Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Assalamualaikum


__ADS_3

“Itu Ayah kamu kenapa tiba-tiba ikut?” tanya Rozak saat mereka sedang dalam perjalanan ke tempat pertandingan Sabar dan Edy.


Diliriknya mobil dibelakang, Nama hanya bisa mengangkat kedua bahunya bingung. “Nggak tau. Tadi, Ira minta ikut jadi Ayah ikut juga.”


“Kok mau?”


“Katanya Sabar itu koleganya, taulah. Nggak ngerti juga,” ucap Nama sambil kembali melihat jalan didepannya.


“Ayah kamu kalau ngurus kolega cepet, yah. Kemarin aku ditelepon sama Ayah kamu, dia minta nomer Adipati sama Cicil.”


“Hah? Terus kamu kasih?” tanya Nama, perasaannya benar-benar tidak enak.


“Nggaklah, ngapain. Bisa-bisa aku dipecat jadi keluarga sama Riki dan Taca. Mereka itu nggak pernah mau ikut campur urusan bisnis Adipati atau Cicil,” ucap Rozak sambil membelokkan mobilnya perlahan.


“Terus Ayah bilang apa?” tanya Nama sambil membasahi bibir bagian bawahnya.


Rozak langsung terpaku melihat Nama membasahi bibir bagian bawahnya, ada perasaan ingin mengigit bibir ranum kekasihnya itu.


“Kang, Ayah bilang apa?” tanya Nama yang bingung dengan tatapan Rozak yang malah terpaku pada dirinya. “Kang.”


Nama menoleh kedepan jalan, “Astaga, Kang! Awas nabrak,” teriak Nama saat melihat dihadapannya ada tukang pempek sepeda.


Spontan Rozak menginjak rem mobil dengan keras, membuat badan Rozak dan Nama tersentak kedepan. Terdengar klakson panjang dari mobil Ayah dibelakang,


“Akang!?” teriak Nama keras. “kamu kenapa?”


Rozak langsung mengusap wajahnya kaget, ada apa dengan otaknya ini. Pikirannya cepat sekali teralihkan bila bersama Nama. “Maaf, maaf.”


Tukang pempek sepeda itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya kaget. Rasanya nyawanya hilang setengahnya tadi, “Hati-hati, Pak.”


“Maaf, maaf,” ulang Rozak sambil mengatupkan kedua tangannya didepan wajahnya.


“Akang, kamu kenapa sih? Bisa sampe nggak fokus gitu?” tanya Nama marah.


Gara-gara kamu, Nyun batin Rozak.


“Akang kamu kenapa, sih?” Saking kesalnya Nama menepuk paha Rozak dan mengelusnya. Sontak Rozak langsung menggemeretakkan giginya, menahan hasratnya.


“Nyun,” bisik Rozak pelan.


“Apa? Kamu kenapa?” tanya Nama sambil mengusap kembali paha Rozak.


“Paha Akang jangan diusap,” ucap Rozak.


“Kenapa?” tanya Nama bingung.


“Bisa loncat ini mobil kalau kamu usap-usap paha aku terus-terusan,” ucap Rozak sambil mendorong tangan Nama menjauh dari pahanya.


Blash...


Wajah Nama langsung memerah mendengar perkataan Rozak, dia baru sadar kalau detik ini apapun yang dirinya lakukan akan membawa dampak pada Rozak.


“Maaf?”


“Jangan minta maaf, Nyun. Akang suka kok dielus-elus, sumpah suka Akang dielus-elus sama kamu. Tapi....”

__ADS_1


“Tapi apa?” tanya Nama penasaran.


“Nunggu nikah yah, Nyun. Akang takut kelepasan, astaga bibir kamu itu, Nyun. Bikin khilaf,” ucap Rozak jujur.


Tawa Nama terdengar merdu ditelinga Rozak, “Astaga, Kang. Nggak sampe segitunya, kok.”


“Beneran Nyun, aku nggak bohong,” ucap Rozak.


“Udah, ah. Aku jadi mereasa bersalah.” Nama menatap ke arah depan lagi. “Kang, ini rame banget.”


Mata Nama dan Rozak membulat saat masuk ke kawasan rumah keluarga Subagja. Di sana mereka sudah disambut dengan berbagai macam ornamen-ornamen yang ada. Ornamen, berupa bendera-bendera bergambar wajah Sabar mendominasi.


“Ini, acara apa? Beneran cuman tanding biasa aja ‘kan? Kok kaya tanding serius yah? Itu ada stasiun TV ngeliput dong.” Nama menunjuk salah satu mobil khusus salah satu stasiun TV swasta terkenal di Indonesia.


“Nggak tau, kok aku jadi kasian ama si Edy, yah. Gini amat mau nikah,” ucap Rozak sambil menatap kebagian atas dan mendapati berbagai macam spanduk yang mengintimidasi.


Sabar sang penghancur.


Lo nggak Sabar, nggak usah nantang.


Edrosh digerus Sabar.


From Sabar with love.


Sabar Herculles Indonesia.


Sabarlah Edrosh, waktumu sesaat lagi.


Edrosh you going down!?


“Kang, Edy bakal hidupkan setelah ini berakhir?” tanya Nama sambil menatap Rozak.


Nama dan Rozak hanya bisa menghela napasnya, entah apa yang akan dihadapi seorang Edy Edrosh saat ini.


••••


“Lele,” teriak Laura sambil berlari kepelukkan Edy.


Edy yang baru turun dari mobil langsung bahagia mendapat pelukkan hangat dari kekasihnya itu. “Kamu sehat?” tanya Edy pada Laura.


Senyuman langsung terbit diwajah Laura, dengan cepat Laura mengecup pipi Edy. “Lele, aku kangen,” isak Laura sambil mengusap air matanya.


