Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Saya Edy Edrosh...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️


•••


“Gimana ini?” tanya Cicil sambil menggigiti kukunya dan berjalan mondar mandir di lobby.


Untungnya saat ini lobby kosong melompong karena sudah malam. Jadi, mereka berlima tidak menimbulkan kecurigaan ditambah baju mereka yang serba hitam benar-benar membuat mereka seperti ninja.


“Coba cek di CCTV handphone kamu, Om Jeff dimana?” usul Laura.


Dengan cepat Cicil mengeluarkan handphone dari saku celananya. Diaktifkannya aplikasi CCTV dari handphonennya, dilihatnya dimana Papihnya berada. Ternyata Papihnya sedang diruang tamu dan berbicara dengan Bi Jum.


“Papih diruang Tamu, gimana ini,” ujar Cicil sambil menunjukkan layar handphonennya kepada Riki, Rozak, Laura dan Edy.


“Hmm sebenernya aku ada ide, tapi—“


“Tapi apa?” tanya Riki tak sabaran.


“Cil, kalau Papih kamu percaya hal-hal supranatural?” tanya Edy.


“Hah... gimana maksudnya? Kaya setan gitu?” tanya Cicil bingung maksud dan tujuan Edy ini kemana.


“Iya yang kaya gitulah.”


“Mungkin, ayolah aku tinggal di Belgia dari lahir sampai umur 20 tahunan, di Belgia mana ada kuntilanak atau yang kaya gitulah,” ujar Cicil kesal.


Edy mulai berpikir lagi, mungkin idenya itu terlalu absurd. Tapi, ini harus dilakukan demi keberhasilan mengambil barang-barang milik Cicil.


“Gimana dong, aku harus ambil semua buku tabungan dan kartu-kartu milik aku. Belum berkas-berkas penting. Aku bener-bener nggak mau balik lagi kerumah. Kalau aku balik pasti aku dipaksa nikah sama Albert, aku nggak mau Aa,” pekik Cicil frustasi sambil meloncat-loncat kecil dihadapan Riki.


“Iya Neng sayang, bentar kita pikirin dulu. Aa juga nggak mau kamu nikah sama Albert, Aa nggak ridho kamu di pukulin,” ujar Riki sambil mengusap bahu Cicil mencoba menenangkan Cicil.


Cicil mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh dari sudut matanya. Dia nggak mau pulang, pokoknya dia nggak mau dinikahin sama Albert. Nggak mau, titik.


“Neng, udah jangan nangis. Udah, Neng nggak bakal balik lagi sama Albert. Apapun yang terjadi Neng pokoknya bakal selalu Aa jaga, udah cep ... cep ... cep ....” ujar Rozak sambil menepuk-nepuk kepala Cicil pelan berusaha menenangkan Cicil.


Rozak yang merasa iba, apalagi melihat Cicil menangis mirip sekali dengan almarhum adiknya yang meninggal karena tragedi kelam akhirnya menarik lengan Edy. “Emang rencana kamu kaya gimana?”


Edy langsung mengumpulkan Riki, Rozak, Laura dan Cicil untuk membahas rencana yang ada. Setelah mendengar rencana Edy, Rozak langsung menahan tawanya, Laura menggeleng-gelengkan kepalanya, Riki langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan...


“WHAT...!?!” Cicil berteriak kaget mendengar rencana Edy yang absurd.


“Shuuuttt.... “ Edy menempelkan jari telunjuknya kemulutnya, “tenang, kita coba ajalah. Tapi, kurang satu orang. Masalahnya Laura, Riki sama Cicil pasti mukanya udah dikenal sama Om Jeff.”


Rozak hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya, sesaat dengan ekor matanya Rozak melihat seseorang yang dikenalnya sedang berjalan sambil membawa minuman boba dan menggunakan piyama Doraemon.


“Kalau cewe bisa?” tanya Rozak sambil menatap Edy.


