Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Hubungan LDR..


__ADS_3

Sepanjang hari Rozak mendengar helaan napas Riki terus menerus. Kakaknya ini dari siang hari tiba-tiba sudah datang ke apartemennya dan menolak untuk pulang.


“Aa, ini udah sore. Nggak ada cita-cita pulang?” tanya Rozak pada Riki yang sedang duduk dan menatap kosong layar laptop yang sedang menampilkan salah satu film di Netfli•.


“Nggak, ini tanggung lagi nonton.” Riki menunjuk layar laptop.


Rozak langsung mengintip layar laptop dihadapannya. “Cageur, Aa?” (Sehat, Aa?)


“Sehat, kunaon kitu?” tanya Riki sambil menatap Rozak bingung . (Sehat, kenapa gitu?)


“Rame itu filmnya?” tanya Rozak.


“Rame.” Riki menjawab ogah-ogahan.


“Tentang apa?” pancing Rozak, dia benar-benar tau kalau kakaknya ini tidak akan fokus bila sedang stress karena suatu masalah.


“Pembunuhan,” jawab Riki datar.


Rozak hanya bisa menyerngitkan dahinya saat Riki berkata kalau itu film pembunuhan. Sumpah demi apapun film yang dilihat Riki adalah film My Little Pony. Sejak kapan Little Pony ada pembunuhannya!?


“Aa kenapa?” tanya Rozak akhirnya.


Riki menatap Rozak bingung, rasanya dia ingin berguling-guling dilantai apartemen Rozak.


“Cicil hamil,” jawab Riki sambil menatap Rozak.


“Alus atuh,” ucap Rozak sambil mengangkat kedua jempolnya keudara. (Bagus,lah).


“Hah.....” Riki hanya bisa menghela napasnya.


“Kenapa?” tanya Rozak sambil menyuapkan makanan ringan ke mulutnya.


“Masalahnya, Cicil bingung bapak anaknya siapa,” ucap Riki pelan.


Uhuk... uhuk...


“Gimana, maaf? Gimana?” tanya Rozak bingung dengan penjelasan Riki.


“Minum gih,” ucap Riki.


“Udah, pokoknya gimana tolong. Aku nggak ngerti.”


“Cicil kan diperkosa Albert, jadi dia bingung bapaknya sapa. Aku atau Albert.” ucap Riki.


“Emang, sama Aa nggak pernah gitu-gitu?” tanya Rozak sambil menggerakan telapak tangannya saling tumpang tindih.


“Sering, kamu nggak liat. Ini lutut Aa sampai oyag (goyang),” ucap Riki sambil menunjuk lututnya.


“Hahahhaa, masa kalah sama istrinya sendiri,” kekeh Rozak.


“Kalau istrinya kaya Cicil, mah. Beda ceritanya,” ucap Riki sambil tersipu malu. Saking dekatnya Riki dengan Rozak, rasanya bercerita seperti ini sudah bukan sesuatu yang tabu bagi mereka. Bahkan, dengan Taca pun Rozak dan Riki bisa dengan santainya bercerita apapun.


“Jadi ingin nyobai...”


Bug...


“Minta di sambit,” ucap Riki sambil memukulkan bantal ke bahu Rozak.

__ADS_1


“Hahhaaa... yah terus ini gimana masalahnya?” Rozak masih belum ngeh dengan masalahnya apa.


“Cicil kan diperkosa Albert, Cicil bingung itu anak siapa. Kamu kalau tau itu saat kejadian, kamu nggak bakal.” Riki langsung menggaruk kepalanya kesal. Membayangkan, saat dirinya memeluk Cicil pertama kalinya di hotel benar-benar membuat kemarahan Riki memuncak.


“Naha atuh Cicil teh, bet hamil ayeuna. Jadi, pan pabaliut ieu teh bapakna saha.” Rozak berkata sambil memijat keningnya.


(Kenapa atuh, Cicil harus hamil sekarang. Jadi, bingung ini tuh bapaknya siapa).


“Jangankan, kamu aku aja pusing. Tapi, nggak mungkin nggak hamil juga, dari empat hari setelah kejadian. Ampe, tadi malam aja. Aa masih kuda-kudaan ama Cicil.”


Rozak hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ieu nu nafsu saha sih? Aa atawa si Cicil?” (Ini yang nafsu siapa sih? Aa atau Cicil?)


“Duanana,” jawab Riki sambil terkekeh malu-malu meong. (Dua-duanya.) Tawa langsung terdenger dari mulut Riki dan Rozak.


“Aa, jadi gimana?” tanya Rozak penasaran.


“Pusing, Cicil keukeuh (tetep) untuk test DNA,” ucap Riki.


“Test aja atuh, Aa. Biar sama-sama enak,” jawab Rozak.


“Masalahnya, kalau aku test dan anaknya anak Albert, Cicil bakal gugurin kandungannya, aku nggak tega, Zak.” Riki beranjak dari duduknya. “Tapi, disisi lain. Aku juga nggak tega memaksa Cicil buat mempertaruhkan nyawanya, hanya untuk ngelahirin anak Albert.”


“.....”


“Pusing, nggak ngerti lagi ini. Aku teh harus gimana?” tanya Riki sambil menatap Rozak bingung.


“Hubungan kamu mah, LDR. Aa.” Rozak berkata sambil menutup laptop dihadapannya.


