
“Aww... pelan.” Ringgis Riki sambil menggenggam tangan Cicil.
Setelah kejadian kerusuhan di rumah Ki Brondong, akhirnya Cicil dan Riki memutuskan untuk menginap disalah satu hotel di Bandung. Begitupula dengan Edy dan Laura.
Cicil tersenyum sambil mengusapkan kapas yang sudah diberi betadine pada dahi Riki. “Makanya, jangan sosoan ngelawan dukun, jadi gini ‘kan. Babak belur.”
“Pelan, Neng,” ucap Riki sambil menahan rasa sakitnya.
“Ini udah pelan Aa, astaga mau sepelan apa lagi?” Cicil memajukan badannya dan meniupi kening Riki pelan.
“Dukun sinting, apa coba dia kaya gitu. Tinggal ngomong orang Sunda apa susahnya. Nggak usah lah dia pake singkatan-singkatan segala. Ribet,” maki Riki kesal.
“Nyentrik kali dukunnya, Aa,” ucap Cicil sambil terus mengulaskan betadine ke dahi Riki pelan.
“Sinting emang itu dukun, dulu aku pernah kesana, yah. Gara-gara si Edy bilang aku kerasukan kuntilanak,” ucap Riki.
“Kerasukan Kuntilanak gimana?” tanya Cicil bingung.
“Dulu tuh, waktu aku terakhir ketemu kamu di acara nikahan Taca di Itali, aku setahun kaya orang gila. Diem aja gitu, kaya orang hidup segan mati nggak mau.” Tanpa sadar Riki menceritakan penderitaannya sendiri karena meninggalkan Cicil dulu.
“Makanya pas ketemu kamu dulu dikantor Papih, Aa tuh sampai nggak bisa napas. Pingin jumpalitan, mana kamu makin cantik, coba bentuk kamu kaya Ki Brondong, yakin Aa mah. Nggak bakal inget la...”
Plak...
“Ya kali aku berubah jadi Ki Brondong, ngaco kamu tuh,” ucap Cicil sambil memukul bahu Riki. “terus.”
Cicil benar-benar ingin tau apa yang terjadi dengan Riki, setelah meninggalkannya di Itali dulu. Kalau Cicil setelah ditinggalkan Riki, jangan ditanya berhari-hari dia tidak turun dari kasur, setiap detik dan menit melihat handphone seperti orang gila.
“Aku kaya orang gila, badan kerja otomatis. Ketawa aja nggak, makan aja lupa. Tiap malem mimpiin kamu, tiap malem masukin handphone ke laci,” ucap Riki sambil menggenggam tangan Cicil dan menciumi setiap jari jemari milik Cicil.
“Ngapain handphone dimasukin ke laci?” tanya Cicil bingung. “emang ngaruh, yah?”
“Aku suka nggak sadar mencet nomer telepon kamu atau kadang suka kirim chat. Tapi, nggak pernah kekirim, nggak....”
“Aku ganti nomber,” potong Cicil cepat. “aku ganti nomber dan handphone, aku pindah penthouse. Aku bakar semua barang-barang aku,” ucap Cicil sambil duduk dipangkuan Riki menghadap wajah suaminya.
“Bakar? Kenapa?” tanya Riki.
“Sakit, disini sakit,” ucap Cicil sambil mengangkat tangan riki dan menyentuhkannya di dada Cicil. “Semua barang yang aku liat ngingetin aku sama kamu, untungnya aku masih waras. Kalau nggak...”
“Kalau nggak apa?” tanya Riki sambil mengusap punggung Cicil pelan.
“Aku bisa bakar itu si Geulis, aku tumis dia,” ucap Cicil.
“Nggak di tumis juga, ngapain kucing di goreng?” tanya Riki sambil menepuk bagian belakang pinggul Cicil.
“Hahaha... nggak tau,” ucap Cicil pelan.
__ADS_1
“Awas kamu kalau ngidam tumis kucing, nggak bakal Aa kasih. Mau kamu rengek ampe guling-guling pun, nggak bakal Aa kasih,” ucap Riki.
“Nggak ada ngidam kaya gitu,” ucap Cicil sambil mengusap-ngusap bibir Riki pelan. “Tapi, kayanya seblak daun kelor kemarin enak. Besok bikinin lagi yah.”
Riki hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Beneran kamu suka itu seblak, masalahnya kenapa harus pake daun kelor sih?”
“Enak Aa, wangi sama citra rasanya otentik,” ucap Cicil sambil mengangkat tangannya membentuk tanda oke.
“Oke, asal kamu yang makan, Aa merinding mau makannya juga,” jawab Riki.
“Tapi, aku sebenernya ngidam satu hal lagi,” ucap Cicil sambil menatap Riki.
“Apa?” tanya Riki.
“Ah, nggak. Nggak usah dipikirin, aneh juga ngidam aku yang ini,” ucap Cicil sambil mengusap-usap bahu Riki.
“Apa, Neng? Aa, nggak mau yah, anak Aa ileran.” Riki berkata sambil mencawil hidung Cicil.
“Kalau aku bilang, kamu nggak boleh marah, janji?” ucap Cicil pada Riki.