“Siapapun juga bisa, tapi harus sekarang. Makin lama makin ngantuk ini aku,” ujar Edy sambil melihat jam tangannya.


“Oke sip, bentar,” Rozak langsung berlari kearah seseorang yang membawa minuman boba.


Setelah rada dekat dengan orang tersebut, Rozak langsung menepuk bahunya. Spontan wanita itu menatap Rozak.


“Nama,” panggil Rozak sambil tersenyum.

__ADS_1


“Ah... kamu, ah siapa sih nama kamu aku lupa,” ujar Nama sambil meminum bobanya.


Perhatian Rozak langsung teralihkan ke arah bibir mungil Nama, astaga pikiran mesumnya meronta dengan cepat. Rozak langsung mengoyangkan kepalanya cepat berusaha menghilangkan pikiran mesum diotaknya. Astaga, terakhir dia seperti ini adalah bersama Iis, mantan pacarnya yang sudah menikah dengan Juan Wijaya, mantan tunangan Cicil.


“Ru....Ru....”


“Yah, siapa hayo..?” ujar Rozak sambil tertawa kecil karena melihat Nama mengetuk-ngetuk dahinya dengan jari telunjuk tangan kanannya.


“Rujak?” canda Nama sambil mengedipkan matanya pada Rozak.


Deg...


Oke fine, Rozak benar-benar tidak mampu menahan perasaannya pada gadis manis berkulit putih dihadapannya itu. Andai Rozak hilang akal sudah Rozak peluk Nama.


“Rozak, Nama. Nama aku Rozak,” ujar Rozak sambil menyilangkan kedua tangannya didada.


“Hahahaa... canda Zak, aku hapal kok nama kamu Rozak,” ujar Nama.


“Ah kamu ngapain disini?” tanya Rozak, seingatnya rumah Nama ada didaerah sekolah Rozak.


“Lagi nginep dirumah temen, temen aku tinggal disini. Tapi, tadi aku nge-gojek Boba,” ujar Nama sambil menunjukkan minumannya.


“Kebetulan, aku mau minta tolong kamu, bisa?” tanya Rozak.


Nama menatap Rozak curiga, mau minta tolong apa jam segini? Booty Call, oh hell no..! Nama memang terlihat seperti gadis nakal karena perawakan dan cara berdandan juga berpakaiannya yang bebas. Tapi, mohon maaf Nama masih segel sesegel segelnya.


(Booty Call panggilan untuk melakukan transfusi darah putih. Oh hell no : Tidak..!)


“Apaan?” tanya Nama galak.


Rozak langsung tertawa, Rozak mengerti pikiran Nama, masalahnya laki-laki meminta tolong jam segini, tolong apaan coba.


Rozak langsung menceritakan dengan singkat, jelas, padat dan ringkas mengenai masalah Cicil dan Riki Kakaknya. Juga, rencana Edy. Mendengar semuanya itu Nama langsung menahan tawanya.


“Ini tuh beneran?” tanya Nama tidak percaya.


“Beneran, ayo sini aku ajak keorangnya deh kalau nggak percaya,” ujar Rozak sambil menarik lembut tangan Nama untuk mendekati Riki, Laura, Cicil dan Edy.


“Ed, ini aku nemu bantuan lagi,” ujar Rozak sambil menepuk bahu Edy.


Sontak semua disana menatap Nama yang tersenyum manis dan menarik rambutnya kebelakang dengan tangan kanannya.


Riki dan Edy yang melihat nama langsung melihat Rozak. Melihat Rozak yang pura-pura mengalihkan pandangannya kearah lain, langsung membuat mereka mengerti kalau wanita didepannya ini adalah target Rozak.


Berbeda dengan Cicil yang langsung berteriak, “Kamu...”


Nama langsung menatap Cicil kemudian tersenyum, “Hai... eh bentar jadi mbak ini yang mau dibantunya?” tanya Nama pada Rozak.