“LDR kumana? Aku hidup serumah. Sok ngaco maneh mah.” Riki berkata sambil menyenderkan punggungnya di sandaran kursi.


(LDR gimana? Aku hidup serumah. Suka ngaco kamu tuh.)


“LDR naon, sih. Sok ngaco maneh mah, geus sarua teu jelasna jiga si Taca,” hardik Riki kesal sambil mengusap pahanya. (LDR apa sih. Suka ngaco kamu, udah sama nggak jelasnya sama Taca)


“Tau panjangan LDR nggak?” tanya Rozak pada Riki.


“Tau lah, Long-distance relationship ‘kan. Hubungan jarak jauh,” ucap Riki sambil menatap Rozak kesal. Rasa-rasanya hubungannya dengan Cicil tidak jauh-jauh amat. Bahkan, setiap malam tubuhnya selalu dijadikan kasur hidup oleh Cicil. “Aku sama Cicil nggak ada jauh-jauhnya.”


“Ah, kieu yeuh, lamun boga lanceuk kuper,” ucap Rozak santai. (Ah, gini nih, kalau punya Kaka, kurang pergaulan.)


“Nya naon atuh?” tanya Riki kesal dengan kelakuan Rozak. (Ya apa?)


“Hubungan maneh jeung si Cicil mah, LDR. LIEUR DAN RIPUH...!?” teriak Rozak sambil menahan tawanya. (Hubungan kamu sama Cicil, LDR. Pusing dan repot.)


“Ngabojeg sateh,” ucap Riki sambil melemparkan bantal sofa kecil ke arah Rozak dengan kesal. Adiknya ini benar-benar membuat dirinya kesal bukan main. (Ngelucu kamu tuh?)


“Atuhda, meni ripuh kieu hirup teh,” kekeh Rozak.


(Gimana, sulit banget hidup kamu tuh.)


“Jangan bikin pusing, gimana ini.” Riki menggaruk kepalanya kesal.


“Ya udah, saran Rozak cuman satu. Test DNA. Udah test baru dipikirin lagi.” ucap Rozak. “masih banyak cara lain, selain menggugurkan kandungan Cicil.”


“Apa?”


“Lahirkan kasih ke orang yang emang mau atau tanya keluarga Albert. Banyak jalan, Aa. Udah sekarang. Mending Aa pulang terus temuin Cicil,” bujuk Rozak sambil menepuk bahu Riki.

__ADS_1


“Cicil kerja, dia nggak...”


“Cicil butuh kamu,” ucap Rozak sambil menunjukkan chat dari Cicil pada dirinya.


-Rozak bisa suruh Kaka kamu pulang dan suruh dia mandi ditempat kamu. Sama suruh dia bawa keju.-


“Keju, lagi!?” ucap Riki sambil menggaruk belakang kepalanya kesal.


“Inget Taca dulu?” tanya Rozak.


“Inget, dia ngidam ikan. Sama ngidam permen lollipop. Pusing nyarinya.” Riki mengingat peristiwa yang membuat dirinya bisa bertemu dengan Cicil dulu.


“Sekarang selamat menikmati, Cicil minta keju,” kekeh Rozak sambil menepuk-nepuk bahu Riki sambil menahan tawanya.


Riki hanya bisa melempar bantal ke arah Rozak, saking kesalnya. Tiba-tiba dia merasa handphone di sakunya bergetar.


“Halo, kenapa Neng?” tanya Riki saat mengangkat telepon dari Cicil.


“Aa, mau pulang kapan?” tanya Cicil.


“Ini mau pulang, katanya kan kamu nyuruh aku mandi.”


“Iya, mandi yang bersih. Sama beliin keju, kejunya abis ini.” Cicil merengek dengan kesal.


“Iya nanti aku beliin keju,yah. Aa mandi dulu,” ucap Riki.


“Iya, keju yah. Inget keju, sama....”


“Apa?”


“Besok aku udah jadwalin ke rumah sakit. Katanya mau periksa kandungan.” Cicil berkata dengan suara tertahan, sepertinya detik ini dia sedang memakan keju-kejunya.


“Iya, kita ke dokter kandungan.” Riki berkata pelan.


“Pulang yah, aku pusing mau tidur ini.” Cicil merengek lagi.


“Ya, tidur Neng.” ucap Riki.


“Nggak bisa, bayinya nggak mau aku tidur kalau nggak ada kamu. Aku juga bingung ini, kenapa aku itu harus deket-deket kamu terus. Pusing aku ini lama-lama.” Cicil berkata dengan nada cepat.


“Ya udah, Aa pulang. Tungguin,” ucap Riki.


“Iya, pulang. Jangan lupa keju.”


“Iya.” Riki langsung menutup teleponnya. “Aa pulang dulu, si Cicil nggak bisa tidur kalau nggak sama Aa.”


“Anak Aa berarti,” jawab Rozak santai.


Riki menatap Rozak dengan tatapan bingung. “Tau dari mana?”


“Insting,” jawab Rozak sambil mengangkat kedua bahunya.


“Mudah-mudahan, biar nggak pusing,” ucap Riki yang langsung dijawab anggukan oleh Rozak.


•••


Hilih ibu hamil keinginannya banyak bener dah...

__ADS_1


Xoxo gallon


__ADS_2