“Apa dulu, nggak lucu juga kamu tiba-tiba mau cium si Edy, aku cekik si Edynya,” ucap Riki.
“Hahaha... nggak cium Edy juga sih,” ucap Cicil.
“Terus apa?” tanya Riki.
“Aku ingin ngulang kejadian ciuman pertama aku,” jawab Cicil malu-malu.
“Hahaha... nggak, aku nggak mau ketemu orang yang ambil ciuman pertama aku. Nggak tau dia kemana,” ucap Cicil sambil mengecup pipi Riki.
“Yah, terus apa? Mau apa?” tanya Riki bingung.
“Aku ingin ngulang ciuman pertama aku, ciuman pertama aku itu di bawah menara Eiffel dibawah bintang-bintang gitu. Aku ingin ngulang itu semua. Tapi, sama kamu, bisa nggak?” tanya Cicil pada Riki.
Riki hanya bisa tersenyum pada Cicil, seandainya dia turunan sultan mungkin, besok dia sudah bisa membawa Cicil ke Paris. Menciumnya sampai Cicil kehabisan napas dibawah taburan bintang di menara Eiffel. Sayangnya, dia hanya seorang Riki Trina.
“Aa, usahain yah,” jawab Riki pelan sambil mengusap pipi Cicil pelan.
“Iya, nggak bisa juga nggak papa. Nggak maksa, cuman ingin aja.” Cicil berkata dengan tatapan kecewa. Cicil benar-benar ingin mengulang ciuman pertamanya itu, entah kenapa Cicil juga bingung. Tapi, melihat keadaan Riki, Cicil tidak bisa memaksa. Sebenarnya, Cicil bisa membeli tiket pesawat ke Paris untuk esok hari. Tapi, Cicil yakin Riki pasti menolaknya.
“Maaf, yah. Aa nggak bisa menuhin keinginan kamu sekarang, Aa harus nabu...”
Cicil dengan cepat mencium Riki, tangan Cicil langsung menelusup ke sela-sela rambut Riki. Mengesap bagian bawah bibir Riki yang lembut dan manis. Candu miliknya.
“Nggak papa, Neng nggak maksa,” ucap Cicil sambil membuka blouse miliknya.
Riki menelan salivanya, Cicil menatapnya dengan tatapan yang mampu membuat Riki berfantasi. “Neng.”
__ADS_1
“Kamu mikirin apa?” tanya Cicil.
“Mikirin... mikirin,” ucap Riki terbata.
Cicil mengalungkan tangannya ke leher Riki, bibirnya mendekat ke telinga Riki, dengan cepat Cicil berbisik pelan, “Mikir apa, Baba?”
Seketika itu juga bulu kuduk Riki meremang, Cicil benar-benar mampu membuat Riki bergairah dengan berbagai macam cara.
“Aku mikir...” Riki merasakan getaran di celananya, “bentar.”
Riki mengambil handphone dan melihat nama Edy disana. “Edy, ngapain dia nelpon?”
“Nggak tau, coba angkat. Aku takut si Laura asmanya kumat, malah si Edy doain lagi, bukan di bawa ke rumah sakit,” saran Cicil sambil melihat layar handphone Riki.
Riki langsung mengecup cepat bibir Cicil, diambilnya blouse Cicil dan diberikan pada Cicil.
“Kenapa?” tanya Cicil bingung, untuk apa Riki memberikan blouse miliknya.
“Dipake, aku nggak bakal fokus kalau liat ini,” ucap Riki sambil menyentuh dada Cicil.
“Hih... dasar nafsuan,” goda Cicil sambil mengecup pipi Riki dan turun dari pangkuan suaminya itu.
“Aku?” protes Riki sambil menunjuk hidungnya, matanya membulat sempurna dan menunjukkan tatapan bingung pada Cicil.
“Iya, kamu. Masa aku, aku tuh nggak nafsuan, aku tuh kalem dan mampu menahan nafsu,” ucap Cicil sambil menjulurkan lidahnya pada Riki.
“Astaga, Neng. Semua orang yang baca cerita ini aja tau. Kamu yang nafsunya segede gunung tangkuban perahu,” protes Riki sambil menggelengkan kepalanya gemas.
“Biarin, napa mau nikah sama aku, coba?” tanya Cicil sambil mengedipkan matanya dan berjalan ke kamar mandi.
“Karena cinta, kalau nggak udah lama aku kabur, Neng,” jawab Riki sambil mengangkat telepon dari Edy.
“Coba aja, kabur. Aku cekik kamu Riki Trina,” jawab Cicil dari dalam kamar mandi sambil terkekeh pelan.
Riki hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, “Nggak pernah kepikiran ninggalin kamu, Neng. Kamu tuh kesayangan Aa,”jawab Riki.
“Bagus.” Cicil berteriak dari dalam kamar mandi.
“Iya, halo apa Ed?” tanya Riki.
“Gawat...!” Bisik Edy.
•••
Si Edy ini kenapa lagi...
Bikin ulah mulu ih....
__ADS_1
Kenapa kamu wahai Edrosh, Edy Edrosh yang hobinya di endorsh? 🤣🤣🤣.
XOXO gallon.