wajahnya didada Riki. Mengesap wangi tubuh suaminya.
Setelah Sabar menaikki ring, Wasit langsung berkata, “Dan penantangnya seorang laki-laki kurang gizi, urang sunda asli dan berdomisili di Citeko. Anak buah sejati Ki Brondong yang hobinya ngemil beling. Ini dia Edrosh, Edy Edrosh yang hobinya di endorsh.”
Plar....
Tiba-tiba lampu mati. Kemudian, sayup-sayup terdengar lagu khas kesenian pancak silat. Dari ujung ruangan tampak Edy menggunakan pakaian serba hitam dan entah bagaiman caranya area sekitar mata Edy berwarna hitam.
“Kang, kenapa Edy jadi kaya panda gitu matanya?” tanya Nama bingung.
“Nggak tau, udah liatin ajalah, Nyun. Si Edy mah nyentrik.” Rozak berkata sambil mengelus tangan Nama.
Edy berjalan sambil bergoyang-goyang, di depannya tampak Ki Brondong sedang meniup-niup asap menyan yang terbuat dari minyak telon.
__ADS_1
Saat Edy sudah sampai di ring, wasit langsung memeriksa keadaan masing-masing petarung.
“Siap?” tanya Wasit pada Edy yang langsung dijawab anggukan oleh Edy dan Sabar.
“Lets the beattle begin!?” teriak Wasit dengan suara yang menggelegar membahana.
Dengan cekatan Sabar langsung mendekati Edy dengan gerakan yang nyaris tak terlihat dan diduga sebelumnya oleh pria itu. Sabar dengan telak mengarahkan sebuah pukulan cepat ke arah dagu Edy. Beruntungnya Edy menghindar dengan menggeser tubuhnya ke kanan.
Sabar kembali melayangkan pukulan kearah Edy, Edy mencoba menangkis tangan Sabar yang besar dengan sebuah kibasan tangan kirinya. Sayang tubuh Sabar yang hampir dua kali lipat dari Edy tak bergerak sedikit pun. Edy mengarahkan pukulan membabi buta ke arah perut Sabar yang berjarak hanya beberapa senti dari wajahnya.
Sabar tak banyak menghindar. Pria itu seperti menikmati pukulan Edy yang dirasanya sangat ringan bak hempasan sebuah bantal.
“Demi, Baby Laura,” jerit Edy yang terus menerus memukul perut Sabar.
Sabar hanya bisa terkekeh mendengar dan mendapatkan pukulan dari Edy. Rasanya lucu melihat, lelaki kecil itu memukulinya.
“Udah?” tanya Sabar pada Edy.
Edy hanya bisa mengangkat kepalanya kebingungan, kenapa calon mertuanya ini sama sekali tidak merasakan sakit sama sekali. Malah, dengan santainya menatap Edy.
“Demi menikahi Lauraku tersayang, aku harus kuat,” teriak Edy, saking semangatnya napasnya tersenggal-senggal.
Setelah puas melihat kegaduhan Edy yang seperti sedang menghadapi sebuah samsak tinju kokoh yang tak mau bergerak, Sabar menghadiahinya sebuah pukulan telak di hidungnya.
Bug...
Detik itu juga, Edy roboh. Pria itu pingsan tak berkutik dengan salah satu lubang hidungnya mengeluarkan darah. Bahkan kalau tak diamati dengan sungguh-sungguh, orang bakal percaya kalau Edy sudah mati saat itu.
“EDROSH!?”
••••
Xoxo Gallon.
__ADS_1