“Iya...”


“Oke aku mau,” jawab Nama sambil menyedot bobanya kembali.


“Oke sip,” ujar Edy langsung. “Kamu namanya siapa?” tanya Edy pada Nama.


“Nama....”


“Lah Mbak, nama Mbak siapa?” tanya Edy lagi.


Rozak langsung menahan tawanya, dengan cepat dia mengingat pertemuan pertamanya dengan Nama yang malah jadi adu otot.

__ADS_1


Nama hanya bisa menatap Edy kesal, “Eh geblek, nama gue NAMA. NA-MA.”


“Nama, oh namanya Nama,” ujar Edy sambil menggangukkan kepalanya.


“Laura,” ujar Laura sambil menjabat tangan Nama. “yang Itu Cicil, Edy, dan Riki.”


“Oh hai... jadi sekarang kita kemana?” tanya Nama penasaran.


•••


Saat ini Edy, Rozak dan Nama sedang berada di pintu darurat lantai 11. Satu-satunya pintu yang bisa menghubungkan dengan penthouse Cicil.


Sedangkan Laura, Riki dan Cicil menunggu di depan lift lobby, nanti setelah Edy berhasil menyingkirkan Jeff dari penthouse Cicil, baru Cicil, Riki dan Laura masuk ke penthouse untuk mengambil barang-barang Cicil.


Edy saat ini berusaha untuk membuka pintu dengan tenaganya. Digoyang-goyangkannya pintu tersebut kedepan dan kebelakang. Tapi, hasilnya nihil.


“Susah Zak,” ujar Edy.


“Coba berdoa,” usul Nama asal sambil menatap Edy.


“Hah, berdoa? Emang bisa doa ngebuka pintu?” tanya Rozak.


“Coba aja, udah cepet coba,” paksa Nama sambil mendorong-dorong Edy untuk berdoa di depan pintu.


Edy yang sama-sama somplak langsung berdoa didepan pintu. Edy langsung membaca surat Al-fatiha, saat sudah menguncapkan Aamiin. Tiba-tiba...


Klik....


Pintu tangga darurat terbuka, Rozak terkejut bukan main. Apartemen penthouse macam apa ini, cara membuka pintunya cukup dengan membaca Al-Fatiha.


Ternyata dari dalam pintu darurat seorang satpam keluar sambil menatap Edy dengan tatapan curiga.


“Kamu maling yah..!?” tanya Satpam itu sambil menunjuk Edy.


“Bukan, saya bukan maling,” ujar Edy spontan sambil mengambil kartu namanya dari saku celana jeans cap koka kola miliknya.


“Maling kamu,” satpam tersebut bersikeras pada Edy. Rozak dan Nama sudah ketar ketir, gimana kalau mereka di bawa ke kantor polisi.


“Yeh, saya bukan maling. Kenalin nama saya Edy Edrosh, bukan maling...” ujar Edy sambil menjabat tangan satpam tersebut.


“Eh...”


“Iya, nama saya Edy Edrosh bukan Maling, oke Pak Satpam,” ujar Edy sambil masuk kedalam tangga darurat.


“Nama saya NAMA, Pak satpam, bukan Maling yah,” ujar Nama sambil menjabat tangan Satpam tersebut kemudian mengikuti Edy yang sudah berjalan menaiki tangga.


“Eh...”


“Kalau nama saya Rozak Trina, Pak, bukan maling juga,” ujar Rozak sambil menjabat tangan satpam, kemudian berlari mengejar Nama dan Edy yang sudah menghilang di belokkan tangga.


Satpam tersebut hanya bisa terdiam mendengar perkataan gendeng Rozak, Edy dan Nama.


•••


Inget nama saya Kaka Gallon bukan Maling yah 🤣🤣🤣


Maaf garing, otak ngebul sama cerita water teapot yang penuh dengan bawang 🤣🤣🤣


Ciaooo....

__ADS_1


__ADS_2