“Aduh, sayangku cintaku kasihku, udah atuh jangan nangis ini kakandamu sudah di sini. Ini Edy Edrosh yang sudah menempa ilmu selama dua minggu di Banten, datang.” Edy mencolek pipi Laura pelan.


Laura langsung tersipu-sipu melihat kelakuan kekasihnya itu. “Kamu nggak ada kabar, aku kira kamu hilang digondol kucing.”


“Yang, ada kucingnya sawan kalau ngegondol dia mah.” Tiba-tiba Riki sudah ada dihadapan Edy.


“Mang Riki my Bro, apa kabar?” tanya Edy sambil merangkul Riki dengan bahagia. “Sama siapa?”


“Biasa rombongan,” ucap Riki sambil menunjuk Cicil, Rozak dan Nama dibelakangnya.


“Aduh, datang semua. Aku jadi nggak sabar buat tanding,” ucap Edy sambil mengeluarkan gaya siap meninju orang.


“Lo nggak takut sama Om Sabar?” tanya Cicil sambil merangkul Riki.

__ADS_1


“Nggaklah, aku udah diajarin berbagai macam ilmu. Dari Ilmu menghadang, menerjang sampai melempar. Semua ilmu udah aku pelajarin,” ucap Edy sambil memamerkan otot-ototnya yang tidak seberapa itu.


“Lo nggak liat ini spanduk dimana-mana? Ini pertandingan udah kaya pertandingan beneran,” ucap Rozak sambil menunjuk keatas.


“Papih, maksa katanya harus undang banyaknorang. Biar semua orang tau, kalau mau dapetin aku tuh, harus ada usaha dan perjuangannya. Aku sama Mamih sampai nggak bisa bilang apa-apa,” ucap Laura sambil mengusap keningnya.


Sampai detik ini, Laura sama sekali tidak paham dengan jalan pikiran Papihnya itu. Entah kenapa, Sabar benar-benar menjaganya dari kejaran lelaki manapun. Hamir, eh nggak semua kekasihnya langsung mundur saat bertemu dengan Sabar. Bagaimana tidak, Sabar selalu mengajak semua kekasihnya untuk bertarung.


Hanya Edy yang menyanggupinya, sampai-sampai Edy mau berguru ke Banten. Entah apa yang dia pelajari di sana. Pokoknya, menang atau kalah Laura hanya mau menikah dengan Edy, nggak mau yang lain, titik nggak ada koma apalagi spasi.


“Jadi gimana udah siap?” tanya Riki pada Edy.


“Oh tentu saja, siaplah. Semua udah Edy persiapkan untuk menghajar Sabar.”


Edy langsung memberikan gerakkan-gerakkan memukul dan membanting dengan sangat lues. “Pokoknya apa itu Om Sabar, dengan cinta dari seorang Edy. Om Sabar pasti akan kalah,” ucap Edy sambil menunjukkan wajah paling sangat miliknya dan mengacungkan jari jempol kebawah .


“Dy,” panggil Riki sambil tersenyum.


“Tenang aja, Mang. Ototnya Om Sabar boleh jadi gede. Tapi, otot aku kecil-kicil mampu membelit ototnya. Pokoknya Edy nggak takut!” seru Edy sambil menunjukkan otot-otot minimalis miliknya ala binaragawan kurang gizi.


“Dy,” panggil Cicil sambil menutup mulutnya.


“Tenang, pokoknya Cil. Om Sabar tinggal Edy giniin nih,” ucap Edy sambil melakukan gerakkan memukul ke angkasa.


“Lele,” panggil Laura sambil mengigit bibir bawahnya khawatir.


“Tenang aja, sayangku. Papih kamu, bakal minta ampun di ronde pertama. Bakal kalah, pokoknya,” ucap Edy berusah menenangkan Laura sambil berkacak pinggang mirip salah satu pahlawan superhero.


“Dy,” panggil Nama dan Rozak berbarengan.


“Tenang, Om Sabar itu bakal kalah kalau liat otot Edy,pokoknya.” Edy lagi-lagi berpose ala binaragawan.


“Pokoknya.” Edy membalikkan badannya dan langsung terdiam saat melihat siapa yang ada dibelakangnya.


“Otot yang mana?” tanya Sabar yang ternyta sudah ada dibelakang badan Edy dan memperhatikan Edy dari tadi.


“Otot,” ucap Edy sambil berusaha menelan salivanya karena melihat Om Sabar dibelakangnya.


“Otot yang mana? Mana yang bisa cekik saya, hah?” tanya Sabar sambil membulatkan matanya dan menatap Edy dengan tatapan siap membunuh.


“Otot Om,” ucap Edy sambil mendekati Om Sabar sambil menegapkan badannya.


Akhirnya Sabar dan Edy saling bertatapan, aura persaingan sangat terasa oleh semua orang yang ada di sana. Bahkah, Laura sampai menahan napasnya dan berdoa semoga Papihnya tidak menonjok Edy sebelum pertandingan.


Wajah Edy yang tampak sangar, langsung berubah menjadi melunak, “Assalamualaikum calon mertua, gimana sehat?” tanya Edy sambil menyalami Sabar.


••••


Hilih.... takut juga lo ama Om Sabar 🤣🤣🤣.


Siap untuk pertandingan akbar? Nggak akbar-akbar banget sih, bisa aja hahahaa..


Aku mau tapa dulu di bawah pohon mangga tetangga buat inspirasi hahaha ❤️❤️❤️


Terima kasih bagi yang sudah berkenang untuk memberi like dan koment.

__ADS_1


Makasih juga pointnya, reader.


Xoxo Gallon.


__ADS_2